Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Polisi 2
"Pak Kafka, saya adalah pengacara dari Ibu Aruna untuk kasus perceraian dan KDRT." ucap Gavin dengan raut wajah tenangnya.
"Kamu yakin mau bercerai denganku, Aruna? Kamu yakin mau jadi janda? Jadi janda itu tidak mudah. Kamu lihat Ibuku yang harus pontang-panting cari uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya," ucap Kafka mencoba menakut-nakuti Aruna.
"Lah... Selama ini kan aku emang sudah jadi janda, walaupun masih punya suami. Amnesia nih kamu, Mas." ceplos Aruna dengan tatapan polosnya.
Jika tidak berada di kantor polisi, mungkin Kafka sudah melampiaskan emosinya kepada Aruna. Dia harus terlihat sudah berubah agar hukuman yang diterimanya tidak besar. Setidaknya nanti sikapnya yang kooperatif ini bisa menjadi pertimbangan. Kafka hanya bia mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Namun apa yang dilakukannya itu terlihat oleh Gavin dan Ibu Salma.
Jawaban dari Aruna itu begitu menohoknya. Aruna berjuang mencari nafkah untuk anak, kebutuhan rumah, dan pendidikan Nasya. Uang yang diberikan untuknya sama sekali tidak cukup. Apalagi Kafka tidak memberikan uang secara rutin. Bukannya tidak bersyukur, hanya saja sikap dari Kafka ini sangat keterlaluan. Kafka menghela nafasnya pelan, mencoba menahan emosinya.
"Kita mulai semuanya dari awal ya, Aruna. Aku akan berubah. Gajiku nanti untukmu dan Nasya. Aku hanya akan mengambil untuk jatah makan siang dan bensin," ucap Kafka dengan raut wajah memelasnya.
"Aku tidak butuh duitmu, Mas. Sudah cukup 3 tahun lebih aku menyakiti diriku sendiri dan Nasya. Aku akan mencari kebahagiaanku bersama Nasya tanpa kamu. Silahkan tandatangani surat persetujuan gugatan perceraian itu," ucap Aruna dengan tegas.
"Aku hanya minta hak asuh anak dan rumah atas namaku yang diberikan oleh Ibu. Soal mobil yang kamu beli dan nafkah anak, aku tidak akan menuntut apapun. Jika memang kamu Ayah yang bertanggungjawab, silahkan berikan nafkah layak untuk anakmu." lanjutnya.
"Aku bertanggungjawab, kalian saja yang tidak bersyukur." ucap Kafka membela diri.
"Astaga... Ibu malu sama Aruna, Kafka. Ibu ini kadang makanan saja masih dikasih sama Aruna waktu awal kalian menikah. Malah kamu beginikan Aruna. Mau ditaruh mana muka Ibu ini, ha?" seru Ibu Salma tak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya.
Ibu Salma sampai menutup wajahnya karena malu dengan tingkah anaknya itu. Padahal saat awal menikah, mereka masih dibantu oleh Aruna karena tabungan habis untuk pernikahan. Baru setelah Aruna membangun rumah, perempuan itu tidak memberikan uang atau makanan. Pasalnya uang Aruna saat itu ludes untuk membangun rumah. Jadi wajar kalau semua kebutuhan rumah tangga ditanggung oleh Kafka. Apalagi laki-laki itu sudah menjadi manager dengan gaji lumayan.
"Tutup aja pakai karung goni kalau bertemu Aruna, Bu. Lagian malu kenapa coba? Orang Ibu pakai baju kok," Jawaban Kafka yang asal ini membuat Ibu Salma geram. Tampaknya memang Kafka tidak bisa diajak berdiskusi.
"Cepat tandatangani surat ini, Mas. Kamu juga tidak perlu datang ke persidangan, biar semua cepat selesai." ucap Aruna dengan tegasnya.
"Oke. Aku akan menandatangani surat persetujuan ini, tapi kamu harus mengeluarkanku dari penjara." ucap Kafka memberikan syarat.
"Kalau tidak, aku akan mempersulit proses perceraian ini." lanjutnya dengan ancaman.
"Oke. Aku akan mencabut laporan ini setelah kamu tandatangan," jawab Aruna dengan yakin.
"Aruna..." seru Ibu Salma memanggil Aruna karena tak setuju dengan keputusan menantunya.
Aruna hanya tersenyum menanggapi protes dari Ibu mertuanya. Aruna mempunyai cara lain untuk membuat Kafka benar-benar menyesal telah membuangnya. Aruna akan membuat Kafka menangis karena sudah mencampakkannya. Dia ingin melihat Kafka dan Silvy survive dengan sesuatu yang katanya atas nama cinta. Kafka pun segera menandatangani surat yang disodorkan oleh Gavin.
"Sudah selesai. Cabut laporanmu, Aruna." ucap Kafka memberikan perintah.
"Kamu sama sekali tidak membaca surat-surat itu?" tanya Aruna dengan tatapan penasarannya.
"Tidak perlu. Yang penting kamu akan mencabut laporan di kepolisian. Masalah anak, silahkan ambil itu Nasya. Soal nafkah, itu gampang lah nanti. Aku kasih kalau punya. Mengenai rumah, tanah itu milikku walaupun bangunannya kamu yang bangun. Bagi dua," ucap Kafka dengan yakin.
"Untuk rumah, itu milik Nasya. Jadi tidak bisa dibagi dua sesuai dengan surat yang kamu tandatangani. Jadi setelah keluar dari kantor polisi ini nanti, silahkan pergi dari rumah itu dan cari tempat tinggal yang baru." jawab Aruna dengan santainya.
"Ajak juga itu selingkuhanmu," lanjutnya.
Kafka yang mendengar itu tentu saja geram. Kafka ingin merebut surat-surat yang sudah ditandatanganinya tadi. Kafka ingin merobek surat-surat itu. Kafka pikir Aruna tidak akan mencantumkan syarat itu. Kafka pikir itu hanya surat persetujuan dan kesepakatan bahwa mereka ingin bercerai. Namun ternyata Aruna menyelipkan tuntutan tentang perceraian ini. Gavin dengan sigap menjauhkan map itu dan memasukkannya dalam tasnya. Bahkan Gavin sudah bersiap menghajar Kafka jika macam-macam.
"Tidak bisa lagi diubah. Kamu sudah tandatangan di atas materai. Bahkan ada dua polisi itu yang menjadi saksi," ucap Aruna dengan ledekannya.
"Bagus, Aruna. Ibu juga sudah muak melihat dia berada di rumah. Bikin rumah rasanya sumpek," ucap Ibu Salma dengan senyum yang puas.
"Ibu kok begitu sih? Walaupun aku tidak tinggal di tempat Aruna, kan masih bisa di rumahnya Ibu." ucap Kafka dengan entengnya. Jadi dia masih mempunyai tempat tinggal jika diusir oleh Aruna.
"Siapa bilang kamu boleh tinggal di rumah Ibu? Nanti rumah itu juga mau aku berikan pada Nasya," ucap Ibu Salma dengan sinisnya.
"Ayo kita cabut laporannya, Pak Gavin." ajak Aruna yang tak ingin berlama-lama di sana.
Kafka masih shock dengan ucapan Ibunya yang mengatakan jika rumah itu juga akan menjadi milik Nasya. Jika semua rumah menjadi milik Nasya, lalu dia akan tinggal dimana? Masa dia harus mengontrak atau sewa hotel? Uangnya tinggal sedikit karena kemarin gajinya digunakan untuk membayar belanjaan Silvy. Sedangkan Aruna dan Gavin langsung pergi untuk mencabut laporan kepolisian.
"Ibu bercanda kan? Nanti Kafka tinggal dimana kalau semua rumah diberikan pada Nasya," ucap Kafka dengan merengek.
"Mana bisa Ibu bercanda soal cucu sendiri? Anggap saja rumah itu sebagai nafkah untuk Nasya seumur hidup karena Bapaknya tidak bertanggungjawab. Aku yakin kamu tidak akan memberikan nafkah pada Nasya setelah bercerai dengan Aruna nanti," ucap Ibu Salma dengan tegas.
"Kamu mau tinggal dimana? Itu urusanmu. Kamu bukan anak kemarin sore yang tidak bisa berpikir dimana akan tinggal. Ini makanan dan baju gantimu," lanjutnya menyerahkan paper bag yang dibawanya kepada Kafka.
Ibu... Jangan gitu dong. Masa tega sama Kafka,
Kamu saja tega sama Ibu kok,
lanjutttt😍💪
gavin ya thor😄💪
plong banget si kafka udh pergiii ,, akhirnya ny dy mikir juga buat cari kerjaa ,, kalo gx d usiiir pastii msh jd pengangguran truss Dy ,, 😂😂
emnk tuh si kafka harus d ruqyah dluu ,,
trus d retur aj Nasya bpa mu tu ,,
tuker tambah ma yg baru🤭😉