Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senggang untuk memahami.
Selarik cahaya menyorot dari belakang, di lanjut suara tembakan.
DOR!! DOR!!
Hampir saja, aku mendengar hempasan angin yang timbul dari peluru meleset.
Setidaknya ada tiga motor ingin menyergap. Satu tepat di belakang, dua lainnya jauh dari sisi kanan dan kiri.
Kami akan terkurung. Ila berseru, kembali menangis. Tapi segera di bungkam suara tembakan yang membabibuta. Peluru tidak satupun mengenai tubuh kami. Tapi itu cukup membuatku panik tingkat tinggi. Jujur, aku sangat takut.
‘Ya Allah.. Kenapa jadi gini, tolonglah hambamu’ hatiku membisik. Sebenarnya sudah ingin ikut menangis habis-habisan.
Suasana memburu semakin bergejolak dari mereka. Tembakan masih belum berhenti. Aku tidak tahu keadaan Ila sekarang. Setidaknya pegangan tangannya tidak kulepas. Walau sebenarnya kami tengah pasrah.
Tidak. Tidak boleh menyerah, aku harus melakukan sesuatu.
Sekarang suara motor itu sudah belasan meter di belakang. Pengemudi nya berteriak galak. Namun tidak lagi melepaskan tembakan. Dua pengendara lain juga sudah mulai mendekat dari puluhan meter. Sorot cahaya betambah luas sekarang.
Ini harus kulakukan.
“Ila, maaf” aku bergumam.
Tanganku mulai melempar Ila ke depan. Dengan tenaga tambahan dari berlari, Ila terhempas jauh hampir sepuluh meter.
Kaki kuputar paksa. Berbalik badan, membuat tubuh memperosok paksa ke belakang. Aku balik lari melawan arah pengendara motor di belakang. Sekarang tinggal beberapa meter.
Pengendara motor refleks meluruskan moncong senapan. Tapi aku lebih beruntung. Dia belum sempat menembak karena aku dan kecepatan motornya lebih dulu bertemu.
Brug!! Satu pukulan lepas mengenai telak perut pengemudinya. Itu pukulan terkuatku –aku pernah melatihnya dulu, beruntung belum terlalu karatan.
DOR! DOR!, Tembakannya mengenai udara kosong. Sial, aku hampir kehilangan keseimbangan, hampir. Tanganku masih di perutnya. Aku mengerahkan kekuatan tangan ku, mulai mengangkat tubuhnya dari motor.
Bug! Orang itu ambruk di tanah. Aku cekatan merampas senapannya. Tidak untuk menembak, tapi kupukul pada hidungnya. Setelah itu segera berlari mengejar motor yang masih tegak berjalan tanpa pengemudi.
Motor hanya berjarak beberapa meter lagi.
“ILA.!!” Aku berteriak. kemana anak itu.
“Sini bang” Ila berlari tiga meter di sampingku. Sosoknya berkali kali terlihat di balik ke lebatan batang pohon. “Tembakannya!” Ila berseru.
Hah mau apa anak ini?
Aku melempar nya. Di tangkap dengan baik oleh gadis itu.
DOR!! DORR!! Ila menembak sesuatu. Aku melihatnya, tinggal beberapa meter lagi motor lain datang mendekati Ila. Namun motor itu juga harus ambruk karena ban nya meledak, pengemudinya menghantam tanah.
Aku tercengang. Bagaimana Ila bisa menembak saat berlari. Ila? Aku belum tahu banyak tentang gadis ini.
Brak! Aku tersandung sesuatu. Ah. Aku lalai. Lihatlah motornya yang membuatku tersandung barusan. Motor itu sudah jatuh. Aku segera mengangkatnya. Duhh. Motor besar, mekanik kopling. Ini akan sangat sulit.
DARR! DARR! Ila menembak lagi. Dia di belakangku sekarang.
Sesuatu terdengar terjatuh di sebuah tempat.
Ila menatapku. “aku bisa menjaga dari belakang” ucapnya dengan tersengal.
Aku terdiam, baiklah aku akan mencoba.
Aku menaiki motor. Di tunjukkan sudah gear empat pada barometer di gital yang terdapat pada kepala motor. Aku menurunkannya hingga gear 2. Lanjut Menarik kopling.
Ila ikut naik di belakang.
Beberapa suara motor menyusul dari belakang, agak jauh tapi kami bisa saja terkejar.
Sekarang tinggal gas.
“Astagfirullah!!.” Motor langsung menghempas kencang. Ila berseru tertahan di belakang. Tapi segera ku seimbangkan.
“Bisa bawa motor gak sih?” Ila mengomel.
“bisa-bisa, tenang aja” seruku.
Akhirnya bisa stabil. Aku mulai menaikkan ke cepatan dan gear pada urutan ke tiga.
Ternyata mudah. Syukur nya aku bisa melakukan manuver di dalam hutan.
Aku dengan lihai menggocek pohon yang menghalangi. Tidak terlalu buruk. Aku pernah mengalami yang lebih parah dari ini. Berjalan cepat di tengah macetnya Jakarta.
Waktunya memamerkan skill. Aku menaikkan lagi ke cepatan nya. Hingga gear 4. Masih sisa satu gear. Tapi ini lebih dari cukup untuk mengubah keadaan. Semua orang yang mengejar sepertinya kurang lihai berkendara dalam hutan. Mereka mulai tertinggal jauh.
Sepeda motor besar melaju cepat hutan. Menyibak rerumputan dan semak. Selagi tidak menerjang pohon, aman saja. Berkelebat banyak pohon terlewati di samping. Ini yang ku suka, membawa motor dengan sedikit tantangan.
Puluhan meter terlewati dengan hitungan detik. Kami sudah jauh sekali dari awal kami turun di tempat bis. Kira-kira apa yang terjadi di sana.
“Ila, mau lurus atau putar balik” tanyaku sedikit berteriak. Suara motor terdengar bising membungkam riuh rimbanya hutan.
“hah?” Bahkan anak itu masih tidak bisa mendengarnya.
Baiklah. Ini akan rumit. Tapi kami harus mencari tempat aman, lalu melaporkan apa yang telah terjadi.
***
Puluhan menit berlalu dengan cepat diatas sepeda motor. Aku melaju lurus dari tempat penyerangan sebelumnya. Entah aku sudah di mana. Tujuan awal sebenarnya ingin mencari sinyal. Tapi mana mungkin aku turun di tengah-tengah hutan. Malas.
“Bang..” Ila memanggilku di belakang.
Aku tetap fokus melihat ke depan. “Apa?”
“Bukankah ini termasuk mencuri?” Lanjut Ila.
“kita mencuri dari pencuri hahaha..” Aku terbahak. “anggap saja ini pengganti barang kita yang mereka curi”
“Lah, masa isi tas kita seharga sama motornya bang” Ila menyangkal.
Aku terdiam sejenak. Berfikir “bukankah batu yang di berikan pamanmu itu mahal ya?”
Lengang lagi, menyisakan suara motor di tengah senyap nya hutan di malam hari. Ila bisa-bisanya tenang lebih cepat dariku. Sudah bisa membuat inisiatif percakapan.
“jalan berdua’an gini kan gak boleh bang” Ila justru mengganti arah pembicaraan. Dia bertanya hal lain.
Aku tertawa lagi. “lalu, kau mau aku turunin di sini”
“Dosa dong kamu?” Ila masih tak acuh.
“Lahh” Aku tidak mengerti apa maunya gadis ini.
“ya dosa sih dosa, karena situasi rumit. Aku sedang menyelamatkan nyawa seseorang, jangan kau kira gak wajib. Mereka tadi bukan orang baik. Kau bisa saja di sakiti.” Jelasku seadanya. Jujur, ilmuku saja masih sedikit. “kalau masih janggal lagi aku minta maaf gak bisa ngasih penjelasan sebenarnya. Aku masih dikit ilmu agamanya. Mungkin aku bisa lebih baik di lain waktu”
Ila terdiam. Membiarkan aku mengendarai lebih tenang.
Hampir satu jam berkendara di dalam hutan, sementara tidak ada ke majuan. Kami tidak mendapatkan sinyal. Ila berseru mengeluh. Aku terus memacu gas. Untung lampu motor ini sangat terang. Kami tetap lurus, tidak berbeok. Entah kami akan ke luar di mana nantinya.
“Kau harus menjawab pertanyaan ku” aku berkata memecah lengang. Aku masih penasaran, kalau memang dia tidak berbahaya kenapa di buru. “kau ini memang berbahaya kah?”
Ila sempat mendesis. “Aku udah bilang berapa kali. Aku tuh orang baik. Gak ada apa-apa” Balasnya sedikit terpaksa. “Tapi mereka saja yang menganggap apa yang ada di dalam tubuhku sangat berbahaya”
“mereka?” Tanyaku.
“Udah pernah ku jelasin ketika masih di bis, kalau aku di buron oleh keamanan negara” Jawab Ila.
Aku meng-oh sebagai balasan.
Lengang sejenak. Ah aku teringat sesuatu. "Tapi kok tadi perampok nya tau nama kamu?"
"Nah, aku juga bingung. Mereka juga ngincer aku. Dan pasti bukan atas keamanan negara. Tapi kakakku pernah berkata akhir-akhir ini jika yang mengincarku bertambah jadi dua kubu. Kubu yang baru ini justru sebaliknya dari keamanan negara. Mereka akan membiarkanku hidup"
Ila terdiam, seperti menunggu tanggapanku.
“ya serahkan diri ke orang yang gak mau bunuh kamu lah” ujarku sembarang.
“Ya. Jelas aku tidak mau, mereka sepertinya juga bukan orang baik. Mungkin saja salah satu pihaknya perampok tadi"
Aku terdiam. Mengangguk maklum.
"Terus, sekarang apa yang mau kamu lakukan?" aku bertanya.
Ila menggerang. "Hmmnn. Entah, kemungkinan buruk masih banyak. Yang pasti kita keluar dulu dari hutan ini"
Aku menatap kedepan. Sekian pohon terus berkelebat terlewati. "Kau takut kah, dasar cengeng"
"Nggak!" bentak gadis itu.
Sekarang sudah satu jam lebih diatas kendaraan. Cepat sekali. Kabar baiknya kami sudah berada di jalan setapak. Aku terus mengikuti jalan tersebut.
Tanpa menunggu puluhan menit, radius seratus meter ke depan sudah mulai tampak ada kehidupan. Sudah mulai terlihat obor yang membantu di tengah hutan. Aku semakin cepat melaju motor. Hingga cahaya banyak terlihat. Berwarna putih dan kuning.
Itu adalah desa.
Lima menit sampai di sana. Kami langsung mendapati jalan beraspal setelah hutan, rumah-rumah, dan tentunya warga desa juga ada. Wajah mereka segera menoleh begitu aku muncul.
Bagi mereka pasti rasanya aneh melihat kami berdua ke luar dari hutan. Walau tengah malam begini, masih ada warga yang masih terjaga sambil mengobrol dengan warga lainnya. Terutama bapak-bapak.
Aku mengurangi laju kendaraan motor. “coba kamu telpon polisi sekarang”
Ila mengangguk. Mulai mengangkat ponsel.
Aku tidak peduli berapa banyak pasang mata yang melirik. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku tetap optimistis melaju.
“gak bisa loh, gak di angkat” Ila berkata di belakangku.
“lahh layanan macam apa ini? Kok gak di angkat” aku bergumam heran.
Ila kembali mengetik layar ponselnya.
Namun lajuku harus terhenti. Aku menelan ludah. Daritadi banyak orang yang melirik ke arah ku. Sekarang ada seorang pria paruh baya yang menghadang jalan di depan.
Orang itu mengangkat tangan. Meminta berhenti.
Pria itu tidak bertampang buruk. Hanya gesturnya saja datar tanpa ekspresi. Dia mulai berjalan ke samping, melihat ke arah Ila di belakangku.