Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 17
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca segelap malam berhenti di lobi Rumah Sakit Umum Daerah. Supir pribadi Andra turun dan membukakan pintu untuk Nadhira.
Nadhira melangkah keluar dengan tubuh yang kaku. Nadhira mengenakan pakaian tertutup yang dia miliki dan juga make up yang agak tebal hari ini di bagian mata. Untuk menutupi bengkak di matanya selain menggunakan kacamata hitam besar. Di dalam dekapannya, ada sebuah tas kecil berisi berkas-berkas identitas diri yang diminta oleh pengacara Andra.
Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, da-da Nadhira berdegup dengan kencang. Tangannya juga terasa dingin karena gugup. Karena hari ini semua kehidupannya berubah. Dia tak akan lagi sama dan bebas seperti sebelumnya. Akan ada belenggu yang mengi-kat dirinya setelah ini karena keputusannya menyetujui permintaan gi-la Andra.
Setelahnya dia harus menerima semua konsekuensi atas keputusannya. Bukan hanya kehidupannya. Setelah ini segala kemungkinan akan terjadi, termasuk Diana yang pastinya akan tahu walau mereka menutupinya. Dia tahu dirinya di sini hanya di butuhkan sang sahabat sebagai istri Surrogasy . Bukan kehadirannya sebagai teman atau wanita dewasa. Diana pasti akan semakin memperlakukan dia semakin semena-mena. Belum lagi keluarga Andra kalau sampai tahu. Apakah keputusannya ini sudah benar?
"Silakan, Mbak Nadhira. Bapak sudah menunggu di dalam," ucap sang supir dengan nada sangat formal dan kepala menunduk.
Seolah sudah diwanti-wanti untuk tidak banyak bertanya atau menatap wajah Nadhira terlalu lama. Nadhira tidak menjawab. Dia melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit bersalin swasta bertaraf internasional yang terletak di kawasan elit kota tempat tinggal mereka. Tempat yang sengaja dipilih Andra karena jaminan privasi tingkat tinggi bagi kaum konglomerat.
Tempat ini sangat kontras dengan RSUD tempat ibunya dirawat semalam. Di sini, tidak ada bau obat-obatan yang menyengat, yang ada hanya aroma terapi lavender yang menenangkan dan lantai marmer yang mengkilap. Namun bagi Nadhira, tempat ini terasa seperti tempat penjagalan harga dirinya.
Begitu memasuki lobi khusus VIP, Nadhira langsung melihat Andra. Pria itu berdiri di dekat meja resepsionis, mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi. Garis wajahnya tegang, dan ada lingkaran hitam yang samar di bawah matanya. Di samping Andra, berdiri seorang pria paruh baya membawa berkoper kecil yang diyakini Nadhira sebagai pengacara pribadi keluarga Antanagara, serta seorang pria berpeci yang duduk tenang di sofa sudut ruangan.
Melihat kedatangan Nadhira, Andra langsung memotong pembicaraannya dengan sang pengacara dan melangkah mendekat.
"Kamu datang tepat waktu, Dhira," ucap Andra dengan suara rendah.
Matanya menelisik penampilan Nadhira yang tertutup rapat. Ada kilat kecemasan sekaligus rasa bersalah yang kembali membayang di matanya saat melihat betapa rapuhnya sahabat lamanya itu sekarang. Harus ikut masuk dalam masalah pelik demi menyelamatkan pernikahannya dengan Diana.
Nadhira melepaskan kacamata hitamnya, menatap Andra dengan pandangan yang menusuk.
"Aku selalu menepati janjiku, Andra. Sekarang, mana dokumen yang harus kutandatangani?"
"Kita ke ruangan khusus saja Pak! Agar lebih nyaman dan terjaga privasinya!" ajak sang pengacara yang di angguki oleh semua orang.
"Selamat pagi, Ibu Nadhira. Saya Baskoro, kuasa hukum Pak Andra," ucap pria itu dengan suara yang sangat rendah, nyaris berbisik demi menjaga kerahasiaan.
"Di dalam map ini ada dua berkas utama. Pertama adalah Perjanjian Pranikah dan Kontrak Rahasia Surrogacy. Di sini tertulis dengan jelas bahwa pernikahan ini adalah pernikahan siri yang sah secara agama namun tidak dipublikasikan, dan seluruh hak asuh anak yang lahir kelak akan jatuh sepenuhnya kepada Pak Andra tanpa tuntutan di masa depan. Berkas kedua adalah dokumen kompensasi dan jaminan seluruh biaya medis ibunda Anda yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP per pagi ini."
Nadhira membaca lembar demi lembar kertas tersebut dengan tangan yang bergetar. Setiap klausul di dalamnya tertulis dengan sangat dingin, memperlakukan rahimnya dan calon anaknya kelak seperti sebuah aset perusahaan.
“Pihak Kedua (Nadhira) tidak berhak menuntut hubungan suami-istri secara fisik, nafkah batin, ataupun pengakuan publik atas pernikahan ini…”
“Pihak Pertama (Andra) wajib memenuhi seluruh kebutuhan medis Pihak Kedua selama masa kehamilan hingga persalinan…”
Nadhira memejamkan mata sejenak, menguatkan hatinya yang terasa remuk. "Pena," pintanya datar.
Andra menyodorkan sebuah pena mahal berselimut emas kepada Nadhira. Saat jemari mereka tidak sengaja bersentuhan, Nadhira dengan cepat menarik tangannya, membuat Andra tertegun pahit. Dengan tarikan napas dalam, Nadhira menorehkan tanda tangannya di atas materai. Selesai. Dia sudah resmi menjual kebebasannya.
"Sekarang, akad nikah," ucap Nadhira, menatap pria berpeci di sudut ruangan yang ternyata adalah seorang penghulu yang sudah dibayar mahal untuk bungkam.
Prosesi itu terjadi begitu cepat, dingin, dan tanpa air mata kebahagiaan. Di dalam sebuah ruangan konsultasi dokter yang disulap menjadi tempat akad darurat, dengan Baskoro dan sang supir sebagai saksinya, Andra mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas.
"Saya terima nikahnya Nadhira binti..." Suara Andra menggema di ruangan itu, berat dan penuh tekanan.
Ketika kalimat "Sah" diucapkan oleh para saksi, dada Nadhira terasa seperti dihantam batu besar. Detik itu juga, dia telah resmi menjadi istri siri dari suami sahabatnya sendiri, demi sebuah rahim yang akan disewakan. Saat Andra akan memakaikan cincin pernikahan sebagai mas kawin, Nadhira menolak.
Percuma karena hanya akan dia yang mengenakannya. Sedangkan sampai detik itu juga di jemari Andra masih ada cincin pernikahannya dengan Diana tersemat. Rasanya sesak, pernikahan yang dia dambakan akan menjadi indah dan sekali seumur hidup bersama dengan orang yang di cintai dan mencintainya. Hanyalah khayalan. Dirinya sudah terga-dai.
"Pernikahan secara agama sudah sah," ucap Baskoro sambil merapikan berkas.
"Sekarang, kita bisa melanjutkan ke agenda utama. Dokter spesialis kesuburan sudah menunggu di ruang tindakan untuk pemeriksaan awal rahim Ibu Nadhira sebelum proses inseminasi dijadwalkan."
Andra menatap Nadhira, mencoba membaca apa yang ada di pikiran istrinya. Lebih tepat wanita yang baru saja berubah status menjadi istri sirinya mulai detik ini.
"Dhira, kalau kamu butuh istirahat sebentar sebelum pemeriksaan ..."
"Tidak perlu," potong Nadhira dingin.
Dia bangkit dari duduknya, menatap Andra dengan tatapan paling asing yang pernah Andra lihat seumur hidupnya. Biasanya binar mata ceria dari Dhira akan membuat dia terkekeh. Kali ini tatapan Kia malah membuat hatinya teriris.
"Lebih cepat proses ini dimulai, lebih cepat pula aku bisa terlepas dari kegilaan ini. Ayo, mari kita temui dokternya."
Nadhira berjalan mendahului Andra menuju ruang tindakan medis, meninggalkan Andra yang berdiri terpaku di koridor rumah sakit, merutuki dirinya sendiri yang telah melangkah terlalu jauh ke dalam lembah do-sa egoisme demi cinta butanya pada Diana.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh