Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamat Dari Bayangan
Suara ledakan tembakan itu menggema keras di seluruh ruangan gudang kosong, menembus dinginnya angin malam. Asap bubuk mesiu mengepul di udara yang berdebu. Jenderal Adi tersentak hebat, pistol di tangannya hampir terlepas, sementara matanya membelalak tak percaya. Peluru itu tidak melesat ke arah Putra atau Citra, melainkan menembak tepat mengenai lengan kanan Jenderal Adi, membuat senjata itu terlempar jauh jatuh ke tumpukan jerami tua.
"Ah... Sialan! Siapa yang berani?!" raung Jenderal Adi sambil meringis menahan sakit, tangannya yang terluka ia pegang erat, darah mulai menetes membasahi seragam kebesarannya.
Semua pasukan yang ada di sana langsung menegang, mengarahkan senjata ke segala arah, mencari sumber tembakan yang datang dari atas dari atap gudang yang berlubang dan gelap itu. Putra langsung memanfaatkan kekacauan itu. Ia menarik Citra jatuh ke lantai, melindungi tubuh wanita itu di bawah tubuhnya sendiri, berguling menjauh ke balik tumpukan peti kayu besar agar terhindar dari sasaran tembak.
"Jangan bergerak, tetap di belakangku," bisik Putra cepat, napasnya memburu namun matanya tajam mengamati sekeliling. Di dadanya, rasa cinta dan rasa bersalah bercampur menjadi satu tekad baja: ia akan mati-matian melindungi wanita ini, wanita yang selama ini ia anggap musuh, namun ternyata adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya.
Dari kegelapan di atas, terdengar suara langkah kaki berat yang berjalan di atas rangka besi atap. Sebuah sosok tegap berpakaian seragam kamuflase, lengkap dengan perlengkapan tempur, melompat turun dengan gesit dan mendarat dengan mulus di tengah ruangan, tepat di antara pasukan Jenderal Adi dan tempat persembunyian Putra. Wajah sosok itu tertutup sebagian topeng, namun sorot matanya sangat berwibawa dan dingin.
"Kolonel Bayu...?" seru Putra kaget mengenali sosok itu. Ia adalah sahabat karib almarhum ayahnya, yang selama ini dikabarkan hilang dan tewas dalam misi rahasia bertahun lalu. Ternyata ia hidup dan bersembunyi diam untuk mengumpulkan bukti kejahatan Jenderal Adi.
Kolonel Bayu membuka penutup wajahnya, menatap situasi di depannya dengan tenang dan tajam. Di bantuannya, pasukan pengamanan pusat yang sudah dipanggil diam-diam akhirnya mengepung seluruh kawasan gudang. Jenderal Adi Wijaya, sang dalang segala fitnah dan pembunuhan, akhirnya menyerah dan ditangkap dengan tangan terikat. Kebohongan besar yang menelan korban nyawa dan kebahagiaan banyak orang akhirnya terbongkar di tempat itu juga.
Suasana mencekam perlahan berubah menjadi hening dan lega. Rahmat, ajudan tua yang menjadi saksi kunci, dibawa keluar untuk mendapatkan pertolongan medis. Dokumen dan rekaman bukti diamankan sebagai barang bukti. Malam itu, kebenaran akhirnya menang.
Di sudut ruangan yang mulai bersih dari pasukan, Putra masih berdiri diam memeluk Citra erat-erat. Napasnya mulai tenang, namun detak jantungnya masih berpacu cepat, bukan lagi karena bahaya, melainkan karena perasaan yang kini meluap-luap tak terbendung. Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah Citra lekat-lekat. Meneliti setiap inci wajah wanita yang kini menjadi dunianya.
"Semua sudah berakhir... Jenderal Adi ditangkap... Ayahmu tidak bersalah... Keluargamu tidak bersalah..." gumam Putra dengan suara parau, tangannya mengusap pipi Citra dengan penuh kelembutan, sentuhan yang pertama kali dilakukan dengan ketulusan murni tanpa rasa benci sedikit pun. "Dan aku... aku hampir saja kehilanganmu karena kebodohanku sendiri, Citra. Maafkan aku. Maafkan aku karena membuang waktu berharga kita hanya untuk sesuatu yang ternyata palsu. Aku bodoh sekali... aku menyakiti orang yang paling berharga hanya karena dibutakan dendam yang palsu."
Citra tersenyum, air mata bahagia mengalir membasahi pipinya. Ia memegang tangan Putra di pipinya, menempelkan bibirnya ke telapak tangan kasar itu. "Yang lalu biarlah berlalu, Mas. Yang penting sekarang kita sama-sama. Yang penting sekarang kau tahu kebenaran. Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu, walau awalnya penuh rasa sakit."
Putra menarik Citra kembali ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, dan untuk pertama kalinya, ia mencium kulit halus itu dengan penuh rasa cinta dan penghormatan. "Mulai sekarang, aku akan menebus segalanya. Aku akan menjadi suami yang kau impikan. Aku akan mencintaimu seumur hidupku, lebih dari apa pun."
Namun, momen indah dan haru itu tiba-tiba terputus saat suara langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat. Langkah yang tenang, anggun, namun membawa aura dingin dan penuh perhitungan.
Pasukan dan petugas penyelidik yang ada di sana menyingkir memberi jalan. Dari balik tiang penyangga gudang yang gelap, muncullah sesosok wanita cantik yang mengenakan gaun merah menyala yang kontras dengan suasana malam yang kelam. Wanita itu berjalan dengan kepala terangkat tinggi, senyum tipis tersungging di bibir merahnya, namun matanya memancarkan kilat kebencian dan ambisi yang mengerikan.
Wajah Putra seketika memucat. Pelukannya pada bahu Citra perlahan mengendur. Tubuhnya menegang kaku seolah melihat hantu masa lalu.
"Kau...?" gumam Putra lirih, matanya tak lepas dari wajah wanita yang baru datang itu. Nafasnya tercekat, rasa lega yang baru saja ia rasakan seketika lenyap digantikan rasa takut dan rasa bersalah yang lain, rasa bersalah yang sama beratnya dengan saat ia membenci keluarga Lestari dulu.
Citra merasa ada yang salah. Ia merasakan perubahan drastis pada tubuh suaminya. Ia menatap wanita itu, lalu menatap wajah Putra yang terlihat sangat terguncang. "Mas... siapa dia?"
Wanita itu berhenti tepat di hadapan mereka, jaraknya hanya beberapa langkah. Ia menatap Putra dengan pandangan penuh arti, pandangan yang bukan sekadar kenalan lama, melainkan pandangan orang yang memiliki masa lalu, janji, dan dendam yang mendalam. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya perlahan, mengusap pipi Putra dengan gerakan yang seolah menguasai, namun ditepis kasar oleh pria itu.
"Astaga, Putra... Lihatlah dirimu," ucap wanita itu dengan suara lembut namun sarkas, matanya berkilat tajam. "Kau pikir setelah semua kebenaran terungkap, setelah musuhmu ditangkap, semuanya selesai dan kau bisa hidup bahagia selamanya dengan wanita ini?"
"Kenapa kau ada di sini, Rania?" tanya Putra tajam, suaranya bergetar menahan amarah dan emosi rumit. "Kau seharusnya sudah pergi jauh, seharusnya sudah menghilang seperti yang kau lakukan bertahun lalu. Apa lagi yang kau inginkan? Semua urusan masa lalu sudah selesai."
Wanita bernama Rania itu tertawa renyah, namun tawanya terdengar getir dan penuh ancaman. Ia mengalihkan tatapannya ke arah Citra, menatap wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan namun penuh rasa iri yang besar.
"Urusan masa lalu selesai? Oh, Sayangku... Kau salah besar," jawab Rania dingin. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya yang berhias cincin berlian besar. "Kau lupa siapa aku? Aku Rania Adhisti. Cinta pertamamu. Wanita yang kau janjikan akan kau nikahi, wanita yang kau tinggalkan begitu saja, wanita yang menjadi alasan utama mengapa kau bersedia dijodohkan dengan wanita ini demi melindungiku dulu."
Citra tertegun kaku di tempatnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Cinta pertama?
Ia menoleh menatap Putra, mencari penjelasan di mata suaminya. Dan di sana, Citra melihatnya: bukan rasa cinta lagi, tapi rasa bersalah yang sangat besar, rasa hutang budi, dan rahasia lain yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di balik dendam balas dendamnya.
Rania melangkah maju selangkah, mendekati wajah Putra. "Kau pikir aku pergi karena aku menyerah? Kau pikir aku membiarkan kau hidup bahagia dengan wanita lain setelah apa yang kau lakukan padaku? Dulu, kau meninggalkanku, kau memutuskan hubungan kita, dan kau menerima perjodohan ini hanya karena kau ingin melindungiku dari ancaman Jenderal Adi, bukan? Kau mengorbankan cinta kita demi keselamatanku. Kau pikir aku tidak tahu?"
Putra diam, rahangnya mengeras. Ia tidak menyangkal. Itu adalah kebenaran yang ia kubur dalam-dalam. Dulu, sebelum pernikahan ini, Putra sangat mencintai Rania. Namun saat Jenderal Adi mulai bergerak membahayakan nyawa orang-orang terdekatnya, Putra memutuskan mengakhiri hubungan sepihak dan menerima dijodohkan dengan Citra, berharap Rania aman dan jauh dari bahaya. Itu adalah pengorbanan terbesarnya dulu, yang kini justru menjadi senjata tajam yang dikembalikan kepadanya.
"Aku tahu semuanya, Putra," lanjut Rania dengan suara dingin namun bergetar karena emosi. "Aku tahu kau menikahi putri musuhmu hanya sebagai topeng. Aku tahu kau membencinya hanya untuk mengalihkan perhatian musuh dariku. Dan aku diam saja, aku pergi jauh, aku membiarkan kau menjalani peranmu... karena aku yakin, saat bahaya berlalu, kau akan kembali padaku. Kau akan menceraikan wanita ini, dan kita akan bersama lagi seperti janji kita dulu."
Rania menunjuk Citra dengan pandangan penuh kebencian.
"Tapi lihatlah sekarang... Bahaya sudah lewat, musuh sudah dikalahkan, dan apa yang kau lakukan? Kau malah jatuh cinta padanya? Kau malah memeluknya, melindunginya, dan berjanji mencintainya? Kau mengkhianati pengorbanan kita berdua, Putra. Kau mengkhianati cinta pertama kita demi wanita yang dulu kau anggap sampah!"
Dunia Citra rasanya runtuh seketika. Semua kepingan teka-teki masa lalu perlahan menyatu. Selama ini, rasa benci, jarak, dan sikap dingin Putra ternyata bukan hanya karena dendam pada ayahnya... tapi juga karena ada wanita lain. Karena ada cinta lain yang dikorbankan. Pernikahan ini ternyata bukan hanya jebakan balas dendam, tapi juga tameng untuk melindungi cinta pertama pria itu.
Citra mundur selangkah, menjauhkan diri dari pelukan Putra yang masih menggenggam tangannya erat namun mulai gemetar hebat. Air mata menggenang di matanya, namun kali ini bukan air mata bahagia.
"Mas... benarkah semua ini?" tanya Citra lirih, suaranya terdengar rapuh sekali. "Dulu... kau menerima perjodohan ini, kau mendekatiku hanya sebagai alasan, hanya agar wanita ini aman? Aku... aku hanya pengganti? Aku hanya tameng yang kau pakai sampai bahaya hilang?"
Putra menoleh cepat ke arah Citra, wajahnya penuh kepanikan dan penyesalan yang mendalam. "Tidak, Citra! Dulu memang itu alasannya... dulu aku berpikir begitu... tapi itu sebelum aku mengenalmu, sebelum aku tahu kau wanita sebaik ini, sebelum hatiku berubah total. Sekarang semuanya berbeda! Aku tidak mencintai Rania lagi! Aku mencintaimu! Hanya kamu!"
Rania tertawa keras, memotong pembelaan Putra. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kecilnya, lalu mengibaskannya di udara.
"Kata-kata manis saja tidak cukup, Putra. Kau tahu aku tidak akan diam saja melihat pengorbananku sia-sia. Kau pikir aku diam selama ini hanya menunggu? Tidak. Aku bekerja keras, aku mengumpulkan kekuatan, aku membangun koneksi... dan aku punya sesuatu yang akan membuat kau tidak berani meninggalkanku."
Rania menatap tajam ke arah Putra, matanya menyala penuh dendam dan keinginan balas dendam yang kini beralih dari musuh lama ke wanita yang berdiri di antara mereka.
"Kau berhutang nyawa padaku, Putra. Kau berhutang masa depanku yang kau rusak demi 'melindungiku'. Dan sekarang, saat aku ingin mengambil hakku kembali, kau berani menolak? Ingat satu hal: Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada wanita lain yang boleh memilikimu. Terutama bukan putri keluarga Lestari ini."
Ia melangkah mundur perlahan, tersenyum penuh misteri dan ancaman yang mengerikan.
"Kita belum selesai, Putra. Dan kau..." Rania menatap Citra tajam, penuh kebencian. "Bersiaplah, Dokter Cantik. Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Kau memenangkan hatinya saat dia sedang sedih dan bingung, tapi aku akan mengambilnya kembali dengan segala cara, bahkan jika aku harus menghancurkan segala hal yang kau cintai, sama persis seperti cara dia dulu menghancurkan hatiku."
Rania berbalik pergi menghilang di balik kerumunan petugas, meninggalkan suasana gudang yang tadi penuh kemenangan, kini berubah menjadi penuh badai baru yang jauh lebih berbahaya.
Putra berdiri terpaku, napasnya memburu, menatap Citra yang wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca menahan sakit hati yang luar biasa. Rahasia masa lalu terungkap, dan ternyata ia memiliki musuh baru yang paling berbahaya: Cinta Pertama yang Sakit Hati dan Ingin Membalas Dendam.
"Mas... apa lagi yang kau sembunyikan dariku?" bisik Citra dengan suara bergetar, air mata mulai menetes lagi. "Berapa banyak lagi janji masa lalu yang harus aku bayar?"
Bersambung...