💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Misi Untuk Boros
Siapa sangka hari ini ia tiba- tiba mendapat kabar kalau Villa No. 1 sudah ada pemiliknya, dan ternyata pemiliknya adalah seorang gadis yang masih sangat muda?
Terlahir dengan baik benar- benar suatu keterampilan. Dia mendesah dalam hati, lalu melihat Lusi tampak agak bosan, dia pun cepat-cepat bicara.
"Nona Zhu, apakah Anda ingin saya mengajak Anda menjelajahi Luxhaven?"
"Tentu saja, aku agak penasaran."
"Baiklah, Luxhaven memiliki total 18 vila, yang meliputi area seluas 470.000 meter persegi. Gaya arsitekturnya didasarkan pada bangunan klasik Inggris, Prancis, Italia, dan Spanyol."
"Luxhaven telah membuat brosur untuk setiap vila, mendesain gayanya sendiri dan tata letak halaman yang berbeda. Tujuannya adalah untuk memberi tahu para penghuni bahwa kehidupan di sini unik. Agar Luxhaven benar-benar sesuai dengan nilainya, bahkan ditetapkan bahwa bangunan dalam radius 3 Kilometer tidak boleh melebihi tinggi 15 meter."
Saat Jaya menceritakannya dengan penuh emosi, sebuah bangunan semegah istana dari negeri dongeng perlahan-lahan muncul dalam pandangan Lusi.
"Villa No. 1 adalah villa bergaya French Riviera, dengan luas total 2478 meter persegi dan luas bangunan 1684 meter persegi. Villa ini telah kosong selama bertahun-tahun sejak selesai dibangun, dan hari ini, villa ini akhirnya menyambut pemiliknya. Nona Zhu, silakan keluar dari mobil, saya akan menunjukkan jalan untuk Anda."
Di bawah bimbingan Pak Jaya, Lusi melakukan tur singkat ke seluruh vila, benar- benar merasakan apa artinya memiliki ruang tamu yang cukup besar untuk menunggang kuda dan halaman yang cukup luas untuk menggembalakan domba.
Setelah berkeliling selama hampir satu jam, Lusi, yang kakinya sakit dan hampir tidak bisa berjalan, memilih untuk menyerah.
"Manajer Lin, saya benar- benar tidak bisa berjalan lagi. Mari kita lakukan pendaftaran saja."
"Baiklah, mohon tunggu sebentar."
Pak Jaya berhenti bicara, walaupun sebenarnya masih ingin bicara lebih banyak. Mereka menjaga Villa No. 1 dengan sangat baik, dan itu bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang.
Hari ini adalah kesempatan langka. Namun, perintah Nona Zhu jelas merupakan prioritas tertinggi. Dia segera mengeluarkan dua set dokumen kontrak dari tas kerjanya. Lusi mengambil pena, hendak menandatangani, ketika dia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Bisakah saya pindah kapan saja?"
"Tentu saja. Semua perabotan dan peralatan di sini lengkap, dan kami memiliki staf khusus untuk membersihkan dan merawat setiap minggu. Tentu saja, jika Anda membutuhkan, kami juga dapat membersihkannya secara menyeluruh hari ini."
Lusi mengangguk untuk menunjukkan bahwa dia mengerti, lalu menandatangani namanya di akhir dokumen. Setelah selesai menandatangani, Pak Jaya dengan serius memanggil mobil khusus milik properti untuk mengangkut tamu VIP dan mengantarnya kembali.
[ Ding! Misi nomor 086: Habiskan 1 juta dolar atau Rp18.000.000.000/18M di Mall Ibukota ]
[ Waktu: 1 Hari ]
[ Hadiah: Tidak Diketahui ]
Di tengah perjalanan, sistem mengumumkan misi baru. Sontak saja membuat Lusi langsung meminta berhenti di depan kawasan mall Ibukota.
Sepatu Beige Cunky nya yang terlihat besar melangkah memasuki area Mall. Sambil berjalan, dia berpikir apa saja barang yang harus dia beli.
Sementara itu, area VIP Adibusana Jewelry hari itu cukup ramai.
Beberapa anak muda berpakaian mewah duduk santai di sofa kulit eksklusif sambil melihat-lihat koleksi jam tangan yang dipajang di atas meja kaca. Tawa dan obrolan ringan sesekali terdengar, memperlihatkan suasana akrab khas kelompok mahasiswa dari keluarga berada.
Di tengah kerumunan itu, seorang gadis berwajah cantik dengan rambut bergelombang duduk menyilangkan kaki dengan anggun. Dialah Kylan.
Hari ini jelas merupakan pusat perhatian.
Di pergelangan tangannya sudah melingkar beberapa aksesori bermerek, sementara di hadapannya terbuka beberapa kotak jam tangan mewah yang baru saja dikeluarkan oleh staf toko.
"Kylan, yang ini cocok banget sama kamu."
"Benar. Kelihatan mahal dan berkelas."
"Kamu memang cocok pakai warna emas."
Mendengar pujian teman-temannya, sudut bibir Kylan terangkat puas. Ia mengangkat pergelangan tangannya, mengamati jam tangan yang baru dicobanya beberapa saat lalu.
Staf toko segera menjelaskan dengan profesional.
"Nona Kylan, model ini menggunakan casing emas putih delapan belas karat dengan detail berlian alami di bagian bezel. Mesin yang digunakan adalah automatic Swiss movement dan termasuk salah satu koleksi terbaru tahun ini."
"Harganya?"
"Dua puluh delapan juta rupiah, Nona."
Kylan mengangguk pelan. "Tidak terlalu mahal."
Kalimat itu langsung membuat beberapa orang di sekitarnya terdiam sesaat.
Dua puluh delapan juta.
Jumlah yang bagi kebanyakan mahasiswa setara biaya hidup berbulan-bulan. Namun di mulut Kylan, terdengar seperti harga makan malam biasa.
"Ambil yang ini."
Ia mengeluarkan kartu Gold Card miliknya dan menyerahkannya dengan santai.
"Baik, Nona."
Beberapa temannya ikut memilih jam tangan lain dengan harga belasan juta rupiah.
Di sudut sofa, Winy diam-diam menyikut lengan Adi.
"Belikan aku satu."
Adi langsung mengerutkan kening. "Hah? Aku nggak bawa uang sebanyak itu."
"Kan ada kartumu."
"Aku nggak bawa kartu Kakak hari ini."
Winy langsung menunjukkan wajah tidak senang.
"Kamu pelit."
"Aku memang nggak punya uang sebanyak itu."
Mereka berdua berbisik pelan, namun tetap tertangkap oleh Kylan. Matanya melirik sekilas, senyuman tipis penuh ejekan muncul di wajahnya.
"Winy."
"Hm?"
"Kalau kamu suka salah satu jam tangan di sini, ambil saja."
Mata Winy langsung berbinar.
"Serius?"
"Tentu."
Winy hampir melonjak kegirangan.
Namun sebelum ia sempat berterima kasih, Kylan kembali berbicara.
"Nggak usah sungkan." Nada suaranya terdengar lembut. Tetapi isi ucapannya membuat wajah Winy dan Adi membeku.
"Aku tahu kondisi ekonomi keluarga kalian. Kuliah di kampus seperti ini saja sudah pasti berat, kalian pasti harus bekerja jauh lebih keras dibanding kami."
"Aku mengerti kok."
Seketika suasana menjadi canggung. Beberapa teman lain saling melirik, Winy menggertakkan giginya.
Kalimat itu terdengar seperti perhatian. Namun semua orang tahu itu adalah penghinaan yang dibungkus dengan senyuman.
Adi hanya bisa tersenyum kaku.
Sementara Winy menunduk, wajahnya memerah karena malu.
Kylan justru terlihat semakin puas. Ia sangat menikmati perasaan berada di atas orang lain.
Tepat saat suasana mulai aneh, salah satu staf toko tiba-tiba berjalan cepat dari arah pintu masuk ke dalam ruangan lainnya, ia membungkuk di samping seorang pria paruh yang mengenakan setelan rapi.
"Pak David."
"Ada apa?"
"Nona Zhu datang."
David yang sebelumnya sedang memeriksa dokumen langsung mengangkat kepala.
"Beliau datang?"
"Ya, Pak. Ia bilang ia hanya ingin melihat beberapa jam siapa tahu merasa suka, anda bilang untuk melaporkan nya kepada anda jika Nona Zhu datang kembali."
David mengangguk, ia memang mengatakan itu karena sudah menganggap Lusi sebagai pelanggan kelas atas tokonya. Tanpa berbicara lagi David melangkah cepat menuju pintu depan toko.
Tidak lama kemudian Kylan melihat David keluar di ikuti oleh pelayan itu, seketika ia mengangkat alisnya.
Ia mengenal David. Sebagai penanggung jawab utama Adibusana Jewelry cabang ibu kota, pria itu biasanya hanya muncul untuk tamu-tamu paling penting. Bahkan saat ia datang bersama Kakak nya pun pria itu tidak menyambut nya, yang menandakan dengan posisi Kakak nya sebagai Manager perusahaan besar tidak menganggap nya penting.
Namun sekarang, pria itu justru berjalan cepat menuju pintu masuk seperti sedang menyambut seseorang yang sangat istimewa.
Ia bertanya-tanya orang penting mana gerangan. Tak lama kemudian, sosok seorang wanita muda memasuki toko.
Mengenakan pakaian kasual sederhana, membawa tas polos tanpa logo mencolok, dan wajah yang terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa bulan lalu.
Langkah David langsung berhenti di depannya.
Kemudian, di bawah tatapan seluruh orang di ruangan itu, David membungkukkan badan dengan hormat.
"Selamat siang, Nona Zhu."
"Senang sekali Anda berkenan datang kembali ke Adibusana Jewelry."
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/
semangat terus ya~~~/Hey//Hey//Hey/