NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEISTIMEWAAN ISTRI BOS.

Astuti melepaskan jewerannya, namun kedua tangannya kini berkacak pinggang. Tatapan matanya masih dipenuhi rasa penasaran yang amat sangat saat melihat sisa-sisa air mata di pipi menantunya.

"Kalau bukan karena Haikal, lalu kenapa mata menantu Mama bisa sampai sembab begini, hah? Coba cerita sama Mama, siapa yang sudah berani membuatnya menangis?" tanya Astuti dengan nada menuntut.

Haikal yang sedang sibuk mengusap-usap telinganya yang memerah langsung memotong cepat. "Aduh, Mah, interogasinya ditunda dulu kenapa sih? Perut Ikal sudah keroncongan, kami berdua ini belum makan siang."

Astuti seketika terbelalak. Ia buru-buru melirik jam tangan mewahnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul dua siang lewat sedikit. Wajah paniknya kembali muncul, namun kali ini murni karena mengkhawatirkan kesehatan menantunya.

"Ya ampun! Ini sudah jam dua siang dan kalian belum makan?" semprot Astuti, kembali melayangkan tatapan tajam pada anak bungsunya. "Haikal, kamu ini bagaimana sih? Tega-teganya menelantarkan menantu kesayangan Mama sampai kelaparan begini!"

Haikal langsung mengangkat kedua tangan, membela diri dengan ekspresi tengil. "Kok Ikal lagi yang disalahkan, Mah? Bukan salah Ikal kami makan terlambat. Yang salah itu Mak Lampir yang tiba-tiba datang menghadang dan menahan kami di restoran tadi."

Astuti mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Wajah paruh bayanya tampak bingung. "Mak Lampir? Memangnya di dunia nyata ini beneran ada Mak Lampir, Kal?" tanya Astuti polos.

Pertanyaan itu membuat Ardiah menggigit bibir bawahnya demi menahan senyum.

Haikal mengangguk antusias. "Ada, Mah, nyata sekali! Nah, Mak Lampir itulah yang sudah membuat menantu kesayangan Mama ini menangis bombay. Kalau Mama tidak percaya dengan ceritaku, tanya saja langsung nih sama orangnya."

Astuti membuka mulut, bersiap melayangkan rentetan pertanyaan. Namun, ia menggelengkan kepala demi menahan diri demi kesehatan lambung menantunya.

"Sudah, sudah! Urusan Mak Lampir itu kita bahas nanti saja," potong Astuti tegas. "Sekarang kalian berdua masuk dan makan dulu. Mama tidak mau ya, gara-gara ingin mendengarkan cerita hantu fiksi itu, kalian malah kena sakit lambung berjamaah."

Astuti segera merangkul pundak Ardiah dengan penuh kasih sayang menuju ruang makan utama. Begitu sampai, Astuti langsung bergerak gesit ke arah meja makan untuk menyiapkan hidangan.

Ardiah yang merasa tidak enak hati segera maju selangkah. "Biar Diah bantu siapkan piringnya ya, Mah."

"Tidak usah, sayang. Kamu duduk manis saja di kursi," larang Astuti lembut namun tak bisa dibantah. "Biar Mama sama Mbok Surti yang menyiapkan semuanya, Kamu pasti lelah."

Perlakuan istimewa itu membuat Ardiah dilingkupi rasa tidak enak. Ia menoleh ke arah Haikal, meminta bantuan lewat tatapan mata. Bukannya menolong, Haikal yang sudah duduk santai justru menaik-turunkan alisnya dengan jenaka, menggoda kecanggungan Ardiah.

Setelah semua hidangan tersaji, Astuti tersenyum puas. "Nah, sekarang kalian segera makan yang banyak ya."

Haikal tidak membuang waktu. Secara mandiri, ia langsung menyendok nasi dan lauk ke piringnya sendiri tanpa menunggu diambilkan oleh Ardiah.

Ardiah tertegun memandangi suaminya. Pemandangan sederhana itu memicu memori masa lalu bersama Ferdi, mantan suaminya. Dulu, Ferdi tidak pernah mau menyentuh makanan jika belum disiapkan seluruhnya oleh Ardiah, dengan dalih pelayanan total adalah bentuk bakti istri. Lama-kelamaan, Ardiah merasa dirinya tak lebih dari pelayan pribadi.

Sementara sekarang, Haikal, anak keluarga konglomerat, justru tidak menuntut dilayani dalam hal kecil. Ardiah menyadari hal lain sejak pagi; Haikal selalu menyiapkan keperluan pribadinya sendiri. Bahkan, Haikal yang melayaninya sejak subuh, mulai dari menggelar sajadah hingga memindahkan tas kerja Ardiah ke dekat pintu. Semua berbanding terbalik dengan tabiat Ferdi yang melarangnya bekerja hanya agar Ardiah stand-by melayaninya dua puluh empat jam.

Haikal yang menyadari istrinya hanya diam mematung langsung menghentikan kunyahannya. Ia meletakkan sendok, lalu menatap balik Ardiah dengan senyuman miring.

"Kenapa Kak Diah cuma melihatku dan tidak menyentuh makanannya?" tanya Haikal dengan nada tengil yang khas. "Apakah Kakak baru sadar kalau suamimu ini ternyata sangat tampan tiada tandingannya? Sampai-sampai pesonaku membuat Kakak lupa cara makan?"

Ardiah tersentak dari lamunannya, wajahnya merona merah karena tertangkap basah.

"Atau jangan-jangan... hanya dengan memandangi wajah gantengku ini, Kakak bisa langsung merasa kenyang tanpa perlu makan nasi, hmm?" lanjut Haikal, menopang dagunya dengan percaya diri.

Uhuk!

Ardiah tersedak air liurnya sendiri. Ia buru-buru menyambar gelas air putih dan meminumnya cepat. Demi menyembunyikan rasa malu, Ardiah langsung menyuapkan sesendok penuh nasi ke mulutnya terburu-buru.

Namun, rasa penasaran membuatnya kembali melirik Haikal dari sudut mata. Sialnya, gerakan itu tertangkap basah. Pria muda itu langsung mengedipkan sebelah matanya terlihat genit.

"Tampan, kan?" bisik Haikal lagi.

Ardiah tidak bisa menahan senyum tipisnya. Ia menelan makanannya dengan anggun lalu membalas. "Iya, kamu memang tampan, Haikal. Sedikit. Tapi kalau tingkat narsismu itu dikurangi, mungkin kadar tampannya bisa bertambah banyak."

Mendengar penilaian jujur itu, Haikal tertawa terbahak-bahak hingga bahunya terguncang. Suara tawa yang menggelegar memicu kedatangan Astuti kembali ke ruang makan.

Astuti menepuk bahu anak bungsunya gemas. "Haikal, makan yang serius! Jangan tertawa terus. Mama masih menunggu di ruang tengah, ingin tahu kelanjutan kisah Mak Lampir yang sudah membuat menantu kesayangan Mama ini menangis tadi."

Haikal langsung mengacungkan jempolnya. "Siap, Mah! Sebentar lagi cerita berlanjut di bioskop ruang tengah."

Setelah selesai makan, mereka sudah berada di ruang tengah dan Haikal mulai bercerita detail. Mendengar bagaimana Ardiah dihina secara keji sebagai wanita mandul dan pembawa sial di depan umum, wajah Astuti berubah merah padam menahan amarah.

"Kurang ajar sekali wanita itu!" seru Astuti, menepuk lengan kursi dengan geram. "Lihat saja nanti! Kalau sampai wanita sombong itu berani menampakkan batangnya di depan Mama, Mama sendiri yang akan meremas mulutnya yang lancang karena sudah berani menghina menantuku!"

Melihat kemarahan ibu mertuanya yang begitu berapi-api demi membelanya, Ardiah merasa sangat tersemangati dan tersentuh. Ia segera mengusap lengan Astuti lembut. "Sudah, Mah, tidak apa-apa. Jangan emosi, Diah sudah baik-baik saja sekarang."

Setelah suasana kembali tenang, Haikal berdiri dari sofa dan menatap Ardiah. "Kak Diah, sekarang kamu masuk ke kamar dan istirahatlah yang cukup, ya. Aku harus kembali ke kantor sebentar untuk menyelesaikan draf proyek yang tadi tertunda."

Ardiah mengernyitkan dahi, merasa tidak enak. "Tapi, Haikal... ini kan belum waktunya jam pulang kantor. Masa aku tidak kembali lagi sih?"

Haikal langsung terkekeh pelan, menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya sok keren. "Istri Bos mah bebas, Kak. Dia istimewa jadi tidak akan ada satu pun karyawan yang berani memprotes keputusan bosnya. Jadi, kamu istirahat saja di rumah. Yang paling penting, doakan saja agar suamimu yang tampan ini selalu selamat dalam bekerja, oke?"

Ardiah tersenyum tulus mendengar perhatian tersembunyi itu. "Iya, terima kasih banyak ya, Haikal."

Haikal langsung menghentikan langkahnya dan berbalik, memasang wajah protes yang dibuat-buat. "Wah, ini sudah kedua kalinya Kak Diah mengucapkan kata terima kasih padaku hari ini. Ingat ya, kalau sampai ada ucapan yang ketiga kalinya, akan langsung diberikan bonus spesial dari suami."

Sebelum Ardiah sempat mencerna apa maksud dari kata 'bonus' tersebut, Haikal tiba-tiba melangkah maju dengan cepat. Dalam satu gerakan kilat yang tak terduga, ia menundukkan kepalanya sedikit dan mendaratkan sebuah kecupan singkat yang hangat tepat di dahi Ardiah.

Cup!

Mata Ardiah langsung terbelalak, ia ingin protes. Namun sayang, ibu mertuanya ternyata sedang ada disana juga, menonton keromantis anak dan menantunya yang terlihat manis.

1
Pujiastuti
semangat Haikal semoga kamu bisa meluluhkan hati Ardiah dan kalian cepat bersama lagi
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!