NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Keluarga dan Nama Panggilan

Hari ke-198.

Kehamilan Evelyn masuk minggu ke-23.

Perutnya udah keliatan banget sekarang.

Kalau jalan, dia kayak bawa semangka kecil di depan.

Aurelia aktif banget.

Kalau malam, dia suka nendang pas Matthias lagi ngomong.

Kayak protes, “Papa diem dulu, mama mau tidur.”

Malam itu, Nyonya Alina ngajak “rapat keluarga kecil”.

Tempatnya di ruang makan.

Cuma ada empat orang: Evelyn, Matthias, Nyonya Alina, dan Om Dimas yang kebetulan lagi nginep.

Di tengah meja ada teko teh jahe, kue lidah kucing, dan satu buku kecil tebal.

Buku nama bayi.

Nyonya Alina buka rapat dengan serius.

“Jadi gini. Kita perlu sepakat soal nama panggilan Aurelia.

Aurelia Virel itu kepanjangan kalau dipanggil tiap hari.

Nanti dia bosen.”

Matthias langsung angkat tangan.

“Riri.”

Evelyn langsung tolak.

“Nggak. Kayak nama kucing.”

Matthias ngerengut.

“Lia dong. Simple.”

Evelyn mikir.

“Lia... oke. Tapi kurang sayang.”

Om Dimas yang dari tadi diem tiba-tiba ngomong.

“Gimana kalau Relia? Singkat, manis, dan nggak pasaran.”

Nyonya Alina langsung tepuk tangan.

“Ih iya! Relia! Kedengerannya lembut. Cocok sama Aurelia.”

Evelyn coba ngucapin.

“Relia... Relia Virel.”

Dia senyum.

“Enak. Gue suka.”

Matthias ngerengut.

“Gue kalah voting lagi.”

Nyonya Alina ngelirik dia.

“Kamu kan bapaknya. Boleh panggil Riri kalau berdua aja. Tapi di depan umum, Relia.”

Matthias ngangguk pasrah.

“Baik, Bu Ketua.”

---

Setelah nama panggilan beres, rapat lanjut ke topik lain: kamar bayi.

Nyonya Alina udah bikin moodboard.

Warna krem, kayu oak, lampu kuning hangat.

Nggak ada karakter kartun. Katanya, “Biar nggak norak pas dia gede.”

Evelyn setuju.

Matthias cuma satu permintaan:

“Ada ayunan kecil nggak? Biar gue bisa nina boboin dia sambil dengerin musik.”

Evelyn ketawa.

“Lo mau nina boboin dia atau lo sendiri yang ketiduran?”

Matthias nyengir.

“Kedua-duanya.”

Om Dimas yang dari tadi catat-catat tiba-tiba ngomong.

“Pak Matthias, ada satu hal lagi.

Pihak PR tanya, mau nggak kita rilis foto maternity shoot?

Nggak usah yang vulgar. Cuma siluet, sama tulisan ‘Coming Soon: Aurelia Virel, Desember 2026’.”

Ruangan hening.

Evelyn liat Matthias.

Matthias liat Evelyn.

“Gue nggak masalah,” kata Evelyn pelan.

“Selama nggak ada wartawan yang nyelonong ke mansion lagi.”

Matthias ngangguk.

“Oke. Tapi kita pilih fotografernya sendiri. Dan nggak ada wawancara.”

Om Dimas langsung catat.

“Siap, Pak. Saya atur.”

---

Rapat selesai jam 10 malam.

Nyonya Alina pamit duluan.

“Gue mau lanjut rajut kaos kaki Relia. Ukurannya masih kegedean.”

Om Dimas juga pamit.

“Gue mau kirim email ke fotografer. Jangan lupa, besok kontrol lagi ya, Bu Evelyn.”

Tinggal mereka berdua.

Evelyn duduk di kursi, pegang perut.

Matthias jongkok di depannya, pegang tangan dia.

“Gimana? Capek nggak rapatnya?”

Evelyn ketawa kecil.

“Capek. Tapi enak. Rasanya kayak... keluarga beneran.”

Matthias senyum.

“Memang keluarga beneran, Evelyn.”

Evelyn diem.

Terus dia bisik:

“Gue takut.”

“Takut apa lagi?”

“Takut besok ada hal lain yang ganggu kita lagi.”

Matthias ngangkat dagunya pelan.

“Kalau ada, kita hadepin bareng. Kayak kemarin. Kayak sekarang.”

Evelyn ngangguk.

Dia narik Matthias peluk.

Pelukan itu lama.

Hangat.

Aman.

---

Malam itu, sebelum tidur, Evelyn ngerasa Relia gerak lebih sering dari biasanya.

Kayak ikut senang karena rapatnya selesai damai.

Matthias naruh tangan di perutnya.

“Dia denger ya? Dia tahu kita baru sepakat panggil dia Relia?”

Evelyn senyum.

“Mungkin. Atau dia cuma pengin gue nggak tidur.”

Matthias ketawa kecil.

“Nggak apa. Gue juga nggak mau tidur kalau lo nggak tidur.”

Mereka rebahan.

Lampu dimatiin.

Cuma ada suara hujan pelan di luar.

“Matthias,” bisik Evelyn.

“Hmm?”

“Makasih ya. Udah bikin gue ngerasa pulang.”

Matthias nggak jawab.

Dia cuma peluk dia lebih erat.

Dan cium keningnya pelan.

---

Hari ke-205.

Kontrol kehamilan.

Dokter bilang semuanya bagus.

Relia beratnya 550 gram.

Denyut jantungnya 145.

Gerakannya aktif banget.

“Biasanya di minggu 24-26, ibu udah bisa ngerasain pola tidur bayi.

Kalau malam dia aktif, ya berarti dia burung hantu kecil.”

Evelyn ketawa.

“Pas banget. Kayak bapaknya.”

Matthias ngerengut.

“Gue nggak burung hantu. Gue CEO.”

Di mobil pulang, Evelyn ngeliat Matthias.

“Lo udah siap belum buat jadi bapak?”

Matthias mikir.

“Belum. Tapi gue mau belajar. Sama lo.”

Evelyn pegang tangannya.

“Gue juga. Kita belajar bareng.”

Mereka pulang.

Makan siang.

Ngobrolin warna popok.

Hal-hal kecil yang dulu nggak pernah mereka pikirin.

---

Malamnya, Evelyn coba foto maternity shoot dadakan.

Matthias yang moto pakai ponsel.

Cuma di balkon, lampu kuning, Evelyn pakai dress putih longgar.

Nggak ada make-up. Nggak ada styling.

Cuma ada perut kecil dan senyum malu-malu.

Matthias liat hasil fotonya.

Dia diem lama.

Terus dia bisik:

“Lo cantik banget, Evelyn.”

Evelyn malu.

“Lebay.”

Matthias geleng.

“Nggak. Gue serius. Ini pertama kalinya gue liat lo bahagia tanpa pura-pura.”

Evelyn nggak jawab.

Dia cuma peluk dia dari belakang.

Dan foto itu jadi wallpaper ponsel Matthias.

---

Hari ke-210.

Evelyn ngerasa Relia cegukan.

Rasanya kayak denyut kecil, teratur, di satu titik perut.

Dia langsung panik kecil.

Matthias langsung google.

“Normal, Sayang. Bayi sering cegukan di kandungan.”

Evelyn lega.

Tapi tetap pegang perutnya.

“Relia, jangan cegukan mulu. Nanti kalau lahir suka cegukan pas ketawa.”

Matthias ketawa.

“Kayak lo.”

Evelyn jitak pelan lengannya.

“Eh, gue nggak cegukan kalau ketawa!”

Matthias senyum.

“Bohong. Tadi pagi lo cegukan pas liat meme kucing.”

Mereka ketawa bareng.

Hal kecil, tapi rasanya berharga banget.

---

Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis lagi di diarynya:

_“Hari ini Relia cegukan.

Matthias panik duluan.

Gue ngerti sekarang...

Jadi orang tua itu bukan soal siap.

Tapi soal mau belajar bareng.”_

Dia tutup buku.

Matiin lampu.

Tidur di pelukan Matthias.

Di luar, dunia masih jalan.

Tapi di dalam kamar itu, waktu kayak berhenti.

Cuma ada mereka bertiga.

---

*Bersambung –

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!