NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Jika ada yang bilang bahwa kehidupan pernikahan setelah malam pertama akan langsung berubah menjadi adegan romantis ala drama Korea yang penuh bunga-bunga berguguran, maka orang itu pasti belum pernah menikah dengan Arkan Mahendra.

Setelah menghabiskan paruh pertama hari dengan 'Jadwal Kelinci' yang sukses dibajak oleh sang CEO arogan, kami akhirnya dipaksa kembali ke dunia nyata. Pukul dua belas siang tepat, suara ketukan brutal di pintu kamar *Presidential Suite* kembali terdengar. Tentu saja, itu adalah Hadi, sang asisten pembawa pesan kematian yang dikirim langsung oleh Papa Surya.

"Waktu bermesraan sudah habis, Bapak dan Ibu! Agenda makan siang afrodisiak sudah menunggu di *Private Dining Room*!" seru Hadi dari balik pintu dengan nada ceria yang sangat mengundang baku hantam.

Aku menghela napas panjang, merapikan gaun selutut berwarna biru *navy* yang kukenakan. Di seberang ruangan, Arkan sedang memasang kancing kemeja hitamnya dengan rahang mengeras. Rambutnya yang sedikit basah sehabis mandi membuatnya terlihat dua kali lipat lebih tampan, menipiskan sisa-sisa kewarasanku yang sudah terkuras habis sejak pagi tadi.

"Jika Papa menyajikan menu aneh-aneh, saya akan memotong anggaran operasional divisi logistik yang berada di bawah kendalinya," gerutu Arkan sambil meraih jam tangan *Rolex* dari atas nakas.

Aku tertawa kecil, melangkah menghampirinya dan mengambil alih tugas mengancingkan kerah kemejanya. "Jangan mulai bersikap diktator, Mas Bos. Ini kan niat baik Papa. Beliau cuma ingin kita... sehat."

Mata elang Arkan menatapku lekat, tangannya secara refleks melingkar di pinggangku, menarikku mendekat hingga aroma *mint* dan sabun mandinya menguasai penciumanku. "Saya sudah membuktikan seberapa 'sehat'-nya saya pagi ini, Naura. Kamu sendiri yang menilainya. Papa tidak perlu repot-repot meragukan stamina saya."

Wajahku seketika memerah hebat hingga ke ujung telinga mengingat insiden matras yoga yang berakhir panjang tadi. "A-Arkan! Berhenti membahas itu atau aku tidak mau keluar dari kamar ini!"

Arkan tersenyum miring—sebuah senyuman penuh kemenangan yang luar biasa menyebalkan. Dia mengecup puncak kepalaku kilat. "Ayo. Semakin cepat kita menyelesaikan makan siang konyol ini, semakin cepat kita bisa kembali ke apartemen dan menjauh dari radar Papa."

Lima belas menit kemudian, kami berdua sudah duduk manis di ruang makan privat hotel yang disewa khusus oleh Papa Surya. Ruangan itu bernuansa klasik Eropa dengan lampu gantung kristal raksasa. Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni, duduklah Papa Surya dengan wajah berseri-seri layaknya jenderal yang baru saja memenangkan perang dunia.

"Nah, ini dia pengantin baru kebanggaan Papa! Wajah kalian terlihat sangat bersinar! Terutama kamu, Naura," sambut Papa Surya dengan tawa menggelegar. "Bagaimana kelas yoganya? Energi chakra kalian sudah menyatu, kan?"

Arkan menarik kursi untukku sebelum dia duduk di sebelahku. "Yoganya sangat buruk. Instrukturnya hampir saya lempar dari jendela, dan saya memutuskan membatalkan sisa jadwal konyol yang Papa buat."

"Bagus!" Papa Surya justru menepuk meja dengan gembira, membuatku tersentak kaget. "Papa sengaja menyewa instruktur berwajah menyebalkan agar insting teritorimu bangkit, Arkan! Dan ternyata strategi Papa berhasil! Kamu memang butuh sedikit provokasi untuk bertindak."

Aku menelan ludah. Jadi, Mas Cakra yang malang itu hanyalah tumbal dari rencana induk Papa Surya? Pria tua ini benar-benar mewariskan gen manipulatif tingkat dewa kepada putranya.

"Sudahlah, mari kita makan. Papa sudah menyiapkan hidangan spesial," Papa Surya menjentikkan jarinya.

Sejenak kemudian, barisan pelayan hotel berseragam rapi masuk ke dalam ruangan. Mereka tidak membawa piring biasa, melainkan nampan perak besar bertutup kubah. Aroma tajam rempah-rempah yang sangat asing seketika memenuhi seisi ruangan.

Pelayan pertama membuka penutup nampannya di depan Arkan. Mataku membelalak. Di atas piring porselen mewah itu, terdapat setengah lusin kerang tiram mentah berukuran jumbo yang disajikan di atas es batu, lengkap dengan perasan lemon.

"Tiram mentah impor dari Hokkaido! Kaya akan *zinc* untuk meningkatkan produksi hormon testosteron!" seru Papa Surya bangga.

Pelayan kedua maju, membuka nampan berikutnya. Sebuah mangkuk keramik berisi kuah kaldu pekat dengan potongan daging yang... bentuknya sangat mencurigakan.

"Dan ini, menu andalan kita hari ini! Sup herbal dengan sate torpedo kambing muda jantan!" Papa Surya bangkit berdiri, menunjuk mangkuk itu seolah sedang mempresentasikan proyek triliunan rupiah. "Sate ini dibakar dengan kayu lapuk pilihan dan dilumuri madu hutan pedalaman. Khasiatnya? Jangan ditanya! Arkan, habiskan semuanya!"

Wajah Arkan yang biasanya sedingin es di Kutub Utara kini berubah menjadi hijau pucat. Dia menatap sate torpedo kambing itu dengan sorot mata penuh horor, seolah benda di depannya adalah bom nuklir yang siap meledak.

"Papa," suara Arkan terdengar tertahan di tenggorokan. "Saya tidak akan memakan... organ reproduksi kambing. Ini tidak higienis dan sangat konyol."

"Konyol bagaimana?! Ini resep turun-temurun! Kakekmu dulu mengonsumsi ini sebelum Papa lahir!" protes Papa Surya. "Kamu harus memakannya, Arkan. Papa sudah membayar mahal koki khusus untuk memasaknya!"

"Tidak. Saya menolak. Saya lebih memilih menelan dokumen laporan keuangan tahunan daripada memakan benda itu." Arkan melipat tangannya di dada, mode bos arogannya kembali aktif seratus persen.

Melihat kebuntuan itu, jiwa isengku mendadak meronta-ronta. Gengsi Arkan memang setinggi langit, tapi justru karena itulah dia sangat mudah dipancing. Aku mencondongkan tubuh sedikit, menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap sate kambing itu, lalu beralih menatap suamiku dengan tatapan meremehkan yang dibuat-buat.

"Yah, sayang sekali, Papa," kataku dengan nada sok sedih yang didramatisasi. "Mungkin perut Mas Bos tidak cukup kuat menampung makanan berenergi tinggi seperti ini. Apalagi beliau kan kerjanya cuma duduk di balik meja. Wajar kalau beliau takut kolesterolnya naik. Atau mungkin... beliau merasa tidak sanggup mengimbangi ekspektasi Papa?"

Arkan langsung menoleh padaku dengan gerakan patah-patah. Mata elangnya memicing tajam, memancarkan peringatan bahaya level tertinggi. "Apa yang baru saja kamu katakan, Naura?"

"Aku cuma bilang, kalau kamu takut perutmu mules, tidak apa-apa, Arkan. Biar aku saja yang memakannya," balasku sambil tersenyum manis penuh kemenangan, perlahan meraih garpu di atas meja.

Belum sempat garpuku menyentuh piring, tangan Arkan dengan sigap menahan pergelangan tanganku. Gengsinya tersentil dengan sangat keras. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga aku takut giginya akan patah.

"Tarik kembali ucapanmu, Manajer Naura," desisnya tajam. "Saya tidak takut pada kolesterol, dan saya benci diremehkan."

Dengan gerakan cepat dan penuh emosi, Arkan mengambil garpu dari tanganku. Dia menusuk sepotong sate torpedo kambing itu dengan garang, memejamkan mata sejenak layaknya samurai yang bersiap menusuk perutnya sendiri, lalu mengunyahnya dengan cepat.

"Luar biasa! Anak Papa memang jantan!" Papa Surya bertepuk tangan heboh, sama sekali tidak menyadari aura membunuh yang sedang dipancarkan putranya kepadaku.

Arkan menelan sate itu dengan susah payah, lalu segera meneguk segelas air putih hingga tandas. Dia menatapku dengan kilatan mata yang membuat bulu kudukku meremang.

"Tantangan diterima, Istriku," bisiknya pelan, memastikan hanya aku yang bisa mendengarnya di tengah tawa riang Papa Surya. "Kamu akan menanggung akibat dari provokasi murahan ini setibanya kita di apartemen nanti."

Aku seketika meneguk ludah. Matilah aku. Sifat kompetitif sang CEO ternyata beroperasi di luar batas nalar.

Satu jam kemudian, kami berhasil melarikan diri dari sesi makan siang neraka itu. Kami berada di dalam mobil Maybach hitam milik Arkan, melaju membelah kemacetan jalanan Jakarta menuju apartemen kami.

Suasana di dalam mobil terasa aneh. Hadi yang duduk di kursi kemudi fokus menatap jalanan, sementara aku duduk manis di kursi belakang. Arkan duduk di sebelahku, namun sejak lima belas menit yang lalu, pria itu tampak gelisah. Dia terus-menerus menarik kerah kemejanya dan menyeka peluh halus di dahinya.

"Hadi, apakah AC mobil ini rusak? Kenapa panas sekali?" keluh Arkan, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya.

Hadi melirik dari kaca spion tengah dengan ekspresi bingung. "AC-nya sudah menyala maksimal di suhu enam belas derajat, Pak. Malah Bu Naura sedari tadi terlihat kedinginan."

Aku mengangguk membenarkan, mengusap kedua lenganku yang merinding karena hawa dingin AC mobil. "Ini sangat dingin, Arkan. Kamu sakit?"

Aku secara refleks mengulurkan tangan, menempelkan punggung tanganku ke dahi Arkan. Kulitnya terasa luar biasa hangat, bahkan nyaris panas. Namun yang mengejutkan, napasnya terasa memburu. Begitu kulit kami bersentuhan, Arkan langsung menangkap tanganku dan menggenggamnya erat, seolah dia sedang mencari jangkar agar tidak hanyut.

"Saya tidak sakit," gumamnya dengan rahang terkatup rapat, matanya menatap tajam ke arah luar jendela, menolak menatapku. "Ini semua gara-gara menu keramat Papa dan provokasi bodohmu tadi, Naura."

Mataku membelalak kaget, lalu detik berikutnya, aku harus menahan tawaku sekuat tenaga agar tidak meledak di dalam mobil. "Astaga, Mas Bos! Kamu serius? Efek sate torpedo kambingnya bekerja secepat itu?!"

"Diam, Naura, atau saya akan menyuruh Hadi menurunkanku di jalan tol sekarang juga," ancamnya pelan, wajahnya sudah memerah sempurna, menahan gengsi yang kini hancur lebur berkeping-keping akibat efek samping ramuan afrodisiak Papa Surya.

Aku tidak bisa menahannya lagi. Tawa renyahku lolos begitu saja, memenuhi seisi kabin mobil. "Kamu lucu sekali kalau sedang tersiksa gengsi begini, Arkan."

Bukannya marah, Arkan justru menarik tanganku yang ada dalam genggamannya, membawa punggung tanganku ke bibirnya dan mengecupnya lama. "Tertawalah selagi bisa. Begitu pintu apartemen tertutup, saya tidak akan menerima permohonan ampun."

Ancaman itu sukses membungkam tawaku, menggantikannya dengan debaran jantung yang tak keruan.

Sesampainya di apartemen, kami berdua melangkah masuk layaknya memasuki arena pertempuran baru. Apartemen mewah ini terasa jauh lebih sunyi dibandingkan keriuhan hotel. Namun, ini adalah wilayah kekuasaan mutlak Arkan.

Aku baru saja meletakkan tas tanganku di atas sofa ruang tengah saat kulihat Arkan melangkah masuk ke dalam kamar utama. Tiba-tiba, dia keluar membawa sebuah benda berwarna merah muda yang sangat kukenal.

Guling stroberiku.

Arkan memegang guling itu di depan dadanya dengan ekspresi jijik yang luar biasa teatrikal. "Manajer Naura. Jelaskan kenapa benda konyol penyusup ini masih berada di atas kasur saya?"

"Hei! Jangan kasar pada Tuan Stroberi!" pekikku panik, berlari menghampirinya untuk merebut guling kesayanganku. "Mbak pembantu yang merapikannya tadi pagi. Lagipula, dia itu teman tidur awalku di apartemen ini!"

Arkan mengangkat guling itu tinggi-tinggi, jauh dari jangkauanku. Tingginya yang mencapai seratus delapan puluh lima sentimeter membuatku yang hanya seratus enam puluh sentimeter harus melompat-lompat kecil seperti kelinci kepanasan.

"Dulu, benda ini berfungsi sebagai batas zona demiliterisasi. Tapi sekarang, perang sudah usai, dan pihak lawan—yaitu kamu—sudah menyerah tanpa syarat padaku," ucap Arkan penuh kemenangan. "Jadi, tidak ada lagi ruang untuk Tuan Stroberi di atas kasur kita. Saya akan membuangnya ke tempat sampah."

"Arkan, jangan! Benda itu kubeli pakai gaji pertamaku!" belaku sambil terus berusaha menggapai tangannya.

Dalam satu lompatan nekat, aku berhasil meraih lengan kemejanya. Namun keseimbanganku goyah, dan tubuhku terhuyung ke depan. Arkan dengan refleks membuang guling itu ke sofa, sementara kedua tangannya bergerak kilat menangkap pinggangku.

*Hap.*

Tubuhku menabrak dada bidangnya yang keras dan hangat. Tangan kekarnya mengunci pergerakanku dengan sempurna, memelukku erat hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan. Suasana yang tadinya penuh tawa dan kekonyolan mendadak berubah menjadi hening yang sarat akan percikan listrik tak kasatmata.

Arkan menatapku lekat, matanya gelap dan intens, membawa sisa-sisa efek makan siang neraka yang masih menguasai aliran darahnya. Gengsi, kelucuan, dan pertengkaran kecil kami menguap begitu saja.

"Kompromi," bisik Arkan dengan suara baritonnya yang serak dan memabukkan. "Guling jelek itu boleh tetap tinggal di apartemen ini. Tapi dia tidur di sofa. Sementara kamu..."

Dia menundukkan kepalanya, menyapukan bibirnya dengan lembut di sudut bibirku, membuat mataku otomatis terpejam.

"...kamu tidur di pelukan saya. Setiap malam. Selamanya. Sepakat?"

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!