NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, suasana sunyi dan eksklusif langsung menyambutku. Aku berjalan pelan menuju meja sekretaris yang berada tepat di depan pintu ruangan besar Pak Adrian.

Di sana, sudah duduk Ariana—sekretaris baru Pak Adrian yang kemarin ikut di dalam lift. Begitu melihatku datang sambil menjinjing kantong plastik berisi kotak siomay, dahi Ariana langsung berkerut dalam. Tatapannya menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan dan penuh kecurigaan.

“Ngapain lo ke sini? Anak magang atau staf biasa dilarang ke lantai ini tanpa janji,” tegurnya ketus, langsung berdiri menghadangku.

“Maaf, Mbak. Saya ke sini mau nganterin pesanan siomay Pak Adrian. Tadi beliau yang minta sendiri pas di kantin,” jelasku sesopan mungkin.

Ariana langsung mendengus sinis, tertawa remeh. “Jangan ngadi-ngadi lo ya. Pak Adrian itu seleranya tinggi, mana mungkin beliau mau makan jajanan pinggir jalan kayak begitu. Lo sengaja ya nyari-nyari alasan biar bisa masuk ke ruangan CEO?”

“Tapi beneran, Mbak—“

“Gak usah bohong! Lagipula, gue gak percaya sama makanan yang lo bawa ini,” potong Ariana tajam, matanya menyipit curiga menatap kantong plastik di tanganku. “Jangan-jangan lo udah masukin sesuatu ya ke dalam makanan ini? Semacam obat atau pelet biar Pak Adrian tertarik sama lo? Modus karyawan modelan kayak lo ini udah ketebak tahu gak!”

Dituduh sekeji itu, darahku langsung mendidih. Rasa hormatku sebagai bawahan langsung lenyap digantikan rasa kesal yang luar biasa. Enak saja dia menuduhku main dukun! Emang aku cewek apaan?!

“Heh, Mbak! Jaga ya omongannya! Saya ke sini Cuma mau nganterin makanan karena disuruh Bos Mbak itu! Kalau gak percaya, tanya aja sendiri ke dalam!” ujarku, suaraku mulai naik satu oktaf.

“Gak boleh! Pokoknya lo gak boleh masuk dan makanan gak jelas ini gak boleh dibawa ke dalam!” bentak Ariana sambil mendorong bahuku menjauh dari pintu.

Kesabaranku benar-benar habis. Karena tidak diperbolehkan masuk dan sudah kepalang kesal dituduh yang tidak-tidak, aku langsung menarik napas dalam-dalam dan berteriak sekencang-kencangnya ke arah pintu ruangan CEO.

“PAK ADRIAN!!! INI SIOMAYNYA SAYA BAWA, TAPI GAK BOLEH MASUK SAMA SEKRETARIS BAPAK! SAYA DITUDUH MAU NYEKOKIN BAPAK PAKE OBAT PELET NGEHEK INI, PAK!!!”

Ariana langsung melotot horor, buru-buru membekap mulutku dengan panik. “Lo gila ya?! Berani banget teriak-teriak di sini?!”

Namun, sebelum Ariana sempat menyeretku pergi, pintu kayu jati yang besar itu tiba-tiba terbuka dari dalam. Pak Adrian berdiri di ambang pintu, menatap kami berdua dengan dahi berkerut dan tatapan mata yang luar biasa dingin.

“Ariana, lepaskan dia,” suara dingin Pak Adrian memecah ketegangan di lorong. “Dan kembali ke meja kamu.”

Mendengar perintah itu, tangan Ariana langsung lemas dan terlepas dari bahuku. Wajah sekretaris judes itu mendadak pias, campur aduk antara malu dan tak percaya karena bosnya justru membelaku.

“Aruna, masuk,” panggil Pak Adrian pendek, lalu berbalik badan berjalan kembali ke dalam ruangannya.

Mendengar namanya dipanggil, rasa kemenanganku langsung membumbung tinggi. Aku menoleh ke arah Ariana, melemparkan senyum kemenangan yang paling mengejek yang bisa kubuat, membuat perempuan itu sukses menggertakkan giginya menahan geram. Tanpa membuang waktu, aku langsung berlari kecil dengan riang menghampiri pintu, mengikuti langkah tegap Pak Adrian yang otomatis membuatku ikut masuk ke dalam ruang kerjanya.

Cklek. Pintu besar itu tertutup otomatis di belakangku.

Begitu melangkah ke dalam, langkah kakiku langsung melambat. Sifat udik dan kampunganku mendadak keluar tanpa bisa ditahan. Mulutku setengah terbuka, dan mataku langsung berbinar-binar menatap sekeliling ruangan yang luasnya mungkin setara dengan seluruh luas rumah kontrakanku di kampung.

Ruangan itu sangat mewah, beraroma kayu cendana yang menenangkan. Pandanganku langsung tertambat pada dinding sebelah kanan yang dipenuhi oleh rak-rak kayu raksasa setinggi langit-langit, memuat ribuan tumpukan buku tebal dengan sampul kulit yang entah apa saja isinya. Ada juga hiasan-hiasan dinding bernilai seni tinggi, miniatur kapal pesiar dari perak, dan sofa kulit hitam yang kelihatan sangat empuk.

Aku berjalan pelan sambil mendongak, benar-benar takjub seolah baru saja mendarat di planet lain.

“Kamu sedang apa?”

Suara bariton Pak Adrian memecah kekagumanku. Aku tersentak dan langsung menoleh. Pria itu sudah duduk tenang di balik meja kerjanya yang besar, menatapku dengan sebelah alis terangkat dan tatapan yang penuh selidik.

“Mata kamu dari tadi sibuk melihat ke mana-mana,” lanjut Pak Adrian, nadanya mendadak berubah agak penuh curiga. Dia melirik kantong plastik siomay di tanganku, lalu kembali menatap wajahku. “Kamu... sedang mencari apa di ruangan saya? Jangan-jangan, apa yang dibilang sekretaris saya di luar tadi ada benarnya? Kamu punya niat lain masuk ke sini?”

Mendengar tuduhan Pak Adrian yang sama menyebalkannya dengan sekretarisnya di luar, rasa takjubku langsung menguap tak berbekas. Darahku mendidih seketika. Rasanya kesal sekali, niat baikku membelikan makanan segar malah dicurigai macam-macam.

Tanpa memperdulikan sopan santun lagi, aku melangkah lebar menghampiri meja kerjanya yang besar dan mewah itu.

Brak!

Aku menaruh kantong plastik siomay itu di atas mejanya dengan agak kasar. Dengan gerakan cepat dan penuh emosi, aku merobek plastik pembungkusnya, membuka tutup kotak mikanya, lalu mengambil garpu plastik yang ada di dalam.

Aku menusuk satu potongan siomay yang paling besar yang berlumur bumbu kacang, lalu tanpa ragu langsung memasukkannya ke dalam mulutku sendiri. Aku mengunyahnya dengan ekspresi wajah yang sengaja dibuat menantang, menatap lurus ke arah manik mata Pak Adrian yang tampak sedikit terkejut melihat tindakaku.

“Tuh, lihat sendiri kan, Pak?!” ujarku setelah berhasil menelan siomay itu dengan susah payah karena tenggorokanku agak seret. “Gak ada pelet, gak ada racun, gak ada obat aneh-aneh! Ini murni siomay ikan tenggiri asli di kantin!”

Aku meletakkan kembali garpu plastik itu ke dalam kotak dengan sentakan kesal. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap bos besar di depanku ini dengan tatapan berapi-api.

“Saya ke sini Cuma mau nepatin janji saya karena Bapak yang minta sendiri di kantin tadi. Tapi dari luar sampai ke dalam, saya dituduh ini itu terus. Capek tahu gak, Pak!” omelku, benar-benar sudah tidak peduli lagi kalau setelah ini aku akan dipecat betulan.

“Siomaynya udah terbukti aman. Silakan Bapak makan. Saya permisi kembali ke kubikel saya!”

Tanpa menunggu tanggapan dari mulutnya, aku langsung berbalik badan, menghentakkan kaki dengan kesal, dan melangkah lebar menuju pintu keluar. Aku membuka pintu jati besar itu dengan sekali hentakan, melewati meja sekretarisnya yang melongo melihatku keluar dengan muka merah padam, lalu berjalan cepat menuju lift. Masa bodoh dengan jabatan CEO-nya, yang jelas hari ini dia benar-benar sukses membuatku darah tinggi!

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!