Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Dibalik Bayangan
Episode 16
Kegelapan di dalam kamar nomor tujuh Penginapan Tulang Kelabu terasa sangat padat seolah olah ia memiliki berat tersendiri yang menekan seluruh permukaan kulit abu abuku. Aku tetap duduk bersila di atas dipan batu yang dingin membiarkan belati kristal ku tergeletak diam di samping kaki kananku. Aku tidak bergerak sedikit pun bahkan suara napas dari paru paru semu ku sengaja aku atur sedemikian rupa agar terdengar sangat halus dan samar. Di dalam rongga dadaku jantung esensi ku berdetak dengan sangat pelan namun setiap dentumannya mengirimkan aliran energi yang sangat panas ke arah ujung jari jariku.
Dug... dug... dug...
Aku memejamkan mata kuning keemasan ku sesaat namun di dalam pikiranku Eyes of the Abyss tetap bekerja secara aktif. Aku tidak lagi melihat ruangan ini dengan cahaya biasa melainkan melalui aliran energi jiwa yang mengalir di udara. Ruangan yang tadinya gelap gulita kini dipenuhi oleh garis garis ungu tipis yang menandakan struktur bangunan tulang ini. Di pojok ruangan di balik bayangan lemari tua yang sudah lapuk aku melihat sebuah distorsi energi yang sangat aneh.
"Kharis tetaplah diam di posisimu. Jangan bergerak sedikit pun sampai aku memberikan perintah," ucapku melalui transmisi jiwa yang sangat rendah agar suaraku tidak terdengar oleh telinga biasa.
"Aku tahu Goma. Aku bisa merasakan keberadaan mereka. Ada dua mahluk yang sedang menyelinap melalui celah lantai dan atap. Mereka sangat dingin seolah olah mereka tidak memiliki nyawa sama sekali," jawab Kharis dengan nada yang sangat gemetar di dalam jiwaku.
Tiba tiba dari permukaan ubin obsidian di bawah dipan batuku muncul sebuah tangan hitam yang sangat ramping dan panjang. Tangan itu tidak memiliki kuku melainkan ujung jarinya meruncing tajam seperti belati hitam yang terbuat dari asap yang membeku. Tangan itu bergerak dengan sangat senyap tanpa menimbulkan getaran sedikit pun pada debu yang ada di lantai.
[ SISTEM: PERINGATAN: SERANGAN BAYANGAN TERDETEKSI ]
[ SISTEM: MAHLUK: SHADOW STALKER (ASSASSIN CLASS) ]
[ SISTEM: ANALISIS: MENGGUNAKAN ELEMEN KEGELAPAN UNTUK MENYAMARKAN KEBERADAAN FISIK ]
[ SISTEM: REKOMENDASI: SERANG BAGIAN INTI CAHAYA DI DADA MEREKA ]
Aku tidak langsung bereaksi. Sebagai seorang pendaki aku tahu bahwa saat kau berada di posisi yang berbahaya kau harus menunggu sampai lawanmu benar benar menunjukkan seluruh niatnya. Tangan hitam itu mulai mendekati pergelangan kakiku yang sudah berdaging tebal. Saat tangan itu hampir menyentuh kulitku aku melakukan gerakan salto ke arah belakang dengan kekuatan otot paha yang luar biasa.
Brak!
Aku mendarat di atas meja kayu di pojok ruangan dengan posisi jongkok yang sangat stabil. Tangan kanan ku segera menyambar belati kristal yang tadi aku taruh di samping dipan. Di tempat aku duduk tadi sesosok mahluk tanpa wajah yang seluruh tubuhnya tertutup kain hitam mulai muncul dari balik bayangan lantai.
"Ternyata kau tidak sedang tidur ya Goma Sang Pendaki," ucap mahluk itu dengan suara yang terdengar seperti bisikan angin yang lewat di antara daun kering.
"Aku sudah terbiasa tidur di dinding tebing yang rawan longsor. Mahluk sepertimu terlalu berisik bagi indera prasaku," jawabku dengan suara yang datar dan penuh dengan niat membunuh yang sangat pekat.
Belum sempat mahluk pertama menyerang kembali sesosok mahluk serupa muncul dari plafon tulang di atas kepalaku. Ia meluncur turun dengan posisi kaki di depan mengincar bahuku menggunakan belati hitam yang panjang.
Satu di bawah dan satu di atas. Mereka menggunakan taktik penjepit yang sangat rapi.
Aku menggunakan otot perutku untuk melakukan gerakan memutar di udara saat aku melompat dari meja menuju dinding ruangan. Jari jari tangan kiriku yang sudah diperkuat logam Black Iron menusuk dinding tulang dengan sangat dalam memberikan tumpuan yang sangat kokoh bagiku untuk bergantung di posisi vertikal.
"Kalian meremehkan seorang pemanjat tebing di dalam ruangan sempit seperti ini!" teriakku sambil menendang mahluk yang jatuh dari atap tadi menggunakan kaki kananku.
Duar!
Tendangan ku menghantam dada mahluk bayangan itu hingga ia terpental ke arah dipan batu. Namun tubuhnya seolah olah terbuat dari asap sehingga ia tidak merasakan sakit secara fisik yang berarti. Ia segera berguling kemudian menghilang kembali ke dalam bayangan dipan tersebut.
Mahluk pertama yang ada di lantai melesat ke arahku dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia merayap di dinding tulang dengan cara yang tidak masuk akal seolah olah gravitasi tidak berlaku baginya. Belati hitamnya mengincar leherku berulang kali menciptakan percikan energi ungu setiap kali bertabrakan dengan tangan kiri Black Iron ku yang ku gunakan untuk menangkis.
Ting! Ting! Ting!
Suara benturan logam dan bayangan bergema di seluruh ruangan yang sempit itu. Aku merasakan kulit metalik di lenganku mulai memanas akibat gesekan yang terus menerus. Aku harus segera menyelesaikan ini sebelum mahluk kedua menyerang dari titik buta ku.
"Kharis sekarang! Gunakan cahaya jiwamu untuk mengacaukan bayangan mereka!"
Kharis yang sedari tadi bersembunyi langsung meledakkan energi jiwanya menciptakan kilatan cahaya ungu yang sangat terang di dalam kamar yang gelap tersebut.
Sssshhhhaaaaakkkk!
Kedua pembunuh bayaran itu menjerit kesakitan karena mata mereka yang terbiasa dengan kegelapan mendadak diserang oleh cahaya murni. Tubuh bayangan mereka menjadi tidak stabil dan mulai terlihat jelas secara fisik.
Inilah saatnya.
Aku melepaskan peganganku dari dinding kemudian meluncur turun dengan posisi tangan kiri terkepal kuat. Aku memfokuskan seluruh energi jantung esensi ku ke arah tinju kiri yang sudah dilapisi Black Iron. Aku mengincar bagian dada mahluk pertama yang sedang memegangi kepalanya karena silau.
BOOM!
Pukulan ku menembus kain hitam dan langsung menghancurkan struktur tulang di dalam dada mahluk tersebut. Aku merasakan adanya sebuah inti kecil yang retak di bawah tinjuku. Mahluk itu terengah engah kemudian tubuh bayangannya mulai menguap menjadi asap hitam yang sangat pekat.
[ SISTEM: TARGET DIELIMINASI ]
[ SISTEM: MENGEKSTRAKSI ESENSI BAYANGAN (SHADOW ESSENCE) ]
[ SISTEM: MEMULAI PROSES PENINGKATAN KELENTURAN JARINGAN KULIT ]
Aku tidak berhenti di situ. Aku melihat mahluk kedua mencoba melarikan diri melalui jendela kecil. Aku melemparkan belati kristal ku dengan teknik lemparan tepat sasaran yang biasa ku gunakan untuk menambatkan tali di celah batu yang jauh.
Jleb!
Belati itu menancap tepat di punggung mahluk tersebut hingga ia terpaku pada kusen jendela yang terbuat dari tulang. Aku segera melesat mendekatinya kemudian mencekik lehernya menggunakan tangan kanan ku yang sangat kuat.
"Beritahu aku di mana Lord Valos berada atau aku akan memakan jiwamu secara perlahan lahan di depan matamu sendiri," bisikku tepat di telinganya yang mulai mengeluarkan asap.
Mahluk itu hanya bisa mendesis kesakitan tanpa bisa menjawab sepatah kata pun. Ia mencoba meledakkan dirinya sendiri sebagai upaya terakhir untuk membawaku mati bersamanya. Namun sistem analisisku sudah mendeteksi pergerakan energi tersebut lebih awal.
[ SISTEM: PERINGATAN: PROSES PENGHANCURAN DIRI TERDETEKSI ]
[ SISTEM: SARAN: SERAP ENERGINYA SEKARANG UNTUK MEMBATALKAN MEKANISME TERSEBUT ]
Aku membuka mulutku yang sekarang sudah memiliki barisan gigi yang sangat kuat dan tajam. Aku menggigit bagian leher mahluk itu kemudian menghisap seluruh esensi bayangan yang ada di dalam tubuhnya. Rasanya sangat dingin serta pahit menyerupai rasa air laut yang sangat asin bercampur dengan abu.
Slurp.
Dalam hitungan detik tubuh mahluk itu menyusut hingga menjadi selembar kain hitam yang kosong. Seluruh energinya kini mengalir masuk ke dalam pembuluh darah hitamku. Aku merasakan sensasi dingin yang sangat nyaman menyelimuti seluruh kulit metalik ku yang kaku. Rasa kaku yang tadi kurasakan setelah memakan Iron Crusher mulai menghilang digantikan oleh fleksibilitas yang luar biasa.
[ SISTEM: MENGONSUMSI SHADOW STALKER ESSENCE ]
[ SISTEM: PROSES EVOLUSI KULIT TAHAP BERIKUTNYA DIMULAI ]
[ SISTEM: ANDA TELAH MEMPEROLEH KEMAMPUAN: SHADOW VEIL (DAPAT BERSEMBUNYI DI BALIK BAYANGAN SELAMA 10 DETIK) ]
[ SISTEM: SINKRONISASI JIWA MENINGKAT 50 % ]
Aku berdiri tegak di tengah ruangan sambil mengatur ritme napasku yang sekarang sudah jauh lebih stabil. Aku melihat ke arah cermin kristal di dinding. Kulit abu abuku sekarang memiliki pola garis garis hitam tipis yang sangat halus menyerupai serat otot namun jauh lebih kuat. Aku merasa seolah olah aku bisa bergerak secepat bayangan itu sendiri.
"Goma kau benar benar mahluk yang sangat rakus. Kau baru saja memakan dua pembunuh kasta menengah dalam waktu kurang dari lima menit," ucap Kharis sambil terbang kembali ke bahuku dengan wajah yang masih tampak sedikit pucat karena takut.
Aku merapikan kembali jubahku kemudian mengambil belati kristal yang masih menancap di jendela. Belati itu sekarang memiliki retakan yang lebih banyak menunjukkan bahwa ia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi dalam pertarungan selanjutnya.
"Kita tidak bisa tetap di sini Kharis. Suara pertarungan tadi pasti akan memancing perhatian iblis tua di bawah atau bahkan patroli kota. Kita harus segera menuju Aula Pengetahuan sekarang juga selagi hari masih gelap."
Aku melompat keluar melalui jendela penginapan mendarat dengan sangat senyap di atas jalanan obsidian yang sunyi. Sekarang dengan kemampuan Shadow Veil aku bisa bergerak di antara bayangan bangunan tanpa perlu takut terlihat oleh mata mata Lord Valos.
Ibu Widya selangkah lagi aku akan mendapatkan informasi tentangmu. Aku tidak peduli berapa banyak bayangan yang mencoba menghentikan ku. Aku akan terus mendaki melewati mayat mayat mereka sampai aku sampai di depan pintu panti asuhan kita.
Setiap detak jantungku sekarang terasa lebih dingin namun penuh dengan kepastian. Aku adalah Goma sang pendaki yang kini sudah menguasai sebagian kecil dari kekuatan bayangan neraka. Dan Kota Oksidian ini akan menjadi saksi bagaimana aku menghancurkan siapa saja yang berani berdiri di jalanku.
Perjalanan berdarah ini terus berlanjut di bawah cahaya ungu yang semakin meredup menandakan bahwa badai energi besar akan segera datang menyelimuti wilayah tengah Gehenna. Aku terus berlari menembus kesunyian kota siap untuk menelan setiap tantangan yang ada di depan mataku.