Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maharani
Malam makin larut.
Tapi aktivitas disebuah gua jauh di dalam hutan pinus baru saja dimulai.
Sudah hampir 40 hari 40 malam Rani bersemedi di gua tersebut.
Tanpa makan, tanpa minum.
Hanya duduk bersila, memejamkan kedua matanya.
Hal itu semata-mata demi ilmu kanuragan yang sakti mandraguna demi dendam yang merasuki jiwanya.
Malam ini bulan purnama penuh.
Sebagai syarat dari kesempurnaan ilmu, Rani harus melakukan suatu upacara yang anti mainstream dan tak biasa.
Rani membuka mata ketika sebuah suara memintanya.
"Bukalah matamu...!!" suara tegas makhluk yang berdiri tepat dihadapan Rani.
Perlahan, Rani menggerakkan kelopak matanya.
Samar, dia melihat sosok tinggi, gagah berotot berdiri tepat didepannya.
Rambutnya putih, badannya hitam legam dan di sisi keningnya ada tanduk kecil yang melingkuk. Sorot matanya merah dan tajam menatap Rani.
Seketika, kuduknya meremang.
Penampilan pria itu sungguh diluar dugaannya.
"Jika kau ingin menyempurnakan ilmumu, maka kau harus memenuhi satu syarat lagi" tegas suara pria bertubuh tinggi tegap tersebut.
"Apa mbah? Apapun syaratnya, aku akan penuhi" ucap Rani tanpa keraguan.
Senyum kecil merekah di bibir pria tersebut.
Senyum yang menampakkan sedikit taring di kedua sisi giginya.
"Bersihkan dulu tubuhmu ditelaga itu....!" tunjuknya pada sebuah telaga air yang berada di tengah gua.
Rani mengikuti arah telunjuk pria tersebut.
"Baiklah..." ucap Rani berusaha bangkit.
Ia berjalan menuju telaga.
"Lepas semua pakaian mu! Hanya tubuh polos tanpa benang sehelai pun....!!" lagi, pria itu berucap.
Rani melakukannya.
Melepas satu-persatu pakaian yang ia kenakan hingga siluet tubuh bagian belakang nampak jelas tanpa penghalang.
Rani menginjakkan kakinya di air dingin telaga.
Seketika, air berubah menjadi merah darah.
Seluruh tubuh Rani berlumuran cairan merah tersebut.
Tiga kali dia mencelupkan diri hingga air itu berubah menjadi bening kembali.
"Bangunlah... Seluruh kekuatan hitam kini telah bersatu di tubuhmu...!" ucap si makhluk yang masih berdiri di tepi telaga.
Rani bangkit dan keluar dari dalam telaga masih dalam keadaan polos.
Dia berdiri tepat di depan makhluk tegap tadi yang kini tingginya hampir setara dengan Rani.
Penampilannya berubah menjadi pria tampan yang mempesona.
"Ayo habiskan malam denganku dan lahirkan keturunanku...!!" bisiknya tepat di telinga Rani.
Rani menatap mata pria tersebut.
Berusaha menggapai bibirnya.
Keduanya berciuman.
Saling menempel tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh keduanya.
Keduanya bercumbu.
"Aaahhhhhh...." Rani mendes*h kuat karena bagian dari si pria menerobos masuk.
Ukurannya tak biasa.
Kekuatannya pun tak sama dengan kekuatan manusia pada umumnya.
Suara-suara merdu dari keduanya mengisi gua yang tadinya sunyi.
Suara tepuk tangan dan sorak sorai mengiringi penyatuan keduanya.
Si nenek yang berdiri di pintu gua tersenyum tipis.
"Sebentar lagi akan lahir para iblis kecil yang akan membantumu membalaskan dendam... Iblis yang akan menggantikan janinmu yang telah mat*" gumamnya.
Rani kini memiliki kekuatan lebih sehingga mampu mengimbangi seluruh gerak si pria hingga akhirnya dia terkulai lemas diatas peraduan tempat dirinya tadi bertapa karena beberapa kali pelepasan.
Kepala si pria berada diantara kedua sela paha Rani.
Lidahnya sibuk menyesap cairan yang keluar dari pusat tubuh Rani.
Dia tersenyum mengerikan.
Mengusap lembut perut Rani yang mulus.
"Sebentar lagi... Dari sini akan keluar bayi-bayi iblis yang akan menambah kekuatanmu...!!" ucapnya.
Rani hanya mendongak sedikit.
Beberapa menit kemudian, perutnya serasa bergejolak.
Semakin membesar dan semakin bulat.
Rani meringis karena rasa sakit yang menderanya.
Seketika perutnya jadi mulas.
Si nenek tua bergegas mendekatinya.
Menekan perut Rani hingga perempuan itu menjerit.
"Arrgghhhhh.....!!" keringat membanjiri kening Rani seiring teriakannya.
Satu-persatu bayi berbentuk tak lazim keluar dari jalan lahir Rani.
Ada total 7 bayi bercampur jenis. Laki-laki dan perempuan.
Tubuh mereka kecil dengan sedikit tonjolan menyerupai tanduk di kedua sisi dahi mereka.
Giginya taring menyeruak keluar dari mulut mereka.
Mereka semua pandai berjalan dan berlarian.
Si nenek atau mbah Djani mengumpulkan ari-ari mereka dan menyerahkannya kepada Rani. Sebelumnya mbah Djani sudah meminum habis d*rah dari persalinan tak biasa Rani.
Bagi manusia biasa, itu adalah hal yang paling menjijikan tapi bagi mbah Djani, ini sumber kekuatannya.
"Makanlah...! Ini sumber kekuatan mu!" pintanya menyerahkan mangkok besar kehadapan Rani.
Rani mengambilnya dan melahap semua ari-ari yang berlumuran d*r*h.
Jika sebelumnya dia merasa jijik, berbeda kali ini. Dia justru menikmatinya seperti baru saja makan daging panggang segar.
Rani seperti bukan lagi manusia. Separuh jiwanya telah dia jual kepada iblis demi dendamnya kepada kekasih yang telah membuangnya.
Wajah Rani semakin memancarkan cahaya.
Penampilannya berubah.
Cantik dan menggoda.
"Kau telah terlahir kembali. Bukan sebagai Rani si gadis polos melainkan Maharani si primadona hutan pinus. Siapapun laki-laki yang mendengar nyanyian suara merdumu akan mengikutimu dan berakhir menjadi tumbalku!!" ucap si makhluk yang kembali pada sosok awalnya.
Senyum Rani begitu manis sekaligus mengerikan.
"Andre... tunggu aku sayang... Kau akan tahu bagaimana rasanya dibuang dan dipermainkan"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pak... Bagaimana kabar pencarian Rani...? Ibu sudah pasrah jika putri kita ditemukan dalam kondisi apapun" ucap bu Sukma disuatu malam.
Pak Rahman menghela nafas panjang.
Kesehatannya tak lagi seperti kemarin.
Sejak Rani hilang, pria paruh baya itu seakan kehilangan semangat hidup.
"Bapak juga pasrah buk... Tidak ada seorangpun yang melihat Rani... Semua orang yang bapak tanyai mengaku tak pernah melihatnya...." suara tuanya terdengar begitu lemah.
Bagas yang tadinya hendak ikut bergabung mengurungkan niatnya.
Remaja tanggung itu juga begitu kehilangan sang kakak.
Belum lagi bullying para warga kampung maupun rekan-rekannya disekolah yang mengatakan jika kakaknya itu pasti sudah kabur ke kota dengan laki-laki kaya.
Ada juga yang mengatakan jika Rani kekota ingin merubah hidup dan menjadi wanita panggilan.
Bagas mengepalkan kedua tangannya.
Dadanya naik turun karena emosi yang tertahan.
Cepat dia menggeleng, menolak semua asumsi orang-orang terhadap kakaknya.
"Mbak Rani bukan perempuan seperti itu... meskipun kami miskin, mbak Rani nggak mungkin melakukan pekerjaan hina seperti yang orang-orang katakan....!!" erang Bagas berbisik dalam kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dirumah kediaman Andre.
Suasana malam tak seperti biasanya.
Laki-laki itu baru saja selesai menggauli istrinya.
Dia meninggalkan Meri yang tertidur akibat kelelahan.
Andre mengeluarkan sebatang r*kok dari saku celana pendek yang dia gunakan.
Menyesapnya satu.
Asap mengepul keluar dari mulutnya.
Ting....
Sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Bos... Kami sudah menyelesaikan tugas dengan baik!"
Andre kembali tersenyum puas.
Asap kembali mengepul ke udara.
"Ini imbalannya jika kau terlalu ikut campur urusanku...! Aku hanya ingin memberitahumu tapi kau sok alim dan sok jujur...." senyum licik terukir di bibir Andre.
Dia mematikan sisa rokoknya dan beranjak kembali kekamarnya.
Lagi, dia mencoba menggauli Meri meski perempuan itu mengibaskan tangan tanda dirinya benar-benar kelelahan.
Andre tak perduli.
Dia tetap berayun diatas tubuh istrinya walaupun Meri hanya bisa diam dan menerima setiap hujaman benda tumpul milik suaminya.
Andre memiliki hasrat yang begitu besar dan dia tidak menerima penolakan.
Tenaga laki-laki itu bak superior yang tak ada habisnya.
Darah mengalir di sela pintu rahim Meri hingga membuat Andre berdecak kasar.
Dia benci ketika kesenangannya diusik.
"Bersihkan itu...!!! Kau membosankan!!" decaknya meninggalkan Meri yang merintih kesakitan.
Andre tak perduli.
Dia keluar kamar dan memanggil beberapa pelayan wanita untuk membantu Meri.
Dua pelayan berjalan tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan majikan mereka.
"Panggil bidan desa!" perintahnya kepada laki-laki yang berjaga di pos jaga.
Selang setengah jam, seorang bidan desa datang dan bergegas memeriksa kondisi Meri.
Matanya menangkap jejak lebam yang ia tahu itu apa.
Kepalanya menggeleng kecil. Mengutuk suami dari pasiennya dalam hati.
Usai memeriksa Meri, bidan desa itu bergegas keluar. Diruang tengah sudah ada Andre yang duduk bersandar santai sambil memainkan ponselnya.
Entah apa yang dikerjakan oleh laki-laki itu tapi yang jelas, setiap mata yang melihat menjadi murka tapi hanya bisa diucapkan dalam hati mereka masing-masing.
"Ibu Meri hanya kelelahan karena aktivitas yang menguras tenaga. Rahimnya sempat kencang karena gerakan kuat. Jadi saya harap, ibu Meri beristirahat total dari semua kegiatannya termasuk kegiatan ranjang" ucap si bidan tegas.
Andre menaikkan sebelah alisnya.
"Jika sudah tidak ada yang perlu anda kerjakan, biar anggota saya yang antar... Silahkan!" usir Andre halus.
Bu bidan lagi-lagi hanya bisa mengutuk dalam hati.
Sementara Andre kini telah memasuki kamar tamu.
Dia memutuskan tidur di kamar tamu alih-alih menghibur istrinya.
bersambung....