Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Sepeda itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah kayu sederhana mereka. Nurlia turun dengan napas sedikit terengah namun wajahnya berseri-seri tak henti. Malam yang tadinya terasa gelap dan dingin, kini terasa begitu hangat dan menyenangkan di hatinya.
"Assalamualaikum..." serunya sambil membuka pintu pagar kecil dengan semangat.
"Waalaikumsalam..." jawab suara gadis dari dalam.
Belum sempat Nurlia memarkirkan sepedanya dengan rapi, sosok tinggi remaja berwajah manis sudah berlari menyambut keluar. Itu Adelia.
Melihat penampilan Adelia, dia sedang memakai baju batik santai.
"Kakak!!" teriak Adelia ceria.
"Eh adikku sayang!! Lihat nih, Kakak pulang bawa kabar baik dan rezeki nomplok!" seru Nurlia sambil memeluk erat adiknya itu.
Nurlia masuk ke dalam rumah, menyalakan lampu ruang tengah yang menerangi seluruh ruangan sederhana itu. Dia meletakkan tasnya, lalu dengan gerakan dramatis dan penuh senyum, dia merogoh saku celemeknya yang sudah dia lepas, lalu mengeluarkan lipatan uang yang tadi dia terima.
"Nah, yang ini lebih hebat lagi Delia! Lihat!!"
Nurlia membuka lipatan uang itu dan menyebarkannya sedikit di atas meja. Lembaran-lembaran uang merah dan oranye terlihat jelas nilainya.
Lima Ratus Ribu Rupiah!
"Allahu Akbar... Itu uang banyak banget, Kak?!" Adelia memekik kaget, tangannya menutup mulutnya tak percaya.
"Iya dong! Hari ini Kakak dapat rezeki luar biasa! Dikasih tip sama pelanggan baik hati yang sangat dermawan. Lumayan banget kan buat nambah tabungan kita," kata Nurlia sambil tertawa bahagia. Rasanya sangat lega bisa melihat angka sebesar itu di tangan mereka yang hidup pas-pasan.
Mereka berdua pun tertawa dan bersorak kegirangan di ruang tengah yang sederhana itu. Rasanya beban hidup seakan berkurang drastis malam ini.
Namun, tiba-tiba Adelia menghentikan tawanya. Dia menatap uang itu, lalu menatap kakaknya dengan wajah sedikit sungkan namun penuh harap.
"Kak Lia... kebetulan banget lho uangnya datang pas sekarang..." kata Adelia pelan.
"Emangnya kenapa, Del? Ada apa?" tanya Nurlia heran.
Adelia pun berjalan cepat menuju sudut ruangan di mana gantungan baju berada. Dia mengambil sebuah baju seragam sekolah warna abu-abu yang tergantung sana.
"Kan besok kan Senin ya Kak, harus masuk sekolah pakai seragam abu-abu. Aku kan Kelas 3 SMA ini lho... tapi seragamku yang abu-abu ini lho, bagian lengannya ada yang robek dikit di sini," jelas Adelia sambil memperlihatkan jahitan yang mulai lepas dan sobek cukup jelas di lengan bajunya. "Aku malu banget Kak pakai yang robek gini, kan udah kelas akhir, masa bajunya compang-camping gini. Takut diejek teman-teman. Padahal aku sudah jahit sendiri tapi nggak kuat bahannya."
Nurlia segera memeriksa kain seragam di tangan adiknya. Benar saja, kainnya memang sudah tipis dan robek cukup jelas. Hati Nurlia terenyuh melihat adiknya yang berusaha bertahan tapi memang sudah waktunya diganti. Apalagi kan Adelia sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi ujian akhir, harus tampil rapi dan percaya diri.
"Ya ampun... iya ya, sudah parah juga ya sobeknya. Maafin Kakak ya belum sempat gantiin," gumam Nurlia.
Tapi kemudian wajahnya kembali cerah. Dia menatap uang di meja itu, lalu tersenyum lebar.
"Alhamdulillah... emang bener kata orang, rezeki itu nggak akan salah alamat. Datangnya pas banget di saat kita butuh!" seru Nurlia.
Dengan sigap Nurlia mengambil kembali uang 500 ribu itu, dia merapikannya dan memasukkannya ke dalam dompet kulit tua miliknya dengan aman.
"Gini aja ya Del, besok kan Kakak pulang kerja jam 4 sore. Sepulang dari restoran, Kakak langsung ajak kamu ke pasar atau ke toko tekstil langganan Bu RT. Kita beli kain baru, terus kita jahitin atau beli yang jadi yang bagus ya. Biar adikku yang kelas 3 SMA ini bisa sekolah lagi dengan pakaian yang rapi, dan nggak malu lagi!" janji Nurlia tegas.
Mata Adelia langsung berbinar-binar kembali, kesedihannya tadi hilang seketika.
"Benar kah Kak?! Asyikkk! Makasih ya Kak Lia terbaik!!" seru Adelia sambil memeluk pinggang kakaknya erat-erat.
"Iyaa, janji! Besok langsung dibeliin. Sekarang yuk kita simpan uangnya biar aman, terus kita nanti makan malam bareng, aku mandi dulu," kata Nurlia lembut.
Setelah menyimpan uang dengan aman di dalam lemari besi kecil mereka, Nurlia pun mengambil kantong plastik berisi makanan yang dia bawa pulang dari restoran. Lalu Nurlia menaruhnya di dapur. Setelah itu, dia menuju kamarnya untuk mengambil baju ganti, kemudian masuk ke kamar mandi. Dia mandi sampai bersih. Tak butuh waktu lama, Nurlia selesai mandi, keluar kamar mandi dengan wajah berseri.
"Yuk Del, kita makan malam dulu! Abis ini langsung tidur, biar besok semangat," ajak Nurlia sambil menata lauk pauk di atas meja makan.
Ada ayam goreng lengkuas, sayur asem, dan sambal terasi yang masih terasa wanginya menggugah selera. Makanan sisa dari restoran yang dibungkus dengan baik ini terlihat seperti hidangan istimewa bagi mereka berdua.
"Aamiin... Makasih ya Kak, hari ini kita makan enak banget," seru Adelia sambil mencuci tangan dan duduk bersila di hadapan meja.
Mereka pun mulai menyantap makan malam dengan lahap. Suara denting sendok dan piring bersahutan, bercampur dengan obrolan ringan yang membuat suasana semakin akrab.
"Kak Lia, tau nggak? Tadi pas les matematika minggu siang ada kejadian lucu banget deh," cerita Adelia tiba-tiba dengan mulut masih penuh nasi.
"Apanya yang lucu? Ayo ceritain," sahut Nurlia sambil menyuapkan sayur ke mulutnya.
"Gini lho Kak... Kan ada tuh si Budi, anak yang badannya gemuk itu lho. Dia kan lagi ngerjain soal di papan tulis. Eh pas lagi nulis, celananya kepleset turun dikit gitu karena karetnya udah longgar!" cerita Adelia sambil menahan tawa. "Terus dia panik banget sambil narik celananya sambil tetep nulis angka-angka. Guru Bu Siti sampe ketawa ngakak, kelas pada heboh semua!"
Adelia pun tertawa lebar menceritakan ulang kejadian itu, seolah-olah kejadiannya baru saja terjadi.
Mendengar cerita itu, Nurlia pun ikut tertawa ringan. Tawanya renyah dan menenangkan.
"Hahaha... dasar Budi! Emang ya, makannya kebanyakan jadi celananya kegedean," ejek Nurlia sambil tersenyum menggoda. "Terus kamu ketawain juga dong?"
"Iya lah Kak! Paling lucu pas mukanya panik merah kayak kepiting rebus gitu!" jawab Adelia masih tertawa.
Nurlia menatap adiknya dengan penuh kasih sayang. "Ih, kamu ini ya... Suka aja ngeledek teman. Hati-hati lho nanti kalau kamu yang kena dipermalukan, gimana?"
"Enggak bakal lah Kak! Aku kan pinter dan cantik, beda kelas sama si Budi," jawab Adelia sok percaya diri sambil menyeringai, membuat Nurlia kembali tertawa melihat tingkah laku adiknya yang polos namun ceria.
"Yaaa sudah, sudah... Makan yang banyak biar cepet tinggi, jangan banyak bacot," canda Nurlia sambil menambahkan potongan ayam ke piring Adelia.
"Iyaaa... Makasih Kak," jawab Adelia manja.
Makan malam mereka berlanjut dengan penuh tawa dan cerita-cerita ringan lainnya tentang teman-teman sekelasnya, tentang guru yang galak, sampai soal ujian akhir yang sebentar lagi akan datang. Beban berat yang biasanya menghimpit bahu Nurlia seakan hilang terbawa angin malam, digantikan oleh kehangatan kasih sayang dan kebahagiaan sederhana yang mereka miliki.