Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. Sabotase di titik nol
Lampu lorong apartemen yang temaram seolah ikut meratapi langkah kaki Nala yang menjauh. Suara roda koper yang beradu dengan lantai granit terdengar seperti detak jam menuju kehancuran. Di belakangnya, Saga masih terpaku di depan pintu Unit 402 yang terbuka lebar, memamerkan ruang tamu yang kini terasa seperti kuburan bagi kenangan singkat mereka.
Saga merasa dunianya miring. Oksigen di sekitarnya mendadak tipis. Ia melihat Nala masuk ke dalam lift, dan tepat sebelum pintu perak itu tertutup, ia melihat Nala menghapus air mata dengan punggung tangannya—gerakan kecil yang lebih menghancurkan Saga daripada makian mana pun.
"Nggak. Saya nggak bisa biarkan ini jadi akhir," desis Saga.
Logika pria itu kembali bekerja, namun kali ini bukan didorong oleh perhitungan bisnis, melainkan oleh insting purba untuk tidak kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang monoton.
Saga tidak mengejar Nala ke lift—itu akan sia-sia. Ia tahu lift itu akan langsung menuju lobi atau area parkir.
Saga berlari kembali ke dalam unitnya. Ia menyambar ponsel dan kunci cadangan mobil Jeep hitamnya yang terparkir di slot berbeda agar tidak mudah dikenali. Sambil berlari menuju tangga darurat—karena menunggu lift akan memakan waktu terlalu lama—Saga menghubungi kepala keamanan gedung.
"Anto! Tahan taksi mana pun yang mau keluar dari gerbang dalam lima menit ke depan. Bilang ada pengecekan keamanan darurat!" perintah Saga. Ia harus melakukan sabotase kecil ini, atau Nala akan hilang ditelan kegelapan Jakarta.
Di lobi, Nala berdiri dengan bahu merosot. Ia mencoba memesan taksi online, namun entah mengapa, aplikasi di ponselnya terus menunjukkan pesan error. Ia mencoba berjalan menuju pangkalan taksi di depan gedung, namun petugas keamanan mencegatnya dengan sopan namun tegas.
"Mohon maaf, Mbak Nala. Sedang ada pengecekan pipa gas di area gerbang keluar. Kendaraan tidak diizinkan melintas demi keamanan," ujar petugas itu dengan wajah kaku yang dipaksakan.Nala mengerutkan kening.
"Pipa gas? Tengah malam begini? Mas, saya buru-buru!"
Belum sempat Nala membalas, sebuah Jeep hitam berhenti tepat di depannya dengan suara decit ban yang memilukan.
Kaca jendela turun, menampakkan wajah Saga yang berantakan—rambutnya tidak lagi tertata rapi, kancing kemeja atasnya terbuka, dan matanya merah.
"Masuk, Nala," kata Saga pendek.
"Nggak. Aku mau pulang ke rumah Ibu," jawab Nala ketus, meski suaranya bergetar.Saga keluar dari mobil, tidak peduli dengan tatapan bingung staf lobi. Ia mengejar Nala dan menahan kopernya.
"Kamu mau pulang ke rumah Ibu jam tiga pagi dengan kondisi begini? Kamu mau Ibu serangan jantung melihat calon menantunya menyakiti anaknya seminggu sebelum pernikahan yang ia banggakan?"Nala berhenti mendadak.
Pertanyaan Saga telak mengenai titik terlemahnya. Ibunya. Ibunya yang sudah menjahit kebaya paling cantik. Ibunya yang percaya bahwa Nala akhirnya menemukan pria yang akan menjaganya selamanya.
"Emang Mas nyakitin aku, kan?" Nala berbalik, dadanya naik turun karena emosi.
"Mas ninggalin aku buat perempuan yang dulu buang Mas. Itu kenyataannya! Mas pilih jadi pahlawan buat dia, tapi Mas biarin aku jadi penonton yang hancur di sudut ruangan!"Saga menangkup wajah Nala dengan kedua tangannya. Dingin, namun tegas.
"Saya pergi untuk memastikan tidak ada nyawa yang hilang, Nala. Bukan untuk kembali mencintainya. Demi Tuhan, tidak ada sedikit pun sisa cinta untuk Sarah. Yang ada hanya rasa kemanusiaan yang bodoh, dan saya minta maaf karena itu membuatmu merasa nomor dua."Nala mencoba melepaskan diri, tapi Saga tidak membiarkannya.
"Nala, saya minta waktu. Enam hari. Kita tidak akan kembali ke apartemen itu malam ini kalau kamu tidak mau. Kita pergi ke tempat di mana tidak ada Sarah, tidak ada Papa, dan tidak ada tuntutan kontrak. Kalau dalam enam hari saya gagal meyakinkanmu bahwa kamu adalah satu-satunya, aku sendiri yang akan membatalkan pernikahan ini dan menanggung semua amarah Ibu serta Papaku."
Nala menatap mata Saga. Keangkuhan pria itu telah luntur sepenuhnya, digantikan oleh keputusasaan seorang pria yang takut kehilangan dunianya.
"Enam hari?"
"Enam hari. Hanya kita," bisik Saga.
Saga membawa Nala ke sebuah vila kecil miliknya di kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Sepanjang perjalanan, Nala hanya menatap jendela. Ia merasa sangat lelah.
Bukan hanya lelah fisik, tapi lelah karena menyadari betapa dalam ia telah jatuh cinta pada pria yang awalnya hanya bagian dari rencana "sabotase" pernikahan ini.
Nala tidak pernah bersekongkol dengan siapa pun. Ia hanyalah gadis biasa yang masuk ke kehidupan Saga karena sebuah kebetulan yang rumit, dan kini ia terjebak dalam perasaan yang terlalu nyata.
Baginya, Sarah adalah simbol dari semua hal yang tidak ia miliki: kelas, sejarah, dan keanggunan.Sesampainya di vila, suasana sangat sunyi. Saga membawakan koper Nala ke kamar utama.
"Tidurlah. Saya akan di sofa ruang tamu," ujar Saga.Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap punggung Saga yang hendak keluar kamar.
"Mas..."Saga berbalik.
"Kenapa harus aku? Kenapa Mas nggak biarin aku pergi aja tadi? Pernikahan ini kan awalnya cuma buat bungkam mulut Papa Mas. Sekarang Sarah sudah kembali, dia butuh Mas, dan dia... dia setara sama Mas."Saga berjalan mendekat, berlutut di depan Nala sehingga mata mereka sejajar.
"Setara itu bukan soal berapa banyak harta atau seberapa anggun seseorang di depan kamera, Nala. Setara itu adalah saat saya merasa cukup hanya dengan melihat kamu makan keripik micin di depan TV. Sarah adalah bagian dari hidup saya yang penuh kepura-puraan. Kamu... kamu adalah satu-satunya bagian yang nyata."Nala menunduk, air matanya jatuh di punggung tangan Saga.
"Aku takut, Mas. Aku takut H-6 ini cuma penundaan dari kehancuran yang lebih besar."Saga menggenggam tangan Nala erat.
"Maka biarkan saya yang takut mulai sekarang. Kamu cukup diam di sini, di samping saya. Biarkan saya yang berperang melawan masa lalu itu."
Namun, di tengah keheningan malam itu, ponsel Saga kembali bergetar.
Pesan singkat dari asistennya: “Pak, Sarah sudah sadar. Dia menolak makan kalau tidak ada Bapak di sana. Ibunya mengancam akan membawa masalah ini ke media jika Bapak mengabaikan kondisi Sarah.”
Saga melihat pesan itu, lalu menatap Nala yang mulai terlelap karena kelelahan. Ia mematikan ponselnya dan melempar benda itu ke arah sofa.
Masa lalu mungkin sedang mencoba membakar jembatan masa depannya, tapi kali ini, Saga memilih untuk tetap berdiri di sisi jembatan tempat Nala berada, meski ia harus ikut terbakar di sana.
H-6 bukan lagi soal persiapan pesta. Ini adalah soal bertahan hidup di tengah badai manipulasi yang baru saja dimulai.
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.