WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
#5
Resha melangkahkan kakinya dengan gontai, apartemen yang ia huni bersama kedua orang tuanya pun sangat sepi di siang hari.
“Kamu sudah pulang?” sapa Nyonya Yu, namun Resha tak merespon apa-apa.
Wanita itu langsung menuju kamarnya alih-alih bercerita tentang pertemuannya dengan dokter yang selama beberapa tahun ini menangani penyakitnya.
Tok!
Tok!
“Resha— kenapa diam saja? Dokter mengatakan apa?”
“Tolong jangan menggangguku, Ma. Aku ingin sendiri,” pinta Resha.
“Oke, Mama gak akan ganggu, tapi pastikan tidak mengunci pintu, ya?” pesan Nyonya Yu.
Terakhir kali Resha mengunci pintu kamarnya, karena ia sedang marah pada takdir hidupnya, yang harus menanggung penyakit parah bernama kanker tulang primer. Dan hingga malam tiba ia tak kunjung keluar, Tuan Quang Yu terpaksa mendobrak pintu kamar Resha, dan ternyata Resha menangis hingga pingsan.
Resha pun pasrah menuruti permintaan Nyonya Yu, ia membanting tubuhnya di kasur. Ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu, ketika akhirnya ia bisa melihat pria yang dicintainya dari dekat.
Dimata Resha, pria itu semakin tampan dan matang, kulit sawo matang berhias guratan di wajahnya menambah karisma serta pesona alami yang selama ini memikat Resha, hingga jatuh cinta begitu dalam pada Firza.
Tubuh pria itu pun masih sama, tinggi badan yang pas proporsional, bahu lebar dan dadanya yang bidang. Pasti senang sekali bila ia bisa bersandar di sana kapan saja. Sayang, yah, sayang sekali, hanya istrinya yang berhak ada di sana. Sementara dirinya, hanya bisa memandang dengan perasaan iri.
Resha meremas dadanya yang berdenyut nyeri, akibat rasa cemburu yang kembali menguasai hatinya. Perasaan cemburu inilah yang membuatnya nekat, menjadi pengirim foto-foto misterius.
Niatnya sangat jelas, yaitu ingin membuat Firza kembali mengingatnya, bila mungkin pria itu telah lupa. Dan yang paling penting, ingin membuat istri Firza juga merasakan apa yang ia rasakan, cemburu yang menggebu sama seperti dirinya.
Intinya, sampai kapanpun Resha tak rela bila wanita itu merasa bahagia, sementara dirinya merana karena kasih yang tak sampai.
•••
Flashback.
#Di buku sebelumnya, ada adegan Resha pingsan di dekat mobilnya, ketika ia hendak melarikan diri dari rumah. Othor akan mulai dari sana.
“Non!” jerit security yang melihat Resha tiba-tiba jatuh tepat sebelum masuk ke mobil.
“Panggil Nyonya,” kata security, sambil mengangkat kepala Resha yang terbaring di atas aspal halaman rumah.
Tak lama kemudian.
“Resha!” pekik Nyonya Yu.
Wanita itu, segera bersimpuh dengan wajah panik, dan meminta sopir menyiapkan mobil untuk memeriksakan kondisi Resha yang pingsan secara tiba-tiba, padahal sebelumnya ia tak pernah pingsan.
“Permisi sebentar, Bu. Silahkan menunggu di luar.”
Dokter UGD meminta Nyonya Yu menunggu di luar.
“Tolong anak saya, Dok,” pinta Nyonya Yu.
“Iya, Bu. Kami pasti melakukan yang terbaik. Apa sebelumnya putri ibu pernah pingsan dalam waktu lama?” tanya dokter sebagai observasi awal, karena Nyonya Yo bilang pingsannya tiba-tiba, tanpa ada sebab sakit lain sebelumnya.
Nyonya Yu menggeleng, “Seingat saya ini baru pertama kalinya, Dok.”
“Baiklah, saya akan melakukan pemeriksaan.”
Dokter kembali masuk ke bilik pemeriksaan, dan Nyonya Yu menunggu, sambil menghubungi suaminya di tempat kerja.
Detik demi detik berlalu, Resha belum ada tanda-tanda sadar kendati sudah beberapa jam di evakuasi dan mendapatkan beberapa macam infus.
“Pak, Bu. Kondisi putri kalian, belum juga ada tanda-tanda akan sadar, jadi sekarang kami minta izin untuk melakukan pemeriksaan darah, dan pemeriksaan secara menyeluruh.”
“Lakukan, Dok. Lakukan pemeriksaan dan tes apa saja, untuk mengetahui penyebabnya.” Dengan yakin, Tuan Guang Yu menyatakan persetujuannya, agar dirinya dan sang istri tidak terombang-ambing dalam ketidakpastian.
“Ini pasti teguran leluhur, pasti leluhur kita marah, karena Resha memiliki niat meninggalkan kepercayaan leluhurnya sendiri, demi mengikuti keyakinan laki-laki itu.”
Nyonya Yu mengangguk setuju, “Kalau begitu, Mama akan minta ART menyiapkan altar sembahyang, Pa.”
“Iya, Ma. Semakin cepat kita berdoa hasilnya akan semakin baik.”
Malam harinya, Resha baru membuka mata, bukan main leganya perasaan Tuan dan Nyonya Yu.
“Di mana ini, Ma?” tanya Resha lirih, wajahnya pucat, dan tubuhnya terasa lelah tak bertenaga. Padahal Resha tidak beraktivitas berat.
“Syukurlah, kamu sudah sadar, dan demammu juga sudah turun,” ucap Nyonya Yu bahagia.
“Tadi Mama dan Papa langsung melakukan sembahyang, memohon ampunan untukmu.”
Resha memejamkan matanya, “Ayo pulang, Ma. Aku ingin tidur di kamar,”
“Dokter bilang, malam ini kamu masih harus menginap disini, sampai hasil tes darahmu keluar.”
“Tes darah? Memang aku sakit apa, Ma? Kan aku cuma pingsan sebentar.”
“Sebentar?! Kamu pingsan lebih dari sepuluh jam. Sejak jam 9 pagi tadi, dan sekarang sudah hampir jam 11 malam.”
“Apaan, sih, Ma. Nggak usah menakutiku, semalam aku cuma kurang tidur setelah Papa memarahiku.” Resha berusaha bangkit, tapi yang ada badannya semakin terasa ngilu.
“Tuh, kan, Mama bilang juga apa,” kata Nyonya Yu gemas.
Resha pun pasrah, karena kenyataannya, sekarang ia tak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan mamanya.
Esok harinya langit serasa runtuh menimpa Resha, vonis itu seperti mematikan seluruh angan, harapan, dan impiannya untuk bisa hidup bahagia bersama pria yang dicintainya.
“Nggak, mungkin, dokter pasti bohong, kan?! Katakan sejujurnya!” jerit Resha histeris sambil menarik rambutnya karena masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Berita baiknya, ini masih deteksi dini, jadi peluang kesembuhannya masih sangat besar.”
“Tuh, dengar apa kata dokter, kamu masih bisa sembuh.”
Resha meraung dan menangis keras di pelukan Nyonya Yu. Sementara Tuan Yu, membahas kemungkinan bahwa mereka akan segera membawa Resha berobat ke China, di sana ia punya kerabat yang bekerja di sebuah rumah sakit ternama.
Tak menunggu lama, keputusan untuk membawa Resha ke China, segera direalisasikan, agar Resha bisa segera mendapatkan pertolongan.
Sejak saat itulah, Resha memutuskan kontak dengan sang kekasih, ia pergi tanpa pamit, tanpa meninggalkan jejak. Resha tak ingin Firza mengasihani dirinya karena penyakit yang ia derita. Dan yang paling ia takutkan adalah, Firza-lah yang akan pergi meninggalkannya, karena tak ingin memiliki kekasih berpenyakitan.
Keinginan itu menjadi angin segar bagi Tuan Quang Yu, yang sejak awal tak merestui hubungan Firza dan Aresha putrinya.
Serangkaian pengobatan dilakukan, dari yang medis dengan bantuan teknologi pengobatan, hingga yang tradisional, dengan berbagai ramuan herbal.
Usaha tersebut tak sia-sia, meski Resha harus menahan sakit setiap kali kemoterapi dan radiasi berlangsung. Rambut indahnya berguguran hingga habis sepenuhnya, merasa tidak percaya diri, hingga tak mau keluar rumah, karena malu bertemu orang.
Hingga akhirnya, Dokter menyatakan bahwa dirinya sembuh, hanya tinggal membersihkan sel-sel kanker yang tertinggal. Dan berita baiknya itu bisa dilakukan di Indonesia.
Flashback End.
toh sama" single