NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Godaan Halus

​Sepanjang proses itu, posisi Hans sangat dekat dengannya. Tania bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh pria itu, menghirup aroma maskulin yang menenangkan, berbaur dengan sisa wangi tembakau yang samar.

​Kontak sedekat ini membuatnya gugup sekaligus merasa manis; jantungnya berpacu seolah hendak melompat keluar dari tenggorokan. Ia bahkan bisa melihat bulu mata Hans yang lebat dan fokus di matanya.

​Setelah sabuk pengaman terpasang, Hans tidak langsung menegakkan tubuh. Ia justru mencondongkan wajahnya beberapa inci lebih dekat, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Tatapannya tetap terkunci pada Tania, binar di matanya semakin dalam, membawa sedikit kesan kemenangan.

​"Tania," suaranya rendah dan magnetis, "Keselamatan itu nomor satu."

​Tania melotot padanya; pria ini jelas-jelas sengaja melakukannya. Begitu Hans menjauh, Tania baru bisa bernapas lega, meski rasa panas di wajahnya belum juga hilang.

​Ia menurunkan pandangannya dan berbisik pelan, "Terima kasih."

​"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi." Suara Hans memberat, membawa nada menenangkan. "Duduk yang manis."

​Ia menyalakan mesin, dan Aston Martin hitam legam itu melaju mulus meninggalkan gedung fakultas. Tania mencuri pandang ke arahnya; profil wajah Hans saat menyetir tampak tajam, tetap cukup tampan untuk membuat ritme jantung Tania berantakan. Ia diam-diam memeluk buku di pangkuannya lebih erat, namun sudut mulutnya tidak bisa menahan senyum tipis yang muncul.

​"Mau makan dulu sebelum pulang?" tanya Hans dengan nada rendah, nada yang bertanya namun seolah tak menerima penolakan.

​Tania menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi penumpang, nadanya sedikit malas, bercampur dengan rasa ketergantungan yang mulai tumbuh:

​"Aku lagi ingin makan steak," ujar Tania dengan gaya manja yang kasual.

​"Baiklah." Hans menjawab singkat sambil memutar kemudi menuju pusat kota.

​Dua puluh menit kemudian, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah restoran Barat kelas atas. Hans mematikan mesin dan turun, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Tania, telapak tangannya masih melayang melindungi bagian atas kepala gadis itu agar tidak terbentur.

​Tania membungkuk keluar dari mobil, dan saat berdiri tegak, ia secara tidak sadar mendongak menatap pria di sampingnya. Hans mengenakan kemeja gelap hari ini, bagian lengannya digulung asal hingga ke lengan bawah, memperlihatkan garis otot yang kuat. Sosoknya tinggi tegap, lebih dari satu kepala dibanding Tania; gadis itu memang terlihat kecil dan rapuh di sampingnya.

​Cahaya matahari sore miring dari belakang Hans, membentuk siluet yang tegas dan membuat Tania sedikit menyipitkan mata. Hans menyadari tatapan itu dan menunduk menatapnya dalam-dalam.

​Ia mengulurkan tangan secara alami—bukan untuk menggandeng, melainkan merangkul longgar bahu Tania, menariknya lebih dekat ke sisinya dalam gerakan perlindungan yang tak terbantahkan. Mereka sangat dekat, dan Tania bisa mencium aroma kayu cendana yang dingin dan akrab, persis seperti wangi di dalam mobil.

​Pipi Tania terasa panas, tapi ia tidak menghindar; sebaliknya, ia merasa jarak sedekat ini memberinya rasa aman yang tak bisa dijelaskan.

​Pintu putar restoran perlahan terbuka di depan mereka, dan petugas penyambut membungkuk hormat. Begitu mereka melangkah masuk, hiruk-pikuk dunia luar seketika terputus. Alunan musik piano yang merdu mengalir masuk ke telinga, dan udara dipenuhi aroma terapi serta wangi makanan yang menggugah selera. Lampu kristal membiaskan cahaya hangat, menerangi setiap meja yang diatur apik.

​Seorang pelayan segera mendekat. Senyum ramah di wajahnya tampak semakin tulus saat melihat Hans, dan sorot matanya berubah menjadi rasa hormat yang mendalam. Ia membungkuk sedikit, suaranya terdengar lebih bersemangat dari biasanya: "Selamat datang, Tuan dan Nona, silakan lewat sini."

​Ia tidak bertanya apakah mereka sudah reservasi, melainkan langsung menuntun mereka menuju area dengan pencahayaan terbaik dan suasana paling tenang. Hans berjalan tanpa terburu-buru di sisi kiri Tania, hampir sepenuhnya melindungi gadis itu dari tatapan pengunjung lain. Perasaan diperlakukan dengan sangat istimewa ini membuat Tania merasa seolah hatinya sedang dibelai lembut oleh sehelai bulu—sedikit geli, namun sangat manis.

​"Lapar sekali, ya?" Hans menoleh dan bertanya dengan suara rendah di dekat telinga Tania. Napas hangatnya menyentuh daun telinga gadis itu, memicu sensasi merinding kecil.

​Tania mengangguk jujur dan berbisik balik: "Iya, apalagi setelah mencium aroma makanannya."

​Ia teringat betapa Hans terlihat sangat berwibawa saat mengendarai mobil sport tadi di kampus, namun sekarang pria ini bisa bersikap begitu perhatian. Pria ini, kadang-kadang, memang sangat... menyenangkan.

​Pelayan membawa mereka melewati beberapa baris meja, hingga akhirnya berhenti di sebuah booth istimewa di pinggir jendela. Tidak hanya pencahayaannya yang lembut, tempat ini juga menawarkan pemandangan kota di luar, serta dipisahkan dari meja lain oleh tanaman hijau yang tertata rapi, memberikan privasi yang luar biasa.

​Pelayan itu mundur selangkah dengan hormat. Hans sudah melangkah maju, tangan kanannya memegang sandaran kursi putih gading, menariknya keluar dengan mulus untuk Tania. Posturnya elegan, tanpa kesan dibuat-buat.

​Tania merasa hangat di hatinya dan duduk di kursi yang telah ditarikkan, ujung jarinya secara tidak sadar meremas pinggiran roknya. Ia mengira Hans akan duduk di seberangnya, karena itu adalah etika makan yang umum. Namun, tepat saat ia menyesuaikan posisi duduknya, ia melihat Hans berjalan memutar meja kecil itu dan menarik kursi tepat di sampingnya.

​Kaki kursi mengeluarkan bunyi "sret" pelan di lantai yang halus. Detik berikutnya, Hans duduk tepat di sebelah Tania. Begitu dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Jarak di antara keduanya seketika memendek hingga hampir tak berjarak.

​Tania bahkan bisa merasakan panas yang memancar dari kaki pria itu, dan setiap napasnya dipenuhi dengan aroma Hans yang segar. Ia secara tidak sadar bergeser ke dalam, hanya untuk menyadari bahwa ia sudah mentok di ujung sofa dan tidak punya tempat lagi untuk mundur.

​Pria ini, dia sengaja lagi, kan? Ia mencuri pandang dengan kesal, tapi Hans seolah tidak sadar, ekspresinya tetap tenang.

​Hans mendorong menu ke depan Tania, ujung jarinya mengetuk salah satu halaman:

​"Di sini Pan-Seared M9 Wagyu with Black Truffle Sauce-nya adalah menu andalan, dan French Escargot-nya juga enak. Kamu mau yang mana?"

​Perhatian Tania teralih ke menu. Gambar-gambar yang indah membuat seleranya melonjak. "Kalau begitu, pesan M9 Wagyu ini saja."

​"Pilihan yang bagus," Hans menyunggingkan senyum, lalu menambahkan kepada pelayan, "Dan satu Black Forest Mousse. Untuk minumnya, satu jus jeruk segar, dan satu... lemon tea."

​Ia masih harus menyetir nanti, jadi ia tidak memesan wine. Ia menatap Tania, "Boleh, kan?"

​Tania mengangguk setuju.

​"Baik, mohon tunggu sebentar." Pelayan mencatat pesanan dan mundur dengan sopan.

​Hans sedikit mencondongkan tubuh ke arah Tania, mempertahankan postur perlindungan yang longgar itu, seolah gadis itu adalah harta karun yang perlu dijaga ketat. Tania merasa bahunya diselimuti oleh napas hangat pria itu, dan hatinya terasa hangat sekaligus gugup. Ia mencuri pandang padanya; Hans sedang menatapnya dengan senyum tipis di mata.

​"Kalau lapar, tunggu sebentar lagi ya," ucap Hans sambil mengangkat tangan untuk merapikan helai rambut yang berantakan di dekat telinga Tania.

​Ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh daun telinga Tania, membawa sensasi seperti sengatan listrik kecil. Pipi Tania merona lagi, dan jantungnya berdetak kencang. Ia menundukkan mata, menatap peralatan makan di depannya, perak indah yang berkilau lembut di bawah lampu restoran.

1
Mxxx
up oi👍
QueenV
suka.. cerita nya bagus
QueenV
suka.. cerita nya bagus
Yunita Linggi Allo
bagus n suka ceritax
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!