NovelToon NovelToon
Fy Unig

Fy Unig

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.

Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.

Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.

Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.

Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Malam yang seharusnya sunyi di mansion Zuri kini berubah menjadi medan pertempuran batin yang tak kasat mata. Bagi Jagad Emerson, rasanya seperti mimpi yang memabukkan.

Adrenalin pasca tawuran yang tadi memompa jantungnya kini telah bermutasi menjadi gairah yang jauh lebih berbahaya. Ia sama sekali tidak lagi mengingat nasihat Daddy Kingsley tentang kehormatan, atau wejangan Mommy Faelynn tentang bagaimana seorang pria sejati harus memperlakukan wanita. Semua itu menguap bersama aroma vanila yang menguar dari tubuh Callista.

Jagad membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka, memamerkan perut sixpack yang terbentuk keras. Callista, yang masih berada dalam pengaruh kebingungan dan sensasi baru, sedari tadi meraba permukaan perut Jagad seakan ingin memastikan bahwa pria di depannya ini nyata.

Sentuhan jemari Callista yang halus di atas otot perutnya justru membuat Jagad semakin menggila. Ia kembali memburu bibir gadis itu, meninggalkan jejak-jejak kemerahan di bagian leher yang tersembunyi, tanda kepemilikan yang impulsif.

Melihat Callista yang polos dan tampak malu-malu, Jagad tersadar bahwa ini bukan sekadar imajinasi liar. Rambut Jagad yang sedikit panjang dan berantakan—potongan khas anak muda yang gemar memberontak—jatuh menutupi keningnya saat ia terus mengerjai bibir Callista.

"Lo... bisa napas?" tanya Jagad lirih di sela ciumannya.

Callista hanya mengangguk pelan, matanya sayu dan pipinya merona hebat. Jagad kemudian mengangkat tubuh gadis itu, mengajaknya memutar ke pinggir ranjang dengan posisi Callista tetap duduk di pangkuannya. Setelah beberapa saat berciuman dengan intens, Jagad menjeda kegiatannya. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, napasnya menderu tak beraturan.

"Gue mau lebih. Gue nggak puas kalau cuma begini... gue pengen yang lain," bisik Jagad dengan suara rendah yang menuntut.

Callista terkesiap. Jantungnya berdebar kencang mendengar kata-kata itu. Logikanya berteriak bahwa ini sudah terlambat untuk mundur. Mau tidak mau, ia seolah terseret arus yang diciptakan Jagad. Memang ini semua gara-gara DVD gila itu, rutuknya dalam hati, namun tubuhnya tidak menunjukkan penolakan.

"Buka mulut lo," perintah Jagad.

"Buat apa?"

"Turutin aja," ucap Jagad lagi, tatapannya mengunci manik mata Callista.

Saat Callista membukanya sedikit, Jagad segera membungkamnya kembali. Ia memberikan sensasi ciuman panas yang lebih dalam, mengeksplorasi rasa yang baru bagi Callista. Callista, yang dikenal sebagai anak baik dan mahasiswi berprestasi sebelum malam ini, baru menyadari bahwa sentuhan fisik tidak semenjijikkan yang ia bayangkan sebelumnya.

Semua berjalan di bawah kendali Jagad. Hingga tiba-tiba, tangan Jagad yang awalnya hanya meraba paha Callista, mulai merayap naik. Tujuannya adalah dua benda kenyal yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Begitu tangan itu sampai dan memberikan remasan pelan, sebuah suara lolos dari bibir Callista.

"Ssssh... ahh..."

Jagad melebarkan matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mendengar seorang wanita mendesah secara nyata, bukan melalui layar atau cerita teman-temannya. Suara itu seperti candu yang memicu kegilaannya.

"Muka lo cantik banget kalau lagi begini," puji Jagad dari posisinya yang mendominasi. Ia semakin mengeraskan remasannya, menikmati reaksi yang diberikan Callista. "Lo harus lihat ekspresi lo sendiri."

Jagad mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dengan gerakan cepat, ia membuka kamera dan memotret Callista yang sedang berada dalam puncak kegelisahan dengan pipi bersemu merah. Ia kemudian menunjukkan gambar itu di depan wajah Callista.

"Nih, lihat. Cantik, kan?"

Callista hanya diam, bingung harus bereaksi apa. Pikirannya carut-marut. Malam ini tidak hanya menambah wawasan biologisnya, tapi juga memberikan pengalaman yang melompati batas normalnya. Gadis itu tahu dia mungkin akan menyesal besok, tapi untuk berhenti sekarang rasanya mustahil.

"Lo wangi banget," gumam Jagad lagi, wajahnya kini terbenam di ceruk leher Callista.

Callista menggeleng lemah, napasnya menderu. "Jangan digigit... Jagad," rintihnya saat merasakan gigi Jagad bergesekan dengan kulitnya.

Merasa gemas, Jagad justru semakin intens memberikan tekanan. "Ssshh, sakit Jagad! Jangan digituin!" protes Callista sambil berusaha menjauhkan bahunya.

"Habisnya lo gemesin banget," jawab Jagad dengan tawa serak.

"Tapi sakit," jawab Callista jujur.

"Oke, ganti yang lain." Jagad tersenyum gila. Ia menyingkap kaos tipis yang dikenakan Callista, menemukan sesuatu yang menonjol di sana, dan segera memberikan stimulasi yang membuat Callista tersentak hebat.

"Emmmph... Jagad... jangan digigit!"

Callista menekan kuku-kukunya ke bahu Jagad sebagai pengalihan rasa aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Sakit, jangan digituin," keluh Jagad pelan. "Kuku lo tajam banget, Cal."

"Habisnya kamu kencang banget, kena gigi juga. Jangan kencang-kencang!"

Jagad terdiam sejenak, lalu menatap Callista dengan tatapan yang sedikit lebih lembut. "Oke, sorry. Gue pemula."

Callista sedikit terkejut. "Sebelumnya... belum pernah?"

"Lo kira gue apa? Gue juga baru pertama kali sedekat ini sama cewek," aku Jagad jujur.

Kini Callista benar-benar berada di pangkuan Jagad, merasakan sesuatu yang tegang dan keras menekan bagian bawah tubuhnya. Sesuatu yang menjadi bukti nyata gairah pria itu.

"Kerasa nggak?" tanya Jagad tanpa sensor.

"Apanya?"

"Gue tahu lo paham maksud gue, Cal," ucap Jagad telak.

Wajah Callista memerah sempurna. Otaknya mulai mengirimkan sinyal bahaya, menyuruhnya untuk segera menghentikan hal ini. Namun, rasa penasaran dan sensasi nikmat itu seolah menahan kakinya. Tiba-tiba, tangan Jagad bergerak menuju area yang paling sensitif, area yang menurut Callista adalah gerbang menuju kehancuran.

Merasa kegiatan ini sudah melampaui batas aman, Callista segera mencekal tangan Jagad. "Jangan!"

Jagad tersentak, napasnya memburu. "Kenapa?"

"Jangan di sana... aku nggak mau hamil," ucap Callista dengan kepolosan yang nyata.

Jagad tertegun sejenak, lalu tersenyum melihat kepolosan gadis desain itu. "Nggak ada orang hamil cuma karena jari, Cal. Percaya sama gue."

"Aku tetap nggak mau. Ini udah terlalu jauh," tegas Callista, ia mencoba mengatur kembali pakaiannya yang berantakan.

"Tapi lo pasti bakal suka," goda Jagad, mencoba merayu kembali.

"Nggak, ini terlalu jauh. Titik."

"Ini belum seberapa, Callista. Gue tahu batasannya, gue nggak akan bikin lo celaka."

"Stop!" kata Callista tegas. "Sudah sampai sini aja."

"Nanggung, Sayang..." ucap Jagad tiba-tiba, sebuah panggilan yang membuat jantung Callista hampir melompat keluar.

"Nggak, aku nggak mau," jawab Callista tetap pada pendiriannya.

Namun, Jagad tidak menyerah begitu saja. Ia kembali mencium Callista dengan lembut, kali ini lebih seperti permohonan daripada paksaan. "Gue janji, nggak akan lebih jauh dari itu. Setidaknya sampai gue puas. Please..."

Ciuman itu kembali meluluhkan pertahanan Callista sesaat. Namun, Jagad tiba-tiba melakukan sesuatu yang lebih berani. "Mau ketemu Beck?"

"Beck? Siapa?" tanya Callista bingung.

Tanpa banyak bicara, Jagad mulai membuka kancing celananya dengan terburu-buru. Begitu Callista menyadari apa yang dimaksud "Beck", ia langsung memalingkan wajah dan berusaha menjauh.

"Oh itu?! Nggak! Nggak mau!" teriak Callista panik.

"Kenapa?" tanya Jagad, ia tertawa kecil melihat reaksi ketakutan Callista.

"Nggak mau ketemu! Pokoknya nggak mau!"

"Serius lo nggak mau kenalan?" goda Jagad lagi.

Callista menggeleng kuat-kuat. Jagad menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di bawah sana. Mau bagaimanapun, ia teringat sosok Daddy-nya; seorang pria harus menghargai keputusan wanita.

"Jadi kita harus apa sekarang?" tanya Jagad pasrah.

"Kita? Kamu aja. Aku udah nggak pengen lagi," ucap Callista cepat sambil berusaha bangkit dari pangkuan Jagad.

"Nggak bisa gitu, Sayang. Gue bisa stres kalau berhenti di tengah jalan begini," Jagad menahan pinggang Callista agar tidak pergi.

"Ya terus?"

"Lo harus puasin gue dulu... dengan cara lain," kata Jagad dengan tatapan memohon yang nakal.

"Nggak! Aku nggak mau!" jawab Callista, meskipun dalam hati ia tahu bahwa malam ini, melarikan diri dari Jagad Emerson adalah misi yang mustahil.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ren_iren
kembalikan king dan faelynn😂
Ros 🍂: maafkan author Buntu 😭🤣🙏🏼
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
ren_iren
dan tetiba king and faelyn berubah jd gadis angkat jemuran... dirimu kak, ada2 aja.... 😂😂😂
Ros 🍂: Nanti saya revisi kak, biar masuk cerita nya, Makasih Kak 🫶🙏🥰
total 3 replies
winpar
lnjut thorrr
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍
Ros 🍂: ma'aciww kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!