Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Belum lama Aira melihat-lihat sekeliling rumah dan menikmati suasana yang baru itu, tiba-tiba sebuah suara nada dering yang ceria dan riang berbunyi nyaring dari dalam saku baju yang dikenakannya.
Aira segera merogoh saku bajunya dan mengambil ponsel itu. Layar kaca ponsel itu menyala terang, memperlihatkan sebuah nama yang sangat akrab dan dikenali oleh hatinya.
“Dinda ❤️”
Melihat nama itu tertera di sana, wajah Aira langsung berseri-seri dan seketika tersenyum lebar sangat lebar. Matanya berbinar-binar penuh dengan kegembiraan. Tanpa menunggu lama, ia segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu, lalu berjalan cepat namun santai menuju ruang keluarga yang sangat nyaman dan empuk itu agar ia bisa mengobrol dengan leluasa dan nyaman tanpa ada yang mendengarkan.
“Halo Din!” sapa Aira dengan suara yang sangat ceria dan penuh dengan semangat, nada suaranya terdengar sangat bahagia.
“Halo cantikkk!! Gimana gimana?! Udah official jadi nyonya besar belum?!” terdengar suara Dinda yang sangat heboh dan berteriak-teriak di seberang sana, suaranya melengking tinggi penuh dengan antusiasme yang meledak-ledak. “Gimana suami lo?! Romantis gak?! Galak gak?! Cerita cepat!! Gue penasaran banget nih!”
Aira tertawa kecil mendengar suara sahabatnya yang memang terkenal sangat cerewet, bawel, dan tidak bisa diam itu. Suara dinda selalu saja bisa membuat suasana hatinya jadi jauh lebih baik dan lebih ceria dalam sekejap mata, seolah membawa angin segar yang menyenangkan.
“Iya-iya Din, pelan-pelan dong nanyanya, kuping Aira sampe sakit nih denger teriakan lo,” Canda aira sambil terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat manis.
“Yeee gak peduli!! Cerita dong!!” desak Dinda lagi dengan nada yang manja dan penasaran. “Gimana rasanya jadi istri orang kaya gitu?! Rumahnya segede apa?! Bibi sama pak budinya baik gak?! Dan yang paling penting… gimana mas Elvano?! Dia gak galak-galak kan sama lo?!”
Aira menghela napas panjang dengan perasaan yang sangat bahagia dan hangat membuncah di dalam dadanya. Ia duduk bersandar dengan sangat nyaman di sofa besar yang empuk itu, matanya menatap sekeliling ruangan yang megah namun sangat nyaman itu dengan tatapan yang penuh dengan rasa syukur.
“Alhamdulillah Din, semuanya baik banget kok,” jawab Aira lembut, suaranya penuh dengan rasa syukur yang tak terhingga. “Rumahnya emang besar banget Din, segede istana gitu, tapi gak serem kok. Bibi Asih sama pak Budi baik banget, ramah banget, sayang banget sama Aira.”
“Terus?! Terus suami lo?!” tanya Dinda tidak sabar lagi.
“Mas Elvano…” Aira tersenyum malu-malu, pipinya kembali merona merah muda manis bak buah persik yang ranum. “Dia… baik banget Din. Aira kira dia bakal galak, dingin, angkuh kayak di film-film itu, tapi ternyata enggak sama sekali. dia sabar banget, perhatian banget, dan… dia sayang banget sama Aira.”
Tanpa sadar, senyum di wajah Aira semakin lebar. Ia pun mulai menceritakan semua kejadian pagi ini secara detail dan panjang lebar kepada sahabatnya itu. Mulai dari suasana sarapan yang tadinya kaku banget, sampai insiden kopi tumpah yang bikin dia panik setengah mati, dan bagaimana reaksi Elvano yang justru tidak marah sama sekali, malah menenangkannya dengan sangat lembut dan penuh pengertian.
“Yeeee!! Gila baby!!” teriak Dinda lagi di telepon, suaranya terdengar sangat senang dan ikut bahagia. “Gue udah duga sih! Gue sudah pernah bilang kan! Dia itu tipe yang cold outside warm inside! Dingin di luar tapi perhatian di dalam! Hahaha! Gila deh ra, berasa banget dia sayang banget sama lo!”
“Iya Din…” Aira mengusap pelan dadanya sendiri, rasanya hangat sekali dan nyaman. “Tadi pagi kan Aira panik banget karena gak sengaja tumpahin kopi, Aira kira bakal dimarahin habis-habisan, ternyata dia malah senyum dan bilang ‘gak apa-apa’. Terus dia juga kasih Aira kartu atm buat belanja, kunci rumah, semuanya lengkap. Dia bilang itu hak Aira sebagai istri.”
“Wah bagus dong! Itu tandanya dia bertanggung jawab banget! Dia gak pelit dan dia nganggap lo sebagai istri yang sesungguhnya bukan cuma kontrak, dan yang paling penting dia nepatin janjinya buat ngasih Lo kehidupan yang mewah!” seru Dinda penuh semangat mendukung sahabatnya. “Tapi inget ya Ra! Lo harus tegar! Lo istri sah, ya meskipun sekarang masih kontrak! Jangan kasih kesempatan ke orang lain! Kalau ada apa-apa cerita sama gue! Gue bakal jadi pembela nomor satu lo!”
“Uya Din, makasih ya udah selalu ada buat Aira,” jawab Aira tulus, matanya sedikit berkaca-kaca haru memiliki sahabat sebaik Dinda.
“Sama-sama sayangku! Ya udah deh, lo istirahat dong, jangan kepanikan gitu. Nanti malem atau besok gue jenguk deh! Pengen liat rumah baru lo dan pengen ngobrol banyak!”
“Iya Din, ditunggu ya. Dadah!”
tut.. tut..
Panggilan telepon pun akhirnya terputus. Aira meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping sofa itu dengan perlahan, lalu ia memejamkan matanya sejenak sambil tersenyum lebar, sangat lebar. Hidupnya benar-benar berubah drastis dalam waktu yang sangat singkat, dan ia sangat bersyukur sekali karena perubahan itu membawa kebahagiaan yang luar biasa besar untuknya dan masa depannya.
Setelah merasa cukup istirahat dan perasaannya sudah jauh lebih tenang, Aira memutuskan untuk melanjutkan berkeliling menyusuri setiap sudut rumah megah ini agar ia semakin hafal letak ruangan-ruangan itu, semakin merasa betah, dan semakin punya rasa memiliki terhadap tempat ini yang sekarang sudah resmi menjadi rumahnya juga.
“Yuk Aira, keliling rumah lagi yuk. Biar nanti gak kesasar,” gumam Aira pada dirinya sendiri sambil tertawa kecil pelan, suaranya terdengar ceria.
Ia pun mulai berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong rumah yang lebar, bersih, dan sangat wangi itu. Dinding-dindingnya dihiasi oleh lukisan-lukisan abstrak yang mahal dan bernilai seni tinggi, serta foto-foto keluarga praditya yang tertata rapi dan elegan di dinding.
Aira berjalan santai, matanya mengamati setiap detail bangunan itu dengan penuh kekaguman. Arsitekturnya sangat modern namun tetap terasa hangat dan mewah.
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti sejenak di depan sebuah bingkai foto besar yang tergantung sangat apik di dinding utama lorong itu. Itu adalah foto keluarga Elvano.
Terlihat tuan dan nyonya Praditya yang tersenyum bahagia dan sangat ramah, dan di tengah mereka berdiri Elvano yang masih terlihat lebih muda, tampan, dan gagah perkasa. Mereka terlihat sangat kompak dan bahagia dalam foto itu.
“Harmonis ya keluarga mereka…” bisik Aira pelan, matanya menatap foto itu dengan tatapan kagum dan haru. “Mereka semua baik banget sama Aira. Aira harus bisa jadi menantu dan istri yang baik buat mereka semua. Aira harus bisa membahagiakan mas Elvano.”
Dengan semangat baru, Aira melanjutkan perjalanannya menjelajahi rumah itu. Ia masuk ke ruang tamu utama yang sangat luas dan mewah, lalu ke ruang keluarga yang nyaman, ke perpustakaan pribadi Elvano yang penuh dengan rak-rak buku tebal dan berpengetahuan luas, sampai akhirnya ia sampai di bagian belakang rumah yang sangat terbuka.
Di sana terdapat sebuah taman belakang yang sangat luas dan indah sekali pemandangannya. Taman yang tertata sangat rapi dengan berbagai jenis tanaman hijau segar yang rindang, bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran indah memancarkan wangi semerbak, dan juga ada sebuah kolam ikan kecil yang airnya jernih mengalir dengan tenang.
“Wah… indah banget…” Aira terpesona melihat pemandangan itu. Ia berjalan keluar menuju halaman belakang, menghirup udara segar pagi itu dalam-dalam hingga memenuhi paru-parunya.
Angin pagi bertiup sepoi-sepoi dengan sangat lembut, menerbangkan helai-helai rambut panjangnya yang hitam dan lurus itu. Rasanya damai sekali, tenang, dan bahagia luar biasa.
“Rumah ini emang besar dan mewah banget ya…” gumam Aira pelan, matanya menatap sekeliling dengan perasaan yang campur aduk antara takjub dan bahagia yang meluap-luap. “Dulu mungkin rumah ini cuma jadi tempat istirahat doang buat mas Elvano, sepi, dingin, sendirian terus tiap hari.”
Aira tersenyum lebar, sangat lebar, lalu ia memegang dadanya sendiri yang berdegup hangat.
“Tapi sekarang… sekarang beda banget. Sekarang rumah ini jadi hangat. Rasanya nyaman, rasanya betah, rasanya kayak… rumah sendiri yang sesungguhnya. Tempat di mana hati ini merasa pulang.”
Benar sekali apa yang dikatakan bibi asih tadi pagi. Kehadiran seorang wanita di dalam sebuah rumah, apalagi wanita yang dicintai dan menyayangi dengan tulus, benar-benar bisa mengubah seluruh aura dan suasana rumah itu menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda total.
Dari yang tadinya dingin, kosong, dan sunyi bak istana es, kini berubah menjadi hangat, penuh warna, penuh cinta, dan penuh dengan harapan yang indah.