NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Tiga Penjaga Lumpuh

Penjaga pertama tersandung kawat, jatuh, kepalanya menghantam dinding dengan suara retakan tulang yang memuaskan.

Jono ambruk. Senter halogen di tangannya terlempar bebas, cahayanya berputar liar menabrak dinding beton kotor sebelum mati total. Tubuhnya menggelinding kaku menuruni sisa anak tangga dan terjerembap di dasar lantai berdebu tanpa perlawanan.

"Jono! Bangun lo!" teriak Koko dari belakang. Langkah gempalnya memburu turun menyusul rekannya tanpa perhitungan.

Sol karet bot Koko menginjak genangan amonia industri pencuci lantai. Gaya gesek lenyap total ke angka nol.

"Anjing! Licin, Bangsat!"

Tubuh bongsor Koko tergelincir buas. Momentum gravitasi menariknya menukik tajam menuju dasar tangga dengan kecepatan penuh.

Jleb! Crak!

Jeritan melengking merobek udara malam. Lengkingan itu bukan sekadar kaget, melainkan lolongan hewan yang sedang disembelih hidup-hidup. Dua paku beton berkarat sisa racikan Sabrina menancap lurus, membelah otot betis Koko dalam sekali hantam. Urat keting pria itu putus seketika. Darah merah kental muncrat mengotori dinding keramik.

"Kaki gue! Tolong, kaki gue tembus!" Koko berguling meronta liar. Tangannya mencakar keramik ubin, berusaha keras mencabut daging kakinya dari cengkeraman paku. Semakin ia meronta, daging betisnya semakin terkoyak memanjang.

"Darah gue mancur, Bang! Tolong bebat kaki gue!" Koko merobek ujung jaketnya sendiri, mencoba menekan luka terbuka di kakinya. Paku itu menembus tulang rawannya. Rasa panas membakar sarafnya setiap kali otot kakinya berkedut refleks.

"Berhenti gerak, Goblok!" bentak Boni dari bibir lorong atas. Pistol otomatis di tangan kanannya mengarah membabi buta ke arah kegelapan tangga bawah. "Maman, tarik si Koko naik! Cepat bawa dia ke atas sini!"

Maman mundur selangkah. Tangannya bergetar hebat memegang senter cadangan. "Bau banget di sini, Bang! Bau pesing bahan kimia campur bau darah segar! Ini jelas jebakan!"

"Tarik dia atau gue bolongin kepala lo sekarang juga!"

Maman menelan ludah. Ia memaksakan diri melangkah hati-hati menuruni anak tangga pertama. Tangannya menjulur ke depan meraih kerah jaket Koko. Cairan bening pembersih lantai itu terus menjalar licin menuruni lereng keramik tanpa terlihat mata.

Sepatu Maman terpeleset mutlak. Tangannya refleks menggapai udara kosong untuk mencari pegangan. Tubuhnya terbanting telentang menghantam sudut anak tangga beton dengan suara hantaman benda tumpul yang sangat keras. Tulang punggungnya berbunyi retak patah. Ia meluncur deras menyusul Koko di bawah sana.

Hantaman kedua terjadi jauh lebih fatal. Kepala bagian belakang Maman membentur jajaran paku beton di sisi berlawanan. Tubuhnya kejang-kejang sesaat menahan syok, lalu kaku mematung tanpa mengeluarkan erangan sedikit pun. Darah segar menggenang cepat membentuk kubangan merah gelap di dasar tangga. Cairan bening amonia bercampur menyatu dengan darah kotor itu, menciptakan uap tajam yang memedihkan mata.

Tiga tubuh bertumpuk tumpang tindih. Dua tewas, satu cacat permanen. Lumpuh seketika dalam waktu kurang dari dua menit.

Di atas balkon mezanin yang gelap gulita, Sabrina menatap mahakaryanya dalam diam.

Napasnya melambat, berat, dan tertahan di dada. Suhu tubuhnya masih terus merosot turun drastis. Rasa ngilu basah dari robekan rahimnya berdenyut konstan mengikuti setiap irama detak jantung. Gaun sutra mahalnya menempel basah di pangkal paha, kaku oleh sisa darah persalinan yang mulai mengering. Sensasi pedih perih menjalar di setiap inci saraf pusat panggulnya.

Tangan kirinya merangkul bayi itu makin rapat ke belahan payudaranya. Jari telunjuk kanannya mengelus pelan pipi tembam sang anak.

Bayi itu memancarkan radiasi panas yang luar biasa. Sebuah jangkar realitas kuat di tengah arena pembantaian yang super dingin ini. Bulu mata lentik bayi itu terpejam tenang. Telinga kecilnya sama sekali tidak terganggu oleh konser jeritan penderitaan di bawah sana. Sebastian tidur lelap menyerap kehangatan ibunya.

"Pintar," bisik Sabrina lembut di dekat telinga bayinya. "Tidur yang nyenyak, Jagoan. Dunia ini terlalu berisik, tapi Ibu bakal bikin mereka semua diam malam ini."

Momen hening ini sangat krusial baginya. Sabrina membiarkan sel otaknya beristirahat sejenak dari rentetan kalkulasi pembunuhan tiada henti. Ia menghirup dalam-dalam aroma kepala bayi baru lahir itu. Wangi susu murni, verniks putih, bercampur anyir darah ibunya sendiri. Ini adalah sisa kemanusiaan terakhir yang ia pegang erat.

Kania Tanjung melakukan kesalahan mutlak saat membangkitkan sisi gelapnya. Menyiksa Sabrina asli di gudang berjamur ini adalah dosa besar. Tapi menyentuh dan mengancam darah daging Adrianus Halim di pelukan seorang mantan pembunuh bayaran, itu adalah blunder pamungkas klan Tanjung. Kania pikir menyingkirkan pewaris utama Halim akan membuat posisinya di kursi direksi aman mutlak. Saudara angkatnya itu terlalu sibuk dengan bayang-bayang trauma masa lalunya sampai gagal membaca insting predator siapa yang sedang ia pancing.

"Tarik gue, Bang Boni!" Koko menangis sesenggukan memutus jeda tenang Sabrina. Suaranya serak kehabisan napas dan tenaga. "Gue nggak mau mati konyol berdarah di sini! Panas banget kaki gue, Bang!"

Boni berdiri mematung di anak tangga teratas. Ujung sepatu botnya berjarak kurang dari lima sentimeter dari batas cairan amonia licin. Ia menyorotkan sinar senter lurus ke dasar tangga. Wajah preman berbadan raksasa itu berubah pucat pasi melihat tumpukan daging anak buahnya yang bersimbah darah berbau kimia.

"Bang! Tolongin gue merangkak!" Koko mengulurkan sebelah tangannya yang gemetar parah.

"Diem lo, Babi!" Boni meludah kasar ke lantai. Matanya menyapu dinding gelap gulita di sekelilingnya. Otot rahangnya mengeras ketakutan. Insting bertahan hidup jalanannya berteriak kencang memperingatkan. Ini murni bukan kecelakaan kerja atau kesialan malam hari. Ada otak psikopat taktis di balik eksekusi jebakan primitif ini.

"Keluar lo, sundel!" teriak Boni keras. Nadanya bergetar hebat menahan gelombang panik di dadanya. Senter halogen di tangan kirinya bergerak patah-patah menyapu area plafon atas. "Lo pikir lo bisa lolos dari cengkeraman kami? Nyonya Kania bakal cincang tubuh lo hidup-hidup! Adrian Halim bakal mutilasi anak lo kalau dia tahu wujud bayinya cacat!"

Mendengar bayinya diancam secara frontal, pupil mata Sabrina mengecil menajam. Suhu udara di sekitar balkon mezanin itu anjlok membeku. Mode ibu buasnya mengambil alih total seluruh sistem kendali saraf tubuhnya.

Adrianus Halim adalah pria tiran nan arogan. Pria itu memandang dunia murni dengan kacamata patriarki mutlak dan dominasi bisnis. Namun, Sabrina hafal tabiat suaminya. Pria itu memuja garis keturunannya sendiri melebihi nyawanya. Ancaman mutilasi dari mulut Boni barusan murni omong kosong preman rendahan, tapi bagi indera pendengaran seorang ibu yang baru melahirkan, kalimat itu adalah pelatuk pemicu ledakan amarah mematikan.

Ia menggeser posisi dagunya perlahan mendekati speaker radio genggam milik Haryo yang tergantung terikat di sabuk bajunya. Ia menekan tombol transmisi lambat-lambat, namun menolak keras mengeluarkan vokal apa pun. Ia hanya membiarkan suara napas lelahnya dan gesekan gesit kukunya pada badan mikrofon masuk ke saluran frekuensi radio.

Radio di pinggang Jono yang tergeletak mati berkalang tanah di dasar tangga tiba-tiba berbunyi mendesis memecah gema.

Boni tersentak kaget memundurkan langkah kakinya. Moncong pistolnya langsung beralih arah secara panik ke sumber suara statis di bawah sana.

"Lo di mana sekarang, anjing?!" Boni memekik nyaring. Air mukanya berantakan.

Sabrina menekan tombol hitam radio itu lagi. Kali ini ia mengetukkan ujung jari berdarahnya pada badan plastik mikrofon kasar-kasar. Tiga ketukan lambat dan konstan berturut-turut. Ritme hitungan mundur eksekusi mati klasik milik algojo bayaran.

Tik. Tik. Tik.

"Bang, itu jelas bukan suara teman kita, Bang." Koko merintih putus asa menyerah pada lukanya. Matanya melotot liar menatap lorong gelap pekat di depan wajahnya. "Perempuan Tanjung itu sama sekali bukan manusia. Kita dijebak setan masuk neraka."

Keberanian Boni runtuh menyentuh titik dasar kejiwaannya. Pemimpin kelompok preman itu memundurkan badannya tergesa-gesa tanpa menoleh lagi ke bawah. Ia membuang jauh-jauh loyalitasnya pada Kania Tanjung. Ia melupakan nominal dua miliar di dalam koper hitam yang menjanjikan kemewahan sesaat. Menghadapi manusia biasa masuk akal baginya, tapi menghadapi hantu pencabut nyawa tanpa wujud di gedung berdarah ini adalah tindakan bunuh diri konyol.

"Gue tinggalin lo, Ko. Gue harus lapor Nyonya malam ini juga!" Boni memutar bahunya cepat.

"Bangsat lo, Boni! Jangan pernah tinggalin gue mati sendirian!" Jeritan Koko memecah kesunyian brutal, bergema pedih menabrak dinding-dinding beton lembap tak berpenghuni.

Boni memacu kakinya berlari kencang menerobos sisa lorong atas menuju ruang belakang gudang kotor itu. Napas pria raksasa itu tersengal-sengal sesak akibat ketakutan. Sepatu botnya berdebam kasar berulang kali menjauh dari area tangga pencabut nyawa tersebut. Ia mencari titik terang cahaya dari celah jendela lapuk di ujung koridor utara. Niatnya tunggal, kabur membawa nyawanya sendiri keluar dari arena iblis ini.

Sabrina mengamati pergerakan buruan terakhirnya itu dari sudut matanya yang dingin mematikan. Ia memindahkan titik tumpu bobot tubuhnya perlahan ke kaki kanan. Tulang panggulnya kembali bergemeretak protes menahan nyeri persendian tajam. Darah cair menetes menodai tumpukan karung semen di bawah tumit kakinya.

Tangan kanan Sabrina merogoh saku jaket kulit curiannya. Jemari pucatnya menelusup masuk menggenggam erat gagang belati tajam hasil rampasan dari tubuh Haryo sebelumnya.

Insting berburu Maureen menyala terang menuntut pelampiasan tuntas. Mangsa terakhirnya sedang berlari masuk ke perangkap ruang jagal yang jauh lebih terbuka.

Sabrina menunduk dan mengecup dahi bayinya sekali lagi. Ia menyelipkan bayi kecil itu dengan kehati-hatian tingkat tinggi di balik tumpukan sak semen yang tertutup gorden beludru jatuh. Ia merapikan lipatan kain pelindung itu rapat-rapat menutupi seluruh tubuh anaknya, memastikan pasokan udara bersih tetap mengalir bebas ke hidung mungil tersebut.

Bayi itu merespons dengan gerakan bibir mengecap pelan di tengah tidur lelapnya. Rasa nyeri gila di panggul Sabrina mendadak tergantikan oleh sengatan energi hangat menyegarkan dari dadanya. Naluri primitifnya menuntut darah Boni tumpah malam ini juga agar ia bisa segera merawat bayinya dalam kebebasan mutlak.

"Tunggu Ibu sebentar, Sayang," gumamnya tenang.

Ia bangkit berdiri tegak dengan kuda-kuda kokoh. Bilah belati di tangan kanannya memantulkan kilat murka bulan purnama.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!