NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:26.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.

Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.

Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang mulus

Hari pertama penyelidikan dimulai dengan detak jantung yang tak beraturan. Hanum, dengan kacamata hitam dan pakaian yang sangat biasa, duduk di dalam taksi yang terparkir agak jauh dari lobi gedung Go Green. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Johan. Namun, seharian itu, Johan tampak seperti CEO teladan, ia hanya berpindah dari ruang rapat ke ruang kerja. Tak ada pelukan rahasia, tak ada bisikan mesra.

Sadar bahwa ia bukan ahli dalam mengintai, Hanum memutuskan untuk mengambil langkah profesional. Di sebuah kafe remang-remang di sudut Jakarta, ia menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada seorang pria misterius yang ia sewa sebagai Detektif swasta.

"Cari tahu segalanya. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, dan apa yang dia lakukan di belakangku," ucap Hanum dengan suara dingin yang tak menyisakan ruang untuk keraguan.

Kepergian Hanum yang sering keluar rumah tanpa izin dan terlihat terburu-buru mulai tertangkap oleh radar tajam Bu Anita. Sang ibu mertua yang selalu mengawasi menantunya itu segera mengambil ponselnya.

Bu Anita berbisik di telepon. "Johan, kau harus hati-hati. Istrimu itu belakangan ini sering keluar rumah dengan gelagat aneh. Sepertinya dia mulai mencurigai mu. Jangan sampai kau ceroboh!"

Mendapat peringatan itu, Johan langsung memasang benteng pertahanan. Di kantor, ia sengaja menjaga jarak dengan Monica.

Johan mulai berbicara dengan nada tegas saat Monica masuk ke dalam ruangannya.

 "Mon, jangan terlalu dekat dulu. Hanum mulai mengendus sesuatu. Untuk sementara, bersikaplah seperti sekretaris profesional. Jangan memancing keributan."

Monica malah mengerucutkan bibirnya, mendekat ke meja kerja Johan.

 "Tapi Mas, sampai kapan? Kau sudah berjanji akan memberikan sebagian aset atas namaku. Aku butuh jaminan, Mas. Aku tidak mau hanya jadi simpanan selamanya tanpa memegang apa-apa."

Johan menatap Monica dengan tajam, sifat liciknya telah muncul. "Aku tidak bodoh, Monica. Aku akan mencantumkan namamu di beberapa aset itu setelah kita menikah sah secara hukum. Sekarang, fokus saja pada pekerjaanmu. Jangan sampai Hanum menemukan bukti apa pun."

Monica tampak kesal, namun ia tetap memaksakan senyum manisnya. Ia tahu ia telah berhasil menguasai hati Johan, meski ia harus bersabar sedikit lagi untuk menguasai hartanya.

*

*

Malam harinya, Hanum berdiri di balkon kamarnya, menatap gemerlap lampu Jakarta yang seolah mengejek kesetiaannya selama lima belas tahun. Ia tidak tahu bahwa ibu mertuanya sedang memata-matainya, namun ia juga tidak peduli. Detektif yang ia sewa bekerja dalam senyap, jauh dari jangkauan mata Bu Anita.

Hanum mulai berbisik pada angin malam. "Aku harus lebih hati-hati lagi. Bermainlah sepuas mu, Mas Johan. Tapi begitu bukti perselingkuhanmu ada di tanganku, aku bersumpah tidak akan sudi lagi hidup bersama seorang pengkhianat sepertimu."

Hanum meremas pagar balkon. Ia teringat kembali pada hari-hari sulit saat mereka hanya makan sepiring berdua. Pengkhianatan ini bukan hanya soal wanita lain, tapi soal Johan yang telah membunuh pria sederhana yang dulu dicintai Hanum.

'Kau lupa siapa yang memberimu sayap untuk terbang, Mas," batin Hanum. "Maka aku pula yang akan mematahkan sayap itu jika kau gunakan untuk mengkhianati ku.'

*

*

Beberapa hari berlalu dengan ketegangan yang kian memuncak di balik dinding rumah mewah itu. Hanum menjalani hari-harinya seperti robot yang dingin, waspada, dan tanpa ekspresi, sementara Johan merasa di atas angin karena mengira taktik jaga jarak nya berhasil mengelabui sang istri.

Hingga suatu sore, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel rahasia yang baru saja dibeli Hanum.

"Target bergerak ke sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan. Bukan bersama sekretarisnya, tapi bertemu dengan seorang notaris. Saya sudah mengirimkan semua foto dan rekaman suaranya ke email Anda."

Tangan Hanum gemetar saat membuka lampiran tersebut di dalam kamar yang terkunci rapat.

Dalam rekaman suara yang dikirim sang Detektif, terdengar suara Johan yang terdengar begitu ambisius, sangat berbeda dengan suara lembut Johan yang dulu ia kenal.

"Pastikan semua aset atas nama perusahaan Go Green ini dialihkan secara bertahap. Saya ingin saat proses perceraian nanti terjadi, istri saya tidak mendapatkan sepeser pun dari saham utama. Dia hanya wanita rumahan, dia tidak tahu apa-apa soal penilaian perusahaan."

"Tapi Pak Johan, aset-aset awal perusahaan ini tercatat memiliki aliran dana masuk yang cukup besar dari pihak ketiga di masa lalu. Jika ini digugat...."

Johan malah memotong dengan tawa sinis. "Pihak ketiga? Itu hanya pinjaman tanpa surat resmi. Hanum itu bodoh, dia terlalu mencintaiku sampai lupa mengamankan posisinya sendiri. Sekarang, saya ingin beberapa aset properti mulai dipindahkan atas nama Monica secara bertahap."

Mendengar itu, Hanum menutup mulutnya agar isakan nya tidak terdengar hingga keluar kamar. Air matanya mengalir, bukan karena kehilangan harta, tapi karena mendengar pria yang ia besarkan dengan tangannya sendiri menyebutnya "bodoh" dan "hanya wanita rumahan".

*

*

Ketegangan di meja makan malam itu terasa begitu nyata, meski Hanum sudah berusaha memoles wajahnya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Di hadapannya, Aliya dan Adiba saling melempar pandang. Mereka bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi dengan alasan "hanya lelah bekerja".

Aliya, si sulung yang lebih peka, meletakkan sendoknya perlahan. Ia memperhatikan jemari ibunya yang sedikit gemetar saat memegang gelas air putih.

"Bunda, benar tidak apa-apa?" tanya Aliya lembut. "Beberapa hari ini Bunda sering melamun. Tadi malam aku dengar Bunda masih bangun jam dua pagi di balkon."

Adiba ikut mengangguk, matanya berkaca-kaca penuh kecemasan. "Iya, Bun. Wajah Bunda pucat sekali. Apa kita ke dokter saja besok? Aku takut Bunda sakit karena terlalu banyak pikiran soal urusan rumah."

Hanum menarik napas panjang, berusaha menekan gemuruh di dadanya. Ia tidak boleh hancur sekarang. Belum saatnya.

"Bunda hanya kurang tidur, Sayan, Kalian tidak perlu cemas, ya? Makanlah yang banyak, kalian sedang ujian semester, kan?"

"Tapi Bun." sela Aliya, suaranya merendah agar tidak terdengar hingga ke ruang tengah di mana Bu Anita mungkin sedang menguping. "Sikap Ayah juga aneh. Dia jarang bicara pada Bunda, dan kalau bicara pun nadanya seperti orang asing. Apa terjadi sesuatu yang tidak kami tahu?"

Mendengar pertanyaan itu, jantung Hanum terasa seperti dihantam godam. Ia menatap kedua putrinya, harta paling berharga yang ia miliki. Pikirannya kembali pada rekaman suara Johan yang menyebutnya "wanita rumahan yang bodoh". Hanum ingin sekali berteriak, menceritakan betapa liciknya ayah mereka, namun ia tahu langkahnya harus penuh ketelitian dan ia tidak boleh gegabah.

"Aliya, Adiba," Hanum meraih tangan kedua putrinya, kemudian menggenggamnya erat.

 "Apa pun yang terjadi nanti, ingatlah bahwa Bunda selalu melakukan yang terbaik untuk kalian. Bunda sedang berjuang, dan butuh kalian tetap kuat dan fokus pada pendidikan kalian. Jangan biarkan suasana rumah ini merusak semangat kalian, ya?"

Adiba memeluk lengan ibunya. "Kami selalu di pihak Bunda. Apa pun yang Bunda putuskan, kami ikut Bunda."

Hanum tersenyum, kali ini senyum itu lebih tulus. Kekuatan dari anak-anaknya adalah amunisi baru baginya.

Tepat saat itu, langkah kaki terdengar mendekat. Johan masuk ke ruang makan dengan setelan jas yang masih rapi, namun auranya terasa gelap bagi Hanum. Di belakangnya, Bu Anita mengekor dengan kursi rodanya dan tatapannya penuh selidik

"Wah, sedang ada pertemuan rahasia apa ini?" tanya Johan dengan nada ringan yang dibuat-buat, namun matanya menatap tajam ke arah Hanum.

Hanum melepaskan genggaman tangannya dari anak-anaknya dan berdiri dengan anggun. Ketakutan yang tadi sempat singgah kini berganti dengan ketenangan yang mematikan.

"Hanya bicara soal ujian anak-anak, Mas," jawab Hanum tenang, suaranya datar tanpa riak emosi. "Oh ya, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Mandilah, kau terlihat sangat lelah setelah mengurusi... 'aset' perusahaanmu seharian ini."

Johan sempat tertegun mendengar kata 'aset' yang diucapkan Hanum, namun ia segera menepis kecurigaannya. Ia tidak tahu bahwa di dalam saku daster Hanum, sebuah alat perekam kecil telah menyimpan pembicaraan di meja makan tadi sebagai bukti tambahan bahwa ia masih menjalankan perannya sebagai ibu yang baik, sementara suaminya sedang menyusun rencana pemiskinan terhadapnya.

Setelah Johan berlalu, Hanum kembali menatap kedua putrinya. "Masuklah ke kamar dan belajar. Bunda akan menyelesaikan semuanya segera."

Dalam hati, Hanum sudah membulatkan tekad. Bukti dari detektif sudah lengkap, rekaman notaris sudah diamankan, dan besok, ia akan menemui pengacara paling tangguh di Jakarta secara diam-diam. Gugatan cerai itu akan menjadi surat 'kematian' bagi karier dan harga diri Johan yang selama ini dibangun di atas keringat Hanum.

Bersambung...

1
Ma Em
Ayo Hanum gaskeun sebelum Alvaro diambil Deva 😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gak akan Bun 🤭
total 1 replies
Teh Yen
kapan jujurnya ini c Hanum duh mau ngelak sampai kapan tentang perasaanmu ke Alvaro Num
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar kak, nunggu waktunya tiba
total 1 replies
Nar Sih
mantapp rencana mu deva ,moga berhasil membuat mereka bersatu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Aamiin 😁
total 1 replies
Nar Sih
deva dan alvaro pinter memancing hanum biar cemburuu wahh lsnjut kan rencana kalian moga berhasil👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: pinter dong kak, biar Hanum sadar 🤣🤣🤣
total 1 replies
vania larasati
lanjut kak
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
Hanum....... bagaikan kura
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sepertinya gak sadar kak, karena kebiasaannya dulu kalau takut suka seperti itu dengan kakaknya 🤣
total 1 replies
neny
saking seru nya baca,,ampe lp kasih penilaian,,semangat kak💪😘
neny: sama2 akak,,semangat terus pokok nya🤍
total 2 replies
neny
cie,,cie yg udh nyaman,,dpt wa dr Deva langsung berbinar deh muka nya🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak, bahagianya Hanum 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya kamu juga harus turunkan ego kamu Hanum, kamu harus mengakui jatuh cinta sama Alvaro
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤭
total 1 replies
Teh Euis Tea
Deva sukses deh menyatukan mereka😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip 😁😊
total 1 replies
Teh Euis Tea
eehh salah kirain Deva sejenis blatung nangka ga taunya niat mau bantu Alvaro dekat sm Hanum 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul, dia bukan spesies ulat yg menggatal kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nyonya Gunawan
Lucu bget sich hanum,,,suka tpi malu..😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah betul itu kak, salah satu pengalaman ku dulu saat masih duduk di bangku SMU, suka tapi malu 🤭🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
Hanum kamu bodoh, kamu jatuh cinta sama Alvaro, tapi ego kamu setinggi langit
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak 🤭
total 1 replies
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
johan benar benar ga tahu diri yaa sok banget🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ember 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
lebih baik jujur sja al dari pada nanti jdi slh paham biar semua jls
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 😁
total 1 replies
vania larasati
lanjut kak
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Teh Yen
ih Hanum knp pake engg enakan sama ornag lain sih Deva kan bukan siapa siapa kamu huuh ,, ayo aliya Adiba gagalkan rencana teman ibu kalian yg ingin ngejar om Al yah
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Grievance/
total 1 replies
Ma Em
Hanum bodoh atau gimana sih , biar Alvaro jln sama wanita lain biar Hanum cemburu .
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
Hanum cubit nih, malah nyomblangin di Deva, gemes aku sm othornya awas aj klu Alvaro jadian sm si Deva ta cubit othornya 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: wah, kacau 🤣🤣🤣
total 5 replies
Uba Muhammad Al-varo
ayo jawab jujur Alvaro apa yang dikatakan Deva, supaya Hanum tahu bahwa cintanya ke Alvaro tidak bertepuk sebelah tangan 😏😏😏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!