NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Malam itu, ruang kerja Aiden dipenuhi cahaya lampu yang temaram. Laporan keuangan berserakan di mejanya, layar laptop menampilkan grafik yang membuat dahi pria itu berkerut. Telepon dari manajer cabang Maverick Corporation di Negara C baru saja berakhir, dan kabarnya sama sekali tidak menyenangkan.

Salah satu proyek konstruksi terbesar mereka di Negara C mengalami masalah besar. Pengiriman baja dan semen tertahan di pelabuhan karena urusan izin impor yang belum selesai, dan kabar yang lebih buruk lagi-mitra lokal mereka diduga diam-diam menjalin kontrak dengan perusahaan saingan.

Aiden menutup laptop, meraih ponselnya.

"Siapkan jet pribadi. Keberangkatan satu jam lagi," perintahnya pada asisten pribadi.

"Baik, Tuan," jawab sang asisten tanpa banyak tanya.

Sebenarnya, ada dorongan kuat untuk pulang malam ini. Sejak Rina melaporkan penangkapan Anne dan dua anteknya, ia ingin melihat langsung keadaan Liam. Namun, bisnis tidak menunggu. Satu proyek ini bernilai jutaan dolar dan reputasi Maverick Corporation taruhannya. Ia menekan semua rasa ingin tahu tentang rumahnya, mengenakan jas hitam, lalu melangkah keluar dari gedung kantor menuju mobil yang akan membawanya ke bandara pribadi.

Di kabin jet pribadinya, Aiden duduk di kursi kulit empuk, menyandarkan punggung. Lampu kabin redup, suara mesin pesawat menjadi latar. Sekretarisnya, yang ikut serta, menaruh dokumen di meja lipat.

"Ini semua berkas kontrak, Tuan. Termasuk detail keterlambatan pasokan."

Aiden mengambilnya, menandai beberapa poin penting dengan pena perak. Tatapannya tajam, dan gerakannya cepat. Dalam pikirannya, ia sudah menyusun strategi: bertemu pejabat pelabuhan, menekan mitra lokal, dan jika perlu memutus kontrak mereka.

Namun, sesekali, pikirannya melayang pada Liam. Bayangan wajah anak itu saat memanggil "Mama" di video dari Rina membuat dadanya terasa berat. Ada juga potongan gambar Thalia-istrinya yang biasanya ia anggap lemah-menampar Anne di depan seluruh pelayan. Aiden mengerutkan dahi. Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu?

Hari-hari di Negara C nyaris tanpa jeda. Pagi Aiden sudah berada di kantor pusat cabang, membahas solusi logistik. Siang ia mengunjungi lokasi proyek di pinggiran kota, menginspeksi sendiri kualitas pekerjaan. Malamnya diisi makan malam formal dengan pengusaha dan pejabat setempat.

Setiap malam ia kembali ke hotel, hanya untuk melanjutkan rapat daring dengan tim di Negara B. Rina kadang mengirim kabar singkat tentang rumah: laporan menu makan Liam, pengawasan staf, dan kondisi umum mansion. Tidak ada masalah berarti setidaknya itu yang ia baca.

Dan begitu, seminggu pun berlalu tanpa ia sempat kembali.

Sementara itu, di mansion, Thalia menjalani hari-hari yang menurutnya... menyenangkan. Sejak berada di dunia ini, ia bahkan belum pernah benar-benar bertemu langsung dengan suaminya. Ternyata, meski menurutnya "suami murahan" ini menyebalkan, ia tidak pernah lupa menafkahi istrinya.

Nominal uang bulanan yang masuk ke rekening Thalia membuatnya terperangah. Angkanya setara dengan bayaran syuting satu episode drama di kehidupan pertamanya. "Hmm... rupanya suami sialan ini cukup murah hati juga," gumamnya sambil tersenyum miring.

Karena liburan kuliah belum berakhir, Thalia memutuskan menghabiskan waktunya untuk memanjakan diri. Pertama, ia menyingkirkan sebagian besar pakaian lama milik "Thalia asli" yang menurutnya norak-gaun longgar tanpa bentuk, warna yang tabrakan, dan tas imitasi.

Ia memesan pakaian baru dari butik ternama.

Hari pertama belanja, ia ditemani Rina dan sopir pribadi ke pusat perbelanjaan mewah. Pegawai butik menyambutnya dengan senyum ramah, dan Thalia menikmati sensasi mencoba gaun-gaun rancangan desainer, sepatu hak elegan, hingga tas kulit asli yang aromanya khas.

"Yang ini cocok untuk acara makan malam," kata salah satu pegawai butik sambil menunjukkan gaun hitam sederhana namun berkelas.

Thalia melihat pantulannya di cermin, tersenyum. "Ambil. Bungkus semuanya."

Bukan hanya belanja, Thalia juga mulai rutin melakukan perawatan. Ia memanggil tenaga spa ke mansion-terapis berpengalaman membawa perlengkapan lengkap, dari kasur pijat portabel hingga aromaterapi. Ruang pribadinya kini sering dipenuhi aroma lavender dan melati.

Lulur, pijat, facial, creambath-semuanya ia nikmati. Kulitnya mulai kembali cerah, rambutnya lembut, dan tubuhnya terasa segar. Dalam seminggu, penampilannya berubah drastis. Bukan lagi gadis pucat berambut kusut; ia kini memancarkan aura nyonya muda yang percaya diri.

Para pelayan yang melihatnya berjalan di lorong pun saling berbisik.

"Dulu Nyonya jarang keluar kamar," kata salah satu pelayan muda.

"Sekarang dia seperti model majalah," sahut yang lain sambil mengintip Thalia berjalan sambil membawa tas belanja.

Pelayan yang dulu dekat dengan Rina hanya bisa menunduk. Nama Thalia sekarang membawa wibawa baru.

Perubahan terbesar justru terjadi di hubungan Thalia dan Liam. Setiap pagi, Liam mengetuk pintu kamar ibunya. "Mama, ayo ma-in!" suaranya cadel tapi penuh semangat.

Kadang mereka bermain bola di halaman belakang, suara tawa mereka menyebar di udara. Kadang membuat kue di dapur-hari itu biasanya diakhiri dengan tepung yang menempel di rambut Liam dan tangan Thalia.

"Mama, boleh makan adonannya?" tanya Liam sambil melirik mangkuk.

"Tidak boleh. Itu belum matang," jawab Thalia sambil pura-pura menatapnya tajam.

Liam tertawa, lalu lari kecil menghindar.

Suatu sore, mereka duduk di teras belakang, menikmati kue cokelat buatan sendiri. Liam bersandar di bahu Thalia. "Mama... kalau ada yang jahat cama Mama, Liam pukul," katanya serius.

Thalia menoleh, tersenyum. "Kenapa begitu?"

"Coalnya... Mama baik. Liam Cayang Mama. Nggak boleh ada yang nyakitin Mama. Telmasuk Papa."

Thalia menatapnya sejenak, lalu mengelus rambutnya. "Baiklah. Mama juga janji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

"Janji!" Liam mengangkat kelingkingnya.

Thalia ikut mengaitkan kelingking mereka. "Janji."

Kini Thalia tidak hanya menjadi figur yang disukai Liam, tapi juga pemimpin di rumah. Ia mengatur jadwal makan, memutuskan menu, dan memeriksa dapur setiap pagi. Rina menjadi tangan kanan setianya, memastikan semua staf bekerja dengan benar.

Beberapa pelayan baru cepat belajar bahwa Nyonya Thalia tidak suka alasan kosong. "Kalau ada masalah, beri solusi, bukan pembelaan," katanya suatu pagi kepada staf dapur.

Rina sering tersenyum melihat perubahan itu. "Nyonya... Anda sekarang benar-benar seperti nyonya rumah ini."

Thalia hanya tertawa kecil. "Memang seharusnya begitu, kan?"

Menjelang malam di hari ketujuh sejak Aiden pergi, Thalia duduk di ruang baca. Lampu gantung memancarkan cahaya hangat. Liam di karpet, sibuk menyusun balok kayu. Sinar lampu menimpa rambut cokelatnya, membuatnya tampak seperti anak dalam iklan.

"Mama, liat! Tinggi!" serunya sambil menunjuk menara kayu.

"Bagus sekali!" puji Thalia. "Tapi hati-hati, bisa roboh."

Liam menambah satu balok... brak! menaranya ambruk. "Aduh!" Ia menatap Thalia, lalu tertawa keras.

Thalia ikut tertawa. "Tidak apa-apa. Besok kita buat yang lebih tinggi."

Malam itu, sebelum tidur, Liam memeluk Thalia. "Mama... jangan pelgi, ya?"

Thalia membalas pelukan itu. "Mama tidak akan pergi. Mama akan selalu di sini."

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!