NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Lingkaran Pertemanan, Janji Universitas, dan Tragedi Rank Rehan

Jika ada yang mengatakan kepada Anandara tiga tahun yang lalu bahwa ia akan menghabiskan akhir pekan masa SMA-nya dengan duduk lesehan di karpet bulu ruang tengah rumahnya, dikelilingi oleh remah-remah keripik kentang, tumpukan buku latihan soal SNMPTN, dan suara gelak tawa remaja yang memekakkan telinga, ia pasti akan menganggap orang itu kehilangan akal sehat. Dulu, ruang amannya hanyalah perpustakaan yang sunyi atau kamarnya yang kedap suara. Manusia adalah variabel tidak terduga yang selalu ia hindari.

Namun kini, di bulan-bulan terakhir kelas dua belas, variabel tidak terduga itu justru menjadi warna utama dalam kanvas kehidupannya. Anandara Arunika telah bermetamorfosis. Ia tidak lagi menjadi pulau terpencil di tengah lautan siswa SMA Negeri 1. Ia kini memiliki sebuah circle—sebuah lingkaran pertemanan yang solid, absurd, berisik, namun penuh dengan kehangatan.

Sore itu, ruang keluarga di rumah mewah keluarga Dirga telah diakuisisi sepenuhnya oleh kelima remaja tersebut. Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Masuk Universitas Tingkat Nasional (SNBT) sudah berada di depan mata, membayangi mereka seperti monster raksasa yang siap menelan masa depan.

Anandara duduk bersila di tengah-tengah, mengenakan kaus oversize putih dan celana training. Rambut hitam lurusnya diikat asal-asalan ke atas. Di sebelah kirinya, Sinta sedang mengunyah kacang atom dengan brutal sambil memelototi soal sejarah. Di sebelah kanannya, Ami dan Kiera sedang berdebat kecil tentang rumus trigonometri yang terlihat seperti aksara alien bagi mereka.

Dan di seberang meja, berbaring tengkurap dengan wajah tertutup buku cetak biologi tebal, adalah Rehan. Laki-laki jangkung dengan rambut ikal berantakan itu adalah penambahan paling konyol dalam hidup Anandara.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas buram. Hingga tiba-tiba...

“Welcome to Mobile Legends!”

Suara announcer dari dalam game itu memecah keheningan ruang keluarga dengan volume maksimal.

Empat pasang mata perempuan seketika menoleh tajam ke arah buku biologi yang menutupi wajah Rehan. Buku itu sedikit terangkat, menampakkan kedua tangan Rehan yang sedang memegang ponsel pintar dalam posisi horizontal, ibu jarinya bersiap menari di atas layar.

"Rehan..." tegur Anandara. Suaranya terdengar lembut, senyum manis menghiasi wajahnya, namun ada aura intimidasi tak kasat mata yang membuat suhu ruangan serasa turun dua derajat. "Gue kasih lo waktu tiga detik buat close app itu sebelum gue sita HP lo sampai ujian nasional selesai. Satu..."

Rehan langsung panik. Ia menyingkirkan buku biologinya dan duduk tegak, menatap Anandara dengan wajah memelas yang sangat dramatis. "Nan! Nanda yang cantik, bidadari IPA 1, pahlawan tanpa tanda jasa! Please, kasih gue waktu lima belas menit aja! Ini match penentuan! Kalau gue menang, gue naik ke Mythic Glory! Temen-temen party gue udah pada invite daritadi, masa gue AFK? Harga diri gue sebagai hyper carry mau ditaruh di mana, Nan?!"

"Ditaruh di lembar jawaban Ujian Nasional lo nanti, bareng sama nilai biologi lo yang kemarin cuma dapat empat koma lima," potong Sinta tajam, melempar sebutir kacang atom tepat mengenai jidat Rehan. "Lo sadar nggak sih kita lagi simulasi Try Out? Otak lo isinya buff merah sama lord doang! Pantesan kalau ditanya fungsi mitokondria jawaban lo malah 'tempat respawn sel'!"

Kiera dan Ami tertawa terbahak-bahak mendengar omelan Sinta.

"Dua..." Anandara melanjutkan hitungannya, masih dengan senyum mautnya, mengulurkan tangan kanannya ke depan.

"Nan, astaga, lo nggak ngerti penderitaan para gamer!" Rehan mulai merengek, memeluk ponselnya di depan dada seolah itu adalah bayi yang baru lahir. "Gue butuh hiburan! Otak gue udah ngebul dari tadi ngerjain soal logaritma yang bentuknya melintir-lintir kayak usus buntu! Kasih gue satu match aja, ya? Ya? Nanti gue beliin seblak level dewa di depan gang deh!"

"Tiga."

Anandara tidak perlu berteriak. Ia hanya menjentikkan jarinya ke arah Sinta. Sinta, yang sangat mengerti bahasa isyarat sahabatnya, langsung melompat melewati meja pendek di depan mereka dan menerkam Rehan seperti harimau kelaparan.

"Siniin HP lo, kutil anoa!" seru Sinta sambil berusaha merebut ponsel dari genggaman Rehan.

"Aaargh! Sinta, jangan! Tolong! Rank gueee!" jerit Rehan histeris, berusaha mempertahankan ponselnya. Terjadilah pergulatan konyol di atas karpet. Kiera dan Ami menyoraki Sinta layaknya sedang menonton pertandingan UFC.

"Sinta, awas kesenggol vas bunga kesayangan nyokap gue... eh, maksud gue, vas bunga Bapak," ralat Anandara santai sambil menyeruput es teh manisnya, sama sekali tidak berniat melerai.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, Sinta berhasil mengunci pergerakan Rehan dan merampas ponsel tersebut. Ia menyerahkannya pada Anandara dengan napas terengah-engah dan senyum penuh kemenangan. "Nih, Nyonya Besar. Tawanannya udah diamankan."

Rehan menjatuhkan dirinya ke karpet dengan posisi telentang, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang sengaja dilebih-lebihkan. "Hancur sudah. Sia-sia gue begadang tiga malam. Nanda, lo baru aja membunuh mimpi seorang pro player masa depan."

"Lo mau jadi pro player atau mau jadi mahasiswa Universitas Gajah Tunggal, hah?" omel Ami sambil melemparkan penghapus ke arah Rehan. "Ingat kesepakatan kita bulan lalu? Kita semua berlima, tanpa terkecuali, harus masuk ke universitas favorit yang sama di kota ini! Kalau lo sampai gagal masuk gara-gara main game terus, gue sama Kiera bakal cukur alis lo pas lo lagi tidur."

Mendengar ancaman itu, Rehan mengusap alisnya dengan panik. "Iya, iya, Tuan Putri. Gue ingat kok. Kalian cerewet banget sih kayak emak-emak mau arisan." Rehan mendudukkan dirinya kembali, menatap Anandara dengan cemberut. "Balikin HP gue dong, Nan. Gue janji dimatiin."

Anandara memutar bola matanya sambil tersenyum. Ia menekan tombol power ponsel Rehan hingga layarnya benar-benar mati, lalu meletakkannya di atas meja kopi, tepat di sebelah tumpukan buku sejarah. "Gue tahan sampai kita selesai bahas lima puluh soal matematika IPA ini. Sekarang, buka halaman tujuh belas. Kita bahas soal nomor dua puluh yang tadi Kiera tanyain."

Rehan menghela napas pasrah, menarik buku matematikanya dengan lemas. Namun, kepatuhannya tidak pernah bertahan lama. Lima menit kemudian, saat Anandara sedang menjelaskan rumus integral substitusi di papan tulis kecil yang disediakan ayahnya di ruang keluarga itu, Rehan kembali berulah.

"Nan," panggil Rehan sambil menopang dagunya.

"Ya, ada bagian yang lo nggak ngerti?" tanya Anandara, spidol hitam masih menggantung di udara.

"Gue ngerti integralnya. Yang gue nggak ngerti itu jalan pikiran Kak Bima dari kelas 12 IPS 3," Rehan nyengir jahil, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Lo tahu nggak, dia tadi nitip salam buat lo ke gue. Katanya, dia rela jadi jungler yang nge- carry lo seumur hidup kalau lo mau jalan sama dia weekend ini. Gimana? Secara visual sih dia lumayan, tajir juga."

Sinta, Ami, dan Kiera langsung berhenti menulis dan menatap Anandara dengan penuh antusias. Topik percintaan Anandara selalu menjadi gosip paling menarik, mengingat gadis itu kini sangat ramah namun menolak setiap cowok yang mendekat dengan tingkat keberhasilan penolakan 100%.

Anandara meletakkan spidolnya perlahan. Ia tidak marah, wajahnya tetap ceria, namun jawabannya tetaplah tajam bak pisau bedah.

"Bilang ke Kak Bima," ucap Anandara dengan nada riang yang dibuat-buat, "Gue nggak butuh di- carry. Kalau hidup ini adalah game, gue adalah developer-nya yang bikin aturan main, bukan player yang nunggu diselamatkan. Terus bilangin juga, daripada dia repot-repot ngegombal pakai istilah game, mending dia perbaiki dulu nilai sosiologinya yang gue denger dari guru BK hancur berantakan. Orang yang nggak bisa memahami interaksi sosial dasar, nggak punya kapasitas buat ngurus komitmen asmara."

"Tsk, tsk, tsk," Rehan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis. "Kasian banget si Bima. Udah tertolak sebelum bertanding. Nan, lo itu aslinya asyik, baik, pinter. Kenapa sih antipati banget sama yang namanya pacaran? Umur kita ini masa-masanya cinta monyet, Nan. Jangan sampai masa muda lo berlalu tanpa kenangan bucin yang cringe."

Sinta langsung menendang tulang kering Rehan dari bawah meja. "Aduh! Sakit, Mak Lampir!"

"Mulut lo tuh dijaga! Nanda kan udah pernah bilang, dia fokus belajar dan ngurus bapaknya. Lagian ngapain pacaran sih? Cowok tuh rata-rata cuma modal bacot doang di awal, ujung-ujungnya ngilang," cerocos Sinta dengan nada menggebu-gebu. Ia selalu menjadi garda terdepan jika ada yang mempertanyakan keputusan Anandara untuk tidak berpacaran. Hanya Sinta yang tahu alasan kelam di baliknya.

"Yah, siapa tahu gitu kan," Rehan mengusap kakinya. "Gue cuma nggak mau Nanda jadi perawan tua yang kerjanya cuma ngitungin deviden saham perusahaan bokapnya doang nanti."

Anandara tertawa, tawa yang benar-benar lepas melihat tingkah teman-temannya. Ia kembali duduk di karpet. "Gue hargai perhatian lo, Rehan. Tapi serius, gue bahagia kayak gini. Gue punya Bapak, gue punya Sinta yang cerewetnya ngalahin alarm kebakaran, dan gue punya kalian berdua," Anandara menatap Ami dan Kiera, "Serta satu monyet beban keluarga yang kerjanya main game terus."

Rehan mendengus, sementara yang lain tertawa.

"Lagian ya," Anandara menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit dengan senyum lembut. "Membangun circle pertemanan kayak gini butuh energi yang gede. Gue baru mulai belajar percaya sama kalian. Kalau gue masukin elemen asmara, drama cowok, cemburu, patah hati... aduh, probabilitas kehancuran mentalnya terlalu tinggi. Gue lebih milih pusing ngerjain soal fisika kuantum daripada harus pusing nebak isi hati cowok."

"Bijak banget sih lo, Nan," puji Kiera dengan tulus. Gadis yang dulu selalu sinis pada Anandara itu kini memandang sahabat barunya itu dengan rasa kagum yang nyata. "Gue nyesel dulu pernah musuhin lo pas kelas sepuluh. Kalau dari dulu gue gabung sama lo, mungkin nilai rapot gue nggak akan merah-merah amat."

"Makanya, jangan nilai buku dari sampulnya, Kiera," sahut Ami. "Dulu kan Nanda sampulnya kayak kulkas dua pintu, eh pas dibuka isinya marshmallow."

"Gue bukan marshmallow ya," protes Anandara pura-pura cemberut.

Sore itu dihabiskan dengan belajar intensif yang diselingi banyak sekali candaan konyol. Bi Inah, asisten rumah tangga di rumah Anandara, datang membawakan nampan besar berisi pisang goreng keju cokelat dan teko berisi jus jeruk nipis dingin. Kehadiran camilan itu langsung membuat Rehan melupakan kesedihannya atas rank Mobile Legends-nya yang tertunda.

Setelah menghabiskan lima puluh soal matematika dan menguras setengah energi otak mereka, Anandara akhirnya mengumumkan waktu istirahat. Sinta langsung merebahkan diri di atas karpet, merentangkan tangan dan kakinya seperti bintang laut.

"Otak gue keriting, Nan. Sumpah," keluh Sinta, menatap lampu gantung kristal di atasnya. "Gue berasa mau muntah angka."

"Sabar, Sin. Bentar lagi kita lulus. Abis itu kita bebas... eh, ralat. Abis itu kita bakal jadi maba (mahasiswa baru) yang disiksa sama tugas kuliah," kekeh Rehan yang mulutnya penuh dengan pisang goreng.

Topik tentang kuliah membuat suasana mendadak sedikit melankolis. Bulan depan, ujian akan dimulai. Dan setelah itu, mereka akan menghadapi SNBT.

"Kalian pada yakin kan sama pilihan jurusannya?" tanya Ami tiba-tiba, duduk memeluk lututnya. "Gue agak takut nih. Passing grade buat masuk Psikologi tinggi banget."

Anandara mengangguk menenangkan. "Gue udah hitung rata-rata nilai Try Out lo, Mi. Selama lo bisa pertahankan fokus lo di soal TPA (Tes Potensi Akademik), peluang lo lolos di atas delapan puluh persen."

"Kalau gue?" tanya Kiera antusias. "Gue ambil Sastra Inggris nih."

"Lo juga aman, asal vocab lo makin diperbanyak," jawab Anandara yang sudah seperti konsultan pendidikan pribadi bagi mereka.

"Nah, kalau yang ini," Anandara melirik Sinta yang masih tiduran. "Jurusan Ilmu Komunikasi. Passing grade-nya gila-gilaan karena itu jurusan paling favorit. Lo harus ekstra kerja keras di bulan terakhir ini, Sin. Kalau lo ngerasa capek, lo bilang gue. Gue bakal ajarin lo sampai lo hafal di luar kepala."

Sinta menoleh, menatap Anandara dengan senyum tipis yang hangat. "Siap, Bos. Demi bisa satu almamater sama lo, gue rela deh otak gue melepuh."

"Gue? Gue gimana, Nan?" Rehan menunjuk dirinya sendiri dengan penuh harap. "Teknik Informatika. Masa depan gemilang para developer game!"

Anandara menatap Rehan lekat-lekat, wajahnya mendadak serius. Ia memicingkan mata, membuat Rehan menelan ludah dengan gugup. "Lo... Rehan..." Anandara menggantung kalimatnya, menciptakan ketegangan sesaat, "...lo adalah keajaiban dunia ke delapan kalau lo sampai lolos dengan nilai biologi lo yang sekarang. Jadi, mulai besok, HP lo gue sita dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore!"

"YAAAAAH! NAN! NGGAK ADIL!" protes Rehan berguling-guling di karpet, sementara keempat gadis itu menertawakannya tanpa ampun.

"Eh, guys," Kiera menyela tawa mereka. "Kita ini kan beda-beda jurusannya, meski satu universitas. Fakultas lo pada juga beda-beda. Nanda di Teknik Industri bareng Rehan di Informatika, Sinta di Komunikasi, Ami di Psikologi, gue di Sastra. Nanti kalau kita udah kuliah, bakal tetap sedekat ini nggak ya? Denger-denger kalau udah beda fakultas, jadwalnya susah banget disatuin. Teman baru juga pasti banyak."

Pertanyaan Kiera membawa keheningan yang cukup panjang. Kekhawatiran itu nyata. Banyak persahabatan masa SMA yang kandas begitu saja tergerus kesibukan dunia perkuliahan.

Anandara menatap wajah teman-temannya satu per satu. Ia teringat kembali pada hari di mana ia berdiri di tepi atap, merasa sangat sendirian di dunia ini. Ia teringat bagaimana Sinta menariknya kembali. Dan kini, ia melihat Ami, Kiera, dan Rehan, orang-orang yang tanpa sadar telah membantu menyembuhkan luka-lukanya dengan cara yang paling sederhana: menerima kehadirannya dan membuatnya tertawa.

"Kita bakal tetap dekat," ucap Anandara memecah keheningan. Suaranya tidak keras, namun sangat mantap dan penuh keyakinan. "Jadwal kuliah emang beda, teman baru pasti ada. Tapi basecamp kita tetap di sini. Setiap akhir pekan, gue mau kalian kumpul di rumah ini. Kita ngerjain tugas bareng, mabar game bareng, atau sekadar gibahin dosen bareng."

"Serius lo, Nan?" mata Sinta berbinar-binar. "Gue boleh nginep di kamar lo terus?"

"Lo boleh pindah KK sekalian kalau lo mau," canda Anandara, membuat Sinta bersorak girang.

Anandara melanjutkan, "Gue... gue nggak pintar ngerangkai kata-kata dramatis. Tapi kalian harus tahu, gue bersyukur banget kalian ada di hidup gue. Kalian bikin masa SMA gue yang awalnya suram jadi berwarna. Jadi, gue nggak akan biarin jarak fakultas atau kesibukan ngerusak circle ini. Gue bakal pastiin kita tetap kumpul. Ini janji."

Keempat temannya terdiam. Mendengar kata-kata manis dan tulus keluar dari mulut seorang Anandara yang dulunya terkenal sebagai 'Nyonya Es' adalah momen langka yang menyentuh hati.

Rehan tiba-tiba berdiri. Ia mengusap sudut matanya dengan gaya yang sok dramatis. "Ah, elah, Nan. Bikin gue mewek aja lo. Kalau gitu, sebagai bentuk dedikasi gue buat persahabatan ini..." Rehan berdeham, menepuk dadanya dengan bangga. "Gue, Rehan Saputra, bernazar! Kalau kita berlima berhasil masuk ke universitas favorit itu bulan depan, gue janji bakal traktir kalian semua makan sepuasnya di restoran All You Can Eat kelas satu di pusat kota! Pake duit tabungan skin game gue!"

Semua mata terbelalak.

"Serius lo, Han?!" pekik Ami kegirangan. "Duit tabungan lo kan lumayan gede tuh dari hasil nge-joki!"

"Serius seribu persen!" Rehan mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. "Dan... kalau misalnya, amit-amit, ada satu aja dari kita yang gagal masuk... gue bakal lari keliling lapangan basket SMA pas acara perpisahan nanti sambil pakai rok tutu warna pink dan nyanyi lagu Cherrybelle!"

Sinta langsung tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya. "Hahaha! Sumpah, kalau ini sih gue malah berharap ada yang nggak lulus biar bisa lihat lo dipermalukan sejagat raya, Han!"

"Eh, jangan gitu dong, Sin! Doanya yang bener napa!" Rehan cemberut, mengambil bantal sofa dan melemparnya ke wajah Sinta. Sinta dengan sigap menangkapnya dan melemparnya balik tepat ke wajah Rehan.

Ruang keluarga itu kembali dipenuhi oleh kekacauan yang membahagiakan. Perang bantal sofa terjadi antara Rehan, Sinta, dan Kiera, sementara Ami berusaha melindungi gelas minumannya agar tidak tumpah.

Anandara tidak ikut melempar bantal. Ia duduk bersandar, memeluk kedua lututnya, menonton tingkah teman-temannya dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki. Sinar matahari senja berwarna jingga mengintip dari balik jendela kaca yang besar, menyinari wajah ceria teman-temannya bagai lampu sorot di atas panggung teater.

Di dadanya, ada perasaan hangat yang mekar dengan sempurna. Rasa aman. Rasa diterima. Ia telah memenangkan peperangan melawan traumanya. Ibunya mungkin telah menghancurkan masa kecilnya, namun Anandara telah merajut masa remajanya sendiri dengan benang persahabatan yang kuat. Ia menatap Sinta yang sedang tertawa lebar sambil menjambak rambut Rehan dengan gemas.

Aku bahagia, Sin, batin Anandara. Aku sangat bahagia. Tidak ada laki-laki yang bisa menyakiti kita, karena kita tidak akan pernah memberikan celah. Kita aman.

Masa SMA mereka akan segera berakhir dalam hitungan bulan, menutup lembaran putih abu-abu dengan akhir yang indah dan penuh tawa. Mereka bersiap menyambut dunia perkuliahan dengan janji untuk terus bersama, saling menjaga, dan menertawakan kerasnya kehidupan.

Namun, di balik langit senja yang damai itu, roda takdir kembali berputar tanpa bersuara. Semesta tampaknya belum selesai menguji kekuatan hati Anandara dan persahabatannya dengan Sinta. Janji yang baru saja mereka ikrarkan sore ini, tekad Anandara untuk menutup pintu hatinya dari asmara, dan persahabatan yang ia anggap tak tertembus itu, akan segera menghadapi badai terbesar mereka di semester kedua dunia perkuliahan nanti.

Sebuah badai yang tidak datang dalam wujud monster dari masa lalu, melainkan dalam wujud seorang mahasiswa pindahan berwajah tampan, pendiam, dengan tatapan setajam elang. Seseorang bernama Angga Raditya, yang kehadirannya kelak akan membuktikan bahwa sekeras apa pun Anandara membekukan hatinya, cinta selalu memiliki caranya sendiri untuk menyusup masuk, menghancurkan segalanya dari dalam, dan memaksa Nyonya Es itu menelan ludahnya sendiri.

Tapi itu adalah cerita untuk esok hari. Untuk sore ini, di antara tawa dan lemparan bantal, Anandara memilih untuk menikmati mentarinya. Kehampaannya telah sirna, digantikan oleh kebahagiaan yang akan selalu ia kenang sebagai masa-masa terbaik dalam hidupnya.

Bersambung...!

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!