NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Aksa melepaskan cumbuannya perlahan, deru napasnya masih memburu saat ia menoleh. Jasmine yang tersadar dari keterpakuannya langsung merasa disambar petir. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan melihat siapa yang berdiri di sana. Dengan gerakan panik dan tangan yang gemetar hebat, Jasmine langsung turun dari atas meja makan, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan dengan gerakan serba salah.

"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Sonia, suaranya melengking tinggi.

Langkah Sonia maju beberapa langkah, matanya menatap nanar ke arah meja makan, lalu beralih pada sosok wanita yang berdiri di samping putranya. Begitu ia mengenali wajah itu, Sonia seolah kehilangan napas sejenak.

"Kamu...!" Sonia menunjuk Jasmine dengan jari yang bergetar karena murka.

"Kenapa kamu bisa ada di sini?! Jadi selama ini Aksa menyembunyikanmu di sini?!"

"Dasar wanita murahan! Tidak tahu malu! Sudah dibuang tapi masih saja merangkak kembali dan menggoda putraku di meja makan seperti jalang!"

"JAGA UCAPAN ANDA!" bentak Aksa dengan suara menggelegar.

Sebelum Sonia bisa melangkah lebih dekat untuk menyerang, Aksa segera menarik lengan Jasmine dan menyembunyikannya di belakang punggungnya.

Clarissa yang masih terduduk di lantai pun berteriak histeris, "Aksa, lihat aku! Aku tunanganmu! Kenapa kamu malah melindungi pelayan rendahan itu di belakangmu?!"

Aksa tidak bergeming sedikit pun. Cengkeramannya pada tangan Jasmine di belakang punggungnya justru semakin erat.

"Dia bukan pelayan, dan dia bukan sampah," desis Aksa dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.

"Dia adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih sudi menganggap Anda sebagai Ibuku. Jadi, tutup mulut kalian dan keluar sekarang sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kalian sesali seumur hidup!"

"A-apa yang kamu katakan, Aksa? Kenapa kamu bicara seperti itu pada Mami?" suara Sonia menciut, bergetar karena rasa tidak percaya yang mendalam.

"Mami melakukan semua ini demi masa depanmu, demi nama baik Mahendra! Bagaimana bisa kamu setega ini..."

Aksa mendengus, sebuah tawa hambar dan dingin keluar dari bibirnya. Ia melangkah satu tindak maju, melepaskan tangan Jasmine sejenak hanya untuk berdiri lebih tegak di depan Sonia. Tatapannya menghunus tajam.

"Cih, kamu masih saja berlagak baik di depanku, Mi?" desis Aksa dengan nada yang sangat meremehkan.

"Aksa, cukup..." gumam Jasmine pelan di belakangnya, mencoba menarik ujung kemeja Aksa karena ketakutan, namun Aksa tidak bergeming.

"Mau aku jelaskan agar kamu mengerti?" lanjut Aksa.

"Kamu adalah wanita tak tahu diri! Wanita yang merebut suami orang sampai Ibuku pergi dari rumahnya sendiri! Dia meninggalkan anaknya yang masih kecil hanya karena Ayahku lebih memilih wanita menjijikkan sepertimu!"

Sonia menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang karena rahasia masa lalunya dibongkar paksa oleh anak yang ia besarkan sendiri. Sementara itu, Clarissa yang masih terduduk di lantai hanya bisa mematung, syok mendengar kenyataan bahwa Sonia adalah seorang perusak rumah tangga.

"Selama ini aku diam karena aku masih berbaik hati padamu! Aku menghormatimu sebagai orang yang membesarkanku meski dengan tangan yang kotor!" teriak Aksa, urat-urat di lehernya menonjol.

"Tapi jangan pernah sekali pun kamu menyebut Jasmine rendah, karena di mata saya, kamulah yang jauh lebih rendah dari siapa pun"

Sonia memegangi dadanya, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini tampak pias, namun ia masih mencoba berdiri tegak.

"Kamu bicara apa, Aksa? Aku ini ibu kandungmu!" pekik Sonia.

"Aku yang melahirkanmu! Aku yang membesarkan kamu dengan tangan ini sampai kamu bisa menjadi pria hebat seperti sekarang! Bagaimana bisa kamu setega ini memfitnah ibumu sendiri?"

Aksa mendengus kasar, sebuah senyum sinis yang menyayat hati terukir di wajahnya. Ia menatap Sonia dengan tatapan kosong, seolah wanita di depannya hanyalah orang asing yang tak berharga.

"Cih, masih saja mengelak?" desis Aksa rendah, suaranya mengandung ancaman yang nyata. "Saya punya bukti-bukti lengkap tentang siapa Anda sebenarnya dan apa yang Anda lakukan pada keluarga asliku. Dan asal Anda tahu... ibu saya masih hidup. Dia tidak pernah meninggalkan saya atas kemauannya sendiri."

Mata Sonia membelalak lebar. Tubuhnya gemetar hebat, ia menggelengkan kepala dengan panik.

"Hah... n...nggak! Nggak mungkin! Ibu kamu sudah lama mati, Aksa! Dia sudah mati!"

"Ah..." Aksa mengangguk pelan.

"Akhirnya Anda mengakuinya juga. Anda baru saja mengakui bahwa wanita yang Anda sebut mati itu adalah ibu saya yang sebenarnya."

Sonia langsung bungkam. Ia tersadar bahwa ia baru saja masuk ke dalam jebakan kata-kata Aksa. Rahasia yang ia simpan rapat selama puluhan tahun, kehancuran rumah tangga yang ia susun dengan licik, kini terbongkar hanya dalam satu kalimat pengakuan yang keluar dari mulutnya sendiri karena panik.

Clarissa yang sedari tadi menangis histeris di lantai tiba-tiba bangkit. Ia menghapus air matanya dengan kasar, menatap Aksa dengan tatapan menuntut yang tidak masuk akal.

"Tapi kamu nggak bisa gitu aja, Aksa!" teriak Clarissa.

"Apapun yang terjadi dengan masa lalu Tante Sonia, itu bukan urusanku! Pertunangan kita tetap harus dilaksanakan! Berita sudah tersebar ke seluruh negeri, harga diri keluargaku taruhannya. Kita akan tetap bertunangan dan kita akan segera menikah tahun depan!"

"Menikah denganmu? Setelah aku tahu kalian berdua berasal dari jenis ular yang sama. Dalam mimpimu pun itu tidak akan terjadi, Clarissa."

Aksa melangkah maju satu tindak, membuat Sonia dan Clarissa terlonjak mundur. Ia menunjuk ke arah pintu keluar penthouse dengan jarinya.

"Keluar." Suara Aksa rendah, namun menggelegar di setiap sudut ruangan.

"Aksa, dengarkan Mami dulu...." Sonia mencoba meraih lengan putranya.

"Jangan sebut dirimu Mami di depanku lagi!" bentak Aksa, membuat Sonia tersentak hingga hampir jatuh.

"Keluar dari rumahku sekarang juga! Sebelum aku menyeret kalian berdua dengan tanganku sendiri dan melempar kalian ke lobi agar semua wartawan tahu siapa kalian sebenarnya!"

Wajah Sonia pucat pasi, menyadari bahwa putra yang selama ini ia kendalikan telah berubah menjadi sosok yang paling ia takuti. Sementara Clarissa, melihat kilat kemurkaan di mata Aksa, akhirnya kehilangan keberaniannya. Ia menarik lengan Sonia, menyadari bahwa bertahan di sana hanya akan membuat mereka semakin dipermalukan.

"Ayo, Tante... kita pergi," bisik Clarissa ketakutan.

Dengan langkah gontai dan penuh kehinaan, kedua wanita itu berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar, Aksa kembali bersuara, menghentikan langkah mereka sejenak.

"Satu hal lagi. Besok pagi, pengacara saya akan mengirimkan dokumen pemutusan seluruh hubungan kerja sama dengan keluarga Adiguna. Dan untuk Anda..." Aksa menatap Sonia dingin.

"Jangan pernah berani menginjakkan kaki di perusahaan saya lagi. Anda sudah tamat."

Pintu penthouse tertutup dengan bantingan keras, menyisakan keheningan yang mendengung di dalam ruangan. Aksa masih berdiri mematung, napasnya memburu, mencoba meredam badai emosi yang baru saja meledak.

Jasmine yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Aksa, perlahan memberanikan diri menyentuh lengan pria itu.

"Tuan... Anda tidak apa-apa?"

"Mau saya ambilkan air putih?"

Aksa hanya mengangguk lemah, tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.

Ia melangkah gontai menuju area ruang tengah dan menjatuhkan diri di atas sofa kulit yang empuk. Aksa menyandarkan kepalanya, memejamkan mata rapat-rapat sambil memijat pangkal hidungnya. Semua kekuatan yang ia tunjukkan di depan Sonia dan Clarissa tadi seolah menguap begitu saja, menyisakan pria yang sedang hancur karena masa lalunya sendiri.

Jasmine segera berlari kecil ke dapur. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menuangkan air dingin ke dalam gelas kristal. Ia kembali ke ruang tengah dan berdiri di samping sofa, menyodorkan gelas itu dengan hati-hati.

"Ini, Tuan. Minumlah sedikit agar perasaan Anda lebih tenang," ucap Jasmine pelan.

Aksa langsung menyambar gelas itu, dan meminum isinya hingga tandas.

1
Redmi Nam
Jasmine jangan membangunkan singa tidur..
tuh singanya muaraaah😄😄😄
vita
knp cerita ini jarang update sih kak
Redmi Nam
jangan lama" punya thor🙏
Kaknia
suka jl ceritanya 👍👍😘
sunaryati jarum
Nah gitu jika cinta perjuangkan
sunaryati jarum
Kamu benar Yasmine ,Nak Aksa dengarkan Bara kau jangan mempersulit Yasmine, kasihan
sunaryati jarum
Kau jatuh cinta sama mantanmu
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak ambil kamar yang ada pintu penghubungnya
mini
hah,,, ikut plong aku😍
Kaknia
suka alur ceritanya
Kaknia
bucin Aksa 😂🤭
Kaknia
seruuuuuuu
partini
dihhh felakor
Kaknia
semakin seruuuu ceritax tapi nanggung banget masih penasaran😭
partini
tamat sudah kamu Jasmine
Kaknia
astagaaa semoga Jasmine TDK knp knp 😭
Kaknia
mantap ceritax
Kaknia
semoga Jasmine TDK knp knp dan semoga Aksa pembela terdepanx
Kaknia
Semoga Bisa Bersatu Kembali.......
Suka Ceritax Seruuuuu....
Risa Virgo Always Beau
Jasmine mending kamu bertahan saja kerja sama Aksa di banding kamu di denda seratus juta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!