NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Duel Maut dan Pengorbanan Sinmi

Cyprian melangkah masuk ke kamar dengan nampan berisi ramuan penenang dari akar langit, namun nampan itu jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai marmer.

Kamar itu kosong. Aroma salju terbakar dan sisa pendar emas yang meredup masih menggantung di udara, namun sosok Sybilla telah lenyap. Mata emas Cyprian menyapu ruangan dan berhenti pada botol kaca pecah dan sisa rantai bayangan yang hanya bisa dirapalkan oleh garis keturunan Valerius.

"Lysander..." geram Cyprian, suaranya rendah namun mengandung getaran yang sanggup meruntuhkan dinding batu.

Kemarahannya bukan lagi sekadar kemarahan seorang Duke, melainkan kemarahan seorang pria yang telah menghabiskan sepuluh tahun hidupnya di neraka perang hanya untuk menjaga satu nyawa. Ia berlari menuju balkon, bersiul melengking ke arah langit malam yang pekat. Dari balik awan, seekor Pegasus Hitam dengan mata bara api menukik tajam.

"Kejar kapal pangeran," perintah Cyprian sambil melompat ke punggung makhluk itu. "Jika dia menyentuh satu helai rambutnya, aku akan memastikan sejarah Valerius berakhir malam ini!"

Di atas kapal terbang yang melaju menuju Perbatasan Bawah, Sybilla (Elysianne) merasakan tekanan mental yang tak tertahankan. Suara Lysander yang sombong dan bayangan Raja Neraka, Erebus, memicu insting bertahan hidup yang terkubur selama ribuan tahun di Kayangan.

"Cukup... HENTIKAN!" teriak Sybilla.

Detik itu juga, napasnya berhenti sejenak. Mata ungunya memutih total, memancarkan sinar yang lebih terang dari matahari. Cahaya Astraea meledak dari pusat jantungnya, bukan lagi sebagai kebocoran kecil, melainkan sebagai gelombang kejut murni.

Kapal terbang Lysander yang dilapisi sihir hitam hancur seketika. Kayu-kayu cendana sihirnya terbelah menjadi abu, dan layar sutranya terbakar dalam sekejap mata oleh api emas.

Tubuh Sybilla yang tak sadarkan diri karena kelelahan energi mulai melayang jatuh dari ketinggian ribuan kaki menuju hutan terlarang di bawah. Lysander, yang terlempar oleh ledakan itu, juga jatuh terjun bebas, jubah peraknya compang-camping namun matanya tetap menatap Sybilla dengan obsesi yang gila.

Ledakan hebat itu menghancurkan botol kaca tempat Sinmi ditawan. Roh kecil itu terlempar ke udara, namun begitu ia merasakan angin menyentuh sayapnya, ia segera kembali ke wujud manusianya.

"PUTRI!" teriak Sinmi.

Meski tubuhnya kecil, Sinmi mengerahkan seluruh sisa sihir biru elektriknya. Ia menukik tajam, meluncur lebih cepat dari gravitasi. Sebelum tubuh Sybilla menghantam pepohonan berduri di bawah, Sinmi berhasil menangkap tangan majikannya.

Zzap!

Sinmi mengubah wujudnya kembali menjadi kupu-kupu raksasa yang bersinar, menyangga tubuh Sybilla di atas punggungnya. Mereka mendarat dengan keras di sebuah lembah tersembunyi yang diselimuti kabut ungu—wilayah netral yang belum pernah dipetakan.

Sybilla terbaring lemah di atas hamparan lumut yang bercahaya. Sinmi kembali menjadi gadis kecil, terengah-engah dengan sayap yang robek di beberapa bagian.

"Kita selamat... untuk sementara," bisik Sinmi sambil menyeka darah biru dari sudut bibirnya.

Namun, kegembiraan itu sirna saat terdengar suara ranting patah dari balik kabut. Bukan Cyprian yang muncul, melainkan Lysander. Sang Pangeran Mahkota mendarat beberapa meter dari mereka. Meski wajahnya berdarah dan bajunya rusak, ia justru tertawa kecil melihat pendar emas yang masih menyelimuti tubuh Sybilla.

"Kekuatan yang indah, Elysianne," ucap Lysander sambil berjalan tertatih mendekat. "Kau baru saja membuktikan bahwa kau memang layak menjadi kunci duniaku."

Tiba-tiba, dari arah langit, raungan Pegasus Hitam memecah kesunyian. Cyprian telah tiba.

Kabut ungu di lembah itu seolah membeku saat Sinmi, dengan air mata yang membasahi pipi mungilnya, memeluk tubuh pingsan Elysianne. Cahaya biru elektrik mulai membakar tubuh rohnya—sebuah pengorbanan Essence paling murni untuk melakukan Lompatan Dimensi Terakhir.

"Putri... carilah jalan pulang," bisik Sinmi, suaranya parau dan mulai pecah menjadi partikel cahaya. "Anggap saja ini adalah caraku membayar kesalahanku karena telah menarikmu ke dunia yang kejam ini."

Zzap!

Dalam satu ledakan cahaya biru yang memekakkan mata, sosok Sybilla dan Sinmi lenyap tanpa jejak, meninggalkan keheningan yang mengerikan di dasar lembah.

Beberapa detik kemudian, Pegasus Hitam menukik tajam, menghancurkan pepohonan saat mendarat. Cyprian melompat turun, pedang Adamant-nya sudah bersinar dengan amarah yang dingin. Namun, matanya yang emas hanya menemukan Lysander yang berdiri sendirian di tengah kawah kecil bekas ledakan Sinmi.

"Di mana dia?!" raungan Cyprian mengguncang lembah.

Lysander menyeka darah dari bibirnya, menatap telapak tangannya yang kosong dengan ekspresi hampa yang perlahan berubah menjadi tawa gila. "Dia pergi, Duke. Roh kecil itu membawanya ke tempat yang tidak bisa kau jangkau. Kau gagal... kita berdua gagal."

"Kau pengkhianat busuk!"

Cyprian menerjang. Pedangnya menebas udara dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa. Lysander menangkis dengan belati peraknya yang dilapisi sihir hitam, menciptakan percikan api yang membakar kabut di sekitar mereka.

Cyprian bertarung seperti monster yang terluka. Setiap tebasannya bertujuan untuk membelah Lysander menjadi dua.

Lysander, meski tubuhnya sudah remuk karena ledakan kapal, menggunakan sihir bayangan untuk berpindah tempat secara instan, mencoba menusuk celah di zirah Cyprian.

"Kau mencintainya, bukan?" ejek Lysander di sela-sela benturan senjata. "Kau mencintai Dewi yang kau pikir adalah tunanganmu! Padahal kau hanya menjaga sebuah cangkang kosong!"

"Aku tidak peduli siapa dia di Kayangan!" teriak Cyprian sambil menghantamkan hulu pedangnya ke wajah Lysander. "Dia adalah tanggung jawabku! Dia adalah milikku!"

Benturan kekuatan mereka menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan tebing-tebing di sekitar lembah. Cyprian berhasil menyudutkan Lysander di bawah pohon kuno yang besar, ujung pedangnya menekan tenggorokan sang Pangeran hingga berdarah.

Sementara itu, di sebuah dataran tinggi yang jauh dari jangkauan siapa pun, cahaya biru Sinmi mendarat dengan lembut. Tubuh Sinmi kini hampir transparan, menyerupai uap air yang akan segera menguap tertiup angin.

Ia meletakkan Sybilla (Elysianne) di depan sebuah pintu kayu tua yang tampak sangat akrab. Pintu itu tertutup tanaman merambat, namun di atasnya terukir lambang yang sama dengan kalung yang dipakai Nenek Christina di London.

"Ini tempatnya..." gumam Sinmi, suaranya nyaris tak terdengar. "Kuil Perlindungan Astraea."

Sinmi menatap wajah Sybilla untuk terakhir kalinya, memberikan kecupan kecil di dahi majikannya. Perlahan, tubuh gadis kecil itu hancur menjadi debu cahaya biru yang terbang terbawa angin, meninggalkan Sybilla sendirian di depan pintu rahasia masa lalunya.

Tepat saat Sinmi lenyap, pintu itu terbuka dari dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!