NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Satu Bulan Menjauh"

Layar ponsel Nayla masih menyala.

Pesan terakhir dari Zain masih terbaca.

"Kamu… sama pangeran kecil."

Nayla terdiam sejenak.

Jempolnya menggantung di atas layar, ragu ingin membalas.

Namun—

sebuah kepala kecil tiba-tiba muncul dari samping.

"Apa itu?"

Nayla refleks sedikit menjauhkan ponselnya.

"Nggak ada."

Arkan menyipitkan mata.

"Itu… yang tadi?" tanyanya curiga.

Nayla menghela napas pelan.

"Iya."

Arkan langsung mendekat, berusaha mengintip layar.

"Apa katanya?"

Nayla ragu sejenak… lalu akhirnya menyerah.

Ia menurunkan ponselnya sedikit.

Arkan membaca cepat.

Keningnya langsung berkerut.

"Kenapa dia bawa-bawa aku?" protesnya.

Nayla hampir tersenyum.

"Ya… kan tadi bareng."

Arkan mendengus.

"Dia aneh."

Di sisi lain—

ponsel Zain tiba-tiba bergetar.

Matanya langsung terbuka lebar.

Cepat-cepat ia mengambilnya.

Nayla:

"Dia nanya, kenapa dibawa-bawa."

Zain terdiam.

Lalu…

tertawa pelan.

Zain:

"Jawab aja."

"Soalnya aku lagi minta izin ke dia."

Nayla membaca, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.

Arkan masih memperhatikan.

"Apa lagi?" tanyanya tidak sabar.

Nayla menunjukkan sedikit layar.

Arkan membaca.

Matanya membesar.

"Minta izin apa?!"

Nayla menahan tawa.

Belum sempat menjawab, ponselnya kembali bergetar.

Zain:

"Bilang ya…"

"aku orangnya baik."

Arkan langsung bersuara keras,

"BOHONG!"

Nayla tak bisa menahan senyumnya lagi.

Ia hanya terkekeh pelan

Dan entah kenapa—di antara protes kecil Arkan, dan pesan-pesan sederhana itu…

Sesuatu mulai tumbuh.

Pelan.

Tanpa disadari.

"Siapa yang bohong?" tanya Oma penasaran.

"Hah...?" Nayla dan Arkan kompak terkejut.

"Omaa..." rengek Arkan manja.

"Oma kayak hantu, tahu aja!" lanjutnya, setengah protes.

"Eh, kamu... ini?" Oma mencubit hidung Arkan pelan.

"Oma ngagetin sih..." sahut Arkan lirih.

Nayla hanya tertawa kecil, menahan geli.

"Siapa yang bohong?" ulang Oma, kali ini lebih serius.

Tatapannya beralih ke Nayla, alisnya terangkat menuntut jawaban.

"Tadi waktu main, aku ketemu sama temannya Kakak!" ucap Arkan setengah berteriak.

Oma langsung beralih menatap Arkan serius, menunggu kelanjutan ceritanya.

"Ya... gitu deh," lanjut Arkan, suaranya mendadak mengecil.

Nayla tak bisa menahan tawa.

"Hahaha..."

Arkan mendelik kesal dengan gaya andalannya.

Setelah itu, Nayla menceritakan semua kejadian tadi. Oma hanya mengangguk-angguk pelan.

Namun, tatapannya seolah menyimpan sesuatu...bukan sekadar mendengarkan.

**

Pada waktu yang sama, di sudut kota yang berbeda...

Darvian Kael Reysaka menatap langit dengan gelisah. Sesekali, ia menjambak rambutnya sendiri.

Tatapannya jauh pada malam itu.

......................

Malam saat ia terkekeh pelan, gemas, melihat gadis yang belakangan ini membuatnya penasaran.

Namun, itu tidak berlangsung lama.

"Darvian!" panggil seorang wanita—yang seharusnya ia panggil ibu—dengan tatapan tegas.

"Kamu ngapain, hah?"

Darvian terlonjak kaget. Padahal tadi, ia tengah asyik memperhatikan gadis itu.

Kini, telinganya ditarik paksa oleh wanita yang telah melahirkannya—namun tak pernah benar-benar mengurusnya.

Ia segera berontak, lalu menatap tajam.

"Kael!" ucap wanita itu lagi, lebih keras, dengan sorot mata yang menekan.

"Jangan pernah memanggilku Kael!" balasnya, tak kalah tegas.

"Namaku Darvian Reysaka."

Sejak usianya menginjak sepuluh tahun, ia telah membuang nama itu.

Rahangnya mengeras. Kilatan amarah terlihat jelas di matanya.

Darvian Kael Reysaka—nama lengkap yang masih tercatat secara resmi.

Namun baginya, nama “Kael” telah lama ia buang.

Rosdiana—atau yang biasa dipanggil Ibu Diana—menatapnya dengan sorot mata yang terluka.

Namun, ia tetap harus tegas. Setidaknya, itu yang ia yakini.

"Kamu ngapain, telanjang begini di depan Nayla?" ucapnya pelan, tapi penuh penekanan.

Darvian sedikit mengernyit, terdiam.

Ia tak menyangka aksinya dipergoki oleh ibunya sendiri.

"Aku pakai celana!" tegas Darvian

"Tapi ini apa, hah.." tunjuknya kearah dadanya

Darvian terdiam, ia menyibakkan rambutnya ke belakang dengan kasar."

"Nayla itu gadis baik-baik."

"Dia terlalu polos untuk kamu permainkan, Darvin..." lanjutnya, tatapannya masih tegas, meski terselip luka di dalamnya.

"Kamu kalau mau main-main, cari perempuan lain. Di luar sana banyak," lanjutnya.

"Tapi jangan sekali-kali kamu sentuh Nayla," peringatnya tegas.

Darvian menghela napas.

"Aku nggak main-main," ucapnya dingin, lalu berbalik hendak pergi.

"Darvin!" panggilnya tegas.

"Ibu belum selesai bicara," lanjutnya sambil menarik tangan lelaki itu.

Darvian menghempaskan tangannya kasar.

"Apa?" ucapnya menantang.

"Jangan Nayla, oke?" kini suaranya melembut, nyaris memohon.

"Nayla itu sensitif. Kalau dia pergi, bagaimana?"

"Siapa yang akan menjaga Arkan?"

Darvian terdiam sejenak.

"Kalau begitu, buat dia tidak bisa pergi," ucapnya tegas, lalu melenggang pergi.

"Darvin," panggilnya pelan, namun tetap tegas.

Namun, Darvian mengabaikannya. Ia terus melangkah tanpa menoleh.

Diana hanya bisa memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri.

Ia segera menuju dapur, mencari air hangat untuk menenangkan kepalanya yang terasa semakin berat.

Hampir satu jam ia terdiam di sana, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Baru setelah itu, Diana melangkah ke kamar untuk beristirahat.

Namun, matanya tak kunjung terpejam.

Pikirannya dipenuhi kekhawatiran akan masa depan Nayla.

Nayla gadis baik-baik.

Dan ia harus melindunginya.

Karena dialah yang membawa gadis itu ke dalam hidup mereka.

Diana beranjak dari tidurnya. Tanpa banyak berpikir, ia melangkah menuju kamar Darvian.

Tok... tok...

"Darvin," panggilnya pelan, sembari mengetuk kembali.

Namun, tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka.

Ia pun hendak menggunakan kunci cadangan. Tapi kunci itu masih tertinggal di lubang pintu, dari dalam.

Diana mengernyit, lalu mengetuk lebih keras.

Tok! Tok! Tok!

Untung saja, kamar ini cukup jauh dari kamar Arkan, sehingga suara itu tidak akan mengganggu mereka.

Diana mengetuk pintu dengan lebih keras. Keributan kecil itu akhirnya mengundang beberapa ART di rumah, termasuk Bibi Rani.

Ia mengisyaratkan agar mereka tidak ikut campur. Tak lama, semua orang pun bubar.

Diana kembali mengetuk, kali ini lebih keras.

Akhirnya, pintu terbuka.

Rahang Darvian mengeras. Ia menatap Diana dengan sorot mata tajam.

Namun, Diana mengabaikannya.

Ia melenggang masuk ke dalam kamar.

"Tutup pintunya, Darvin," titahnya tegas.

Darvian memutar bola matanya kesal, namun tetap menuruti.

Brak.

"Duduk," perintahnya lebih tegas.

Darvian menurut, meski wajahnya mulai memerah menahan emosi.

"Ibu sudah memesan tiket pesawat. Kamu berangkat subuh ini juga."

"Ap—" ucapan Darvian terpotong.

"Diam. Ibu belum selesai bicara!"

"Dengarkan ini baik-baik!"

"Atau Ibu akan membuat Nayla membencimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!