"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Bu Kiran
"Aurel?" Cya mengulang pelan, keningnya berkerut. Ia bingung mengapa tiba-tiba nama itu muncul lagi.
Rajendra menatapnya, lalu mengangkat cincin yang ia temukan. "Ini cincin pernikahanku dengan Aurel," ucapnya pelan.
Cya terdiam sejenak sebelum mengulurkan tangan dan mengambil cincin itu. Ia memperhatikannya dengan saksama. Kilau berlian di sana tak kalah indah—bahkan mungkin lebih elegan dibanding cincin pernikahannya sendiri.
"Om yakin ini cincin pernikahan Om?" tanya Cya hati-hati.
"Aku yakin seratus persen."
Cya melirik wajah Rajendra. Ekspresinya sudah berubah—tidak ada lagi sisa keceriaan tadi. Yang ada hanya kesedihan yang dalam.
"Kok bisa ada di sini?" tanya Cya lagi.
Rajendra menggeleng pelan. "Aku juga gak tau... tapi seharusnya cincin ini gak ada di sini."
"Terus... seharusnya ada di mana?"
Rajendra menarik napas panjang sebelum menjawab. "Dulu... Aurel pakai cincin itu saat kecelakaan. Mobilnya jatuh ke jurang waktu perjalanan ke Bali."
Cya terdiam, mencoba mencerna. "Dia mau ke mana waktu itu?" tanyanya pelan.
Rajendra menatap kosong ke depan, seolah kembali ke masa lalu.
"Itu hari pernikahan kami," ucapnya lirih. "Setelah akad, papa Aurel dapat kabar kalau kakeknya meninggal di Bali. Jadi orang tuanya berangkat lebih dulu."
Ia berhenti sejenak, rahangnya menegang. "Lalu saat resepsi masih berlangsung, Aurel dapat kabar kalau papanya kena serangan jantung. Dia panik... dan langsung memutuskan berangkat ke Bali saat itu juga, bahkan sebelum acara selesai."
Cya menatapnya tanpa berkedip. "Terus... kenapa Om nggak ikut?"
Rajendra tersenyum tipis, tapi pahit. "Kalau aku ikut... mungkin aku sudah meninggal bareng dia. Memangnya kamu mau aku meninggal dan kita nggak menikah?"
"Maksud saya waktu itu Om kan gak tau kalau mobil itu akan mengalami kecelakaan. Kenapa Om nggak ikut?"
Rajendra menunduk sejenak. "Aurel yang minta aku tetap tinggal. Dia bilang aku harus menyambut tamu sampai selesai. Dia suruh aku menyusul setelahnya..." Suara Rajendra makin pelan. "Tapi aku nggak pernah sempat menyusul."
Hening sejenak.
Cya menggenggam cincin itu tanpa sadar. "Jasadnya... belum ditemukan sampai sekarang?" tanyanya hati-hati.
Rajendra menggeleng pelan. "Aku selalu berharap... setidaknya jasadnya ditemukan. Tapi sampai sekarang... gak pernah ada kabar."
Suasana tiba-tiba terasa berat.
Angin yang tadi terasa sejuk, kini seperti membawa dingin yang berbeda.
Cya menatap cincin di tangannya, lalu perlahan menatap Rajendra.
Tangan Cya terangkat, mengelus pelan lengan Rajendra. "Kamu yang sabar ya... semoga Aurel tenang di sana. Dan semoga... jasadnya cepat ditemukan."
Untuk pertama kalinya, Cya menahan egonya. Ia memang belum pernah kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi, tapi ia tau—kehilangan pasti terasa sangat menyakitkan.
Rajendra mengangguk pelan. "Yang bikin aku bingung sekarang... kenapa cincin ini bisa ada di sini?"
"Mungkin cuma mirip saja, Om."
Rajendra langsung menggeleng. "Enggak mungkin. Ini cincin pesanan khusus. Hanya ada satu di Indonesia. Aurel sendiri yang desain."
Cya terdiam. Hampir saja ia menganga.
Sespecial itu...?
Tanpa sadar, jemarinya menggenggam cincin itu lebih erat.
"Beruntung banget ya jadi Aurel," gumamnya pelan.
Rajendra menoleh. "Beruntung kenapa?"
"Dapat dicintai sedalam itu... sama laki-laki seperti kamu."
Wajah Cya terlihat tenang, bahkan serius. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa diremas pelan.
Rajendra tersenyum tipis, pahit. "Aku rasa justru dia tidak beruntung. Dia dipanggil terlalu cepat."
Cya mengalihkan pandangan. "Kalau dia masih ada... mungkin sekarang kamu sudah bahagia sama dia. Tanpa aku di tengah-tengah kalian."
Ada jeda. Hening.
"Itu takdir," jawab Rajendra pelan. "Mungkin kita memang ditakdirkan bersama. Sedangkan aku dan Aurel... dipertemukan supaya aku belajar arti kehilangan."
Cya tersenyum tipis. "Percuma berjodoh kalau enggak ada cinta."
"Bukan enggak ada," Rajendra menatapnya dalam. "Kita belum tau ke depan akan seperti apa. Bisa saja... aku akan mencintai kamu lebih dari aku mencintai Aurel."
Cya tertawa kecil, tapi hambar. "Dan bisa juga kita berpisah."
Rajendra terdiam.
Ucapan itu... terlalu nyata untuk dibantah.
"Kalau nanti kita berpisah... kamu bakal sedih juga enggak?" tanya Cya pelan.
Rajendra tidak menjawab.
Memikirkannya saja... sudah membuat dadanya terasa sesak.
"Kita usahakan... jangan sampai itu terjadi," ucapnya akhirnya, sambil meraih tangan Cya.
Cya menunduk. Ia menarik tangannya perlahan, lalu memalingkan wajah.
Matanya mulai panas.
Dan tepat saat air matanya jatuh—Hujan turun.
Tiba-tiba. Padahal langit tadi cerah.
"Ayo kita berteduh," ajak Rajendra, berdiri dan menarik Cya.
Namun Cya menggeleng pelan. "Kakak pulang duluan saja."
Rajendra membeku.
Itu pertama kalinya Cya memanggilnya kakak.
Ada rasa hangat yang aneh... menyusup ke dalam dadanya.
"Kalau kamu di sini, aku juga di sini," jawabnya pelan.
"Kak..." panggil Cya lagi. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.
"Iya?"
"Aku gak tau gimana rasanya jatuh cinta... dan aku harap aku enggak pernah jatuh cinta sama kakak."
Deg!
Dada Rajendra terasa seperti diremas. "Kamu bilang kamu mau buat aku jatuh cinta... tapi kamu sendiri malah gak mau jatuh cinta sama aku?"
"Itu sebelum aku sadar... sebesar apa cinta kakak ke Aurel."
Rajendra terdiam.
Untuk pertama kalinya... ia tidak punya jawaban.
"Kalau Aurel masih hidup... kakak bakal pilih aku atau dia?"
Hening.
Pertanyaan itu terlalu berat.
Seharusnya jawabannya mudah.
Tapi kenapa... lidahnya kelu?
Kenapa... ia tidak ingin kehilangan Cya?
Cya tersenyum kecut. "Enggak usah dijawab. Aku tau jawabannya."
Hujan perlahan reda.
Menyisakan tubuh mereka yang basah kuyup... dan perasaan yang jauh lebih berantakan.
"Ayo pulang," ucap Rajendra akhirnya, menarik tangan Cya.
Kali ini, Cya tidak menolak.
***
Sesampainya di rumah, suasana masih terasa canggung.
Tak ada percakapan di antara mereka.
Mereka langsung duduk di meja makan bersama Pak Sammy dan Bu Riska.
"Ekhem..." Bu Riska berdehem, memecah keheningan.
Semua menoleh.
"Kenapa, Ma?" tanya Pak Sammy.
"Enggak apa-apa sih," jawab Bu Riska santai. "Cuma... mama ngerasa makan siang kali ini beda ya."
Pak Sammy mengernyit. "Beda gimana?"
Bu Riska memberi kode pada Pak Sammy dengan melirik ke arah Rajendra dan Cya secara bergantian.
Pak Sammy pun menangkap maksud itu. Ia ikut melirik keduanya sebelum akhirnya membuka suara.
"Tadi jogging-nya seru?" tanyanya santai.
"Lumayan," jawab Rajendra singkat.
"Wah, kalau Papa tau tadi kamu mau jogging, Papa pasti ikut. Pasti lebih seru jogging sama laki-laki daripada sama perempuan."
"Tapi aku merasa jogging sama Cya menyenangkan kok, Pa," sanggah Rajendra tanpa ragu.
Pak Sammy tersenyum kecut. Biasanya Rajendra selalu sependapat dengannya atau Bu Riska, tapi kali ini berbeda. Bahkan sikapnya terasa lebih dingin dari biasanya.
"Baguslah kalau begitu," ucap Pak Sammy. "Yang penting kamu gak lupa sama Aurel."
"Tentu."
Jawaban singkat itu seperti pisau yang kembali menggores hati Cya. "Dan semuanya memang selalu kembali ke Aurel..." batin Cya lirih.
"Habis makan, aku mau ngomong sama Mama dan Papa. Ada hal penting yang mau aku tanyakan," ujar Rajendra tiba-tiba.
Pak Sammy dan Bu Riska saling berpandangan, lalu mengangguk bersamaan.
Rajendra kemudian meraih tangan Cya. "Kamu temani aku, ya?"
Cya sempat ragu. Jujur, ia malas terlibat. Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. "Iya," jawabnya akhirnya.
Setelah makan selesai, Cya membantu membereskan piring. Tak lama, mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga.
Suasana terasa sedikit tegang.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bu Riska tak sabar.
Rajendra tidak langsung menjawab. Ia memasukkan tangan ke saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu.
Sebuah cincin.
Ia menaruh cincin itu di atas meja. "Tadi waktu jogging, aku menemukan ini di taman."
Rajendra mendorong cincin itu sedikit ke tengah meja.
Awalnya Pak Sammy dan Bu Riska tampak terkejut. Namun hanya sesaat. Ekspresi Bu Riska kembali netral—terlalu cepat untuk ukuran keterkejutan yang wajar.
"Kenapa dengan cincin itu?" tanya Bu Riska, pura-pura tenang.
Rajendra menatapnya lurus. "Aku rasa Mama tidak benar-benar tidak tau soal cincin ini."
Cya yang duduk di sampingnya hanya diam, matanya terpaku pada cincin itu. Dalam hati ia bertanya—kenapa aku harus ikut di sini kalau cuma membahas ini?
"M-maksud kamu apa?" Bu Riska mulai gelagapan. Jemarinya memainkan ujung bajunya.
"Mama dan Papa pasti ingat. Ini cincin pernikahanku dengan Aurel."
"Enggak mungkin!" bantah Bu Riska cepat. Sementara Pak Sammy masih diam, wajahnya mulai tegang.
Rajendra mengangkat sebelah alis. "Kenapa tidak mungkin?"
"Karena... mana mungkin cincin Aurel ada di taman, sementara Aurel sendiri tidak ada di sana. Mungkin itu cuma mirip."
Rajendra menggeleng pelan. "Cincin ini dibuat khusus. Enggak ada duanya."
"Ya tetap saja enggak masuk akal, Rajendra!" nada suara Bu Riska mulai naik. "Jasad Aurel saja enggak ditemukan. Bagaimana bisa cincinnya ada di sini?"
Pak Sammy masih memilih diam, membiarkan istrinya yang menghadapi semua pertanyaan.
Rajendra menarik napas dalam. "Kalau dipikir secara logika, cuma ada dua kemungkinan," ucapnya pelan tapi tegas. "Aurel masih hidup... dan pernah ke taman itu."
Hening.
"Atau..." lanjutnya, "ada seseorang yang menemukan jasad Aurel dan mengambil cincin ini."
"Mama lebih percaya kemungkinan yang kedua," jawab Bu Riska cepat.
Rajendra menatap cincin itu lagi. Rahangnya mengeras. "Tapi aku ragu..."
Cya menoleh pelan ke arah Rajendra.
Baru sekarang ia sadar—sejak tadi laki-laki itu diam bukan tanpa alasan. Ia sedang memikirkan kemungkinan itu.
Kemungkinan bahwa... Aurel masih hidup.
Dada Cya tiba-tiba terasa sesak. "Kenapa rasanya sakit... padahal aku kan enggak cinta sama dia?" batinnya.
Tanpa sadar, tangannya terangkat, menyentuh dadanya sendiri.
"Kenapa kamu ragu?" tanya Bu Riska, berusaha tetap tenang.
"Kalau memang ada orang yang menemukan jasad Aurel," jawab Rajendra, "seharusnya mereka melapor ke pihak berwajib. Dan pihak berwajib pasti akan menghubungi kita."
Ia menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Tapi ini... enggak ada kabar apa pun."
Bu Riska tersenyum tipis, meski terlihat dipaksakan. "Kita kan enggak tau orang yang menemukan jasad Aurel itu orang baik atau bukan," katanya. "Kalau orang jahat, ya jelas dia gak akan melapor. Dia pasti tergiur sama cincin mahal itu." Ia melirik cincin di meja. "Orang bodoh pun tau itu cincin mahal."
***
Malam harinya, Cya menggelar tikar di depan lemari kamar. Setelah itu, ia mengambil bantal dan selimut.
Sejak tadi, Rajendra hanya mengernyit memperhatikan semua itu. Saat Cya hendak berbaring di atas tikar, barulah ia bertanya,
"Kamu ngapain pasang tikar di situ?"
"Mau tidur."
"Kenapa gak di kasur aja?" Rajendra benar-benar heran. Belakangan ini mereka sudah terbiasa tidur bersama, dan... tanpa ia sadari, ia mulai nyaman dengan itu.
Cya menjawab tanpa ragu, "Aku harus mulai membiasakan diri... untuk enggak tidur di samping Kak Kenzo."
Rajendra sedikit terdiam. Ada rasa senang saat mendengar panggilan kakak, tapi lebih besar lagi rasa tidak nyaman melihat Cya memilih tidur di lantai.
"Alasannya?"
"Supaya nanti kalau Aurel benar-benar masih hidup... aku bisa pergi dengan mudah. Dan terbiasa tidur sendiri lagi."
Deg!
Raut wajah Rajendra langsung berubah. Dadanya terasa sesak—bukan hanya karena nama Aurel, tapi karena kata pergi yang keluar dari mulut Cya.
Ia segera turun dari kasur dan mendekat.
"Cya... kamu tidur di atas aja, ya," bujuknya pelan.
Namun Cya menggeleng tanpa menoleh. Ia sudah memunggungi Rajendra. "Enggak, Kak. Aku di sini aja."
Rajendra menghela napas. "Kamu jangan mikirin hal yang belum tentu terjadi. Enggak mungkin Aurel kembali ke hidup aku."
Cya tertawa kecil. Ia bangkit, lalu duduk menghadap Rajendra. "Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang... kalau salah satu kemungkinan Aurel masih hidup?"
"Itu cuma kemungkinan," sanggah Rajendra cepat. "Aku yakin itu enggak akan terjadi."
Cya mengangkat bahu. "Dan kalau ternyata terjadi... aku cuma lagi siap-siap aja."
Ia tersenyum tipis, tapi terasa hambar. "Dari awal aku juga sadar... aku memang gak ada artinya buat Kak Jendra."
Rajendra terdiam.
Entah kenapa... kalimat itu terasa menusuk.
Cya kembali tertawa pelan. "Lucu ya."
"Apanya?"
"Aku selama ini jaga diri, enggak pacaran, karena katanya kita bakal dipertemukan sama cerminan diri kita sendiri..."
Ia menatap Rajendra lurus. "Tapi yang aku dapat malah laki-laki duda yang belum selesai sama masa lalunya."
Ucapan itu seperti tamparan keras.
Tatapan Rajendra meredup. "Kamu... menyesal nikah sama aku?"
Cya menggeleng santai. "Untuk apa menyesal? Kak Jendra kan kaya." Ia tersenyum tipis. "Lumayan, nanti kalau kita cerai aku bisa minta harta gono-gini. Bisa jadi obat sakit hati."
Tangan Rajendra perlahan mengepal.
Ia tidak tau sejak kapan... tapi kata cerai dari mulut Cya jadi hal yang paling ia benci dengar.
"Kita enggak akan pernah cerai," ucapnya tegas.
Cya hanya mengangkat bahu. "Kita lihat nanti aja. Sekarang mending tidur. Besok aku kuliah, kamu kerja."
Ia kembali berbaring, memunggungi Rajendra. "Aku kangen kamu yang dulu," ujar Rajendra tiba-tiba.
"Yang mana?"
"Yang polos... yang selalu ngajakin aku berantem."
Cya tersenyum kecil tanpa menoleh. "Nanti kita berantem lagi."
Hening.
Rajendra masih berdiri di sana, merasa... diabaikan.
"Cya," panggilnya pelan lima belas menit kemudian.
Tak ada jawaban.
Ia membungkuk sedikit untuk melihat, dan ternyata Cya sudah tertidur.
Rajendra menghela napas panjang.
Ia berdiri... lalu bukannya kembali ke kasur, ia justru mengambil bantal dan selimut.
Perlahan, ia berbaring di samping Cya di atas tikar.
Menatap langit-langit kamar sejenak.
Aneh.
Lantai yang keras ini... justru terasa lebih nyaman.
Karena ada Cya di sampingnya.
***
Sekitar pukul setengah lima subuh, Cya merasa ada sesuatu yang berat di atas perut dan pahanya.
Dengan mata masih setengah terpejam, ia mencoba bergerak. Namun semakin ia sadar, semakin terasa jelas—itu bukan benda.
Melainkan seseorang.
Cya membuka mata.
Dan benar saja.
Rajendra.
Laki-laki itu memeluknya erat, bahkan salah satu kakinya ikut menyangkut di tubuh Cya, seolah takut kehilangan.
"Kenapa dia tidur di sini sih... mana nyenyak banget lagi," gumam Cya pelan.
Dengan hati-hati, ia menyingkirkan tangan dan kaki Rajendra dari tubuhnya. Setelah itu, ia menepuk pelan bahu laki-laki itu.
"Kak... bangun. Udah subuh."
"Enggh..." Rajendra menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Perlahan, matanya terbuka. Dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Cya di depannya.
"Pagi, Cya," sapanya lembut, suaranya masih serak karena baru bangun tidur.
Cya sedikit tertegun. "P-pagi..." jawabnya kikuk.
Seharusnya Rajendra yang merasa canggung karena tidur di sampingnya tanpa izin.
Tapi entah kenapa... justru Cya yang merasa salah tingkah.
***
"Cya, kita berangkat bareng ya." Rajendra buru-buru menghampiri Cya yang sudah berdiri di teras, siap berangkat.
"Kakak ada kelas?" tanya Cya tanpa menoleh, sibuk mengenakan kaus kaki.
"Enggak. Tapi enggak ada salahnya kan kalau aku ngantar kamu ke kampus?"
"Enggak usah, Kak. Aku bisa sendiri."
Begitu selesai, Cya langsung berdiri dan berjalan pergi.
Rajendra tidak tinggal diam.
Ia segera menuju garasi dan mengeluarkan motor sport miliknya. Jarang sekali ia menggunakannya, tapi kali ini ia tidak ingin kalah cepat.
"Cya, ayo naik."
Cya berhenti sejenak, lalu menunjukkan ponselnya. "Aku sudah pesan ojek online."
Rajendra mengernyit. "Batalin aja."
Ia hendak mengambil ponsel itu, tapi Cya dengan cepat menariknya kembali. "Enggak. Kasihan drivernya."
"Aku bayar dua kali lipat. Kamu ikut aku."
Cya menggeleng. "Aku mau naik ojek online aja. Kakak langsung ke kantor, nanti ada kerjaan."
Rajendra memijat pelipisnya, menahan kesal.
Semakin Cya menjauh... semakin ia merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia miliki.
"Kamu lebih penting daripada kerjaan aku," ucapnya serius.
Namun saat itu juga, motor ojek online yang dipesan Cya sudah tiba.
Rajendra melangkah maju. "Pak, pergi sa—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Cya sudah naik ke motor tersebut. "Jalan, Pak!" perintah Cya cepat.
Motor itu pun melaju.
Rajendra terdiam sesaat.
Namun hanya sesaat.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyalakan motornya dan mengikuti dari belakang.
Sepanjang perjalanan, matanya tak lepas dari sosok Cya di depan sana.
Seolah takut...Kalau ia lengah sedikit saja—Cya benar-benar akan pergi. Dan kali ini... tidak akan kembali.
***
Bu Riska dan Pak Sammy sedang bersantai di tepi kolam renang. Suasana rumah terasa tenang, hanya terdengar suara gemericik air.
Tiba-tiba—Ting tong... Suara bel rumah memecah keheningan.
Pak Sammy menoleh. "Ma, kayaknya ada tamu."
Bu Riska menghela napas pelan, lalu bangkit dari duduknya. "Tunggu sebentar, aku lihat dulu."
Langkahnya terdengar mantap saat berjalan menuju pintu depan. Namun entah kenapa, ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyelinap di hatinya.
Begitu tangannya memutar gagang pintu dan pintu terbuka—Bu Riska membeku. Matanya melebar. Napasnya tertahan.
Seorang wanita berdiri di sana dengan anggun. Penampilannya rapi, wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam dan penuh wibawa.
"I-ibu Kiran...?"
serena sahabat nya aja ga peduli sm cya jngn d jadikan shabat klonkyk gitu jempaskan saja seperti bella