NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tertinggal dan Penyamaran yang Runtuh

​Pagi di SMA Garuda dimulai dengan sandiwara yang sempurna. Arkananta Dewa berdiri di depan gerbang dengan wajah yang lebih dingin dari es kutub, sementara Ziva Clarissa berjalan melewati gerbang dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat malas dan penuh pemberontakan.

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa jam sebelumnya, di meja makan Apartemen 402, Arkan sempat menyelipkan selembar roti gandum ke dalam tas Ziva karena tahu gadis itu sering melewatkan sarapan.

​"Clarissa, catat poin pelanggaran Ziva. Dia tidak memakai atribut dasi dengan benar," suara Arkan menggelegar di antara kerumunan siswa yang masuk.

​Clarissa, yang berdiri di samping Arkan dengan buku catatan kecilnya, tersenyum puas.

"Siap, Arkan. Sudah masuk daftar hitam."

​Ziva hanya mendengus, memutar bola matanya, dan melengos pergi menuju kelas. Akting mereka begitu meyakinkan hingga Sisil pun tertipu. Namun, di balik senyum kemenangannya, Clarissa menyimpan rencana yang jauh lebih gelap. Begitu bel masuk berbunyi, Clarissa tidak menuju kelasnya. Ia bersembunyi di balik pilar aula, mengeluarkan ponselnya, dan menekan sebuah nomor.

​"Sekarang.

Mereka sudah di sekolah. Pastikan kamu masuk lewat pintu darurat atau balkon. Foto semua dokumen yang ada nama mereka berdua," bisik Clarissa dengan nada tajam.

​Penyusup di Wilayah Privasi

​Di Apartemen 402, kesunyian yang biasanya damai terusik. Seorang pria bertopi hitam dengan masker penutup wajah berhasil meretas kunci digital pintu belakang melalui akses teknisi yang telah disuap oleh orang tua Clarissa. Dengan langkah ringan dan tanpa suara, ia masuk ke dalam ruang tamu yang rapi.

​Penyusup itu mulai menggeledah. Ia melewati rak buku Arkan, memeriksa laci meja makan, hingga akhirnya masuk ke kamar utama. Di sana, ia menemukan sesuatu yang menarik: sebuah bingkai foto kecil yang diletakkan tersembunyi di dalam laci nakas. Foto pernikahan siri mereka yang sederhana. Klik. Kamera ponsel sang penyusup menangkap gambar itu dengan jelas.

​Lalu, ia bergerak ke arah dapur. Ia melihat dua buah sikat gigi dalam satu gelas, dua buah handuk yang tergantung bersisian di kamar mandi, dan sebuah kalender di pintu kulkas yang dilingkari tanggal merah dengan tulisan: "First Month Anniversary - Dinner at Home".

Semua bukti itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan reputasi sang Ketua OSIS dan mengeluarkan Ziva dari sekolah selamanya.

​Namun, saat sang penyusup hendak keluar melalui pintu depan, ia mendengar suara langkah kaki dari lorong apartemen. Suara kunci digital yang ditekan. Pip-pip-pip-bip.

​Penyusup itu panik. Ia segera bersembunyi di balik gorden balkon yang lebar.

​Pintu terbuka. Bukan Arkan, bukan pula Ziva. Ternyata itu adalah petugas kebersihan rutin yang memang dijadwalkan oleh manajemen apartemen setiap hari Selasa siang. Petugas itu masuk, menyalakan penyedot debu, dan mulai bekerja. Sang penyusup melihat celah saat petugas itu berada di dapur. Ia menyelinap keluar lewat balkon, melompat ke tangga darurat, dan menghilang di kegelapan koridor.

​Getaran Firasat di Sekolah

​Di kantin sekolah, Ziva sedang duduk bersama Sisil. Namun, perasaannya tidak tenang. Dadanya terasa sesak, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengintai rumahnya. Ia berkali-kali memeriksa ponselnya, berharap ada pesan dari Arkan, meski ia tahu mereka tidak boleh saling berkirim pesan di jam sekolah.

​"Ziv, lo kenapa sih? Gelisah banget kayak orang nahan pipis," tegur Sisil sambil menyuap baksonya.

​"Nggak tahu, Sil. Perasaan gue nggak enak banget. Gue pengen pulang," gumam Ziva.

​Tiba-tiba, Revan datang dan duduk di hadapan mereka tanpa diundang. Wajahnya tampak tegang. Ia melirik Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Ziv, hati-hati," bisik Revan.

​"Maksud lo apa, Kak?" tanya Ziva ketus.

​"Clarissa nggak cuma main di sekolah. Gue denger dia nyewa orang buat nyari bukti fisik tentang tempat tinggal lo. Kalau gue jadi lo, gue bakal pastiin tempat tinggal lo aman sekarang juga," ucap Revan serius sebelum bangkit dan pergi begitu saja.

​Ziva membeku. Ia langsung berdiri, mengabaikan teriakan Sisil, dan berlari menuju ruang OSIS. Ia tidak peduli lagi dengan sandiwara "musuh". Ia harus memberitahu Arkan.

​Konfrontasi di Ruang OSIS

​Ziva mendobrak pintu ruang OSIS. Di dalam hanya ada Arkan yang sedang memeriksa berkas sendirian. Arkan terkejut melihat Ziva yang napasnya tersenggal dan wajahnya pucat pasi.

​"Ziva? Apa yang kamu lakukan? Kalau ada yang lihat—"

​"Arkan, apartemen kita!" potong Ziva cepat. "Revan bilang Clarissa nyewa orang buat masuk ke sana. Gue punya firasat buruk."

​Wajah Arkan seketika berubah. Ia langsung mengambil kunci mobilnya. "Kita pulang sekarang."

​"Tapi sekolah belum selesai, Ar! Kalau kita keluar bareng, makin ketahuan!"

​"Persetan dengan sekolah, Ziva! Keamananmu dan rahasia kita lebih penting!" Arkan menarik tangan Ziva, keluar melalui pintu belakang ruang OSIS yang terhubung langsung dengan area parkir guru.

​Sesampainya di Apartemen 402, mereka menemukan pintu depan terkunci rapat seperti biasa. Namun, begitu masuk, Arkan yang sangat teliti menyadari ada yang berbeda. Letak bingkai foto di dalam lacinya sedikit bergeser. Ada bekas debu yang terusik di meja kerja.

​"Seseorang baru saja di sini," desis Arkan.

​Ziva terduduk di sofa, tangannya gemetar. "Artinya... Clarissa udah punya buktinya? Kita tamat, Ar. Foto nikah kita... semua barang-barang kita..."

​Arkan memeriksa CCTV mandiri yang ia pasang secara tersembunyi di sudut langit-langit ruang tamu—sebuah kamera kecil yang bahkan Ziva tidak tahu keberadaannya. Ia membuka rekaman di tabletnya. Di sana terlihat jelas sosok pria bermasker yang memotret segala sudut ruangan mereka.

​"Dia belum menyebarkannya," ujar Arkan dengan nada dingin yang mematikan.

"Dia pasti menunggu momen yang paling tepat untuk menghancurkan kita di depan semua orang."

​Ziva menatap Arkan. "Kapan?"

​"Besok. Acara pelantikan pengurus OSIS baru dan pengumuman beasiswa di aula besar. Itu adalah panggung paling besar di sekolah ini."

​Arkan mematikan tabletnya, lalu berbalik menatap Ziva. Ia melihat ketakutan yang luar biasa di mata istrinya. Tanpa ragu, Arkan melangkah mendekat dan merengkuh Ziva dalam pelukan yang sangat erat. Kali ini bukan sekadar pelukan penguat, tapi pelukan pelindung.

​"Dengar, Ziva. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya. Jika dia ingin main kotor, aku akan tunjukkan bagaimana cara penguasa aturan bermain," bisik Arkan di telinga Ziva. "Papa sudah berjanji membantu kita, dan aku sendiri punya kartu as yang akan membuat Clarissa menyesal pernah menyentuh pintu rumah ini."

​Malam itu, mereka tidak tidur di kamar yang terpisah. Ziva terlalu takut untuk sendirian, dan Arkan terlalu waspada untuk membiarkan Ziva jauh dari jangkauannya. Mereka duduk di sofa bersama, menyusun strategi serangan balik. Untuk pertama kalinya, bukan sekolah yang mengatur mereka, tapi mereka yang akan mengatur akhir dari drama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!