Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Yang Tidak Akan Dilupakan
Mobil berhenti di depan garasi rumah yang sunyi. Benar kata Liam, suasana malam memang jauh lebih sunyi sekaligus berbahaya, namun di dalam rumah besar itu, kesunyiannya terasa berbeda.
Jino dan Marco masih berada di pelabuhan, memastikan setiap peti kemas masuk ke dalam truk pengangkut sebelum fajar menyingsing.
Saat pintu depan tertutup, Liam tidak langsung pergi ke atas. Ia melepaskan kemeja hitamnya yang kini hanya menyisakan kaos dalam tanpa lengan, menunjukkan otot lengannya yang tegang setelah seharian penuh tekanan.
Cassie baru saja hendak beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum ketika Liam memanggil namanya dengan suara yang tidak lagi memerintah.
"Cassie, jangan ke kamarmu dulu," ucap Liam pelan.
"Temani aku."
Cassie berhenti dan berbalik. Ia melihat Liam duduk di sofa ruang tengah yang luas, kepalanya menyandar ke belakang dengan mata terpejam.
"Kau butuh sesuatu? Kopi? Atau... minuman?"
"Aku hanya butuh kau di sini," sahut Liam. Ia membuka matanya dan menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Cassie mendekat dan duduk dengan jarak yang cukup sopan, namun Liam justru mengikis jarak itu. Ia menatap Cassie dengan intensitas yang berbeda dari biasanya.
"Dengar," Liam memulai, suaranya rendah dan serak. "Aku tahu apa yang kau pikirkan setelah kita bertemu Amanda kemarin. Aku tahu kau merasa seperti pelarian."
Cassie menunduk, memainkan jemarinya.
"Aku hanya mencoba realistis, Liam. Kalian terlihat begitu sempurna bersama."
"Itu dulu, Cassie. Masa lalu memang terlihat sempurna karena kita hanya mengingat bagian yang kita inginkan,"
Liam meraih tangan Cassie, menggenggamnya dengan erat seolah takut gadis itu akan menghilang ke tempat asalnya besok pagi.
"Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri dan padamu bahwa bab itu sudah benar-benar selesai. Aku tidak memintamu menemaniku sebagai penggantinya. Aku memintamu karena kau adalah Cassie. Gadis menyebalkan yang berani memukul lenganku dan mengacaukan dapurku."
Wajah Cassie memanas. Ia bisa merasakan kejujuran dalam nada bicara Liam. Pria ini sedang menanggalkan topeng "bos besar"-nya dan menunjukkan sisi rapuhnya yang paling dalam.
"Lalu... apa yang harus aku lakukan?" bisik Cassie.
Liam tersenyum tipis, kali ini senyumnya sampai ke mata. Ia memajukan wajahnya, hingga dahi mereka bersentuhan. Napas hangat Liam terasa di kulit wajah Cassie.
"Jangan pergi dulu. Setidaknya untuk malam ini, jadilah alasan kenapa aku tidak lagi memikirkan masa lalu itu," gumam Liam.
Tangannya berpindah ke tengkuk Cassie, menariknya pelan untuk memperpendek jarak yang tersisa. Di tengah kesunyian rumah itu, tanpa gangguan dari Jino yang jahil atau Marco yang kaku, Liam akhirnya membuktikan ucapannya di bioskop tempo hari.
Ciuman itu tidak ragu-ragu, tidak ada teknik yang salah seperti di film. Itu adalah ciuman yang penuh dengan pengakuan. Bahwa bagi Liam, Cassie bukan lagi sekadar pelarian, melainkan kenyataan baru yang ingin ia genggam sekuat tenaga.
***
Suasana di sofa ruang tengah itu semakin memanas, hanya menyisakan deru napas yang saling bersahutan.
Kaos Liam sudah tergeletak entah di mana, memperlihatkan tubuh atletisnya yang penuh dengan bekas luka perjuangan masa lalu.
Cassie pun berada dalam kondisi yang tidak jauh berbeda, blusnya sudah berantakan, kancing-kancing atasnya terbuka, mengekspos kulitnya yang halus di bawah temaram lampu ruangan.
Liam mencium leher Cassie dengan dalam, sementara tangannya mulai menjelajah lebih jauh. Namun, tepat saat jemari Liam menyentuh area yang paling sensitif milik Cassie, gerakan pria itu mendadak terhenti.
Liam menarik wajahnya sedikit, menatap mata Cassie yang tampak sayu dan berkaca-kaca. Ada keraguan yang tiba-tiba muncul di wajah keras pria itu.
"Cassie..." suara Liam berat dan serak. "Katakan padaku... apa ini yang pertama bagimu?"
Cassie tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajah karena malu sekaligus tegang. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Liam.
Liam menghela napas panjang, mencoba mengendalikan gairahnya yang sudah berada di puncak. Ia mengusap pipi Cassie dengan lembut.
"Aku tidak ingin menyakitimu. Kalau kau belum siap... kalau kau merasa ini terlalu cepat, aku bisa berhenti sekarang juga. Aku tidak akan memaksamu."
Cassie menatap mata Liam, mencari kesungguhan di sana. Alih-alih menjauh, Cassie justru menarik kerah leher Liam, membawanya kembali mendekat. "Jangan berhenti," bisik Cassie hampir tak terdengar.
Baru saja Liam hendak membalas bisikan itu dengan ciuman yang lebih dalam, terdengar suara gaduh dari pintu depan.
"LIAM! KAU TIDAK AKAN PERCAYA! PETUGAS BRENGSEK ITU MASIH SAJA REWEL SOAL—"
BRAK!
Pintu terbuka sangat lebar.
Jino melangkah masuk dengan gaya hebohnya yang biasa, namun kalimatnya terputus di udara. Matanya membulat sempurna, mulutnya menganga lebar menatap pemandangan di sofa.
Di belakangnya, Marco muncul dengan wajah lelah yang seketika berubah menjadi kaku saat melihat Liam yang setengah telanjang sedang menindih Cassie yang bajunya sudah tidak keruan.
Hening. Sunyi yang sangat mematikan.
"Oh... sial," gumam Jino, suaranya naik dua oktav.
"Aku... aku tidak melihat apa-apa. Sumpah. Mataku tiba-tiba katarak."
Marco, yang selalu menjadi orang paling rasional, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan ekspresi datar namun telinga yang sedikit memerah, ia langsung memutar badannya 180 derajat.
Marco berjalan kembali keluar rumah dengan langkah cepat, merogoh saku untuk mengambil korek api, dan menyalakan rokok di teras seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Liam memejamkan mata rapat-rapat, merutuki nasibnya yang selalu diganggu oleh kedua sahabatnya di waktu yang salah.
Ia segera menyambar kaosnya dan menutupi tubuh Cassie dengan bantal sofa.
"JINO! KELUAR!" teriak Liam dengan suara menggelegar yang sanggup meruntuhkan plafon rumah.
"Iya! Iya! Keluar! Aku akan di luar bersama Marco sampai besok pagi! Lanjutkan saja! Jangan pedulikan kami!" seru Jino sambil menutup pintu dengan kecepatan cahaya, meski sempat-sempatnya dia terkekeh jail sebelum pintu benar-benar tertutup.
Cassie menyembunyikan wajahnya di dada Liam, merasa sangat malu sampai rasanya ingin menghilang dari muka bumi.
Sementara Liam hanya bisa menghela napas panjang sambil memeluk Cassie erat, menyadari bahwa momen intim mereka baru saja dihancurkan secara spektakuler oleh sahabatnya yang tidak tahu waktu.
***
Di dalam kamarnya, Cassie berguling-guling di atas kasur dengan bantal yang membungkam wajahnya. Ia menendang-nendang udara, mencoba melepaskan rasa malu yang seolah membakar seluruh tubuhnya.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" gerutunya tertahan di balik bantal.
Wajahnya masih terasa panas jika mengingat kejadian tadi. Bayangan tangan Liam, tatapan pria itu, dan yang paling parah—suaranya sendiri yang meminta Liam untuk melanjutkan.
"Ke mana perginya harga dirimu, Cassie?" ia memarahi bayangannya sendiri di cermin meja rias.
"Bisa-bisanya kau sesantai itu di depan pria yang baru saja membuatmu menangis tadi pagi! Dan sekarang... Jino melihat semuanya! Marco juga!"
Cassie menarik selimut hingga menutupi kepalanya, meringkuk seperti bola. Ia membayangkan bagaimana wajah Jino besok pagi, pasti pria itu akan memasang seringai menyebalkan dan melontarkan lelucon cabul sepanjang sarapan.
Dan Marco? Pria itu pasti akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi justru itulah yang membuat Cassie semakin merasa canggung. Ia merasa tidak akan sanggup menatap mata siapa pun besok pagi, terutama Liam.
***
Sementara itu, di kamar utama.
Suara kucuran air shower terdengar memenuhi ruangan yang luas.
Liam berdiri mematung di bawah aliran air hangat yang membasahi bahunya yang tegap. Ia menyandarkan kedua tangannya ke dinding keramik, menundukkan kepala, membiarkan air mengalir melewati wajahnya.
Ia mencoba menenangkan denyut nadanya yang masih belum stabil. Gairah yang tadi memuncak kini perlahan mendingin, berganti dengan rasa frustrasi yang campur aduk.
"Jino brengsek," umpatnya pelan di sela deru air.
Liam mematikan shower, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang beruap. Ada sesuatu yang berbeda di matanya malam ini.
Pengakuan Cassie bahwa itu adalah "yang pertama" baginya, benar-benar mengubah cara Liam memandang gadis itu.
Ia menyadari bahwa Cassie bukan sekadar hiburan atau teman bicara untuk melupakan Amanda. Gadis itu memberikan kepercayaan yang begitu besar padanya.
Liam mengenakan handuknya dan berjalan menuju balkon kamar, menatap gelapnya malam.
Ia melihat Marco masih duduk di bangku taman di bawah sana, asap rokoknya membumbung tinggi ke udara.
Liam tahu, besok pagi dia harus menghadapi kedua sahabatnya itu, tapi yang lebih penting, dia harus memastikan Cassie tidak merasa menyesal atas apa yang hampir terjadi malam ini.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭