NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gang sempit

Hari itu hari Minggu, dan Su Weimin dengan semangat membangunkan adiknya.

"Jinyu! Jinyu! Bangun! Kita pergi ke pasar!" teriaknya sambil melompat-lompat di depan pintu kamar.

Jinyu membuka mata dengan malas. "Pasar?"

"Iya! Ibu kasih uang jajan! Aku mau beli tanghulu! Kamu mau ikut, kan?"

Jinyu menghela napas. Bocah 10 tahun ini tak pernah bisa diam. Tapi daripada bosan di rumah, mungkin jalan-jalan ke pasar tidak buruk.

Ia bangkit, mengambil baju merah terang kesukaannya, warna yang langsung menarik perhatian, persis seperti yang ia suka. Dia suka merah darah bukan merah muda. Di dunia akhir zaman, ia selalu mengenakan warna gelap, tapi merah? Merah adalah warna keberanian, warna darah, warna kehidupan. Ia menyukainya.

Rambut cokelatnya yang sebahu dibiarkan tergerai. Ibu Liu pernah bilang ingin mengepangnya, tapi rambut Jinyu terlalu halus dan licin, kepangan selalu lepas. Jadi untuk sekarang, dibiarkan saja.

"Jinyu, cepat!" Weimin sudah berlari-lari kecil di halaman.

Jinyu keluar, dan Weimin bersiul. "Wah, merah sekali! Kamu seperti lampion berjalan!"

Jinyu hanya memutar mata. "Ayo."

Pasar tradisional di kota kecil itu ramai meski pagi. Deretan kios kayu berjejer di sepanjang jalan, menjual berbagai kebutuhan: sayuran segar, daging, kain, perabotan dapur, dan yang paling menarik perhatian Weimin—jajanan.

"Lihat, Jinyu! Lihat itu Tanghulu!" Weimin menunjuk pada pedagang yang menusukkan tusukan bambu berisi buah haw yang dilapisi gula kristal merah mengkilap.

Jinyu memandang sebentar. Manisan buah. Di ruang dimensinya, ia punya ribuan jenis buah dari berbagai dunia, tapi yang ini berbeda terlihat sederhana, rakyat jelata, tapi punya pesona sendiri.

"Kita beli nanti," katanya. "Lihat dulu yang lain."

Mereka berjalan menyusuri pasar. Weimin tak henti berceloteh tentang ini dan itu. Jinyu mengikuti di belakangnya, matanya mengamati sekeliling kebiasaan lama sebagai penguasa yang harus selalu waspada.

Di kios kain, seorang ibu menawar harga dengan lincah. Di kios daging, tukang daging memotong babi dengan pisau besar. Di sudut, seorang kakek menjajaki kertas-kertas merah untuk hiasan.

"Mau beli itu?" tanya Weimin melihat Jinyu menatap kertas merah.

"Tidak. Hanya melihat."

Mereka lalu mampir ke kios jajanan. Weimin membeli dua tusuk tanghulu, satu untuknya, satu untuk Jinyu. Lalu ia membeli mantou isi kacang merah yang hangat, dan beberapa kue beras bungkus daun pisang.

"Sini Jinyu, bawa ini." Weimin menyerahkan sebagian bawaannya pada Jinyu.

Jinyu menerima dengan satu tangan, sambil sesekali menggigit tanghulu-nya.  Terlalu manis, tapi tidak buruk juga, pikirnya.

Saat mereka berjalan menyusuri gang kecil yang menghubungkan pasar dengan jalan utama, tiba-tiba...

"Hei, berhenti!"

Lima pria muncul dari balik sudut gang. Pakaian mereka kumal, wajah mereka penuh niat buruk. Yang paling depan, seorang pria gendut dengan kumis tipis, menyeringai memperlihatkan gigi kuning.

"Anak-anak orang kaya, ya?" cekikiknya. "Beli jajanan banyak, pasti bawa uang banyak."

Su Weimin langsung memasang badan di depan Jinyu. "K-kalian mau apa? Aku teriak, lho!"

"Teriak? Ha! Di gang begini, mana ada yang denger?" Pria di belakangnya tertawa.

Mata mereka beralih ke Jinyu. Gadis kecil berbaju merah dengan rambut cokelat terurai, kulit putih, dan mata keemasan yang langka.

"Wah... yang ini cantik juga," gumam pria kumis. Matanya menjijikkan, bergerak naik turun di tubuh Jinyu dengan tatapan penuh nafsu. "Mana rambutnya aneh, warnanya unik. Mungkin campuran... atau anak bangsa asing?"

Yang lain ikut menatap Jinyu dengan cara yang sama. Salah satu dari mereka, pria kurus dengan mata belekan, menjilat bibir. "Heh, bocah kayak gini jarang lho. Mungkin bisa dijual ke tempat hiburan, hargana mahal."

"Atau kita nikmati dulu, baru jual?" yang lain terkekeh jorok.

Pria kumis itu melangkah maju, meraih dagu Jinyu dengan tangan kotornya. "Kecil-kecil, matanya tajam. Suka lihat pria dewasa, Nak? Mau ikut kami? Kami kasih kamu permen."

Jinyu diam saja. Wajahnya datar, tak menunjukkan ketakutan. Di belakangnya, Weimin gemetar tapi berusaha tegar.

"Jangan sentuh adikku!" Su Weimin mendorong tangan pria itu.

Pria kumis tersentak, lalu marah. "Heh, bocah lancang!" Ia menampar Weimin hingga terjatuh. Jajanan berceceran di tanah.

Su Weimin meringis kesakitan. "Jinyu... lari..."

Tapi Jinyu tak bergerak. Ia hanya menatap Weimin, lalu menatap kelima pria itu. Matanya yang keemasan tiba-tiba berubah dingin sangat dingin.

"Kakak," katanya pelan. "Tunggu di sini sebentar. Aku mau... ke belakang."

Weimin mengerjapkan mata bingung. "Apa? Jinyu, ini bahaya!"

"Sebentar saja. Janji." Jinyu tersenyum tipis pada kakaknya, lalu menatap para pria itu. "Kalian mau uangku, 'kan? Ikut aku ke gang belakang. Di sana aku sembunyikan uangnya."

Pria kumis tertawa. "Ha! Anak kecil berani! Iya, ayo. Kalau kamu bohong, kamu tahu akibatnya." Ia mengelus-elus dagu Jinyu lagi.

Jinyu membiarkannya. Dalam hati, ia sudah menghitung: Lima orang. Satu gendut lamban, dua kurus bertenaga sedang, dua biasa saja. Target: 30 detik.

Gang di belakang lebih sempit, buntu, dan tidak terlihat dari jalan utama. Tembok bata merah di kedua sisi, tanah becek oleh salju cair. Begitu mereka masuk, Jinyu berhenti dan berbalik.

Para pria itu mengelilinginya, masih dengan senyum jorok.

"Nah, mana uangnya, Cantik?" Pria kumis mendekat.

Jinyu tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak cocok untuk anak 4 tahun.

"Uang?" Suaranya lembut, tapi dingin. "Kalian pikir aku akan kasih uang pada sampah seperti kalian?"

Pria kumis terkejut. "Apa?"

"Dan kalian berniat melakukan hal keji padaku, anak kecil?" Jinyu menatap mereka satu per satu. "Kalian tahu, apa yang terjadi pada orang yang berani menatapku seperti tadi?"

"Kau—"

Brak!

Tinju mungil Jinyu menghantam ulu hati pria kumis dengan kecepatan luar biasa. Pria itu terhuyung, jatuh berlutut, mulutnya menganga tak percaya. Sebelum yang lain bereaksi, Jinyu sudah bergerak.

Bayangan merah melesat di antara mereka. Tendangan ke perut, pukulan ke leher, sentakan ke sendi. Tubuh kecilnya melompat, berputar, menghajar dengan presisi mematikan.

Dalam 20 detik, tiga pria sudah tergeletak tak sadar. Dua sisanya—pria kurus dan satu lagi—mundur ketakutan.

"Monster!, dia monster!"

Mereka mencoba lari, tapi Jinyu sudah lebih dulu di depan mereka. Dengan satu hentakan kaki ke dinding, ia melayang, kedua kakinya menendang kepala mereka bersamaan.

Buk! Buk!

Dua tubuh roboh.

Jinyu mendarat dengan ringan, membersihkan debu di baju merahnya. Ia menatap lima tubuh yang tergeletak dengan tatapan jijik.

"Manusia sampah," gumamnya.

Jinyu menghela napas. Tubuh kecil ini memang lemah dibanding kekuatan aslinya, tapi cukup untuk menghajar lima preman tak terlatih. Kini ia harus memikirkan cara menyingkirkan mereka.

Dari balik bayangan, Yoyo muncul.

Shshsss~ "Jinyu, mau kubantu?"

"Tentu. Bawa mereka ke kantor polisi. Jangan sampai ada yang lihat."

Shshsss~ "Mereka berat, tapi bisa kubawa bertahap. Sembunyikan dulu di dimensi?"

"Bisa."

Jinyu membuka pintu dimensi. Satu per satu, Yoyo menyeret tubuh-tubuh itu masuk ke dalam. Lalu dengan kekuatan ular itu, ia membawa mereka keluar dari gang dan bergerak cepat di bayang-bayang menuju kantor polisi.

Jinyu menunggu beberapa menit. Lalu Yoyo kembali.

Shshsss~ "Sudah. Aku ikat mereka pakai tali di depan kantor polisi. Terus, aku tulis surat pakai kertas dan taruh di dahi yang gendut."

Jinyu tersenyum. "Bagus. Isinya?"

Shshsss~ " 'Mereka penjahat, pemerkosa, pencari buronan. Terima kasih sudah menangkap. - Warga Peduli'."

"Kau bisa nulis?"

Shshsss~ "Aku kan ular mutasi, Jinyu. Bisa baca tulis beberapa bahasa."

Jinyu tertawa kecil. "Wow, aku baru tau. Kau kan tidak punya tangan, tapi baiklah, ayo kembali."

Di gang tadi, Weimin masih duduk di tanah, memeluk lutut, wajah pucat. Ia tak berani bergerak. Jinyu muncul dari balik sudut, masih dengan baju merahnya yang bersih, tanpa setitik noda.

"Kakak ketiga" panggilnya.

Weimin menoleh, langsung memeluknya erat. "Adik perempuan! Kamu di mana aja?! Aku takut! Orang-orang jahat itu—"

"Mereka pergi," potong Jinyu tenang. "Mungkin lihat polisi lewat."

Weimin melepas pelukannya, menatap adiknya dengan bingung. "Kamu baik-baik aja? Mereka nggak apa-apain kamu?"

Jinyu menggeleng. "Aku baik. Lihat, jajanan kita berceceran."

Weimin menatap tanah, lalu menghela napas. "Iya... sayang, ya. Tapi yang penting kamu selamat."

Ia lalu memegang pipi Jinyu. "Muka kamu dingin. Tadi sempat mules? Kok pergi lama banget?"

Jinyu tersenyum tipis. "Iya, perut agak sakit. Mungkin salah makan."

Weimin menghela napas lega. "Syukurlah. Ayo pulang. Ibu pasti khawatir kalau kita kelamaan."

Mereka berjalan keluar gang, tangan Weimin menggenggam tangan Jinyu erat. Jinyu membiarkannya.

"Adik perempuan," kata Weimin tiba-tiba. "Aku takut banget tadi. Mereka lihat kamu kayak... kayak mau... aku takut mereka jahat."

"Tapi mereka sudah pergi."

"Iya... untung." Weimin menatapnya. "Kamu berani banget, ya. Nggak nangis."

Jinyu hanya diam. Dalam hati, ia berpikir, Kau tidak tahu, Kakak. Mereka yang harusnya nangis.

Sesampainya di rumah, Ibu Liu menyambut dengan wajah cemas. "Kok lama sekali? Aku mau cari kalian!"

Weimin langsung bercerita, tentu tanpa detail mengerikan. Ia hanya bilang mereka diikuti orang jahat tapi berhasil kabur. Ibu Liu langsung memeriksa mereka berdua, memastikan tidak ada luka.

"Kamu kenapa, Jinyu? Kok diem aja?" tanya Ibu Liu.

Jinyu menggeleng. "Aku baik, Bu. Hanya... sedikit lelah."

Ibu Liu mengelus rambutnya. "Ibu masak bakmi buat kalian. Makan, lalu istirahat."

Jinyu mengangguk. Saat Ibu Liu ke dapur, ia duduk di kursi, menatap ke luar jendela. Dari sini, ia bisa melihat langit sore mulai jingga.

Weimin duduk di sampingnya. "Adik perempuan."

"Hm?"

"Makasih, ya. Udah... tenang banget tadi. Aku jadi berani lihat kamu tenang."

Jinyu menoleh, menatap kakaknya yang polos. "Sama-sama."

Weimin tersenyum lebar. "Besok kita beli jajanan lagi, ya! Tapi jangan ke gang itu lagi."

Jinyu tersenyum kecil. "Iya."

Di kantor polisi, suasana berbeda. Seorang polisi yang bertugas jaga malam menemukan lima pria terikat di depan pintu. Tubuh mereka babak belur, tak sadarkan diri.

"Komandan! Cepat lihat!" teriaknya.

Komandan polisi, seorang pria paruh baya tegap, keluar dan memeriksa. Ia mengambil kertas yang menempel di dahi salah satu pria.

"Mereka penjahat, pemerkosa, pencari buronan. Terima kasih sudah menangkap. - Warga Peduli."

Tulisan itu tegas, rapi, dan kuat seperti tulisan seorang tentara atau petugas militer. Komandan mengernyit.

"Periksa identitas mereka," perintahnya.

Setelah diperiksa, terungkaplah bahwa kelima pria ini adalah kriminal buronan yang dicari selama berbulan-bulan. Mereka terlibat dalam kasus pemerkosaan, perampokan, dan penculikan anak-anak.

Komandan tertegun. "Siapa yang menangkap mereka?"

Polisi lain menggeleng. "Tidak ada saksi. Mereka tergeletak begitu saja."

"Orang ini," komandan menatap kertas itu, "dia tahu persis siapa mereka. Dan dia memilih tetap anonim. Orang baik yang rendah hati."

Ia memerintahkan bawahannya untuk menyimpan kertas itu sebagai bukti, dan menyebarkan kabar bahwa kelima buronan telah tertangkap. Tapi identitas pahlawan misterius itu tetap rahasia.

"Suatu hari," gumam komandan, "aku ingin berjabat tangan denganmu, kawan."

Malam harinya, Jinyu berbaring di ranjang. Yoyo melingkar di perutnya.

Shshsss~ "Kau dengar, Jinyu? Polisi mau berjabat tangan denganmu."

"Bukan denganku. Dengan 'warga peduli'."

Shshsss~ "Tapi 'warga peduli' itu kau."

Jinyu tersenyum tipis. "Besok kakak ketiga pasti mengajak beli jajanan lagi. Aku harus siap-siap."

Shshsss~ "Kau suka jadi adik perempuan yang baik dan manis, ya?"

Jinyu memutar mata. "Diam, kau ular perak."

Tapi sudut bibirnya terangkat. Mungkin, pikirnya, menjadi adik perempuan yang manis yang baik tidak terlalu buruk juga.

Besoknya, benar saja. Weimin sudah berdiri di depan pintu kamarnya sejak pagi.

Su Weimin? Bocah 10 tahun itu sudah lama melupakan kejadian di gang. Ingatan anak kecil memang pendek, pikir Jinyu. Seminggu setelahnya, Weimin sudah kembali ceria, mengajaknya main ke sawah, memancing, dan tentu saja beli jajanan di pasar. Tapi kali ini ia selalu memastikan mereka lewat jalan ramai, tidak pernah melewati gang sempit lagi.

"Adik perempuan! Ayo! Janji kita beli jajanan!"

Jinyu menghela napas. Tapi ia bangkit, meraih baju merah kesukaannya, dan tersenyum kecil.

Hidup di masa lalu, ternyata tidak seburuk itu.

Terutama kalau ada kakak yang selalu mengajak jalan-jalan.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!