Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05- MCI 05
Kamila terlihat enggan, bukan hanya enggan. Tapi wanita paruh baya itu juga sangat tidak rela. Dia begitu tidak rela, harus minta maaf pada Diandra. Wanita yang bahkan keluarganya sudah berhasil dia hancurkan, dan mendapatkan segalanya dari keluarganya itu.
Namun, karena saat ini adalah momen yang sangat penting bagi putri kandungnya. Maka Kamila pun harus menahan emosinya.
'Awas saja Diandra, aku akan buat perhitungan denganmu setelah ini!' batin Kamila yang memang sangat licik.
"Cepat Kamila! apa kamu mau tunggu keluarga Mahendra masuk dan melihat semua ini?" desak Romi yang sudah sangat khawatir.
Masalahnya butuh berapa waktu sih, dari parkiran menuju ke pintu utama. Jika mereka semua menunggu untuk hal seperti ini, ini sungguh akan mencoreng pertemuan keluarga pertama mereka.
Dengan mendengus kesal, Kamila akhirnya meminta maaf pada Diandra.
"Maaf"
Diandra bisa saja pura-pura tidak mendengar, untuk membuat Kamila bicara penuh keras. Tapi, sejauh dia mengenal ayahnya. Justru ayahnya akan marah padanya kalau dia melakukan itu.
Maka, Diandra pun melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Kamila.
Setelah itu arah pandangan Romi juga tertuju pagi pada Diandra.
"Pakaian macam apa ini?" tanya Romi dengan tidak senang.
"Ayah hanya kirim 50 juta, merek seperti ini yang harganya 50 juta juga hanya tersisa satu ini!" jawab Diandra santai.
Kamila dan Genelia yang mendengar itu, langsung menolehkan tatapan protes mereka pada Romi.
"Ayah, kenapa ayah memberikan banyak sekali uang untuk pakaiannya, gaunku ini saja cuma 3 juta, ayah!" protes Genelia.
"Wah, benarkah! murahan sekali!" celetuk Diandra.
"Kamu..."
"Tuan, nyonya... silahkan!"
Genelia baru saja mau protes lagi. Tapi Romi segera melotot ke anaknya itu karena pelayan sudah meminta keluarga Mahendra untuk masuk ke dalam rumah.
"Selamat malam!" sapa seorang wanita yang begitu cantik. Usianya memang tidak muda, tapi sepertinya juga tidak setua Kamila.
Diandra yang memang tidak harus berada di depan, sedikit mundur ke belakang Romi.
Di belakangnya seorang wanita dengan rambut yang sudah berwarna putih juga tersenyum. Balutan pakaian mahal dengan nuansa tradisional membuatnya terlihat elegan.
Diandra sesekali melirik, bagaimana tingkah Kamila dan Genelia yang tampak terpampang nyata sedang cari muka. Mereka menyambut dan mengulurkan tangan dengan senyum yang terus terang saja membuat Diandra muak.
"Selamat malam, nak Dave. Selamat datang!"
Nama calon suami Genelia disebut, merasa sedikit penasaran. Diandra pun menoleh ke arah pria itu.
Deg
Seorang pria tampak, bertujuh tinggi dan tegap. Di hampiri oleh Romi dengan tangan terulur untuk menjabat tangan pria itu. Dan wajah pria itu, sangat familiar. Sungguh familiar, bukan hanya suaranya, wajahnya, bahkan sentuhannya sangat familiar untuk Diandra.
'Raez' batin Diandra.
"Selamat datang bibi, kak Amalia, kak Dave!"
'Dave, jadi selama ini dia menggunakan nama palsu. Heh, apa yang aku pikirkan? mana mungkin seorang pria yang niatnya memang ingin bermain-main menggunakan nama aslinya' batin Diandra.
Romi yang sudah menyambut semua tamunya, juga Kamila dan Genelia yang melakukan hal yang sama, langsung menoleh ke arah Diandra.
"Diandra!" panggil Romi.
Mendengar nama Diandra, Raez menoleh ke arah pandangan Romi.
Dan Diandra juga sedang menatap Raez seperti pria itu menatapnya.
Perlahan, Diandra melangkah.
"Nyonya Siska, nyonya Amalia, nak Dave. Ini adalah anak sulung mas Romi. Namanya Diandra. Dia... dia baru kembali dari luar negeri. Belum sempat ganti pakaian!" kata Kamila yang juga tidak mau malu, karena tidak menegur cara berpakaian Diandra.
Siska, ibu Dave tampak menghela nafas melihat cara berpakaian Diandra. Ketika Diandra mendekat untuk bersalaman. Siska tampak enggan. Sedangkan Amalia, wanita itu bahkan tertegun, bagaimana bisa seorang wanita berpakaian seperti itu. Dia yang berasal dari keluarga yang sangat menjaga tradisi, bahkan tidak berani menyentuh pakaian seperti itu.
"Diandra, kakak tiri calon menantu anda, nyonya!" kata Diandra.
Raez menghela nafas panjang dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
'Wanita ini?' batinnya.
"Nak, sebaiknya kamu belajar bagaimana cara berpakaian dari Genelia! kenapa harus di umbar begitu, beberapa pria tidak akan menghormatimu!" Siska mencoba menasehati Diandra.
"Terima kasih nyonya, tapi beberapa pria sangat suka aku berpakaian seperti ini!" jawab Diandra yang membuat Siska segera menjauh darinya.
Terlihat jelas, Siska kesal dengan jawaban Diandra.
"Diandra!" tegur Romi.
Diandra segera beralih ke Amalia.
"Selamat malam calon kakak ipar!" sapa Diandra sengaja melirik Raez.
Bahu Raez naik dan turun dengan cepat. Wanita yang sudah dia kenal selama tiga tahun itu memang wanita yang sangat 'blak-blakan'
"Ibuku benar, kamu sebenarnya cantik. Akan lebih baik kalau pakaianmu sedikit pantas"
Diandra hanya tersenyum, sejak tadi Amalia jika tidak ketus padanya. Dari caranya menatap, dan caranya bicara. Jadi, Diandra memutuskan untuk tidak berdebat dengan Amalia dan hanya mengangguk sambil tersenyum.
Diandra kemudian menoleh ke arah Raez. Karena mereka punya kesepakatan terakhir kali, dan pria itu mengatakan agar kalau mereka bertemu, maka mereka harus pura-pura tidak saling kenal. Diandra tidak menyapa Raez. Diandra jutsru kembali menghampiri ayahnya.
"Diandra, dia calon suami adikmu..."
"Adik tiri" celetuk Diandra pelan.
"Kamu..."
Diandra memilih mengacuhkan ayahnya.
"Karena aku baru sampai, aku tidak akan ikut makan malam. Selamat menikmati makan malam kalian!" kata Diandra yang segera berjalan ke arah anak tangga.
Seingatnya kamarnya ada di lantai dua. Tidak tahu kalau kamar itu sudah dialih fungsikan karena memang dia sudah meninggalkan kamar itu selama 7 tahun.
Romi mengeram kesal. Tangannya sebenarnya juga sudah terkepal kuat. Sayangnya dia tidak bisa marah sekarang di depan tamu pentingnya.
"Maafkan Diandra, dia 7 tahun tinggal di luar negeri. Awalnya kami mengirimnya untuk sekolah disana. Tapi ya, namanya anak sudah lepas dari pengawasan orang tua. Kami benar-benar kewalahan!" kata Kamila membela dirinya.
"Bibi, mari..." kata Genelia menggandeng lengan Siska.
Ya, seperti yang sedang dikatakan oleh dia Diandra. Ibu dan anak itu memang suka sekali cari muka, mungkin mereka tidak puas dengan muka mereka yang sekarang.
Sementara Raez yang mengikuti langkah semua orang, melirik sekilas ke arah tangga ke lantai dua, dimana Diandra sedang menuju kamarnya.
"Nak Dave, masakan hari ini adalah masakan Genelia. Semoga nak Dave suka" kata Romi berusaha membanggakan Genelia.
Padahal yang sebenarnya, semua masakan itu masakan pelayan. Genelia hanya di suruh ibunya mengawasi, supaya kalau di tanya calon ibu mertuanya dia bisa menjawab.
"Benarkah? memang calon menantu yang sangat baik!" puji Siska.
Diandra mendengarnya, tapi dia memutuskan untuk tidak memperdulikannya. Ketika dia membuka pintu kamarnya. Diandra terkekeh lirih.
"Brengsekk! mereka menjadikannya gudang!" geram Diandra dengan tangan terkepal.
***
Bersambung...
Tak ada kah yg mendengar kata² Kamila itu..? 🤔
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣