Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25.Pagi yang Gelap
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Matahari pagi sudah bersinar terang, menyelinap masuk melalui celah-celah gorden kamar yang sedikit terbuka. Cahaya keemasan itu menari-nari di lantai kayu, dan suara burung berkicau terdengar riang memecah keheningan pagi, menandakan hari yang cerah dan indah telah tiba bagi dunia luar.
Namun, bagi Aisyah... dunianya masih gelap, mendung, dan penuh awan hitam.
Di dalam kamar yang hangat itu, Aisyah masih terbaring kaku di atas kasur empuknya. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, seolah membatu. Matanya terbuka lebar namun menatap kosong tanpa fokus ke arah langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.
Bantal di samping kepalanya masih terasa lembap dan dingin oleh sisa air mata yang menetes semalaman. Matanya bengkak, merah padam, dan kelopak matanya terasa berat dan perih, bukti nyata bahwa ia menangis terlalu lama dan terlalu keras hingga larut malam.
Semalam... rasanya seperti mimpi buruk yang tak berujung. Isak tangisnya tak henti-henti, dadanya sesak oleh tuduhan dan kemarahan yang ia terima, hingga akhirnya tubuhnya yang lelah dan hatinya yang terluka menyerah. Ia tertidur dalam keadaan bahu masih terguncang isak tangis, membawa kesedihan itu masuk ke dalam alam bawah sadarnya.
Sekarang, jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Biasanya, di jam segini Aisyah sudah mandi, sudah berpakaian rapi, dan bahkan sudah sampai di kampus atau setidaknya sedang di perjalanan. Rutinitasnya selalu teratur dan disiplin. Tapi hari ini... hari ini berbeda sekali.
Aisyah sama sekali tidak punya tenaga, tidak punya semangat, dan tidak punya keinginan untuk bangun dari tempat tidurnya.
"Aisyah izin tidak masuk saja hari ini..." gumamnya pelan di dalam hati, suaranya terdengar lemah dan parau. "Aisyah belum siap ketemu orang. Aisyah belum siap dengar omongan siapa pun, belum siap melihat tatapan orang lain. Biarkan Aisyah sendirian dulu di sini... di tempat yang aman..."
Dengan gerakan malas dan berat, ia menarik selimut tebal hingga menutupi separuh wajahnya, seakan ingin bersembunyi dari kenyataan pahit yang sedang menimpanya, ingin menghilangkan diri dari dunia luar sejenak saja.
Di lantai bawah...
Suasana rumah terasa sepi dan kaku.
Papa Arya sudah bangun sejak azan subuh berkumandang. Ia sudah melaksanakan ibadah, dan kini duduk di ruang tamu dengan wajah yang tampak tenang namun menyimpan kekhawatiran yang dalam. Matanya sesekali melirik ke arah meja makan yang kosong melompong.
Biasanya, di jam segini meja itu sudah penuh dengan sarapan lezat buatan Aisyah, dan suara tawa serta obrolan hangat sudah memenuhi ruangan ini. Tapi hari ini, semuanya sunyi senyap.
Papa Arya juga melihat mobil Aisyah masih terparkir rapi di garasi, menandakan putrinya memang belum berniat keluar rumah sama sekali.
"Syah belum bangun ya, Ma?" tanya Papa Arya pelan, suaranya lembut memecah keheningan. Ia menatap istrinya, Mama Laras, yang duduk di sofa dengan wajah masih terlihat cemberut dan kesal, namun di balik tatapan itu terselip rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
Mama Laras mendengus pelan, tangannya melipat majalah dengan kasar.
"Entahlah, Yah. Dari tadi pagi Mama liat tidak ada gerak-gerik keluar kamar. Pintu dikunci rapat dari dalam," jawab Mama Laras ketus, tapi nada suaranya mulai terdengar melunak sedikit, tidak setajam kemarin. "Mungkin masih ngambek... atau mungkin masih marah sama Mama karena omelan kemarin."
Hati seorang ibu mana yang tidak iba melihat anaknya menangis dan terpuruk begini. Walaupun mulutnya masih terlihat kesal, sebenarnya hatinya juga tidak tenang.
Papa Arya menghela napas panjang sekali, mengembuskan udara perlahan. Ia tahu betul kondisi putrinya saat ini. Ia tahu Aisyah sedang terluka sangat dalam, hatinya hancur berkeping-keping. Hati seorang ayah mana yang bisa tenang melihat buah hatinya menangis dan menderita begini?
Dengan langkah yang pelan, hati-hati, dan penuh kasih sayang, Papa Arya berdiri dari duduknya. Ia berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, menuju koridor yang menuju kamar putri kesayangannya itu.
Ia berhenti tepat di depan pintu kamar Aisyah.
Suasana di balik pintu kayu itu sunyi senyap. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada suara musik, tidak ada suara buku yang dibuka, dan tidak ada suara orang bergerak. Hanya ada keheningan yang terasa sangat menyedihkan dan mencekam.
Papa Arya mengangkat tangannya yang besar dan kokoh, lalu mengetuk pintu itu dengan sangat pelan-pelan, seakan takut mengejutkan penghuninya.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Sayangku... Aisyah... Papa boleh masuk?" sapanya lembut, suaranya terdengar sangat menenangkan dan hangat, mampu membuat siapa saja merasa aman hanya dengan mendengarnya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Hening membentengi mereka.
Papa Arya tidak menyerah. Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras agar terdengar, namun tetap sopan.
"Sayang... Papa tahu kamu belum bangun, atau mungkin kamu sudah bangun tapi lagi istirahat di dalam. Sudah siang lho, Nak... Sudah jam sembilan lho mataharinya panas banget."
"Papa bawakan air putih hangat sama vitamin buat kamu ya... Biar badanmu enakan, biar nggak lemas. Buka pintunya sebentar ya Sayang... Papa mau liat kamu sebentar aja..."
Masih sunyi. Tidak ada sahutan, tidak ada suara kunci diputar.
Namun, Papa Arya tidak pergi. Ia tetap berdiri tegap di sana, sabar menunggu. Ia tahu putrinya sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu putrinya butuh waktu, tapi ia juga ingin putrinya tahu bahwa Papa ada di sini, Papa selalu ada untuknya.
BERSAMBUNG....