"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Belum pulang
"Sudah pukul dua pagi, Mirasih belum juga pulang." Narti dengan cemas menunggu di depan rumah karena sang anak tak kunjung muncul.
"Kemana perginya Mirasih ini." Hamdan juga bingung karena sang anak belum kembali.
"Mas kamu jaga rumah saja dulu ya karena aku akan mencari Mirasih di tempat organ sana." Narti ingin menyusul Mirasih saja.
"Tapi ini juga sudah malam aku takut nanti malah kamu ada apa-apa di jalan." Hamdan juga bingung karena dia sebagai suami malah tidak bisa bertanggung jawab.
"Tenang saja, aku sudah tua dan tidak ada yang naksir dengan aku." Narti masih bisa bergurau walau sebenarnya saat ini dia sangat pusing.
Hamdan menatap Narti yang sudah keluar dari dalam rumah dan menuju tempat hiburan itu berada, tentu sebagai orang tua rasa cemas di dalam hati sangat berlebihan karena mereka agak takut juga bila nanti ternyata Mirasih justru mendapat celaka ketika sedang bermain dengan teman yang lain di desa ini.
Kadang kalau sudah memiliki anak gadis dan menanjak remaja seperti itu maka mereka harus sekuat tenaga menjaga mereka semua, ini Hamdan malah sakit keras seperti itu dan kadang peran dia sebagai kepala keluarga bisa di ganti oleh Narti, Untung dia memiliki istri yang bisa cepat tanggap dan tidak pernah banyak tingkah.
Narti sebenarnya adalah wanita yang cantik dan bila dia berdandan maka masih ada pria yang tertarik dengan kecantikan wanita Madura itu, namun Narti tidak pernah berpikir untuk mencari pria lain dalam hidup ini, menurut dia menikah hanya sekali dan walau saat ini suami sedang sakit keras tapi tetap saja dia tunggu.
Kesetiaan yang jarang di miliki oleh wanita lain karena mereka terkadang memilih untuk menyerah saja ketika sang suami sudah tidak mampu untuk mencari nafkah, Hamdan memang sudah lama sakit kanker paru-paru seperti itu namun dia tak kunjung sehat dan kadang dalam pikiran Hamdan juga ingin kematian saja.
Rasa putus asa karena terus saja menyusahkan sang istri dan tidak bisa membahagiakan anak beserta dengan istri, walau selama ini Narti tidak pernah mengeluh tentang keberadaan dia yang hanya menyebabkan beban namun tetap saja Hamdan terkadang merasa rendah diri dan tidak sanggup untuk berbicara banyak kepada Narti.
Terlebih ketika Mirasih sudah berulah seperti ini maka Hamdan yang merasa paling malu, bukan hanya malu tapi juga merasa tidak berguna sebagai seorang Ayah, seperti saat ini contohnya ketika nanti memilih untuk keluar sendiri tanpa ada yang menemani hanya karena dia ingin mencari sang anak yang entah ada di mana sekarang.
Andai Hamdan sehat maka pasti dia yang bisa keluar dari rumah ini untuk mencari keberadaan Mirasih lalu membawa anak gadis mereka pulang ke rumah, ini malah sang istri yang keluar tengah malam dan tidak peduli dengan rasa takut yang timbul di dalam hati ini karena suasana di desa ini juga cukup gelap bila sudah malam hari.
"Maafkan aku, Narti." Hamdan sangat menyesal sekali.
"Andai aku sehat maka aku tidak akan membuat kau sengsara seperti itu, aku belum bisa membuat kau bahagia." isak Hamdan di depan rumah.
"Ngapain duduk depan rumah malam begini, Ham?" tegur Arifin yang baru pulang ronda.
"Ini aku sedang menunggu Mirasih pulang." jawab Hamdan.
"Mirasih kemana memang nya?" Arifin agak kaget juga.
"Tadi berpamitan ingin menonton organ tunggal, tapi sampai sekarang malah tak kunjung kembali." cemas Hamdan.
"Loh sudah pukul dua lewat ini, kau tidak berpesan apa kalau pulang harus jam segini." Arifin juga ikut cemas sekarang karena dia masih sepupu Hamdan.
Hamdan menarik nafas panjang karena sebenarnya dia juga sudah berpesan kepada sang anak agar segera pulang ketika sudah selesai, ini malah sudah tengah malam begini Dan hampir subuh tapi Mirasih tak kunjung kembali sehingga sudah pasti sebagai orang tua timbul rasa cemas dalam hati yang begitu besar.
"Ya sudah kalau begitu aku akan mencari dulu keberadaan dia." Arifin tak jadi pulang ke rumah.
"Tadi Narti juga pergi mencari dia ke arah kulon." ujar Hamdan.
"Ya Allah sudah malam begini malah membuat orang tua susah saja kau ini Mirasih." kesal Arifin karena dia juga agak tahu bagaimana tabiat gadis itu.
"Tolong bantu Narti ya, Fin." pinta Hamdan memelas.
Arifin mengangguk dan memang dia tidak jadi pulang ke rumah karena kasihan juga melihat Hamdan yang sedang sakit tapi duduk di depan teras seperti itu karena menunggu sang anak, malah yang lebih parah lagi Narti sudah pergi untuk mencari keberadaan Mirasih yang saat ini entah ada di mana.
...****************...
"Massss aaaaahhh."
Seorang gadis menggeliat di atas ranjang ketika menikmati sentuhan dari tangan kekasih nya, Jarwo sendiri sudah tidak tahan dan ketika mendengar Mirasih mendesah seperti itu maka dia semakin tidak terkendali saja, mana dalam pengaruh alkohol sehingga sudah pasti nafsu yang ada di dalam diri begitu kencang.
Cup.
Cup.
"Aaaaahh geli mas." Mirasih agak mendorong kepala Jarwo ketika dia meninggalkan cupang pada bagian leher.
"Sayang aku mau." Jarwo menatap Mirasih dengan tatapan begitu sayu.
"Tapi nanti kamu jangan tinggalin aku kalau aku sudah tidak perawan lagi ya." Mirasih juga takut bila nanti dia akan di tinggal oleh Jarwo.
"Tidak akan, aku pasti akan segera menikahi kamu." janji Jarwo sambil meremas gunung kembar yang masih begitu kenyal.
"Aaaah aaaah." Mirasih sendiri sudah terbuai karena dia menikmati belaian yang begitu lembut.
"Aku sangat mencintai kamu, Mirasih!" bisik Jarwo sambil menjilat telinga mungil gadis ini.
Tentu saja Mirasih menjadi begitu terbuai dan keputusan dia untuk menyerahkan mahkota yang selama ini telah dia jaga menjadi begitu bulat, sebab dalam hati dia sangat yakin bahwa Jarwo pasti akan segera menikahi ketika mereka telah bersetubuh seperti saat ini, justru bila dia tidak menuruti keinginan Jarwo maka takut nanti pria itu akan mencari gadis lain.
"Eeemmmp kau wangi sekali, sayang." bisik Jarwo menjilat put*Ng Mirasih.
"Aaaah geli, Mas." Mirasih tidak pernah merasakan sensasi seperti ini sehingga dia mengelijang.
"Nikmati saja ya, nanti sebentar akan terasa sakit tapi setelah itu kita akan merasakan sensasi yang begitu luar biasa." bisik Jarwo sambil mengeluarkan senjata dia.
Mirasih hanya tertegun karena ada rasa takut namun ada juga rasa yakin untuk memberikan hal ini kepada Jarwo, setan dalam kepala terus saja berbisik bahwa setelah dia melakukan persetubuhan ini maka Jarwo akan menikahi dan mereka bisa hidup bahagia bersama lalu Mirasih mendapatkan hidup yang enak.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻
anak nya slah masih ja di bela