Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampret!
Rayden memutar tubuhnya perlahan, matanya menyipit tajam pada Austin yang tampak gelisah.
"A-aku..." Austin terbata-bata, suaranya tercekat di tenggorokan saat menyadari tatapan selidik Rayden mulai menguliti kebohongannya.
"Aku apa, Austin?" Rayden melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dengan aura mengintimidasi. "Kenapa nada suaramu mendadak ragu begitu? Ada yang kau sembunyikan?"
Austin tersentak, lalu tiba-tiba meledakkan tawa hambar yang terdengar dipaksakan. "Haha! Bukan begitu. Maksudku..." Ia mengusap tengkuknya, berusaha menyusun kembali topeng tenangnya. "Aku hanya mengkhawatirkan adikmu. Dia masih sangat muda, Ed. Bukankah pernikahan ini terlalu dini? Bagaimana jika Deva bukan pria baik-baik? Bagaimana jika dia malah menyakiti Rayna?"
Rayden terdiam, berdiri mematung sambil terus menatap Austin. Keheningan itu terasa menakutkan, membuat Austin menahan napas dan berharap sahabatnya itu menelan mentah-mentah alasannya.
Akhirnya, Rayden mengembuskan napas panjang. Ia berbalik dan mulai melangkah pelan menyusuri koridor markas. "Kau tidak perlu mencemaskan hal itu," ucap Rayden mantap.
"Aku mengenal Deva lebih dari siapa pun. Dia pria yang mempertaruhkan nyawanya untuk menolong kami dari kawanan begal dulu. Dia punya rasa tanggung jawab yang gila dan kepedulian yang besar pada orang lain." Rayden berhenti sejenak, senyum tipis kebanggaan muncul di wajahnya. "Aku yakin, detik ini pun, dia pasti sedang memanjakan Rayna sebagai istrinya."
‘Yah mungkin saja begitu jika Om Nicho tidak ikut campur,’ batin Rayden.
Deg.
Dada Austin terasa seperti disayat pisau bedah. Sudut mulutnya berkedut hebat, menahan geraman yang hampir lolos. Mendengar Rayden memuji Deva setinggi langit membuat darahnya mendidih, merasakan api cemburu yang membakar hangus seluruh kewarasannya.
“Aku pulang dulu, Austin.” Rayden meninggalkan Austin namun sekilas ia melirik Austin yang menjambak rambutnya sendiri.
Rayden tak membiarkannya begitu saja, ia merasa Austin menyembunyikan sesuatu dan itu patut diselidiki diam-diam.
Rayden melangkah masuk ke ruang tengah dengan dahi berkerut, pikirannya masih tertambat pada gelagat aneh Austin di markas tadi. Kondisi rumah tampak sepi, namun instingnya sebagai kakak tertua mengatakan ada yang tidak beres.
"Kayla? Kesya?" panggil Rayden, matanya mengedar ke balik sofa dan tirai besar.
Brak!
"DOOOOORRRR!"
Kedua gadis kecil itu melompat keluar dari balik lemari pajangan, berteriak tepat di samping telinga Rayden. Sontak, Rayden terlonjak mundur, jantungnya nyaris melompat keluar dari rongga dada.
"Aduh! Astaga!" keluh Rayden sambil memegangi dadanya. Tanpa menunggu lama, tangannya bergerak cepat mendatangi kepala kedua adiknya.
Pletak! Pletak!
"Aduh! Sakit, Bang!" rengek Kayla dan Kesya serempak sambil mengusap kepala mereka yang baru saja kena jitakan maut.
"Kalian ini benar-benar ya! Mau bikin Abang serangan jantung beneran?" omel Rayden, napasnya masih terengah. "Bisa-bisa Abang mati muda kalau setiap pulang dikagetkan begini."
Si kembar cilik langsung memasang wajah memelas, mengatupkan kedua tangan di depan dada. "Maaf, Abang Sayang... habisnya Abang pulangnya serius banget sih mukanya," sahut Kesya dengan cengiran tak berdosa. "Ada apa sih Abang nyari kita? Tumben banget?”
Rayden merendahkan tubuhnya, duduk di karpet agar sejajar dengan kedua adiknya itu. Wajahnya berubah serius, suaranya mengecil. "Abang punya pekerjaan penting buat kalian. Tugas rahasia."
Mata Kayla dan Kesya seketika berbinar. Mereka saling lirik, lalu kembali menatap Rayden dengan penuh semangat. "Pekerjaan apa?! Kasus baru?!" tanya Kayla antusias.
"Selidiki dan awasi Austin," bisik Rayden tajam. "Abang merasa dia punya rencana tersembunyi soal Rayna di Jakarta. Dia tidak se-tulus kelihatannya."
Mendengar targetnya adalah Austin, si kembar langsung berdiri tegak dan memberikan hormat ala militer.
"Siap, Bos Besar! Ini mah kecil bagi kita!" seru Kayla sambil membetulkan letak bando birunya. "Aku yang bagian menyelidiki latar belakang dan jejak digitalnya. Detektif Kayla siap beraksi!"
"Dan aku bagian memata-matai gerak-geriknya! Kesya si bayangan hitam tidak akan membiarkan Austin bernapas tanpa sepengetahuanku!" sambung Kesya dengan gaya heroik yang menggemaskan.
Rayden tersenyum tipis, sedikit lega. Meski mereka masih kecil, kemampuan dua adiknya ini dalam mengendus rahasia tidak bisa diremehkan. "Ingat, jangan sampai ketahuan. Terutama oleh Bibi Erica. Mengerti?"
"Mengerti, Abang! 24 Jam misi selesai!" jawab mereka kompak, sebelum akhirnya melesat pergi menuju markas rahasia mereka di kamar atas untuk menyiapkan peralatan detektif.
___
BRAK!
Austin membanting pintu rumahnya hingga gema benturannya merambat ke seluruh penjuru ruangan. Ia melemparkan jaket kulitnya ke lantai marmer dengan kasar, napasnya memburu, tak beraturan. Bayangan Rayna yang sedang tersenyum malu-malu dalam dekapan Deva, persis seperti yang digambarkan Rayden tadi terus menari-nari di kepalanya seperti hantu yang mengejek.
"Sialan! Deva brengsek!" teriaknya sambil menendang kaki kursi kayu jati hingga bergeser jauh.
“Aduh… aduh! Dasar meja kampret!” umpatnya kesakitan.
"Wah, wah... ada apa dengan keponakan kesayanganku ini? Kenapa wajah tampanmu jadi sekusut itu?"
Sebuah suara feminin yang berat dan penuh wibawa menghentikan amukan Austin. Dari arah tangga, muncul seorang wanita berpenampilan anggun yang menyilaukan. Gaun sutra merah darah melekat sempurna di tubuhnya, dihiasi perhiasan berlian yang berkilau setiap kali ia bergerak. Dialah Frederica, bibi Austin, wanita yang dulu terobsesi dan habis-habisan mengejar cinta ayah Rayna, namun berakhir dengan penolakan yang memalukan. Ia masih ingat betul dirinya pernah dibuang ke Afrika oleh Rayna bocil.
Erica melangkah anggun mendekati Austin, jemarinya yang lentur dengan kuteks senada gaunnya membelai pundak keponakannya itu. "Apa yang membuatmu mengamuk seperti banteng liar begini, Austin?"
Austin mendengus kasar, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa mewah di ruang tengah. "Semuanya hancur, Bibi! Rencanaku untuk menjebak Rayna agar dia membenci Deva malah berakhir bencana!"
Erica menaikkan sebelah alisnya, ia duduk dengan tenang di hadapan Austin sambil menyilangkan kakinya. "Maksudmu?"
"Mereka sudah menikah!" bentak Austin frustrasi. "Tujuan awal kita bikin Rayna berkonflik dengan Deva supaya dia jatuh padaku, tapi sekarang? Jalannya malah berbelok ke pelaminan! Nicholas sialan itu malah menjadikan Rayna pengantin pengganti untuk menutupi aib keluarganya!"
Mendengar nama Rayna disebut, kilat kebencian yang sudah lama terkubur di mata Erica mendadak menyala kembali. Ia menyesap teh hangatnya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi denting yang tajam.
"Menikah, ya?" Erica tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengandung racun. "Tenang saja, Austin. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas keterpaksaan dan skandal... biasanya hanya butuh satu dorongan kecil untuk runtuh berkeping-keping."
Ia menatap Austin dengan pandangan licik. "Ingat, darah keluarga kita tidak pernah menyerah. Jika dulu aku gagal mendapatkan ayahnya, maka kau tidak boleh gagal mendapatkan putrinya. Kita hanya perlu mengubah strategi sedikit saja."
“Caranya?”
Erica membisikkan sesuatu ke telinga Austin yang membuat mata sayu pemuda itu melebar sempurna, diiringi senyum seringai yang licik.
_____
Bibi perkedel belum kapok juga… harus dikirim ke Antartika kayaknya ini..
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗