Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Tiga Sisi di Sektor Selatan
Pintu lift darurat terbuka dengan sentakan keras, melemparkan Arkan, Liana, dan Elena yang bersimbah darah ke dalam sebuah gudang tekstil tua yang terbengkalai di pinggiran Sektor Selatan. Udara di luar tidak lagi sesegar pegunungan Swiss; bau bensin, aspal panas, dan debu konstruksi menyerbu indra penciuman mereka.
"Ibu, tahan! Liana, ambil medkit di tas taktis!" Arkan membaringkan Elena di atas tumpukan kain usang.
Darah merah pekat merembes cepat melalui seragam putih ibunya, kontras yang mengerikan dengan pucatnya wajah wanita itu.
Liana dengan tangan gemetar merobek kemasan kain kasa dan cairan antiseptik.
"Pelurunya mengenai arteri subklavia, Arkan. Aku tidak bisa menghentikan pendarahannya di sini. Dia butuh rumah sakit, sekarang!"
Elena mencengkeram lengan Arkan, tenaganya yang tersisa hanya cukup untuk menarik putranya mendekat.
"Tidak... ada... rumah sakit... Arkan. Varo... dan Hendra... mereka sudah menutup semua akses medis di sektor ini. Dengarkan aku..."
Suara deru mesin helikopter dan sirene militer mulai terdengar dari kejauhan. Sektor Selatan yang baru saja dibangun kembali kini berubah menjadi zona tempur. Di luar gudang, cahaya laser dari senapan Unit 9 mulai memindai dinding-dinding seng.
Tiba-tiba, ledakan besar menghantam gerbang depan gudang. Namun, pelakunya bukan pasukan Varo. Sebuah truk lapis baja hitam dengan logo tengkorak emas menerjang masuk. Dari dalamnya, keluar selusin tentara bayaran berpakaian putih dengan senjata mutakhir.
Hendra.
Pria itu melangkah turun dari truk, bahunya masih dibalut penyangga akibat luka tembak Arkan di Pandora. Ia memegang detektor biometrik yang terus berbunyi nyaring.
"Arkan! Berikan ibumu padaku, dan aku akan memberikan penawarnya untuk Liana!"
Arkan tertegun. Ia menoleh ke arah Liana. "Penawar? Apa maksudmu, Hendra?"
Liana tiba-tiba jatuh terduduk, napasnya tersengal. Garis-garis hitam mulai muncul di pembuluh darah lehernya—gejala yang sama dengan infeksi neuro-virus yang digunakan dalam protokol Project Phoenix.
"Kau pikir elektroda di kapal selam Unit 9 itu aman, Liana?" Hendra tertawa dingin. "Varo menanamkan virus dorman di sarafmu. Hanya aku yang punya kode deaktifnya. Tukarkan Elena dengan nyawa gadismu, Arkan. Adil, bukan?"
Di saat yang sama, tim taktis Unit 9 yang dipimpin Varo tiba di pintu belakang gudang. Varo berdiri dengan senapan serbu di tangan, mengepung Arkan dari sisi berlawanan.
"Hendra, kau melampaui batas!" teriak Varo. "Elena adalah aset negara! Mundur atau aku akan meratakan tempat ini!"
"Aset negara?" Hendra mencibir. "Dia adalah kunci kekayaan pribadimu, Varo. Jangan berpura-pura menjadi pahlawan."
Arkan berdiri di tengah-tengah dua monster itu. Di tangan kirinya, ia memegang pistol yang diarahkan ke Hendra. Di tangan kanannya, ia memegang keping mikro pemberian Elena. Liana terkapar di belakangnya, berjuang melawan racun digital yang menggerogoti otaknya, sementara Elena perlahan kehilangan kesadaran.
"Kalian berdua ingin ini?"
Arkan mengangkat keping mikro itu tinggi-tinggi. Cahaya lampu gudang yang redup memantul di permukaan silikon kecil itu. "Ini bukan sekadar data. Ini adalah Kill-Switch (Tombol Pemati).
Jika aku menekannya, seluruh infrastruktur yang kalian bangun di Sektor Selatan—semua gedung pintar, semua server Unit 9, semua akun bank kalian—akan menguap dalam satu detik!"
Varo dan Hendra seketika membeku. Mereka tahu Arkan tidak menggertak. Garis keturunan Dirgantara selalu memiliki "kunci nuklir" dalam setiap sistem yang mereka ciptakan.
"Arkan... jangan gila. Kau akan menghancurkan kota ini!" Varo mencoba bernegosiasi.
"Kota ini sudah hancur sejak kalian menginjakkan kaki di sini!" raung Arkan. Ia menoleh ke arah Elena yang membisikkan sesuatu di telinganya.
"Arkan... hubungkan... keping itu... ke saraf... Liana..." bisik Elena dengan sisa napas terakhirnya.
Arkan terbelalak. "Ibu, apa?"
"Virus itu... adalah bagian dari kode... keping ini... akan menyerapnya... dan mematikan sistem... dari dalam... Lakukan!"
Arkan tidak punya pilihan. Dengan air mata mengalir, ia mendekati Liana. Ia memasukkan keping mikro itu ke dalam slot akses di pergelangan tangan taktis Liana yang masih terhubung dengan sistem sarafnya.
"TIDAK! HENTIKAN DIA!" teriak Hendra dan Varo serentak.
Pertempuran pecah. Pasukan Unit 9 dan tentara bayaran Hendra saling tembak di dalam gudang, sementara Arkan melindungi tubuh Liana dengan tubuhnya sendiri. Peluru-peluru berdesing di atas kepala mereka.
Tiba-tiba, gelombang kejut biru terpancar dari tubuh Liana. Gelombang itu menyapu seluruh gudang, mematikan semua peralatan elektronik, lampu, hingga senjata pintar milik para penyerbu. Gudang itu seketika gelap gulita.
Di tengah kegelapan, terdengar suara tarikan napas Liana yang dalam dan lega. Garis hitam di lehernya memudar. Keping mikro itu telah memakan virusnya, dan sebagai gantinya, ia mengirimkan sinyal penghancur ke seluruh jaringan musuh.
"Liana... kau selamat?" bisik Arkan dalam kegelapan.
"Aku di sini, Arkan," suara Liana terdengar kuat kembali.
Namun, saat Arkan meraba tangan ibunya, ia tidak lagi merasakan denyut nadi. Elena Dirgantara telah pergi, memberikan nyawa terakhirnya bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk menebus dosa terhadap gadis yang rumahnya pernah ia bakar sepuluh tahun lalu.
Di luar gudang, langit Sektor Selatan yang tadinya penuh cahaya holografik kini padam total. Kegelapan sejati kembali ke kota, memberikan kesempatan bagi Arkan dan Liana untuk menghilang sekali lagi di balik bayang-bayang puing-puing masa lalu.