Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendukung tak terduga
Suasana di kantin karyawan Bayu Group mendadak riuh. Bukan karena menu makan siangnya yang enak, tapi karena pemandangan di meja pojok. Violet sedang duduk dikelilingi oleh tiga sahabatnya yang bertingkah seperti agen rahasia gagal.
"Vi, lo lihat nggak tadi? Pak Arden pas turun dari lift sempet ngelirik ke arah meja kerja lo selama 0,5 detik!" Evara lapor dengan antusias sambil mengunyah keripik pedasnya. "Gue hitung pakai stopwatch di otak gue!"
"Cuma 0,5 detik, Va. Itu namanya dia lagi mastiin gangguan hama udah ilang apa belum," sahut Avyanna sambil sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. "Tapi tenang, gue udah berhasil masuk ke jadwal rapatnya. Jam dua siang nanti, dia ada pertemuan sama vendor di lounge lantai 2."
"Bagus, Vya! Gue bakal dandan jadi pelayan yang nganterin kopi," usul Violet penuh semangat cegilnya.
"Nggak perlu repot-repot jadi pelayan, Nona Manis."
Sebuah suara pria menginterupsi pembicaraan mereka. Violet dan gengnya menoleh serentak. Di sana berdiri dua pria tampan dengan gaya yang jauh lebih santai daripada Arden. Mereka adalah Danantya dan Atlas Rayan, sahabat sekaligus rekan bisnis Arden.
"Eh, Om-Om yang semalam di pesta, kan?" celetuk Evara tanpa saringan.
Danantya tertawa lepas, ia langsung menarik kursi dan duduk di sebelah Violet tanpa diundang. "Om? Panggil Danan aja. Gue suka gaya lo, Violet. Baru kali ini ada cewek yang berani bilang Arden 'belok' di depan mukanya langsung. Satu kantor gempar, lho."
Atlas ikut duduk sambil tersenyum ramah. "Jujur ya, kita ini udah capek denger gosip kalau Arden itu nggak normal. Kita butuh orang kayak lo buat 'ngancurin' imej kaku dia. Lo beneran anak magang di sini?"
Violet mengangguk mantap. "Iya, Kak Atlas. Tapi tujuan utama saya bukan magang kerja, tapi magang di hati Pak Bos."
Danantya langsung memberikan tepuk tangan meriah. "Gila! Arden butuh banget dikasih kejutan kayak gini. Denger ya, besok malam kita ada acara kumpul santai di bar langganan kita. Arden pasti dateng. Lo mau gue 'selundupin' ke sana?"
"Danan! Jangan ngajarin anak orang yang nggak-nggak," tegur Atlas, meski ia sendiri tertawa.
"Nggak apa-apa, Kak! Saya siap diselundupkan ke mana aja asal ada Pak Arden," sahut Violet bersemangat. "Tapi, jangan kasih tahu dia kalau saya ini sebenarnya... ya, pokoknya rahasia ya."
"Tenang, rahasia aman sama kita," Danantya mengedipkan mata. "Kita bakal bantuin lo. Kita pengen lihat seberapa lama si manusia es itu bisa bertahan dari serangan cewek se-ajaib lo."
Sore harinya, saat Violet hendak pulang, suasana hatinya yang sedang melambung tinggi tiba-tiba jatuh ke dasar bumi. Di parkiran yang agak sepi, Arjuna sudah bersandar di pintu mobilnya dengan wajah gelap.
"Vi, aku udah bilang jangan deket-deket sama cowok-cowok itu," geram Arjuna sambil melangkah mendekat.
"Juna, lo bisa nggak sih sehari aja nggak muncul kayak setan?" Violet mencoba menghindar, tapi Arjuna menarik lengannya kuat.
"Kamu itu punya aku, Vi! Kamu pikir CEO kaku atau temen-temennya yang berandalan itu bakal tulus sama kamu? Mereka cuma jadiin kamu bahan taruhan!" teriak Arjuna.
"Lepasin, Juna! Sakit!" Violet meringis, mencoba melepaskan cengkeramannya.
"Ikut aku pulang!"
Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang dingin memecah ketegangan.
"Lepaskan dia."
Mereka berdua menoleh. Arden berdiri di sana, beberapa meter dari mereka. Ia berdiri dengan tangan di saku celana, wajahnya tanpa ekspresi, tapi auranya sangat mengintimidasi.
"Tuan Arden?" gumam Violet kaget.
Arjuna menatap Arden dengan sinis. "Ini urusan pribadi kami, Pak CEO. Jangan ikut campur urusan anak muda."
Arden melangkah maju, langkahnya tenang tapi mematikan. Ia berdiri tepat di depan Arjuna, tubuhnya yang lebih tinggi membuat Arjuna tampak kecil. "Dia adalah karyawan di perusahaan saya. Dan di area saya, tidak ada tempat untuk kekerasan pada wanita. Lepaskan dia, atau saya panggil keamanan sekarang juga."
Arjuna mendengus, perlahan melepaskan tangan Violet. "Kita belum selesai, Vi." Ia masuk ke mobilnya dan memacu kendaraannya dengan kencang.
Suasana menjadi hening. Violet memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Ia menatap Arden dengan mata berbinar. "Wah... Tuan Bos nyelamatin aku? Jadi ceritanya sekarang Tuan jadi ksatria berbaju zirah buat aku?"
Arden menatap Violet datar, tidak ada tanda-tanda simpati di matanya. "Jangan besar kepala. Saya cuma nggak mau ada keributan di properti saya. Dan kamu..." Arden mendekat, suaranya mengecil. "Kalau kamu memang 'anak kemarin sore' yang punya masalah sama mantan, jangan bawa-bawa masalah sampahmu ke kantor saya."
Arden lalu berbalik dan pergi menuju mobilnya sendiri tanpa menoleh lagi.
Violet terpaku sebentar, lalu tersenyum lebar. "Vya! Va! Lav! Lihat nggak tadi?!" teriaknya pada teman-temannya yang ternyata mengintip dari balik tembok.
"Lihat! Dia barusan nyelamatin lo terus maki-maki lo!" seru Evara sambil lari menghampiri.
"Itu namanya... Tsundere!" Violet memeluk tasnya dengan gemas. "Dia marah karena dia peduli. Gue makin sayang!"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...