Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 23 - Aku Bonekamu
Seperti keinginan Davion, malam ini juga mereka pindah ke apartemennya. Beberapa pelayan ikut untuk memindahkan segala keperluan, terutama milik Aluna.
Tiba di apartemen Davion memerintahkan pelayan untuk merapikan barang Aluna di kamar yang lain, bukan kamar utama miliknya.
Sesaat para pelayan sangat terkejut dengan perintah tersebut, namun mereka hanya bisa menjalankan perintah.
Sementara Aluna tak merasa keberatan sedikitpun, Aluna justru merasa aman dan nyaman. Mereka tak akan merasa saling terganggu.
"Bi, jangan katakan apapun pada mom Ivana dan Daddy Aston tentang apa yang kalian lihat di sini. Aku dan Davion tidur di kamar yang terpisah karena ingin memulai hubungan dari awal, saling mengenal dengan cara yang benar," ucap Aluna, "Tapi jika mom Ivana dan Daddy Aston tahu mereka pasti akan khawatir," timpalnya lagi, menjelaskan yang mungkin bisa diterima.
"Baik, Nyonya," jawab para pelayan dengan patuh, bagi mereka penjelasan itu pun terasa masuk akal. Pasangan perjodohan memang butuh waktu lebih banyak untuk bisa saling menerima satu sama lain.
Malam ini setelah seluruh barang selesai dipindahkan, apartemen kembali tenang. Para pelayan juga sudah pulang dan membuat suasana apartemen jadi lebih sunyi.
Tidak ada lagi suara langkah kaki orang berlalu-lalang, tidak ada lagi percakapan para pelayan yang sibuk membereskan barang. Hanya tersisa kesunyian di antara dua orang yang kini tinggal di bawah satu atap, namun tetap dipisahkan oleh jarak.
Aluna berdiri cukup lama di dalam kamar barunya. Menatap sekeliling ruangan yang kini akan menjadi tempat tinggalnya. Kamar ini luas, nyaman, dan terasa jauh lebih indah dari kamar mana pun yang pernah ia tempati sebelumnya.
Namun yang paling membuat dadanya terasa ringan adalah satu fakta sederhana, bahwa malam ini ia tidak harus tidur di sofa.
Aluna memiliki tempatnya sendiri.
Ruangnya sendiri.
Namun setelah beberapa saat menatap kamar itu, Aluna mengingat sesuatu. Sekarang hidupnya di apartemen ini sepenuhnya bergantung pada Davion.
Pria itu sudah bersedia membantunya, bahkan memindahkan mereka ke sini agar jauh dari kedua keluarga mereka. Maka sekecil apa pun, Aluna merasa ia harus menunjukkan rasa terima kasihnya.
Dengan hati-hati Aluna keluar dari kamarnya, berjalan menuju kamar utama tempat Davion berada, lalu mengetuk pintunya pelan.
Tok! Tok!
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Davion berdiri di sana dengan wajah datarnya, mengenakan pakaian santai rumah namun tetap terlihat rapi dan berkelas. Tatapannya turun menatap Aluna, sedikit menyipit seolah heran kenapa wanita itu datang malam-malam begini.
“Ada apa?” tanyanya pendek.
Aluna menautkan kedua tangannya di depan tubuh, berdiri tegak seperti biasa. “Aku hanya ingin bertanya, apakah ada yang kamu butuhkan malam ini?”
Davion terdiam beberapa detik.
Tatapannya berubah sedikit aneh, karena jujur saja ia selalu merasa kesulitan menebak isi kepala Aluna. Setelah pembicaraan mereka, setelah wanita itu menangis di depannya dengan berlutut harusnya kini Aluna menghindarinya. Bukanya datang seperti ini.
Dan yang lebih aneh lagi sekarang Aluna justru seperti sedang memosisikan dirinya sebagai pelayannya.
“Kalau tidak ada,” lanjut Aluna hati-hati saat Davion diam terlalu lama, “Aku izin untuk beristirahat.”
Davion mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya berkata datar, “Tidak ada.”
Aluna mengangguk pelan, namun baru hendak mundur Davion sudah kembali bicara.
“Besok aku akan langsung menemui kakak tertuamu.”
Aluna terdiam sejenak, “Kakak tertuaku?” tanyanya bingung.
“Besok bersiaplah dan ikut denganku.”
Jantung Aluna sedikit berdebar mendengar itu. “Aku ikut?”
“Tentu aja.” Tatapan Davion menajam. “Aku akan membantu keluargamu, jadi kamu harus melihat semuanya sendiri. Melihat bagaimana serakahnya keluargamu."
Aluna tertegun, tak mampu berkata-kata mendengar ucapan tersebut.
Sementara Davion benar-benar ingin Aluna melihat dengan matanya sendiri berapa besar uang yang harus ia keluarkan untuk menyelamatkan perusahaan keluarga Myles. Davion ingin wanita itu sadar seharga itulah harga diri Aluna di mata Davion.
“Baik terima kasih, Dav," ucap Aluna, hanya kata-kata ini yang mampu dia ucapkan.
Davion hanya mendengus kecil dan Aluna pun akhirnya kembali ke kamarnya sendiri.
Malam ini untuk pertama kalinya sejak menikah, Aluna akhirnya tertidur di atas ranjang miliknya sendiri. Meski pikirannya masih begitu kalut, namun dia tetap memaksakan diri untuk memejamkan mata.
Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela besar apartemen.
Aluna bangun jauh lebih awal dari Davion. Kebiasaan itu sudah tertanam sejak lama, bahkan tubuhnya seperti memiliki alarm sendiri yang selalu membangunkannya sebelum matahari benar-benar tinggi.
Karena tidak ingin hanya diam dan menunggu, Aluna memutuskan pergi ke dapur. Semalam para pelayan sudah memenuhi lemari pendingin dengan berbagai bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga.
Maka pagi ini dengan kemampuan seadanya yang ia miliki, Aluna mulai menyiapkan sarapan.
Tak butuh waktu terlalu lama hingga aroma makanan memenuhi apartemen.
Saat Davion keluar dari kamarnya dengan wajah masih dingin, langkahnya sedikit terhenti.
Di atas meja makan sudah tersaji dua piring sarapan lengkap dengan minuman hangat. Dan di sana Aluna berdiri sambil merapikan salah satu piring.
Begitu melihat Davion keluar, wajah Aluna langsung menoleh padanya. “Dav,” panggilnya pelan. “Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.”
Davion menatap meja itu sebentar, lalu menatap Aluna lagi tanpa ekspresi. “Tidak perlu.”
Aluna sedikit terdiam. “Kenapa?”
Davion mendekat beberapa langkah, lalu berkata dingin tanpa basa-basi, “Bisa saja ada racun dalam makananku.”
Kalimat itu diucapkan begitu saja, namun yang mengejutkan Aluna tidak terlihat tersinggung. Ia hanya menatap Davion sebentar, lalu berkata dengan tenang, “Kalau kamu tidak percaya aku akan mencicipinya lebih dulu.”
Davion sedikit menaikkan alis.
Sebelum ia sempat menjawab, Aluna sudah berjalan ke meja makan. Dengan tangan tenang, ia mengambil satu sendok dari piring Davion lalu memasukkan makanan itu ke mulutnya. Mengunyahnya perlahan tepat di depan mata pria itu.
Setelah menelannya, Aluna menatap Davion lagi. “Tidak ada racun.”
Davion terdiam.
Entah kenapa melihat tindakan polos itu justru membuat dadanya terasa aneh. Namun ia tetap mendekat, lalu duduk di kursinya dengan ekspresi datar sebelum akhirnya mulai menyentuh makanannya.
Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum Davion berkata tanpa menatapnya.
“Sekarang kamu bukan lagi boneka keluarga Myles," ucap Davion.
Aluna menoleh cepat dan Davion menatapnya lurus, tatapan dingin yang menusuk.
“Sekarang kamu adalah bonekaku," putus Davion. Itulah harga yang harus Aluna bayar untuk semua bantuannya.
Sesaat Aluna terdiam, rasanya ia baru saja hendak keluar dari lubang penderitaan lama namun kini Davion kembali menempatkannya di penderitaan yang baru.
Dalam diamnya namun Aluna masih menemukan satu titik baik, setidaknya di hadapan Davion ia tak perlu menjadi Jesselyn.
"Benar, aku boneka mu," jawab Aluna dengan riang.
Belajar untuk membiarkan Aluna merasakan hidup sendiri tanpa tekanan dari siapapun dan menjadi dirinya sendiri...
Tetaplah dukung dan terus berada disisinya walaupun kalian terpisah tunjukan bahwa cinta yang tulus itu mulai tumbuh dihatimu ...
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.