Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 [Arus yang Mengarah Ke Timur]
Angin berhembus kencang.
Lebih kencang dari biasanya.
Di atas tebing tinggi yang menjulang ke langit, berdiri sebuah kerajaan yang seolah menyatu dengan angin itu sendiri.
Velmora Zephyrian Kingdom.
Langit di atasnya luas tanpa batas. Awan bergerak cepat, seolah didorong oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Dan di puncak tertinggi
Seorang wanita berdiri diam.
Rambut panjangnya menari liar tertiup angin.
Matanya tertutup.
Tenang.
Seolah mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh orang lain.
Dia adalah
Kaelith Veyra.
Grandmaster Angin.
Penjaga keseimbangan yang paling sensitif terhadap perubahan dunia.
Matanya terbuka perlahan.
Dan dalam sekejap
Ekspresinya berubah.
“…aneh.”
Suara pelan itu hampir hilang terbawa angin.
Namun makna di baliknya berat.
Sangat berat.
Ia melangkah maju sedikit.
Dari tepi tebing itu, seluruh daratan di bawah terlihat jelas.
Hutan.
Dataran.
Jalur-jalur alami yang membelah tanah.
Dan di sana
Sesuatu bergerak.
Banyak.
Sangat banyak.
Makhluk.
Goblin.
Orc.
Dan ras-ras lain.
Namun…
Mereka tidak menyerang.
Tidak merusak.
Tidak mengamuk.
Mereka hanya berjalan.
Dalam jumlah besar.
Dalam arah yang sama.
Ke timur.
Kaelith menyipitkan mata.
“…bukan invasi.”
Angin di sekitarnya berputar lebih cepat.
Seolah merespon pikirannya.
“…ini pergerakan.”
Langkahnya berhenti.
Tatapannya semakin dalam.
“Menuju satu titik.”
Beberapa penjaga berlari mendekat.
“Nona Kaelith! Pasukan makhluk itu terus bertambah! Kami harus-”
“Tidak.”
Jawabannya langsung.
Tenang.
Namun tidak bisa dibantah.
Para penjaga terdiam.
Kaelith tidak menoleh.
Tatapannya tetap pada arus makhluk itu.
“Jika ini serangan… mereka sudah menghancurkan perbatasan sejak tadi.”
Ia melangkah pelan ke depan.
“Namun mereka tidak melakukannya.”
Angin tiba-tiba berhenti sesaat.
Seolah dunia ikut menahan napas.
“…mereka mengabaikan kita.”
Kalimat itu membuat suasana membeku.
Para penjaga saling pandang.
Tidak mengerti.
Namun Kaelith mengerti.
Dan itu lebih buruk.
Ia melompat.
Tubuhnya melesat turun dari tebing.
Namun tidak jatuh.
Angin menahannya.
Mengangkatnya.
Membawanya meluncur seperti daun yang mengikuti arus.
Dalam sekejap
Ia sudah berada di tengah jalur makhluk itu.
Goblin pertama melihatnya.
Namun tidak menyerang.
Ia tetap berjalan.
Menuju timur.
Kaelith mengangkat tangannya.
Angin berkumpul.
Padat.
Tajam.
Dan
SWOOSH.
Satu gerakan.
Beberapa makhluk langsung terpotong.
Namun tidak ada darah.
Tidak ada jeritan.
Tubuh mereka retak.
Lalu
Hancur.
Menjadi abu hitam.
Terbang terbawa angin.
Kaelith membeku.
Matanya sedikit melebar.
“…tidak ada mana.”
Ia menatap sisa-sisa itu.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Tidak ada inti.
Tidak ada energi.
Tidak ada kehidupan.
Namun mereka bergerak.
Ia menggenggam tangannya.
Angin di sekitarnya bergetar.
“…ini bukan makhluk hidup.”
Kalimat itu keluar pelan.
Namun mengandung satu kebenaran yang mengerikan.
Makhluk tanpa mana.
Dunia tanpa hukum.
Sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Ia menoleh ke arah timur.
Sangat jauh.
Namun ia bisa merasakannya.
Sesuatu di sana.
Bukan mana.
Bukan sihir.
Sesuatu yang lebih… asing.
“…apa yang kau buat?”
Bisikannya hilang tertiup angin.
Jauh di selatan.
Di tanah berbatu keras.
Langit lebih gelap.
Angin lebih berat.
Di Kerajaan Mushaf, suara latihan kembali menggema.
Namun hari ini berbeda.
Galdros Varnheim berdiri diam.
Tidak bergerak.
Para murid menunggu.
Namun ia tidak memberi perintah.
Tangannya menyentuh tanah.
Matanya tertutup.
Beberapa detik berlalu.
Lalu
Ia membuka mata.
“…semakin kuat.”
Nada suaranya berat.
Ia berdiri perlahan.
Tatapannya mengarah ke barat.
“…dan menyebar.”
Salah satu murid mendekat.
“Guru… apakah itu ancaman?”
Galdros tidak langsung menjawab.
Namun jawabannya jelas.
“…ya.”
Di tempat lain.
Di dalam hutan yang penuh cahaya alami.
Di Yelvarises Elven Kingdom.
Udara biasanya dipenuhi aliran mana yang lembut.
Namun hari ini…
Aliran itu terganggu.
Tidak stabil.
Di dalam menara tinggi
Elyndra Sylphael berdiri diam.
Matanya terbuka.
Namun fokusnya jauh.
Di belakangnya,
Aerel Ashia Sylphael menggenggam dadanya.
“Aku tidak bisa… mengikuti alirannya…”
Suaranya gemetar.
Elyndra mengangkat tangannya.
Mencoba merasakan mana.
Namun…
“…ada bagian yang hilang.”
Aerel menatapnya.
“Hilang?”
Elyndra mengangguk pelan.
“…seperti sesuatu menghapus keberadaan mana itu sendiri.”
Hening.
Itu bukan gangguan biasa.
Itu… penghapusan.
Di arah timur.
Sebuah kerajaan berdiri di antara danau luas dan aliran sungai jernih.
Tempat di mana air adalah sumber kehidupan.
Di sanalah
Seorang wanita berdiri di tepi air.
Rambutnya panjang.
Matanya tenang.
Namun saat ini
Tajam.
Dia adalah
Seraphina.
Grandmaster Air.
Ia menyentuh permukaan air.
Biasanya, air akan merespon.
Bergetar.
Mengalir mengikuti kehendaknya.
Namun kali ini
Ada bagian yang tidak merespon.
Kosong.
Ia menarik tangannya perlahan.
“…tidak ada.”
Matanya menyipit.
Ia menatap ke arah timur.
Sangat jauh.
“…energi tanpa mana…”
Bisikannya pelan.
Namun jelas.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama
Ia merasa gelisah.
Kembali ke desa kecil.
Hinomura.
Langit malam kembali menyelimuti.
Tenang.
Sunyi.
Namun hanya di permukaan.
Di dalam rumah kecil itu
Shiranui Akihara duduk diam.
Di depannya
Api kecil menyala di telapak tangannya.
Bergetar.
Tidak stabil.
Ia menatapnya.
“…bahkan api pun merasakannya.”
Di belakangnya,
Liora Raizen bersandar di dinding.
Tatapannya ke luar jendela.
“…semakin dekat.”
Akihara menutup tangannya.
Api itu padam.
Namun perasaan itu tidak.
Di sudut ruangan
Noa tertidur.
Tenang.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Namun
Angin malam masuk melalui jendela.
Dan untuk sesaat…
Mata Noa terbuka sedikit.
Merah.
Dalam.
Dan kembali tertutup.
Akihara tidak melihatnya.
Namun Liora…
Melihat.
Ia terdiam.
Namun tidak berkata apa-apa.
Jauh di barat.
Di bawah tanah.
Kegelapan bergerak.
Makhluk-makhluk terbentuk.
Tanpa mana.
Tanpa jiwa.
Namun dengan tujuan.
Dan semua tujuan itu
Mengarah ke satu titik.
Satu desa kecil.
Yang bahkan dunia tidak peduli.
Namun kini…
Menjadi pusat segalanya.
Kembali ke Velmora.
Di atas tebing.
Kaelith Veyra berdiri diam.
Angin berputar di sekelilingnya.
Lebih kuat.
Lebih liar.
Ia menutup matanya.
Merasakan arus itu.
Makhluk-makhluk itu.
Arah mereka.
Tujuan mereka.
Dan akhirnya
Ia membuka mata.
Tatapan tajam.
“…di timur…”
Angin berhenti sesaat.
“…ada sesuatu.”
Di saat yang sama.
Di desa kecil itu.
Akihara berdiri di luar rumahnya.
Menatap langit malam.
Tenang.
Namun matanya serius.
“…mereka datang.”
Api kecil muncul di tangannya.
Lebih stabil dari sebelumnya.
Lebih kuat.
Legenda itu…
benar-benar mulai bangkit kembali.
Dan dunia
tidak akan pernah sama lagi.