Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Jasper menelan ludah dengan gugup. Di bawah tatapan Amara yang sedingin es, ia merasa nyalinya yang tadi membara kini menciut drastis. Seluruh keberanian yang ia kumpulkan untuk membual di depan para karyawan seolah menguap tanpa sisa.
"Lanjutkan," tuntut Amara datar. Ia melipat tangan di depan dada, berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi. "Aku sedang mendengarkan, Tuan Reynolds."
"A-aku..." Jasper tergagap. Lidahnya terasa kelu.
Mana perginya pria yang baru saja berteriak lantang tentang kekuasaan dan koneksi? Ia merutuki dirinya sendiri. Ia, Jasper Reynolds, telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Synergy. Ia mengenal setiap seluk-beluk perusahaan ini, sementara Amara hanyalah pendatang baru yang tiba-tiba duduk di kursi manajer cabang. Baginya, Amara hanyalah wanita yang mengandalkan paras untuk mencuri posisi yang seharusnya menjadi miliknya.
Keheningan yang menyesakkan itu pecah saat Amara memiringkan kepalanya, menatap Jasper dengan pandangan meremehkan. "Kenapa diam? Apa kau kehilangan naskah fitnahmu setelah melihatku di sini?"
Rahang Jasper mengeras. "Siapa bilang aku berbohong? Aku hanya menyampaikan fakta. Proposalmu ditolak mentah-mentah oleh Madam Sinclair. Sebentar lagi, Direktur akan sadar bahwa kau tidak berguna dan menendangmu keluar!" Jasper mulai mendapatkan kembali suaranya. "Setelah itu, dia pasti akan memohon padaku untuk mengambil alih. Menutup kesepakatan dengan Madam Sinclair bagiku semudah membalikkan telapak tangan."
Amara tersenyum tipis—sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Jasper meremang. "Kalau begitu, bagaimana jika kita bertaruh?"
"Bertaruh?"
"Siapa pun yang lebih cepat mendapatkan kontrak Madam Sinclair, dialah yang berhak menjadi manajer cabang. Yang kalah harus turun jabatan menjadi karyawan biasa. Bagaimana? Kau sangat percaya diri, bukan?"
Suasana kantor seketika riuh. Para karyawan saling berbisik, menatap Jasper dengan penuh antisipasi. Jasper berkeringat dingin. "K-konyol! Aku tidak punya waktu untuk permainan kekanak-kanakan ini!"
Jasper mencoba membalikkan keadaan dengan menunjuk Amara dengan telunjuk yang gemetar. "Lagi pula, ini tugasmu. Kau yang menyombongkan diri bisa mendapatkannya dengan... asetmu." Matanya menatap tajam, menelusuri lekuk tubuh Amara dengan pandangan mesum yang menjijikkan. "Tapi jika kau gagal, aku akan membantumu—asalkan kau mau berlutut dan membersihkan sepatuku."
Jasper mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan melemparkannya ke lantai dengan angkuh. "Jadi, berani terima?"
Amara tidak menjawab. Ia hanya menatap sapu tangan itu, lalu tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat merdu namun berbahaya. Ia membungkuk, memungut sapu tangan itu, dan menepuk-nepuk debunya.
"Kau cukup lucu, Jasper," ucap Amara sambil melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu kaki. Jasper tersentak mundur, kehilangan seluruh sisa harga dirinya. "Aku sama sekali tidak butuh bantuanmu. Hal yang seharusnya kau cemaskan adalah tim ini."
Amara menatap para karyawan yang lesu. "Kau menghancurkan semangat mereka dengan gosip murahanmu. Bos sangat benci tim yang kehilangan gairah. Jika aku jadi kau, aku akan mulai memikirkan cara agar tidak dipecat."
Amara melempar kembali sapu tangan itu tepat di atas sepatu Jasper. "Bersihkan sepatu para karyawan ini, mungkin itu bisa mengembalikan motivasi mereka yang hampir kau hancurkan."
Wajah Jasper merah padam karena malu. "Kau—!"
"Cukup, Jasper. Kembali ke mejamu," perintah Amara tanpa menoleh lagi. Ia segera berbalik dan memberikan senyum hangat kepada para karyawan. "Jangan biarkan suara sumbang merusak hari kalian. Mari fokus pada pekerjaan, dan aku janji akan mentraktir kalian makan siang mewah jika target ini tercapai!"
"Baik, Bu!" jawab mereka serempak, kembali bersemangat.
Di dalam ruangannya, Duncan telah menyiapkan berkas jadwal Bethany Sinclair. "Siang ini Bethany ada di Restoran Luxuria, Nona."
"Sempurna," gumam Amara. "Siapkan reservasi."
Tepat pukul tiga sore, Amara memasuki Luxuria. Dengan langkah anggun, ia menghampiri meja Bethany yang sedang duduk sendirian. "Halo... Anda Bethany Sinclair, bukan? Duta Besar untuk Rotaine?"
Bethany mendongak, terkejut. "Ya, benar."
"Astaga, saya benar-benar pengagum berat karya-karya Anda!" Amara memasang ekspresi kekaguman yang sangat meyakinkan. "Anda adalah ikon bagi kami para wanita di dunia bisnis. Bolehkah saya duduk sebentar? Saya Amara Miller dari Synergy."
Keramahan Amara yang natural segera mencairkan suasana. Keduanya mengobrol dengan akrab, berbagi selera musik dan mode yang ternyata sangat serupa. Amara mendengarkan dengan saksama saat Bethany bercerita tentang ibunya, Gemini.
"Madam Sinclair terdengar luar biasa. Saya sangat ingin bertemu dengannya," puji Amara tulus.
"Kebetulan sekali, aku akan menemuinya sekarang. Apa kau mau ikut?" ajak Bethany tulus. "Anggap saja ini balasan karena telah menemaniku makan siang."
Kena kau, batin Amara. "Jika tidak merepotkan, dengan senang hati."
Namun, saat mereka hendak berdiri, sebuah suara yang sangat familiar memanggil nama Bethany. "Bethany!"
Itu Jasper Reynolds. Pria itu melangkah mendekat dengan seringai sinis. "Ah, aku lihat kau sudah bertemu dengan 'anak emas' kesayangan Presiden Direktur kita!"
Bethany mengerutkan kening. "Maaf? Nona Miller adalah manajer cabangmu, Jasper."
"Memang," Jasper membungkuk, berpura-pura berbisik namun suaranya sengaja dikeraskan. "Tapi jangan berpura-pura tidak tahu, Bethany. Nona Miller ini sebenarnya adalah wanita simpanan sang Presiden. Begitulah cara dia mendapatkan kursinya."
Suasana mendadak dingin. Amara tetap berdiri tegak, matanya menatap Jasper dengan ketenangan yang mematikan, menanti reaksi dari Bethany.