NovelToon NovelToon
Douluo : Kaisar Harimau Putih Xing Luo

Douluo : Kaisar Harimau Putih Xing Luo

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai pangeran tertua di Kekaisaran Xingluo seharusnya adalah tiket keberuntungan. Namun bagi Dai Xuan, itu adalah hukuman mati. Di bawah hukum rimba keluarga kerajaan Dai yang kejam, kegagalan membangkitkan Martial Soul Harimau Putih berarti satu hal: tersingkir atau binasa.
​Dunia mencemoohnya. Saudara-saudaranya memandangnya rendah sebagai "produk gagal". Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik tubuh yang dianggap lemah itu, tersimpan kekuatan dari dunia lain.
​Bukan Harimau Putih biasa yang ia bawa, melainkan White Tiger Soul-Locking Ability. Kekuatan unik yang mampu mengunci takdir, membelenggu jiwa, dan mematahkan aturan absolut Benua Douluo. Dengan kekuatan jiwa penuh bawaan (Innated Full Soul Power), Dai Xuan memulai langkahnya dari kegelapan.
​"Aturan dibuat oleh mereka yang berada di atas. Karena Harimau Putih kalian tidak mengakuiku, maka aku akan menciptakan takdirku sendiri."
​Dingin, analitis, dan tanpa ampun kepada musuh. Dai Xuan tidak butuh pengakuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PIL WARNA TIGA DAN RAHASIA DI BALIK ULANG TAHUN

Malam menjelma dengan perlahan, menutupi langit dengan selubung kegelapan yang hanya diterangi oleh sedikit cahaya bulan yang tembus dari celah tirai.

Zhu Yuexin—dengan piyama warna hitam yang menonjolkan sosoknya yang ramping—duduk di tepi ranjang, mata besarnya mengedip-edip sambil menatap botol giok kecil yang terawat rapi di genggaman tangannya. Permukaan botol itu memantulkan cahaya redup, seolah menyimpan rahasia tersendiri di dalamnya.

"Biarkan aku pastikan permen ini benar-benar aman," gumamnya pelan, napasnya sedikit bergetar karena rasa penasaran yang tak tertahankan.

Dengan hati-hati, Yuexin membuka tutup botol dan menuangkan sebuah pil ke telapak tangannya. Di cahaya yang terbatas, pil itu memancarkan kilauan tiga warna berbeda—biru muda, merah anggur, dan emas pucat—yang saling melengkung seperti aliran air miniatur.

"Hmm?" Mata Yuexin berbinar dengan rasa kagum. Saat aroma harum khas seperti buah-buahan segar dan bunga melati menyebar di sekitarnya, dia tidak bisa menyembunyikan lidahnya yang secara refleks menjulur untuk menjilat bibirnya.

"Baunya benar-benar menggoda," ucapnya dengan suara lembut sebelum dengan lahap menelan pil itu. Saat masuk ke mulut, pil itu terasa dingin dan menyegarkan, lalu langsung meleleh seperti es krim yang terkena sinar matahari, menyebarkan rasa manis yang tak terlupakan di lidahnya.

Yuexin menjilati sudut bibirnya dengan puas. "Enak sekali... Rasanya seperti semua makanan lezat yang pernah kudapatkan sekaligus."

Namun segera setelah itu, keraguan muncul di wajahnya yang cantik. Dia mengerutkan kening pelan, mata melihat ke arah arahan yang tak jelas. "Mengapa ya, kakak ipar Dai Xuan hanya menyuruhku untuk meminumnya setiap tiga bulan sekali? Dia tidak pernah menjelaskan alasannya."

Wajahnya kemudian sedikit memerah saat dia tersenyum sendiri sambil menggeleng-geleng kepala. "Tidak apa-apa... Kakak ipar pasti punya alasan baik. Sudah sepantasnya aku mendengarkan apa yang dia katakan." Dengan hati-hati, dia menyimpan kembali botol giok ke dalam laci meja malamnya, lalu membaringkan diri dengan pikiran yang penuh dengan mimpi tentang sesuatu yang lezat.

Keesokan paginya, Dai Xuan terbangun dengan sedikit kebingungan dari kursi batu yang biasa dia gunakan untuk berlatih. Dia merasa ada sesuatu yang basah dan sedikit lengket di wajahnya, membuatnya mengerutkan kening.

"Ha ha ha... Kakak Xuan memang mudah tertipu ya!"

Tawa merdu dan penuh candaan terdengar dari sebelahnya. Xuan menoleh dan melihat Zhu Zhuyun berdiri di sana dengan mata indahnya yang penuh keceriaan, sambil menunjuk ke arah wajah Xuan dengan ekspresi geli. Di sisi Zhuyun, Yuexin berdiri dengan wajah yang sedikit malu tapi tetap penuh dengan senyum nakal.

"Zhuyun, tolong bawa Yuexin pergi sebelum dia membuat lebih banyak kekacauan," kata Xuan dengan nada tak berdaya tapi penuh kasih sayang.

Zhuyun mendengus pelan tapi segera tersenyum, menarik Yuexin lebih dekat ke dirinya sambil memberikan handuk bersih kepada Xuan. "Maaf ya Kakak Xuan... Dia bilang tadi malam bermimpi ada 'air mancur rasa permen' dan ingin mengajak Kakak Xuan mencicipinya."

"Hhh..." Xuan menyeka wajahnya dengan handuk sambil menghela nafas panjang. Dia memang tidak menyangka bahwa Yuexin bisa jadi begitu nakal dan penuh ide setelah meminum pil itu. Meskipun begitu, senyum hangat tak bisa dia hindari muncul di wajahnya.

Dia menghampiri Yuexin dan menepuk pelan kepalanya. "Yuexin, bagaimana tidurmu semalam? Apakah kamu merasa nyaman?"

Mendengar pertanyaan itu, Yuexin mendongak ke arah Zhuyun dengan ekspresi berpikir yang lucu, alisnya terkuncup pelan. "Semalam aku bermimpi tentang permen super besar yang bisa berubah warna, Kakak Xuan. Rasanya sangat enak—seperti apel manis, anggur segar, dan madu sekaligus!"

Zhuyun langsung tertawa geli mendengarnya. "Ya ampun, Yuexin... Pikiranmu benar-benar unik sekali! Siapa yang bisa bermimpi tentang permen sebesar itu?"

Xuan juga tidak bisa menahan senyumnya. Proses berpikir Yuexin memang selalu memberikan kejutan yang tak terduga, membuat suasana menjadi lebih hangat dan menyenangkan.

Tak lama kemudian, jamuan makan pagi dimulai dengan penuh kehangatan. Setelah selesai, para wanita Zhu mulai bersiap untuk acara penting hari itu—ulang tahun Yuexin yang ke-16, yang akan dihadiri oleh banyak tamu penting dari keluarga Dai.

Yuexin mengganti piyama hitamnya dengan gaun panjang bergaya klasik yang kombinasi warna hitam dan emas. Motif emas yang mengalir di seluruh permukaan gaun itu berkilauan saat terkena cahaya, seolah ada ribuan bintang yang terpampang di atasnya. Wajahnya yang cantik dan lembap sedikit merona karena kegembiraan, dihiasi dengan anting berlian berbentuk bintang yang diberikan oleh Zhuyun sebagai hadiah.

Zhuyun sendiri memilih gaun panjang hitam yang lebih sederhana tapi tetap elegan, dengan renda tipis yang menghiasi bagian tangan dan pinggangnya. Dia berdiri di samping Yuexin dengan penuh cinta, sengaja memilih gaun yang tidak terlalu mencolok agar perhatian tamu tetap terfokus pada ulang tahun Yuexin. Suasana di kamar mereka sangat harmonis, penuh dengan candaan dan tawa yang hangat.

Pada saat yang sama, di luar gerbang utama Rumah Besar Zhu, tiga kereta kuda yang megah tiba secara bersamaan. Kereta kayu berkualitas tinggi dengan hiasan emas dan perunggu menunjukkan bahwa tamu yang datang bukan orang biasa.

Setelah kereta berhenti dengan mulus, Dai Weisi, Dai Mubai, dan Pangeran Ketiga Dai Yunxiao turun dari masing-masing keretanya secara berturut-turut. Udara di sekitar gerbang langsung menjadi lebih tegang dengan kedatangan mereka.

"Kakak ketiga, bukankah kemarin kau bilang tidak akan datang ke acara ini? Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Dai Weisi dengan senyum yang sedikit menyiratkan, mata memandang Yunxiao dengan tatapan yang sulit ditebak. Di dalam hatinya, dia masih ingat bagaimana Yunxiao dulu menunjukkan sikap meremehkan terhadap acara keluarga kecil seperti ini.

Pangeran Ketiga Dai Yunxiao mengabaikan nada sinis dari Weisi dan mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Lagipula, ini adalah ulang tahun nona muda ketiga dari Istana Adipati Zhu. Sebagai anggota keluarga utama Kerajaan Dai, bukankah itu akan dianggap tidak sopan jika aku tidak datang? Apalagi hubungan antara keluarga Dai dan Zhu sangat penting untuk stabilitas wilayah ini."

Weisi mendengus pelan, tidak mau mengakui bahwa alasan Yunxiao memang masuk akal. Benar saja, setiap anggota keluarga Dai yang datang hari ini memiliki tujuan masing-masing—tak satupun dari mereka yang datang hanya sekadar untuk bersenang-senang.

Saat mereka akan memasuki gerbang, Dai Mubai mendekat ke Weisi dengan suara yang rendah, wajahnya penuh dengan kekhawatiran. "Kakak kedua, Ibu baru saja memberi tahu aku bahwa dia ingin mencocokkan aku dengan Zhu Yuexin. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapinya—apakah kamu punya ide yang bisa membantuku?"

Mendengar itu, wajah Weisi sedikit berkedut dan ekspresinya menjadi lebih dingin dari biasanya. Dia sangat menyukai Yuexin dan melihatnya sebagai seseorang yang layak mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Untuk Weisi, Mubai yang masih sering bertingkah seperti anak kecil belum pantas untuk Yuexin.

Pangeran Ketiga Dai Yunxiao yang berdiri tidak jauh dari mereka tidak bisa menahan senyum menyeringai saat mendengar pembicaraan mereka. Dia memang tahu rahasia yang belum banyak orang ketahui tentang perasaan Weisi terhadap Yuexin.

"Sungguh menyedihkan melihatmu seperti ini, Kakak Keempat," ucap Yunxiao dengan suara rendah sambil mendekat ke telinga Mubai, ekspresi wajahnya penuh dengan godaan. "Pernahkah kau berpikir bahwa kakak kedua kita yang selalu tampak baik hati dan sabar itu juga memiliki perasaan khusus terhadap Zhu Yuexin?"

Ekspresi Mubai tiba-tiba membeku, matanya membesar dengan tidak percaya. Dia menoleh ke arah Weisi yang sudah berjalan beberapa langkah ke depan, wajahnya penuh dengan kebingungan. "Di antara mereka... bagaimana mungkin? Kakak kedua selalu memperlakukan semua orang dengan baik—aku pikir itu hanya rasa perhatian semata."

Yunxiao hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Di dunia ini, tidak ada yang mustahil, Kakak Keempat. Kadang-kadang orang yang paling dekat dengan kita justru menjadi orang yang paling sulit kita pahami perasaannya."

Sementara itu, Weisi yang merasa bahwa kedua saudara lelakinya masih berada di belakangnya, berbalik dengan wajah yang dingin dan berkata dengan nada tegas. "Hanya bisa bergantung pada bantuan orang lain! Seperti biasa, kamu tidak bisa menangani sesuatu dengan sendirimu! Pergi sana dan jangan menggangguku!"

Tanpa menghiraukan reaksi Mubai, Weisi mendorongnya dengan cukup keras dan berjalan masuk ke dalam kompleks Rumah Zhu dengan langkah yang mantap. Selisih kekuatan antara mereka memang sangat jauh—Mubai langsung terdorong dan hampir jatuh ke tanah sebelum bisa menyeimbangkan diri kembali.

Wajah Mubai penuh dengan kebingungan dan sedikit kesedihan. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Weisi yang biasanya sabar bisa tiba-tiba menjadi begitu kasar padanya. Namun kata-kata Yunxiao masih bergema di benaknya, membuatnya mulai berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik sikap Weisi yang tampak dingin itu.

1
anggita
👍☝., jos
khalik capricorn
heran krnya seprti copyan. peerbaiki dari bhaasa. jgn dicampur inggris dan indo.
ag noja
🤣 ceritanya kok gak nyabung saya jadi bingung 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!