NovelToon NovelToon
For Justice

For Justice

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Transformasi Hewan Peliharaan
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Michael Jack

Kisah seorang ilmuan gila yang melawan pemerintah dunia yang dzalim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Michael Jack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Aren

Azerion—sang Minotaur raksasa setinggi 60 meter—mendarat di medan perang dengan dentuman yang mengguncang bumi. Tubuhnya yang besar menjulang di antara reruntuhan, matanya memancarkan kemarahan yang dingin.

Tanpa banyak bicara, ia langsung mengayunkan kapak raksasanya.

BOOOM!

Satu ayunan saja cukup untuk menghempaskan pasukan Six Eyes, kultivator Xianying, serta Rey dan para jenderal hingga terpental ke berbagai arah.

Azerion menatap mereka dengan sorot mata penuh kebencian.

“Kalian semua… Organisasi Six Eyes… Kekaisaran Xianying…”

Ia mengangkat kapaknya perlahan.

“Hari ini… kalian harus musnah!”

Rey yang terjatuh segera bangkit sambil menahan rasa sakit.

“Semuanya! Pusatkan serangan ke orang itu!”

Perintah itu langsung dijalankan.

Rudal-rudal meluncur dari kendaraan tempur. Tank dan artileri melepaskan tembakan. Senapan mesin meraung. Energi qi dari para kultivator melesat seperti meteor.

Seluruh serangan berfokus pada satu target.

Minotaur.

Di saat yang sama para jenderal melancarkan teknik mereka.

"TEBASAN KEMATIAN!!!"

"KEKUATAN TRITAN, JURUS PERTAMA, SENGATAN PETIR!!!"

"KEKUATAN KSATRIA EMAS, JURUS PERTAMA, SINAR KEHANCURAN!!!"

"KEKUATAN BERUANG API, JURUS KEEMPAT, LAVA LIAR!!!"

Ledakan demi ledakan mengguncang tubuh Minotaur.

Namun ketika debu menghilang…

Azerion masih berdiri tegak.

Tubuhnya hanya dipenuhi luka-luka kecil yang perlahan menutup kembali.

Ia tertawa keras.

“Hahahaha… Apa hanya segitu kekuatan kalian?”

Vickery membelalakkan mata.

“Regenerasi?! Sama seperti kekuatan Jack?!”

Rio langsung menggeleng.

“Tidak! Milik Tuan Jack membutuhkan waktu untuk pemulihan… tapi monster ini terlalu cepat!”

Minotaur kemudian menghentakkan kakinya.

DUUUM!

Tanah berguncang hebat. Retakan besar menjalar ke segala arah, menghancurkan kendaraan tempur dan menumbangkan mesin perang.

Belum selesai.

Azerion kembali mengayunkan kapaknya.

Angin badai yang tercipta dari ayunan itu menyapu seluruh medan perang, menghamburkan pasukan seperti daun kering.

Lalu ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

“Akan ku akhiri semuanya.”

Ia bersiap mengeksekusi Rey dan yang lainnya.

Namun tiba-tiba—

Langit retak.

Sebuah portal terbuka dengan suara yang melengking.

Dari dalamnya muncul seorang pemuda dengan pedang panjang di tangannya.

“Haaaaa……!”

Pemuda itu meluncur turun dari langit.

BRAK!

Dengan satu tendangan keras, ia menendang kapak Minotaur hingga bergeser.

Kapak itu meleset dari targetnya dan menghantam tanah di samping Rey.

Pemuda itu mendarat dengan santai.

Lalu…

Ia tertawa terbahak-bahak.

“Hahahaha… Hahahahaha… Hahahahaha…”

Minotaur menggeram kesal.

“Hei bocah… kenapa kau tertawa?”

Pemuda itu tersenyum lebar.

“Tentu saja… karena dewa sedang berpihak kepadaku.”

Rey yang masih terbaring menatapnya bingung.

“Si-siapa… kamu?”

Pemuda itu mengangkat tangannya santai.

“Perkenalkan… namaku Ra—”

Ia berhenti sejenak.

Lalu menggeleng.

“Tidak… namaku Aren.”

Aren adalah pemuda berusia 20 tahun dengan tinggi 169 cm. Rambutnya hitam pekat dan wajahnya tampak santai seolah tidak berada di tengah medan perang.

Ia membawa pedang panjang unik yang memiliki kemampuan membuka portal ke mana saja.

Aren tidak memiliki kekuatan tempur besar.

Kekuatan utamanya adalah berpindah tempat melalui portal—atau melalui benda yang telah ia tandai.

Minotaur mendengus.

“Hei bocah. Lebih baik pergi dari sini sebelum aku memusnahkanmu bersama orang-orang ini.”

Aren menutup setengah wajahnya dengan tangan.

“Huft… ternyata di mana pun tempatnya… selalu ada peperangan.”

Minotaur yang sudah murka langsung mengayunkan kapaknya ke arah Aren.

WHOOOSH!

Kapak itu menebas tubuhnya.

Namun…

Tubuh Aren menghilang.

Minotaur terdiam sejenak.

“Dimana dia?”

Ia menoleh ke kiri dan kanan.

Tiba-tiba—

Sebuah pisau melayang ke arah kepalanya.

Minotaur langsung menghindar.

Namun saat pisau itu hampir melewatinya—

Aren tiba-tiba muncul tepat di posisi pisau itu.

“Aku di sini, iblis banteng.”

Ia mengayunkan pedangnya ke leher Minotaur.

CLANG!

Suara logam berdentang keras.

Aren mengangkat alisnya.

“Wow… keras sekali.”

Ia kemudian berteleportasi ke dekat Rey.

“Pinjam pedangmu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil pedang Rey.

“Sekarang dengar. Lempar pisau ke arah yang kuperintahkan.”

Rey mengangguk.

“Baik.”

Aren menunjuk ke arah kepala Minotaur.

“Lempar ke kepalanya!”

Rey melempar pisau.

Saat pisau itu hampir mengenai wajah Minotaur—

Aren langsung berpindah melalui pisau tersebut.

SLASH!

Ia menebas wajah Minotaur lalu kembali menghilang.

“Sekarang ke dadanya!”

Pisau dilempar lagi.

Aren muncul lagi.

SLASH!

Serangan kecil itu terus berulang.

Luka-luka kecil muncul di tubuh Minotaur.

Namun luka itu selalu sembuh kembali.

Meski begitu…

Azerion semakin marah.

Ketika Aren kembali muncul untuk menyerang—

Minotaur yang sudah memahami pola gerakannya langsung bergerak lebih cepat.

BRAAAK!

Satu pukulan telak menghantam tubuh Aren.

Pemuda itu terpental puluhan meter dan menghantam tanah dengan keras.

Tubuhnya tak bergerak.

Ia pingsan.

Minotaur tersenyum dingin.

“Dengan ini… berakhirlah sudah.”

Ia kembali mengangkat kapaknya.

Namun tiba-tiba—

Angin besar bertiup dari langit.

Seekor makhluk raksasa bersayap menyambar turun.

Griffin.

Ia datang bersama Kaisar Xianying yang tubuhnya kini dikendalikan oleh Gorila Api.

Gorila Api menunjuk ke arah Minotaur.

“Hei kau… lama tidak berjumpa.”

Minotaur tertawa keras.

“Hahahaha… Keempat hewan roh tertua berada di sini?”

“Tepat sekali. Sekalian saja aku balas dendam!”

“Cih… coba saja kalau bisa,” jawab Gorila Api.

Minotaur menyandarkan kapaknya di pundaknya.

“Lebih baik kalian menyerah saja. Kalian sedang tidak dalam kondisi baik, bukan?”

Gorila Api memalingkan wajahnya.

“Dengan kondisi seperti ini… sudah cukup untuk mengalahkanmu.”

Ia menoleh ke belakang.

“Hei Naga Emas, Beruang Api… sampai kapan kalian berbaring di sana?”

Tiba-tiba Jihan bangkit.

Namun yang berbicara bukan Jihan.

“Ha-ha-ha… maafkan aku.”

Suara itu milik Naga Emas yang kini mengendalikan tubuhnya.

Di sisi lain Vickery juga bangkit.

“Vickery… beristirahatlah. Aku yang akan mengendalikan tubuhmu.”

Suara itu berasal dari Beruang Api.

Akhirnya empat hewan roh tertua berkumpul di hadapan Minotaur.

Gorila Api.

Naga Emas.

Beruang Api.

Griffin Angin.

Naga Emas tertawa kecil.

“Sayang sekali… Phoenix Ungu tidak ada di sini.”

Griffin mengangguk.

“Ya… sangat disayangkan.”

Minotaur menyeringai.

“Sebentar… kalian ingin mengalahkanku dengan luka-luka itu?”

“Yang benar saja?”

Dan memang benar.

Mereka semua tidak berada dalam kondisi terbaik.

Naga Emas dan Griffin Angin baru saja bertempur melawan pasukan kerajaan Atlantis.

Beruang Api baru saja membangkitkan kekuatannya.

Sementara Gorila Api sudah terlalu tua dan membutuhkan wadah baru untuk kembali ke masa primenya.

Dalam kondisi seperti ini…

Menghadapi Azerion yang telah membangkitkan kekuatan legenda Minotaur hampir mustahil.

Sementara itu jauh dari medan perang…

Di Gunung Toba.

Jack dan Zidan masih menjalani latihan keras bersama seorang kakek misterius.

Tiba-tiba Phoenix Ungu yang berada dalam tubuh Jack merasakan sesuatu.

Keempat saudaranya.

Ia langsung berbicara.

“Jack. Pulanglah sekarang!”

Jack terkejut.

“Kenapa tiba-tiba meminta saya kembali?”

Phoenix Ungu menjawab tegas.

“Kembalilah segera.”

“Lagipula… kau sudah berhasil membangkitkan kekuatan tahap dua Api Phoenix.”

Jack akhirnya mengangguk.

Ia mendatangi gurunya untuk berpamitan.

“Kakek… Jack pamit dulu ya.”

Sang kakek membuka matanya.

“Kenapa buru-buru seperti itu?”

“Iya… karena ada urusan di tempat asal saya.”

Kakek itu berdiri perlahan.

“Begitu ya…”

Ia tersenyum kecil.

“Sayang sekali. Padahal sebentar lagi kau bisa melakukan evolusi tahap akhir dari api Phoenix milikmu.”

Jack tertawa kecil sambil menggaruk kepala.

“Ya mau bagaimana lagi…”

“Baiklah, saya izin pamit dulu ya kek.”

Sang kakek tiba-tiba melepas jubahnya.

“Sebelum pergi… bawalah jubah ini sebagai kenang-kenangan.”

Jack terkejut.

“Ah tidak usah rep—”

“Shut.”

“Pakai saja.”

Akhirnya Jack menerimanya dan mengenakan jubah itu.

Setelah itu ia menemui Zidan.

“Jack… kalau ada kesempatan, kembalilah ke sini.”

“Kakek dan aku akan selalu menunggumu.”

Jack tersenyum.

“Ya… tentu saja.”

Setelah berpamitan dengan kedua penolongnya…

Jack terbang meninggalkan Gunung Toba.

Menuju medan perang.

...***...

..."Pada dasarnya, kita tidak bisa berpaling dari kenyataan."...

..."Yang terlihat kotor bisa jadi suci."...

..."Dan yang suci bisa jadi kotoran."...

..."Begitu juga dengan manusia."...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!