NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Perjamuan di Bawah Bayang-Bayang Kematian

Kegelapan yang menyelimuti kesadaran Genevieve terasa seperti lautan tar yang kental dan dingin. Ia terombang-ambing di dalamnya untuk waktu yang terasa seperti keabadian, ditarik ke dasar oleh beban kelelahan fisiknya yang ekstrem. Tubuh Lady Genevieve yang rapuh telah dipaksa melampaui batas absolutnya. Otot-otot yang selama berbulan-bulan tidak pernah dilatih, tiba-tiba dipaksa melakukan manuver mematikan dengan kecepatan tinggi. Harga yang harus dibayar untuk empat detik dominasi atas pelayan bernama Martha itu sangatlah mahal.

Ketika kesadarannya perlahan merangkak naik ke permukaan, hal pertama yang menyambutnya adalah rasa sakit yang membutakan. Bukan sekadar pegal, melainkan sensasi seolah setiap sendi di tubuhnya telah dilepaskan dari mangkuknya dan dipasang kembali dengan paksa. Genevieve menahan erangan yang hampir lolos dari bibirnya yang kering. Ia membiarkan matanya tertutup rapat selama beberapa menit, hanya berfokus pada ritme napasnya. Udara dingin Kastil Ravenscroft yang masuk ke paru-parunya terasa seperti pecahan es mikroskopis yang menyayat saluran pernapasannya.

Perlahan, kelopak matanya bergetar dan terbuka. Cahaya di dalam kamar telah berubah. Semburat kelabu fajar telah lama menghilang, digantikan oleh bayangan panjang dan pekat dari senja yang merayap turun. Matahari musim dingin di Aethelgard selalu tenggelam lebih cepat, meninggalkan durasi malam yang menyiksa.

Di sudut pandangannya, panel biru semi-transparan dari Sistem kembali berpendar, merespons kebangkitan kesadarannya dengan deretan teks perak yang mengambang diam di udara.

**[Status Fisik Tuan Rumah Diperbarui.]**

**[Kelelahan Otot Ekstrem: Sedang dalam masa pemulihan. Kapasitas gerak dibatasi hingga 40%.]**

**[Asupan Racun Silvershade: Terhenti. Akumulasi racun di dalam darah perlahan stabil. Tidak ada kerusakan organ baru yang terdeteksi dalam 12 jam terakhir.]**

**[Waktu Bertahan Hidup Diperbarui: 72 Jam (Berkat terhentinya asupan racun aktif). Peringatan: Tuan Rumah masih membutuhkan asupan nutrisi makro untuk mengembalikan fungsi sel.]**

Genevieve membaca deretan huruf itu dengan tatapan datar. Tujuh puluh dua jam. Tiga hari. Ia telah berhasil mencabut tali tiang gantungan yang menjerat lehernya pagi tadi, memberikannya ruang untuk bernapas dan merencanakan serangan balik. Namun, peringatan tentang nutrisi itu sangat nyata. Perutnya melilit hebat, mengeluarkan bunyi gemuruh pelan yang terasa menyakitkan hingga ke tulang rusuknya. Rasa lapar ini lebih ganas dari sebelumnya, seolah tubuhnya sedang memakan ototnya sendiri untuk bertahan hidup.

Ia menolehkan kepalanya sedikit ke arah lantai batu di samping ranjang. Di sana, noda darah Martha yang telah mengering membentuk bercak kehitaman yang kontras dengan warna batu abu-abu. Bukti bisu dari kontrak berdarah yang ia paksakan pagi tadi.

Suara langkah kaki tiba-tiba memecah kesunyian lorong di luar kamarnya.

Insting Genevieve seketika mengambil alih. Ia menekan rasa sakit di punggungnya dan memaksakan diri untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal yang keras. Ia menarik selimutnya sebatas pinggang, melipat kedua tangannya dengan anggun di atas pangkuannya, dan mengatur ekspresi wajahnya menjadi topeng pualam yang dingin dan tak terbaca. Ia tidak lagi berpura-pura sekarat. Permainan itu telah usai untuk pelayan pribadinya. Kini, ia adalah sang predator yang sedang menunggu upeti pertamanya.

Gagang pintu besi yang dingin berputar dengan sangat lambat, nyaris tanpa suara derit. Pintu ek raksasa itu terbuka dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah orang di baliknya takut membangunkan monster yang tertidur.

Martha melangkah masuk, dan perbedaan postur pelayan itu dibandingkan pagi tadi sungguh bagaikan bumi dan langit.

Tidak ada lagi dagu yang terangkat angkuh. Tidak ada lagi langkah kaki yang diseret kasar untuk menunjukkan ketidakhormatan. Martha berjalan membungkuk, bahunya melengkung ke dalam seolah ia sedang berusaha membuat dirinya terlihat sekecil mungkin. Sepasang matanya yang dipenuhi bintik-bintik ketakutan terpaku lurus ke lantai batu, sama sekali tidak berani mengangkat pandangannya untuk menatap ke arah ranjang. Napas pelayan itu pendek-pendek dan bergetar, terdengar jelas dalam kesunyian kamar yang mencekam.

Di tangannya, Martha tidak lagi membawa nampan kayu kusam yang nyaris lapuk. Pelayan itu membawa sebuah nampan perak yang telah digosok hingga mengkilap—sebuah nampan yang seharusnya hanya digunakan untuk melayani keluarga Duke. Dan di atas nampan perak itu, terhidang makanan yang seketika membuat seluruh pertahanan fisik Genevieve nyaris runtuh karena godaan aromanya.

Ada semangkuk besar rebusan daging domba yang kental, uap panasnya mengepulkan aroma kaldu tulang yang kaya, rosemary, dan potongan sayuran akar yang dimasak sempurna. Di sampingnya terdapat dua potong roti gandum putih yang masih hangat, kerak luarnya dipanggang dengan mentega yang meleleh menggiurkan. Terdapat pula segelas piala perak berisi air putih yang benar-benar jernih, bukan teh herbal berbau tanah basah.

Genevieve menahan ludahnya yang tiba-tiba menggenang deras. Ia memicingkan matanya, mengunci pandangannya pada tubuh pelayan yang gemetar itu.

"Tutup pintunya, Martha," perintah Genevieve. Suaranya tidak keras, hanya sebuah intonasi datar yang mengalun pelan, namun efeknya pada pelayan itu sangat instan.

Martha tersentak kecil, bahunya menegang seketika seolah baru saja disabet oleh cambuk tak kasat mata. "B-baik, Nyonya," cicitnya dengan suara parau. Ia segera berbalik, menyeimbangkan nampan berat itu dengan susah payah menggunakan tangan kirinya, sementara ia menggunakan sikunya untuk menutup pintu hingga terdengar bunyi 'klik' yang pelan.

Genevieve memperhatikan tangan kanan Martha yang memegang pinggiran nampan perak itu. Tangan itu kini dibalut dengan perban linen putih tebal yang diikat terburu-buru. Di bagian tengah perban tersebut, tepat di mana ujung mawar hitam dari tusuk kondenya menancap pagi tadi, terdapat sebuah titik merah pekat tempat darah segar masih sedikit merembes keluar. Luka fisik itu tidak seberapa dibandingkan luka psikologis yang kini menggerogoti akal sehat pelayan tersebut.

Martha berjalan tertatih mendekati meja nakas, tubuhnya sedikit gemetar saat ia memindahkan mangkuk panas dan piring roti itu ke atas meja kayu di samping ranjang majikannya.

"M-makan malam Anda, Nyonya," bisik Martha, matanya masih terpaku pada ujung selimut Genevieve. "Saya... saya menyelinap ke dapur utama saat koki kepala sedang menyiapkan makan malam untuk para penjaga perwira. Tidak ada yang melihat saya mengambil bagian ini."

Genevieve tidak langsung menyentuh makanan itu. Ia membiarkan keheningan menggantung di udara, sengaja membiarkan ketegangan mencekik leher Martha selama beberapa detik yang menyiksa. Ia tahu bahwa rasa lapar bisa membuatnya bertindak gegabah, namun memperlihatkan keputusasaan di depan tawanannya adalah sebuah kesalahan fatal.

Dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, mengabaikan protes dari persendiannya, Genevieve mengulurkan tangan kirinya dan mengambil sendok perak yang disediakan. Ia menyendok kuah kaldu daging domba itu, meniupnya pelan hingga uap panasnya menipis, lalu membawanya ke bibirnya.

Rasa gurih dari kaldu daging, manisnya sari wortel, dan kehangatan rempah seketika meledak di dalam mulutnya. Bagi tubuh yang selama berbulan-bulan hanya diisi dengan air cucian beras dan gandum busuk, satu suapan ini terasa seperti air mata surga. Sel-sel di tubuhnya seolah menjerit kegirangan, menyerap setiap kalori yang masuk dengan kerakusan luar biasa. Namun, Genevieve menelan makanan itu tanpa menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya. Ia mengunyah sepotong daging domba yang lembut dengan rahang tertutup rapat, sangat anggun, sangat aristokratik.

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!