Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang kosong
Mobil hitam yang membawa Zayn membelah kegelapan pinggiran kota, sementara di dalam kabin yang kedap suara itu, Zayn hanya menyeringai tipis. Ia tahu persis apa yang akan dilakukan dua tikus itu. Gion terlalu ambisius, dan Baskoro terlalu percaya diri. Kombinasi yang sempurna untuk sebuah kehancuran.
Kantor Pusat Kepolisian – Sektor Pusat
Gion melangkah dengan dada membusung ke dalam ruangan Inspektur Wahyu. Di belakangnya, Tuan Baskoro berjalan dengan tenang, seolah-olah dia adalah pahlawan yang membawa kunci perdamaian dunia.
"Malam, Inspektur," sapa Gion dengan nada yang sangat ramah, hampir terdengar menjilat. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, tapi kami membawa sesuatu yang besar. Sangat besar."
Inspektur Wahyu, seorang pria paruh baya yang sudah bosan dengan drama antar pengusaha, hanya mengangkat alis. "Apa lagi kali ini, Gion? Kalau cuma masalah sengketa lahan, hubungi pengacaraku."
"Bukan, Pak. Ini soal Zayn Malik," potong Baskoro sambil meletakkan sebuah flashdisk perak di atas meja. "Selama ini dia bersembunyi di balik nama besar keluarganya. Di dalam ini, ada semua rute distribusi barang ilegal, catatan logistik, dan transaksi gelap yang dia lakukan selama setahun terakhir."
Mata Inspektur Wahyu langsung menajam. "Anda serius? Menuduh Keluarga Malik itu bukan perkara main-main."
"Saya bertaruh dengan reputasi saya, Inspektur," sahut Gion penuh percaya diri. "Buka saja. Anda akan melihat 'peta harta karun' kriminal milik Zayn."
Inspektur Wahyu menghela napas, lalu memasukkan flashdisk tersebut ke komputernya. Layar monitor besar di ruangan itu menyala. Gion dan Baskoro mendekat, siap menikmati detik-detik kehancuran Zayn.
Klik.
Folder terbuka. Kosong.
"Loh?" Gion mengerutkan kening. "Coba buka folder 'Logistik_Utara', Inspektur."
Wahyu mengklik beberapa kali. "Kosong, Gion. Semuanya kosong. Tidak ada satu pun file di sini."
Wajah Gion mulai memucat. "Nggak mungkin! Saya sendiri yang melihat datanya tadi di penthouse. Saya nggak pernah melepas flashdisk ini dari kantong jas saya!"
"Mungkin ada corrupt? Atau virus?" tanya Baskoro, suaranya mulai terdengar panik.
"Sistem kami punya dekripsi tingkat tinggi, Tuan Baskoro. Jika ada data, pasti terbaca," sahut Inspektur Wahyu dengan nada dingin. Dia menatap kedua pria di depannya dengan tatapan curiga. "Kalian sedang bercanda? Mempermainkan kepolisian?"
"Demi Tuhan, Inspektur! Saya melihatnya!" seru Gion. "Zayn pasti melakukan sesuatu! Tapi tenang... tenang saja. Data bisa hilang, tapi barang bukti fisik tidak mungkin hilang dalam sekejap."
Gion meraih ponselnya, tangannya sedikit gemetar. "Gudang sektor Utara. Saya tahu lokasinya. Ribuan peti barang titipan ada di sana. Kalau datanya nggak ada, kita tangkap dia basah-basah dengan barangnya. Ayo, Inspektur! Kita ke sana sekarang sebelum dia sempat memindahkannya!"
Lima mobil polisi dengan sirine yang dimatikan mengepung gudang besar di pinggiran kota itu. Gion turun dari mobil dengan wajah penuh dendam.
"Pintu itu, Inspektur! Dobrak saja!" perintah Gion seolah dia adalah komandannya.
"Minggir, Gion. Ini tugas kami," ketus Inspektur Wahyu.
BRAK!
Pintu besi besar itu didobrak paksa. Puluhan polisi masuk dengan senjata lengkap, siap melakukan penggerebekan terbesar tahun ini. Gion dan Baskoro mengikuti dari belakang dengan senyum yang mulai merekah kembali.
Namun, begitu lampu gudang dinyalakan...
Sunyi.
Udara di dalam gudang itu terasa segar, jauh dari bau oli atau bahan kimia yang Zayn hirup beberapa jam lalu. Lantainya mengkilap, seolah-olah baru saja dipoles. Tidak ada satu pun peti kayu. Tidak ada kabel optik yang menjuntai. Bahkan debu pun sepertinya enggan tinggal di sana.
"Mana barangnya?" tanya Inspektur Wahyu sambil menoleh perlahan ke arah Gion.
Gion berlari ke tengah ruangan, matanya liar mencari-cari. "Di sini! Tadi di sini penuh dengan peti! Dimas, anak buah Zayn, ada di sini! Meja kontrolnya... mana meja kontrolnya?!"
Ruangan kontrol di sudut gudang itu kini hanya menyisakan ruangan kosong dengan dinding yang baru dicat putih. Tidak ada komputer, tidak ada monitor merah yang berkedip.
"Gion," panggil Inspektur Wahyu, suaranya rendah dan berbahaya. "Kamu tahu jam berapa sekarang? Jam satu pagi. Dan kamu membawa saya bersama dua tim personel untuk melihat gudang kosong yang bahkan lebih bersih dari ruang tamu saya?"
"Inspektur, ini jebakan! Zayn pasti sudah tahu!" teriak Gion frustrasi. Dia menendang dinding gudang dengan keras. "Dia licik! Dia memindahkan semuanya!"
"Atau mungkin," Baskoro mencoba menenangkan diri, meski keringat dingin membasahi dahinya, "Dia memang sudah mencium rencana kita."
Inspektur Wahyu melangkah maju, berdiri tepat di depan hidung Gion. "Dengar ya, anak muda. Melaporkan kejahatan itu bagus. Tapi membuat laporan palsu dan membuang-buang waktu kepolisian adalah tindak pidana. Pekerjaan saya bukan untuk melayani halusinasi atau dendam pribadi kalian."
"Tapi saya punya saksi!" bela Gion.
"Simpan saksimu untuk pengacaramu nanti," potong Wahyu. "Ayo semua, balik ke markas. Dan kalian berdua... jangan pernah berani menelepon saya lagi tanpa bukti yang benar-benar nyata. Dasar amatiran."
Para polisi membubarkan diri dengan gerutuan kesal. Gion terduduk di lantai gudang yang dingin, sementara Baskoro hanya bisa mematung menatap kekosongan di depannya.
Di lantai dua sebuah kafe kontainer yang menghadap langsung ke arah gudang, Zayn duduk dengan santai. Di depannya terdapat sebuah laptop yang menampilkan rekaman CCTV dari dalam gudang—hasil dari kamera tersembunyi yang tidak ikut dibersihkan.
Di sampingnya, Dimas sedang menyesap kopi hitamnya sambil terkekeh melihat wajah frustrasi Gion di layar.
"Tuan, wajah Gion mirip sekali dengan orang yang baru saja kehilangan taruhan judi seluruh hartanya," ujar Dimas geli.
Zayn menyesap teh hangatnya, matanya tetap tenang namun tajam. "Dia pikir meretas sistemku itu mudah? Dia lupa siapa yang mendesain sistem itu. Aku membiarkan mereka masuk, memberinya 'makan' sedikit data sampah, lalu menyetel perintah self-destruct pada flashdisk itu begitu dicolokkan ke perangkat asing."
Zayn menutup laptopnya perlahan. "Mereka bermain dengan api di rumah seorang naga, Dimas. Itu kesalahan fatal."
"Jadi, apa langkah selanjutnya? Kita biarkan mereka pulang?" tanya Dimas.
Zayn bangkit dari kursinya, merapikan jas hitamnya yang sempurna tanpa cela. "Biarkan mereka pulang dengan rasa malu. Itu luka yang lebih perih bagi orang sombong seperti mereka. Tapi pastikan tim bayangan tetap menempel. Aku ingin tahu siapa polisi yang sempat bicara akrab dengan Baskoro tadi."
Zayn melangkah menuju tangga, namun langkahnya terhenti sejenak. Ia teringat pesan singkat dari Laila.
"Dimas, urus sisanya. Aku mau pulang," ucap Zayn dengan nada yang jauh lebih lembut.
"Pulang? Tapi kita masih harus ke markas aman, Tuan."
Zayn tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat oleh anak buahnya. "Tikus-tikus itu sudah terjebak di lubangnya sendiri malam ini. Rumahku adalah tempat paling aman sekarang, karena ada sesuatu yang harus aku jaga secara langsung."