NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Kesunyian Setelah Keriuhan

Lampu di ruang makan mulai diredupkan satu per satu. Suasana yang tadinya penuh tawa dan sorakan "cieee" kini perlahan berganti dengan keheningan malam yang menenangkan. Sesuai janjinya, Damian berdiri di depan wastafel dapur yang kecil, memandangi tumpukan piring kotor yang menggunung.

Jika staf di kediaman Nicholas melihat pemandangan ini, mereka mungkin akan pingsan seketika. Sang tuan muda, yang tangannya hanya terbiasa memegang pena berlapis emas dan kemudi mobil sport, kini tengah berjibaku dengan spons dan busa sabun.

Damian mulai mencuci piring satu per satu dengan ketelitian yang sama seperti saat ia memeriksa laporan keuangan perusahaan. Ia tidak terburu-buru. Ada sesuatu yang meditatif dari suara gemericik air dan gesekan spons di tangannya. Ia menikmati kesendirian ini, sambil sesekali telinganya menangkap sayup-sayup suara Selene dari arah kamar anak-anak.

Di lantai atas, Selene sibuk menyelimuti anak-anak satu per satu. Ia mencium kening Mia dan membisikkan doa tidur untuk Rio yang masih mencoba bercerita tentang "Pangeran Penjual Ikan"—julukan baru mereka untuk Damian.

"Sudah, tidur sekarang. Besok kalian bisa bermain lagi dengan Kak Damian," bisik Selene lembut.

Setelah memastikan napas anak-anak mulai teratur dan tenang, Selene keluar dari kamar dengan langkah berjinjit. Ia berjalan menuju dapur, bermaksud membantu Damian yang ia pikir pasti sedang kesulitan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu dapur.

Ia terdiam melihat punggung lebar Damian. Pria itu tampak begitu fokus. Cahaya lampu dapur yang temaram membuat siluet tubuhnya terlihat sangat kokoh namun hangat. Ada pemandangan yang menyentuh hati Selene; bagaimana seorang pria yang mengaku sebagai asisten keluarga kaya, mau mengerjakan pekerjaan kasar seperti ini di tempat kumuh tanpa mengeluh sedikit pun.

"Kau... ternyata benar-benar tahu cara memakai sabun cuci piring," suara Selene memecah kesunyian, membuat Damian menoleh sedikit.

Damian tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari piring terakhir yang ia bilas. "Jangan meremehkan kemampuan adaptasiku, Selene. Aku belajar dengan cepat."

Damian mematikan keran air, mengeringkan tangannya dengan kain lap, lalu berbalik menghadap Selene. Keadaan dapur yang sepi membuat suasana di antara mereka mendadak terasa lebih intim daripada saat makan malam tadi.

"Semuanya sudah tidur?" tanya Damian pelan.

"Sudah. Mereka sangat lelah karena terlalu bersemangat memujimu tadi," sahut Selene sambil berjalan mendekat, bersandar pada meja dapur di samping Damian.

Damian menatap Selene, matanya menyusuri wajah gadis itu yang tampak sedikit lelah namun tetap cantik di bawah lampu kuning yang redup. "Terima kasih, Selene."

"Untuk apa?"

"Untuk mengizinkanku tinggal. Untuk masakan tadi. Dan... untuk tidak menjentik dahiku lagi di depan anak-anak," ucap Damian dengan nada bercanda yang rendah, membuat Selene tertawa kecil.

"Tadi itu kecelakaan," bela Selene sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan senyumnya.

Damian melangkah satu tindak lebih dekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma cokelat dari Selene kembali menyapa indra penciumannya, memicu sisi posesif yang sejak tadi ia tekan. "Malam ini sangat indah, Selene. Tapi aku punya perasaan bahwa kedamaian ini tidak akan bertahan lama."

Selene segera mengangkat telunjuknya, menempelkannya tepat di depan bibir Damian sebelum pria itu sempat melanjutkan kalimat puitisnya yang mulai terasa berbahaya bagi kesehatan jantung Selene.

"Cukup, Damian. Simpan kata-kata manis itu untuk besok pagi," potong Selene sambil menarik napas panjang, mencoba menetralkan suasana yang mendadak terasa terlalu intim.

Damian terdiam, menatap telunjuk kecil Selene yang hampir menyentuh bibirnya. Ia merasa tertantang, namun juga merasa terhibur dengan cara gadis ini selalu berhasil memutus kendalinya.

Selene menarik tangannya kembali dan berdehem canggung. "Kamarmu sudah siap. Ada di lantai atas, tepat di sebelah kamarku. Itu kamar tamu paling layak yang kami punya, meskipun... ya, kau tahu sendiri standarnya seperti apa."

Damian mengangkat sebelah alisnya. "Tepat di sebelah kamarmu?"

"Jangan berpikir macam-macam," sahut Selene cepat dengan tatapan memperingatkan. "Itu supaya aku bisa mendengarmu kalau kau tiba-tiba berteriak karena melihat kecoa atau merasa tidak nyaman. Kau bisa bersih-bersih di sana, ada kamar mandi kecil di ujung lorong."

Selene mulai berjalan menuju tangga, memberi isyarat agar Damian mengikutinya. "Tidurlah dengan nyenyak. Kalau kau merasa bantalnya terlalu keras atau kurang nyaman, katakan saja padaku. Aku akan carikan bantal tambahan dari lemari stok."

Damian mengikuti langkah Selene dari belakang, memperhatikan bagaimana bayangan gadis itu jatuh di dinding kayu panti yang tua. Mengetahui bahwa ia akan tidur hanya berbataskan satu dinding dengan Selene membuat pikiran Damian sulit untuk diajak berkompromi.

"Aku tidak butuh bantal tambahan, Selene," gumam Damian pelan saat mereka sampai di depan pintu kamarnya.

Selene berhenti dan berbalik. "Yakin? Kasur itu sudah cukup tua, mungkin per-nya sedikit terasa."

Damian menatap pintu kamar Selene yang tertutup, lalu kembali menatap mata gadis di depannya. "Aku hanya butuh tahu bahwa kau ada di sebelah sana. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku tidur nyenyak."

Selene tertegun sejenak, namun kali ini ia tidak membalas dengan jentikan dahi. Ia hanya memberikan senyum tipis yang tulus. "Selamat malam, Damian. Jangan lupa matikan lampunya."

"Selamat malam, Selene," jawab Damian dengan suara berat yang penuh kasih.

Begitu Selene masuk ke kamarnya dan menutup pintu, Damian masih berdiri di lorong selama beberapa detik. Ia menyentuh dinding kayu yang memisahkan mereka. Di sisi ini, ia adalah Damian, sang asisten yang jatuh cinta. Namun di balik saku kemejanya, ponselnya kembali bergetar—sebuah notifikasi dari tim hukum Nicholas Group mengenai progres akuisisi lahan panti ini.

Damian mematikan ponselnya dengan kasar. Malam ini, ia tidak ingin menjadi penghancur. Ia hanya ingin menjadi pria di kamar sebelah yang merindukan aroma cokelat dari gadis di baliknya.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!