Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Rahasia Folder "Untuk D"
Malam di Surabaya tidak pernah benar-benar dingin. Suara desau AC apartemen beradu dengan gemuruh samar kendaraan di Jalan Raya Gubeng. Dimas sedang di luar, menemui editornya di sebuah kedai kopi tak jauh dari sini. Ia meninggalkan laptopnya dalam keadaan sleep di meja kerja.
Dinara, yang baru saja selesai mencuci beberapa alat makan, melangkah mendekati meja itu untuk mengambil pengisi daya ponselnya. Tak sengaja, jemarinya menyenggol trackpad laptop Dimas. Layar menyala, menampakkan tampilan desktop yang rapi. Biasanya, Dinara tidak akan menyentuh privasi suaminya, namun sebuah folder di shortcut layar utama menarik perhatiannya.
Nama foldernya sederhana: Untuk D.
Awalnya, Dinara mengira itu adalah draf novel misteri terbaru Dimas. Seringkali, suaminya memang menggunakan inisial nama tokoh sebagai nama folder. Dengan perasaan penasaran yang membuncah, ia mengkliknya dua kali. Folder itu tidak berisi dokumen teknis atau kerangka plot cerita. Di dalamnya, berderet puluhan file word dengan penamaan tanggal yang berurutan sejak hari pertama mereka resmi pindah ke Surabaya.
Dinara membuka file paling atas. Tanggalnya tepat satu hari setelah mereka pindah dari Blitar.
“Hari pertama di Surabaya. Rumah ini terasa luas, tapi lebih luas lagi jarak di antara aku dan Dinara. Aku melihatnya menata buku-buku hukumnya dengan telaten. Dia tidak tahu, aku menghabiskan waktu dua jam hanya untuk menatapnya dari balik layar, memikirkan bagaimana cara agar dia bisa merasa aman, bukan sekadar merasa menjadi istri yang harus melayani menantu perfeksionis di Blitar.”
Napas Dinara tertahan. Ia beralih ke file lain, secara acak ia membuka dokumen bertanggal bulan lalu.
“Dia menangis lagi di kamar mandi. Aku tahu dia tidak sedang mandi. Aku hanya bisa berdiri di balik pintu, membawa cokelat hangat yang mungkin tidak akan bisa memperbaiki hari-harinya yang berat. Ya Allah, buat apa aku menulis cerita fiksi jika kisah nyataku sendiri tidak bisa kuseimbangkan? Aku hanya ingin dia tahu, dia tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai. Dia cukup menjadi Dinara yang sesungguhnya.”
Dinara merasa matanya memanas. Ia terus menelusuri folder itu. Tidak ada draf novel, tidak ada rencana pemasaran buku. Yang ada hanyalah jurnal perasaan seorang Dimas yang selama ini ia kira selalu santai, selalu jahil, dan selalu punya jawaban kocak untuk setiap masalah.
Ternyata, selama ini Dimas tidak hanya sekadar melawak untuk mengalihkan perhatian. Ia menuliskan ketakutannya sendiri, kekagumannya pada keteguhan Dinara, bahkan curahan hatinya mengenai betapa sulitnya menjaga istrinya agar tidak merasa terbebani oleh ekspektasi orang tua.
“Dia mengira aku perokok karena aku stres. Padahal aku hanya ingin menyendiri sejenak agar tidak terlihat lemah di depannya. Saat dia memergokiku di Madiun kemarin, dia tidak marah. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang membuatku sadar: aku tidak perlu lagi bersembunyi. Dia adalah rumah tempatku menanggalkan topeng badutku.”
Dinara tersentak saat mendengar deru mesin SUV milik Dimas di area parkir bawah apartemen. Ia buru-buru menutup folder itu dan mematikan layar laptop tepat sebelum pintu apartemen terbuka.
"Assalamualaikum," suara Dimas terdengar, disusul bunyi kunci yang diputar.
"Waalaikumsalam," jawab Dinara pelan. Ia berdiri di dekat meja, mencoba menetralkan detak jantungnya.
Dimas masuk, melepas jaketnya dan melemparnya ke sofa. Ia tampak lelah namun tersenyum saat melihat istrinya. "Lho, Dek? Kok belum tidur? Mas kira sudah masuk kamar."
"Nggih, tadi habis beres-beres dapur," jawab Dinara, suaranya sedikit bergetar.
Dimas menyadari ada yang berbeda. Ia mendekat, menatap Dinara dengan saksama. "Kamu kenapa? Habis nangis? Opo sing mbok pikirno (Apa yang kamu pikirkan)?"
Dinara menatap suaminya. Pria yang selama ini ia kira hanya menganggap pernikahan ini sebagai sebuah tanggung jawab logis, ternyata menyimpan dunia perasaan yang begitu dalam. Dinara menghampiri Dimas, menatapnya tanpa hijab yang biasa membatasi ruang privasi mereka.
"Mas..."
"Ya, Sayang? Cerita saja, ada apa?" Dimas menyentuh pipi Dinara lembut.
"Aku buka laptop Mas tadi. Maaf, aku nggak sengaja..."
Dimas membeku sesaat. Senyum jahilnya hilang, digantikan ekspresi bingung yang kemudian melunak. Ia tidak marah. Ia justru menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Oh. Jadi, sudah ketemu 'novel' misteri Mas yang paling membosankan itu?"
Dinara tidak menjawab, ia justru menenggelamkan wajahnya di dada Dimas. Air matanya tak lagi bisa ditahan. "Kenapa Mas nggak pernah bilang kalau Mas... kalau Mas mikirin aku sebegitunya?"
Dimas memeluk erat, mengelus rambut istrinya. "Karena kalau Mas bilang langsung, pasti kamu bakal bilang Mas gombal. Padahal, itu satu-satunya cara Mas buat tetap waras selama kita di Blitar. Menulis itu terapi, Dek. Dan kamu adalah subjek paling indah yang pernah Mas tulis."
Dimas melepaskan pelukan, menangkup wajah Dinara agar menatap matanya. "Mas ini penulis, Dek. Mas bisa membuat seribu skenario di atas kertas, tapi cuma di depanmu Mas bisa jadi diri sendiri tanpa perlu skenario apa-apa."
"Mas pikir aku bakal merasa terbebani?" tanya Dinara, matanya yang basah menatap lurus ke mata Dimas.
"Awalnya ya. Makanya Mas simpan di folder tersembunyi. Mas pikir, kalau kamu tahu, kamu bakal ngerasa harus 'membalas' perasaan itu. Padahal, Mas nggak butuh balasan. Mas cuma butuh kamu tetap ada di samping Mas, berantem soal kunci motor, atau sibuk sama buku hukummu sampai lupa Mas sudah masak mi instan."
Dinara tertawa di sela isakannya. "Mas memang aneh."
"Memang. Tapi anehnya kan cuma buat kamu," Dimas mencium dahi istrinya lama. "Besok-besok, kalau Mas sudah sukses nulis buku itu, jangan kaget kalau judulnya bukan 'Cara Menjadi Suami Sempurna', tapi mungkin 'Catatan untuk D yang Membuatku Lupa Cara Mengarang'. Gimana?"
Dinara memukul pelan bahu Dimas. "Terserah Mas saja."
"Sudah, jangan nangis lagi. Mripatmu dadi abang ngono (Matamu jadi merah begitu), nanti dikira Mas habis bikin kamu sedih. Padahal Mas kan cuma bikin kamu terharu, ya kan?" Dimas kembali ke mode jahilnya, mencoba mencairkan suasana.
"Mas itu ya, tetap saja ya, nggak bisa romantis dikit," Dinara berbalik, mencoba menyembunyikan senyumnya.
Dimas mengikuti langkah istrinya menuju dapur, membiarkan laptopnya tetap terbuka di atas meja dengan file Untuk D yang masih tersimpan rapi di dalamnya. Malam itu, di apartemen kecil di Surabaya, mereka belajar bahwa rahasia dalam sebuah hubungan tidak selalu berbentuk pengkhianatan. Terkadang, rahasia adalah bentuk perlindungan, dan kejujuran adalah cara terbaik untuk melangkah ke babak selanjutnya.
"Besok," kata Dimas sambil menuangkan air ke gelas untuk Dinara, "Kita belanja yang beneran, ya. Mas mau masak sesuatu yang lebih baik dari mi instan buat merayakan 'penulis yang ketahuan isi hatinya' ini."
"Janji ya?"
"Janji. Sumpah, demi buku hukummu yang setebal kamus itu."
Dinara tersenyum. Malam itu, folder Untuk D tidak lagi menjadi rahasia yang membebani. Ia menjadi jembatan bagi mereka untuk lebih jujur, lebih terbuka, dan tentu saja, lebih siap menghadapi esok hari sebagai pasangan yang bukan lagi dua orang asing yang dipaksa bersama, melainkan dua orang yang memilih untuk saling menuliskan cerita.