sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PENYIHIR DI HUTAN BARAT
Kabut itu tidak seperti kabut biasa.
Ia hidup—bergerak, bernapas, berbisik. Setiap langkah yang mereka ambil di Hutan Barat seolah diawasi oleh ribuan mata tak terlihat. Pepohonan menjulang tinggi di atas mereka, cabang-cabangnya saling bertaut membentuk kanopi rapat yang hampir tidak meneruskan cahaya matahari. Yang tersisa hanya remang-remang hijau—cahaya aneh yang membuat kulit terasa dingin meskipun tidak ada angin.
Ren menggigil di pelukan Sera. Bukan karena takut—anak itu sudah terbiasa dengan hal-hal aneh—tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang hanya ia rasakan.
"Om," bisiknya, "mereka mengawasi kita."
Aldric menajamkan pandangan. Di balik kabut, samar-samar, ia melihat bayangan-bayangan. Mereka bergerak cepat—menghilang saat ia mencoba fokus, muncul kembali di sudut mata. Makhluk-makhluk ramping dengan tubuh hampir transparan, seperti terbuat dari kabut itu sendiri.
"Penjaga hutan," gumamnya, mengingat kata-kata Nenek Greta.
Elara merapat ke sisinya. "Mereka akan menyerang?"
"Tidak tahu. Tapi kita harus tetap waspada."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Kuda-kuda yang diberikan Nenek Greta mulai gelisah—telinga mereka berkedut, napas mereka tersengal. Hewan-hewan ini bisa merasakan apa yang tidak bisa dilihat manusia.
Setelah berjalan sekitar satu jam, kabut semakin tebal. Hingga tiba-tiba—
Hentakan kaki.
Ratusan hentakan kaki, dari segala arah.
Bayangan-bayangan itu keluar dari kabut, mengelilingi mereka dalam hitungan detik. Makhluk-makhluk itu—tinggi kurus, kulit keabu-abuan, mata putih tanpa pupil—berdiri melingkar, tidak bergerak, hanya menatap.
Penjaga hutan.
Dan di tengah mereka, sesosok wanita muncul. Ia berbeda—lebih tinggi, lebih anggun, dengan rambut putih panjang tergerai dan mahkota dari dahan-dahan kering di kepalanya. Matanya—emas bersinar—menatap Aldric dengan intensitas yang membuat bulu kuduk merinding.
"Manusia," suaranya seperti angin berdesir. "Sudah lama tidak ada yang berani masuk ke wilayahku."
Aldric turun dari kuda, berdiri di depan yang lain. Tubuhnya siap—tidak agresif, tapi waspada.
"Aku Aldric Veynheart. Aku mencari Master Elian."
Sebutan itu membuat makhluk-makhluk di sekitarnya berbisik. Ratu mereka—karena ia jelas pemimpinnya—mengangkat alis.
"Veynheart?" Ia mendekat, mengamati Aldric dari dekat. Matanya yang emas menangkap semburat merah di mata Aldric. "Setengah iblis. Menarik. Dan kau mencari manusia tua itu?"
"Aku butuh bantuannya."
"Banyak yang butuh bantuannya. Tapi sedikit yang bisa melewati kami." Ratu itu tersenyum—senyum misterius, tidak bisa ditebak. "Katakan, apa yang kau tawarkan sebagai imbalan?"
Aldric terdiam. Ia tidak punya apa-apa—tidak ada emas, tidak ada harta, tidak ada kekuatan yang bisa ia tawarkan pada makhluk-makhluk ini.
Elara maju selangkah. "Kami tidak punya harta. Tapi kami punya cerita. Cerita tentang perang, tentang pengkhianatan, tentang iblis-iblis yang bangkit. Mungkin itu bisa menjadi hiburan bagi kalian?"
Ratu itu menatap Elara dengan rasa ingin tahu. Lalu ia tertawa—tawa yang membuat kabut bergetar.
"Wanita ini cerdas. Aku suka." Ia mengangguk. "Baik. Ceritakan perjalananmu. Jika ceritamu cukup menarik, aku akan mengantarmu ke pondok manusia tua itu."
Mereka duduk di akar pohon raksasa yang membentuk lingkaran alami. Para penjaga hutan duduk di sekeliling mereka, diam seperti patung, tapi telinga mereka—telinga panjang dan runcing—bergerak-gerak, menangkap setiap kata.
Aldric bercerita lagi. Tentang kudeta, tentang kematian keluarganya, tentang jurang, tentang Varyn, tentang pertempuran di gunung, tentang Kael. Kali ini, ia bercerita dengan lebih banyak detail—nama-nama, tanggal, perasaan.
Ketika ia sampai pada bagian tentang Liana—adiknya yang berusia enam tahun, yang mati dengan boneka kelinci di sampingnya—Ratu hutan mengangkat tangan.
"Cukup."
Aldric berhenti.
Ratu itu menatapnya dengan mata emas yang—untuk pertama kalinya—tampak basah.
"Aku tahu rasanya kehilangan adik," katanya lirih. "Aku juga mengalaminya. Ribuan tahun lalu."
Ia bangkit, memberi isyarat pada para penjaga untuk membuka jalan.
"Ikut. Aku akan mengantarmu."
Perjalanan ke pondok Master Elian memakan waktu satu jam lagi, tapi kalianya dengan pemandu. Para penjaga hutan membuka jalan melewati kabut, melewati semak-semak yang tadinya tampak tidak bisa dilewati.
Pondok itu—jika bisa disebut pondok—adalah sebuah rumah pohon raksasa yang tumbuh menyatu dengan batang pohon tertua yang pernah Aldric lihat. Akar-akarnya menjulur ke segala arah, membentuk tangga dan balkon alami. Di dinding-dindingnya, ukiran-ukiran kuno bersinar samar—simbol-simbol yang sama dengan yang ada di Kuil Penjaga.
"Di sini tempatnya," kata Ratu hutan. "Aku akan menunggumu di luar."
Aldric mengetuk pintu kayu—pintu yang terbuat dari sepotong kayu utuh, tanpa sambungan.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
Pintu terbuka sedikit. Sepasang mata—tua, sangat tua—mengintip dari baliknya.
"Pergi. Aku tidak menerima tamu."
"Kami butuh bantuanmu, Master Elian."
"Aku tidak peduli."
Pintu hendak ditutup, tapi Elara cepat berkata, "Ini tentang Four Horsemen of Abyss. Tentang Kael the Destroyer."
Pintu berhenti.
Hening.
Lalu pintu terbuka lebar.
Master Elian lebih tua dari yang Aldric bayangkan.
Rambutnya putih panjang hingga pinggang, jenggotnya hampir menyentuh lantai, dan kulitnya—keriput sedemikian rupa sehingga sulit membedakan mana wajah mana leher. Tapi matanya... matanya hitam pekat, seperti dua lubang yang menghadap ke kehampaan. Dan di dalam kehampaan itu, bintang-bintang berkelap-kelip.
"Masuk," katanya, suaranya seperti gempa jauh.
Mereka masuk ke pondok yang lebih luas dari luar. Dinding-dindingnya dipenuhi buku—ribuan buku, mungkin puluhan ribu—menumpuk dari lantai hingga langit-langit. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dengan bola kristal besar, isinya berputar-putar seperti kabut hidup.
"Duduk."
Mereka duduk di kursi-kursi kayu yang tidak sama tingginya. Ren duduk di pangkuan Sera, matanya terpaku pada bola kristal.
Master Elian duduk di seberang mereka, menatap satu per satu.
"Aldric Veynheart, putra Aldous, cucu Varian. Setengah iblis, murid Varyn the Silent." Matanya bergerak ke Elara. "Elara Ashford, istri yang setia, korban intrik." Ke Sera. "Sera, ibu pejuang, saksi kekejaman dunia bawah." Ke Ren. "Dan kau... kau yang paling menarik."
Ren mengintip dari balik ibunya.
"Aku?" bisiknya.
Master Elian tersenyum—senyum yang membuat keriputnya bertambah seribu. "Kau, anak kecil, adalah jembatan. Bukan hanya ke Varyn, tapi ke banyak hal. Aura-mu unik. Langka."
"Apa maksudmu?" tanya Sera cemas.
"Nanti. Sekarang—" Master Elian menatap Aldric, "—ceritakan tentang Kael."
Aldric bercerita singkat tentang pertemuan di gunung, tentang kekuatan Kael, tentang topeng hitamnya, tentang cara ia mundur.
Master Elian mendengarkan dengan mata terpejam. Ketika Aldric selesai, ia membuka mata—dan untuk sesaat, bintang-bintang di dalamnya berputar kencang.
"Kael adalah yang terkuat di antara Empat Penunggang," katanya. "Tapi ia juga yang paling terikat aturan. Ia tidak bisa membunuh secara langsung—ia harus menggunakan perantara. Shadow Council adalah tangannya."
"Lalu bagaimana cara mengalahkannya?"
"Kau tidak bisa mengalahkannya sendirian." Master Elian menatap Aldric. "Bahkan dengan kekuatan iblismu, kau hanya bisa membuatnya mundur. Untuk mengalahkannya, kau butuh tiga hal."
"Apa saja?"
Pertama—Master Elian mengangkat satu jari—kau butuh senjata yang bisa membunuh iblis. Senjata itu ada, tapi tersembunyi. Namanya Soulrender—pedang yang ditempa dari tulang iblis pertama."
"Di mana?"
"Di kuil bawah tanah, di bawah istana Veynheart sendiri."
Aldric terkejut. "Istana? Tapi—"
"Ya. Di bawah istana yang sekarang diduduki Darius. Kau harus kembali ke sana."
Kedua—jari kedua—kau butuh sekutu. Bukan manusia, tapi iblis lain. Varyn bisa membantu, tapi ia terperangkap. Kau harus membebaskannya dulu."
"Janjiku padanya."
Ketiga—jari ketiga—kau butuh pengorbanan."
"Pengorbanan apa?"
Master Elian menatap Elara.
Elara menegang. "Aku?"
"Bukan kau. Tapi sesuatu yang sangat kau cintai." Ia menatap Aldric. "Untuk membunuh iblis, kau harus merelakan sesuatu yang sama berharganya dengan hidupmu. Itu harga yang tidak bisa ditawar."
Aldric diam. Di dalam hatinya, iblis berbisik: Jangan dengar dia. Kita bisa menang tanpanya.
Tapi manusia di dalamnya bertanya: Apa yang lebih berharga dari hidupku?
"Apa itu?" tanyanya.
Master Elian menggeleng. "Aku tidak tahu. Itu tergantung padamu. Saat waktunya tiba, kau akan tahu. Dan kau harus memilih."
Mereka menghabiskan malam itu di pondok Master Elian. Penyihir tua itu memberi mereka makanan sederhana—roti gandum dan sup herbal—dan tempat tidur dari jerami kering.
Ren tidur lebih awal, kelelahan. Sera menjaganya di samping perapian kecil. Elara dan Aldric duduk di luar pondok, menatap bintang-bintang yang berbeda dari biasanya—di sini, di Hutan Barat, bintang-bintang tampak lebih dekat, lebih terang, seolah bisa disentuh.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Elara.
"Tentang pengorbanan. Tentang apa yang harus kurelakan."
Elara meraih tangannya. "Apa pun itu, aku akan mendukungmu."
"Aku tidak mau kehilanganmu lagi."
"Kau tidak akan kehilangan aku. Aku akan selalu bersamamu."
Aldric menatapnya. Di bawah cahaya bintang, Elara tampak begitu indah—begitu nyata, begitu hidup. Ia adalah satu-satunya yang tersisa dari masa lalunya. Satu-satunya alasan ia masih ingin menjadi manusia.
"Aku mencintaimu," katanya.
Elara tersenyum—senyum yang menghangatkan hatinya yang beku. "Aku juga mencintaimu."
Mereka berpelukan di bawah bintang-bintang, tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi untuk malam ini, mereka bersama. Dan itu cukup.
Di dalam pondok, Master Elian duduk sendirian di depan bola kristalnya. Kabut di dalam bola mulai bergerak, membentuk gambar—gambar yang membuatnya menghela napas.
"Jadi kau sudah bangkit," bisiknya. "Setelah ribuan tahun."
Di dalam bola, sesosok bayangan hitam dengan topeng retak—Kael—tersenyum padanya.
"Aku tahu kau membantu mereka, Elian," suara Kael bergema. "Itu kesalahan besar."
Master Elian meniup lilin, membuat ruangan gelap.
"Biarlah," gumamnya. "Aku sudah terlalu tua untuk takut."
Di luar, angin malam berdesir—membawa bisikan-bisikan peringatan.
Tapi di dalam pondok, empat orang tidur nyenyak, tidak tahu bahwa bahaya baru sudah mengintai di ambang pintu.
Pagi harinya, Master Elian memberi mereka petunjuk menuju kuil bawah tanah di istana. Tapi sebelum mereka pergi, ia memanggil Ren terpisah.
"Anak ini," katanya pada Sera, "punya potensi besar. Ia bisa menjadi senjata—atau korban. Kau harus menjaganya dengan nyawamu."
Sera ketakutan, tapi Ren justru tersenyum.
"Aku tahu, Kakek," katanya. "Varyn sudah bilang."
Perjalanan kembali ke istana dimulai. Tapi kali ini, mereka tidak sendirian. Di bayang-bayang, mata-mata Kael mengikuti setiap langkah mereka. Dan di istana, Darius menyiapkan sambutan khusus untuk "adiknya" yang kembali.
Perang sesungguhnya baru akan dimulai.