Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Bawah Kobaran Api
Kilatan lampu flash kamera wartawan menyambar-nyambar dalam kegelapan malam, sementara di belakang mereka, lidah api mulai menjilat plafon gudang arsip, menciptakan bayangan raksasa yang menakutkan di dinding sekolah. Reina mendekap kotak arsip itu seolah itu adalah nyawanya sendiri, sementara Kenzo berdiri di depannya, pasang badan menghadapi kepungan media.
Halaman Belakang SMA Garuda – Pukul 22.45 WIB
"Reina Calista! Apakah pembakaran ini dilakukan untuk menutupi audit dana?!" teriak salah satu wartawan sambil menyodorkan mikrofon melewati pagar pembatas.
"Kenzo! Apakah kamu yang merencanakan sabotase ini?" sahut yang lain.
Kenzo melirik ke arah Aris yang berdiri mematung di sisi lain. Aris tampak hancur melihat bagaimana ibunya telah merancang skenario ini dengan begitu rapi. Wartawan-wartawan ini bukan datang karena kebetulan; mereka dikirim untuk menangkap "pelaku" tepat saat api menyala.
"Rein, kita nggak bisa lewat depan. Mereka bakal narik kotak ini dan menghancurkannya sebelum kita sempat bicara," bisik Kenzo, suaranya parau terkena asap.
"Tapi lewat mana, Ken? Kita terkepung!" Reina menoleh ke arah gedung yang mulai dipenuhi asap hitam pekat.
Tiba-tiba, suara sirine pemadam kebakaran terdengar di kejauhan. Kenzo melihat sebuah celah. "Lewat atap laboratorium biologi. Kita harus memutar lewat balkon lantai dua dan melompat ke arah asrama belakang."
"Melompat? Ken, kakimu!" seru Reina panik melihat perban di lutut Kenzo yang mulai sedikit kotor.
"Lupakan kakiku! Ayo lari!" Kenzo menarik tangan Reina, memaksa gadis itu menembus kabut asap yang mulai menutupi jalan.
Aksi Kejar-kejaran di Koridor Lantai 2
Mereka berlari menaiki tangga darurat. Di bawah, Sarah berteriak histeris menunjuk-nunjuk ke arah mereka. "MEREKA LARI! JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS!"
Beberapa orang suruhan Ibu Aris yang menyamar mulai mengejar. Langkah sepatu boots mereka berdentum keras di atas ubin koridor yang sunyi. Kenzo mendorong sebuah lemari besi tua di lantai dua untuk menghalangi jalan, memberikan mereka waktu beberapa detik.
"Lewat sini!" Kenzo membuka pintu menuju balkon luar yang menghadap ke area hutan kota di belakang sekolah.
Angin malam menerpa wajah mereka, membawa bau bensin dan hangus. Aris muncul di belakang mereka, napasnya tersengal. "Kenzo! Ambil kunci ini!" Aris melemparkan sebuah kunci remote mobil. "Itu mobil operasional Ibuku yang kuparkir di gerbang samping. Mereka nggak akan curiga kalau mobil itu yang keluar!"
Kenzo menangkap kunci itu di udara. "Kenapa kamu bantu kami sampai sejauh ini, Ris?"
Aris menatap api yang mulai membesar di bawah sana. "Karena hari ini, aku bukan anak Ibu Aris. Aku siswa SMA Garuda. Pergi! Biar aku yang menghadapi mereka di sini!"
Lompatan Kepercayaan
Kenzo dan Reina sampai di ujung balkon. Jarak antara balkon dan atap gudang tua di bawahnya sekitar tiga meter. Di bawah sana, kegelapan menunggu.
"Rein, peluk kotak itu erat-erat. Aku bakal lompat duluan dan nangkep kamu," perintah Kenzo.
"Kenzo, jangan gila! Lututmu nggak akan kuat menahan beban kalau kita berdua—"
"REINA! PERCAYA SAMA AKU!"
Kenzo melompat. Reina menahan napas saat melihat tubuh Kenzo melayang di udara dan mendarat dengan dentuman keras di atas atap seng. Kenzo mengerang kesakitan, memegangi lutut kirinya yang kembali berdenyut hebat, namun ia segera berdiri dan merentangkan tangannya.
"Ayo, Rein! Lompat!"
Reina memejamkan mata, mendekap kotak arsip itu di dada, dan melompat. Angin seolah menariknya ke bawah, namun sepasang tangan kuat menangkapnya. Mereka berdua terguling di atas seng yang panas, namun kotak itu tetap utuh.
"Berhasil..." bisik Reina terengah-engah.
Mereka berhasil mencapai mobil operasional milik Ibu Aris di gerbang samping. Kenzo memacu mobil itu keluar tepat saat mobil polisi pertama masuk lewat gerbang depan. Di dalam mobil, Reina segera membuka kotak arsip itu untuk memastikan isinya aman.
Namun, saat ia meraba bagian dasar kotak, ia menemukan sesuatu yang terselip di balik tumpukan kuitansi. Sebuah flashdisk berwarna merah yang dibungkus plastik klip.
Reina segera memasangkan flashdisk itu ke laptop yang ia bawa di tasnya. Matanya terbelalak saat melihat isi folder di dalamnya.
"Ken... ini bukan cuma laporan keuangan festival," suara Reina bergetar hebat. "Ini adalah rekaman percakapan suara antara Ibu Aris dan Kepala Sekolah kita, Pak Baskoro, dari setahun yang lalu. Mereka sudah merencanakan penggusuran ini sejak lama... dan Pak Baskoro dijanjikan posisi direktur di perusahaan Ibu Aris."
Kenzo menyeringai dingin sambil tetap fokus pada kemudi. "Jadi Pak Baskoro juga terlibat. Sekarang kita nggak cuma punya bukti penyelamat festival, kita punya bukti pengkhianatan tingkat tinggi."
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam besar dengan lampu tinggi muncul di spion belakang. Mobil itu melaju kencang dan sengaja menabrak bagian belakang mobil mereka.
"Mereka tahu kita bawa 'harta karun' itu, Rein," desis Kenzo. "Pegang pegangan pintu. Kita bakal main sedikit kasar."