Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Dunia ini sering kali menilai manusia dari apa yang mereka genggam di telapak tangan, bukan dari bekas luka yang tertinggal di sana. Kita diajarkan untuk mengagumi jari-jemari yang halus, yang tak pernah bersentuhan dengan kasarnya permukaan hidup, seolah-olah kebersihan adalah tanda kemuliaan. Padahal, sering kali kemuliaan yang sesungguhnya justru tersembunyi di balik kuku-kuku yang menghitam karena tanah, atau pada kapalan yang menebal akibat memegang gagang palu setiap hari. Di Aethelgard yang lama, tangan yang bersih adalah simbol kekuasaan. Namun di barak pekerja Sayap Utara yang pengap, tangan yang bersih hanyalah tanda bahwa seseorang belum benar-benar mulai hidup.
Arlo membuka matanya saat suara denting logam yang pertama terdengar dari kejauhan. Itu bukan suara lonceng katedral yang merdu, melainkan suara linggis yang menghantam batu, sebuah alarm alami dari kehidupan yang tidak mengenal kata santai. Ia terbangun di atas dipan kayu yang hanya dilapisi kain tipis. Tulang punggungnya terasa kaku, seolah-olah setiap ruas tulang belakangnya baru saja disusun ulang secara paksa selama ia tertidur. Arlo meringis, mencoba menggerakkan bahunya, dan rasa nyeri yang tumpul segera menjalar dari leher hingga ke pinggangnya.
Ruangan barak itu kecil dan hanya diterangi oleh sedikit cahaya yang menyelinap dari celah-celah papan kayu di langit-langit. Bau keringat yang mengering, aroma kayu lembap, dan sisa-sisa bau kapur memenuhi udara. Arlo menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya beradaptasi dengan atmosfer yang jauh berbeda dari kamarnya yang wangi cendana.
Ia bangkit perlahan, melangkah menuju sudut ruangan di mana terdapat sebuah ember kayu berisi air yang sudah dingin. Arlo membasuh wajahnya, merasakan dinginnya air yang menyentak kesadarannya. Saat ia melihat pantulan wajahnya di permukaan air yang bergoyang, ia tidak lagi melihat Putra Mahkota Aethelgard. Rambutnya berantakan, ada lebam yang mulai membiru di pipinya bekas tamparan Raja, dan matanya terlihat lebih dalam. Namun, ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan emas di dalam binar matanya itu.
Arlo mengenakan kemeja katun kasar yang diberikan oleh para pekerja semalam. Kemeja itu sedikit terlalu sempit di bagian bahu, namun rasanya sangat nyata. Ia melangkah keluar dari barak, disambut oleh udara pagi yang segar dan pemandangan ribuan pekerja yang mulai bergerak seperti aliran semut.
"Tidurmu nyenyak, Arlo?"
Seorang pria paruh baya dengan kulit yang terbakar matahari dan janggut yang mulai memutih berdiri di dekat tumpukan batu bata. Itu adalah Mandor Thomas, pria yang semalam menyambutnya dengan tangan terbuka. Thomas memegang sebuah cangkir tanah liat berisi cairan hitam yang mengeluarkan aroma pahit yang sangat kuat.
Arlo berjalan mendekat, mencoba menutupi langkah kakinya yang masih terasa sedikit pincang. "Dipan itu lebih keras dari yang kubayangkan, Thomas. Tapi setidaknya ia tidak bicara tentang aliansi politik."
Thomas tertawa pendek, suaranya terdengar serak. Ia menyerahkan cangkir itu pada Arlo. "Minumlah. Ini kopi dari pelabuhan bawah. Rasanya seperti aspal panas, tapi ini satu-satunya hal yang akan membuatmu tetap berdiri tegak setelah memikul batu selama empat jam."
Arlo menerima cangkir itu, menyesap isinya, dan segera merasa lidahnya seperti terbakar. Namun, kehangatan itu segera merambat ke dadanya, memberinya sedikit energi tambahan. Ia melihat ke arah perancah besi yang masih menjulang tinggi di Sayap Utara. Di sana, di bagian fasad yang dulu dikerjakan Kalea, noda hitam akibat cairan kimia Helena masih menyisakan bayangan gelap.
"Kita akan mulai dari sana?" tanya Arlo, menunjuk ke arah ukiran singa itu.
Thomas mengangguk, ia meletakkan tangannya di pinggang sambil menatap bangunan itu. "Raja belum secara resmi menyerahkan kunci gudang logistik pusat meski dekritmu sudah dibacakan. Kita harus menggunakan sisa-sisa cat dan alat yang ada. Kau siap mengotori tanganmu, Nak?"
"Aku sudah menunggu saat ini seumur hidupku," jawab Arlo.
Kerja fisik yang sesungguhnya dimulai tidak lama kemudian. Arlo tidak diberikan hak istimewa. Ia diminta untuk membantu mengangkut ember-ember berisi adukan semen dari bawah ke tingkat ketiga perancah. Awalnya, ia merasa sanggup. Namun setelah ember kesepuluh, otot bisepnya mulai terasa seperti terbakar. Setiap kali ia menaiki anak tangga perancah yang bergoyang, ia harus menahan napas agar keseimbangannya tidak goyah.
Ia melihat para pekerja lain bergerak dengan sangat efisien. Mereka seolah-olah tidak merasakan berat beban yang mereka bawa. Sementara itu, Arlo harus berhenti sejenak setiap beberapa menit, menyeka peluh yang membanjiri wajahnya.
"Jangan gunakan hanya kekuatan lenganmu, Arlo! Gunakan kakimu untuk mendorong!" teriak seorang pekerja muda dari atas.
Arlo mengangguk, mencoba memperbaiki tekniknya. Ia teringat bagaimana Kalea berdiri di atas sini dengan begitu santai, seolah-olah gravitasi tidak berlaku padanya. Ia teringat cara Kalea memegang kuas dengan jemari yang stabil meskipun tangganya bergetar. Arlo menatap telapak tangannya sendiri yang kini mulai lecet lagi, bercampur dengan debu abu-abu dari semen.
Saat matahari mulai naik tepat di atas kepala, panasnya terasa seperti menekan kulit. Arlo duduk di salah satu papan kayu perancah, mengatur napasnya yang memburu. Ia melihat ke bawah, ke arah lapangan istana yang kini mulai dijaga ketat oleh prajurit Jenderal Marcus. Jarak antara dia dan istana itu secara fisik hanya beberapa puluh meter, namun secara status, ia merasa sudah berada di benua yang berbeda.
"Kau melihat apa?" tanya Thomas yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya, membawa sebuah spons basah.
"Hanya... menyadari betapa sepinya istana itu dari sini," gumam Arlo.
"Istana selalu sepi, Arlo. Hanya suaramu sendiri yang bergema di sana. Di sini, kau punya suara kami semua," Thomas menyerahkan spons itu. "Sekarang, bantu aku membersihkan sisa noda kimia di singa itu. Kau bilang kau yang membersihkannya semalam, kan? Kau meninggalkan beberapa sudut yang kasar."
Arlo tersenyum kecil, ia menerima spons itu dan mulai menggosok permukaan batu singa. Kali ini ia melakukannya dengan kesadaran penuh. Ia memperhatikan setiap lekukan pahatan itu, membayangkan sentuhan tangan Kalea yang dulu menyentuh bagian yang sama. Ada semacam komunikasi tanpa kata antara dirinya dan Kalea melalui batu ini.
Tiba-tiba, suara derap sepatu bot yang teratur terdengar dari arah bawah. Bukan suara pekerja, tapi suara militer. Arlo menengok dari tepi perancah. Sekelompok prajurit elit kerajaan, yang dipimpin oleh seorang perwira muda yang Arlo kenal sebagai salah satu orang kepercayaan ayahnya, masuk ke area renovasi.
"Hentikan pekerjaan!" teriak perwira itu. "Atas perintah Raja, area ini dikarantina untuk pemeriksaan keamanan!"
Para pekerja berhenti bergerak. Tensi di lapangan seketika menegang. Mandor Thomas turun dari perancah dengan tenang, namun Arlo bisa melihat tangannya yang mengepal di samping tubuh.
Arlo memutuskan untuk turun juga. Ia menuruni tangga perancah satu demi satu, mendarat di atas tanah dengan debu yang berterbangan. Ia melangkah maju, berdiri di samping Thomas. Pakaiannya yang kotor dan wajahnya yang penuh keringat membuatnya hampir tidak dikenali, namun matanya yang biru tetap memancarkan otoritas yang tajam.
"Ada masalah apa, Kapten?" tanya Arlo datar.
Perwira itu tersentak saat melihat Arlo. Ia ragu-sejenak, antara ingin memberi hormat atau menjalankan perintah penangkapan. "Pangeran—maksud saya, Arlo... Raja memerintahkan penyitaan seluruh peralatan kerja di wilayah ini karena status dekrit Anda masih dalam tahap peninjauan hukum."
"Dekrit itu sudah sah saat diucapkan di depan altar," balas Arlo, suaranya tenang namun mengintimidasi. "Rakyat di sini adalah pemilik sah dari alat-alat ini sekarang. Jika kalian menyitanya, kalian melakukan pencurian terhadap warga Aethelgard."
"Kami hanya menjalankan perintah, Tuan," perwira itu memberi isyarat agar anak buahnya maju menuju gudang alat.
Namun, sebelum para prajurit itu bisa melangkah lebih jauh, ratusan pekerja mulai membentuk barikade manusia di depan gudang. Mereka tidak membawa senjata, hanya berdiri diam dengan tangan yang saling bertautan. Suasana menjadi sangat sunyi, hanya diisi oleh suara embusan angin dan derit perancah.
"Kalian ingin menumpahkan darah rakyat di tanah yang sudah mereka miliki sendiri?" tanya Arlo, ia berjalan perlahan mendekati perwira itu. "Silakan. Tapi ingat, setiap tetes darah yang jatuh hari ini akan menjadi alasan bagi seluruh kota untuk menyerbu istana malam ini juga. Apakah Raja siap menghadapi itu?"
Perwira itu berkeringat dingin. Ia menatap ke arah balkon istana, mencari arahan, namun Raja tidak terlihat di sana. Ia tahu bahwa meskipun Arlo tidak lagi punya mahkota, ia punya sesuatu yang jauh lebih berbahaya: simpati massa.
"Kami akan kembali dengan dokumen resmi," geram perwira itu, ia akhirnya memberi perintah pada pasukannya untuk mundur.
Begitu para prajurit itu menghilang di balik gerbang, sorakan kecil pecah di antara para pekerja. Thomas menepuk punggung Arlo dengan keras. "Kau punya nyali, Nak. Tapi mereka tidak akan berhenti sampai di sini. Raja hanya sedang mengulur waktu."
"Aku tahu," Arlo menyeka dahi dengan lengannya. "Itu sebabnya kita harus menyelesaikan bagian ini secepat mungkin. Kita harus menunjukkan bahwa Sayap Utara bisa berfungsi tanpa campur tangan mahkota."
Sepanjang sore itu, Arlo bekerja lebih keras dari siapa pun. Ia menggosok batu, memindahkan kayu, dan membantu memasang papan jendela. Tangannya mulai berdarah di beberapa titik karena gesekan kasar, namun ia menolak untuk berhenti. Setiap rasa perih di kulitnya terasa seperti penebusan dosa atas tahun-tahun yang ia habiskan dalam kemalasan mewah.
Saat senja mulai turun, mewarnai langit Aethelgard dengan warna ungu yang dalam, Arlo duduk di tepi sumur tua, tempat ia dulu bertemu Kalea. Ia menimba air, membasuh lengannya yang penuh dengan noda semen biru tua. Cairan biru itu mengalir ke bawah, mencampuri tanah.
Ia merogoh saku kemejanya, memastikan kain noda cat pemberian pekerja itu masih ada. Ia menatap ke arah laut di kejauhan. Kapal Kalea mungkin sudah sampai di pelabuhan Solandis sekarang. Ia membayangkan Kalea sedang berjalan di pasar yang ramai, mungkin sedang membeli roti segar, tanpa harus takut pada bayangan Helena.
"Kau berhasil, Kalea," bisik Arlo. "Kau bebas."
Tiba-tiba, seorang anak kecil—putra salah satu pekerja—berlari mendekatinya dan menyerahkan sebuah surat kecil yang dibungkus dengan kain kusam.
"Ada pesan untuk Tuan Arlo dari gerbang bawah," ucap anak itu sebelum kembali berlari.
Arlo membuka surat itu dengan tangan gemetar. Ia mengira itu dari Kalea, namun tulisannya berbeda. Itu adalah tulisan tangan Lord Cedric.
"Vandellia telah mengirimkan ultimatum. Mereka menuntut pengembalian mahkota Arlo atau perang akan dideklarasikan dalam tiga hari. Raja sedang mempertimbangkan untuk menyerahkan Anda kembali ke Helena demi kedamaian. Berhati-hatilah, Arlo. Dinding istana memiliki telinga yang lapar."
Arlo meremas surat itu hingga hancur. Ia menatap bangunan Sayap Utara yang masih setengah jadi. Perang. Helena tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Ia tidak menginginkan aliansi; ia menginginkan kepatuhan.
Arlo berdiri, menatap para pekerja yang sedang menyalakan api unggun kecil di depan barak. Mereka sedang tertawa, berbagi makanan yang sangat sederhana, tidak tahu bahwa badai besar sedang menuju ke arah mereka. Arlo menyadari bahwa ia tidak bisa hanya diam di sini sebagai buruh biasa. Jika ia ingin melindungi rakyat ini, ia harus melakukan sesuatu yang lebih radikal.
Ia berjalan menuju Mandor Thomas yang sedang duduk di dekat api. "Thomas, aku butuh bantuanmu."
"Apa itu, Nak?"
"Aku butuh orang-orang yang paling mengenal jalur bawah tanah istana. Dan aku butuh seseorang yang bisa mengirim pesan ke Solandis secara rahasia," Arlo menatap api unggun dengan sorot mata yang dingin. "Jika Raja ingin menyerahkanku pada Helena, maka aku akan memastikan Helena tidak mendapatkan apa pun kecuali puing-puing keangkuhannya sendiri."
Thomas menatap Arlo cukup lama, lalu ia tersenyum tipis. "Ayahmu salah besar saat mencabut gelarmu, Arlo. Dia pikir dia melucuti senjatamu, padahal dia baru saja melepaskan singa dari kandangnya."
Malam itu, di bawah cahaya bintang yang jernih, Arlo tidak tidur. Ia duduk di atas perancah tertinggi, menatap kegelapan laut. Ia memegang koin perunggu Kalea, merasakan pinggirannya yang tajam.
"Tunggu aku, Kalea," bisik Arlo pada angin malam. "Aku akan meruntuhkan seluruh dunia ini sebelum mereka sempat menyentuhmu."
Retakan itu kini telah menjadi jurang yang memisahkan Arlo dari masa lalunya sepenuhnya. Dan di tengah kegelapan Aethelgard, sebuah rencana besar sedang disusun di atas tumpukan batu dan debu kapur. Rencana yang tidak melibatkan mahkota, melainkan melibatkan keberanian untuk menghancurkan segalanya demi sebuah awal yang benar-benar baru.
Arlo bangkit berdiri, menatap fajar yang mulai mengintip di ufuk timur. Hari ketiga akan segera tiba, dan Arlo Valerius, sang tukang cat baru Aethelgard, sudah siap untuk menuliskan bab terakhir dari kebohongan kerajaan ini dengan tangannya sendiri yang kini penuh dengan noda dan bekas luka.