Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecepatan yang Mengoyak
Cahaya matahari menembus celah dedaunan, membentuk bayangan yang bergerak perlahan. Angin berhembus ringan. Membawa suara alam.
Dan di antara semua itu—Reyd berjalan sendirian.
Di gerbang sebelumnya—beberapa prajurit sempat menahannya.
“Pangeran Kedua, izinkan kami mengawal.”
Namun Reyd menggeleng.
“Tidak perlu.”
Jawabannya singkat. Tanpa ruang untuk dibantah.
“Ini hanya latihanku saja.”
Ia menatap ke arah hutan.
“Aku harus melakukannya sendiri.”
Dan tanpa menunggu—ia pergi.
Kini—ia sudah jauh di dalam.
Matanya mengamati sekeliling. Setiap gerakan kecil tidak luput dari perhatiannya.
“Sepi sekali.”
Gumamnya pelan.
Namun ia tahu—itu hanya di permukaan.
Krek.
Suara kecil terdengar. Dari balik semak.
Reyd berhenti. Tubuhnya langsung merendah. Tatapannya tajam ke satu titik. Angin mulai berputar pelan di tangannya.
Seekor rusa muncul perlahan.
Reyd mengamati. Menghitung jarak. Mengatur napas. Kecepatan…
Ia mengingat tujuannya. Bukan sekadar berburu. Namun—mengukur dirinya sendiri.
Dalam satu tarikan napas—ia bergerak.
WHOOSH!
Angin mendorong tubuhnya. Langkahnya melesat cepat.
Rusa itu terkejut. Namun—terlambat.
SWOOSH!
Tebasan angin melintas. Cepat. Tepat.
Rusa itu roboh seketika.
Reyd berhenti beberapa langkah di depan. Napasnya tetap stabil. Ia menoleh ke belakang.
“Lumayan cepat.”
Bisiknya.
Namun ekspresinya tidak puas.
Ia menutup matanya sejenak. Mengingat kembali gerakannya.
“…Masih bisa lebih baik lagi.”
Angin berhembus pelan. Daun-daun berguguran.
Reyd berdiri di tengah hutan. Namun pikirannya tidak kosong. Ia melatih bukan hanya tubuhnya—namun juga instingnya. Keputusan dalam satu detik. Gerakan tanpa ragu.
Ia mengangkat kepalanya. Menatap lebih dalam ke hutan.
“Baiklah. Mari kita lanjut.”
Tanpa menunggu—ia melangkah lagi.
---
Angin berdesir cepat di antara pepohonan. Reyd bergerak. Satu langkah—lalu menghilang.
Latihannya semakin dalam. Semakin tajam.
Namun—BRAK!
Tubuhnya terpental. Menghantam udara kosong sebelum menyentuh tanah.
Namun tepat sebelum jatuh—angin berputar. Tubuh Reyd melayang beberapa saat di udara. Namun matanya langsung menajam.
“Apa itu?”
Bisiknya pelan.
Tidak ada tanda sebelumnya. Tidak ada peringatan. Serangan itu datang begitu saja.
Daun-daun di hutan bergetar. Angin berubah arah.
Dan dari balik bayangan—sesuatu muncul.
Seekor makhluk. Namun bentuknya aneh. Kelinci. Namun—raksasa. Tubuhnya besar. Matanya merah. Dan aura sihirnya—tidak normal.
Reyd menatapnya.
“Monster sihir.”
Namun—yang berbeda bukan bentuknya. Melainkan—kecepatannya.
Dalam satu detik—makhluk itu menghilang.
Dan—WHAM!
Reyd langsung menangkis dengan angin. Tubuhnya terdorong ke belakang. Meski tidak terkena langsung.
“Cepat sekali.”
Gumamnya.
Matanya mengikuti pergerakan itu. Namun—hampir tidak terlihat.
Makhluk itu muncul lagi. Lalu—menghilang. Dan muncul lagi.
Reyd melayang lebih tinggi. Angin berputar di bawah kakinya. Menjaga jarak.
Namun—itu tidak cukup.
WHOOSH!
Serangan lain datang dari atas. Reyd nyaris terlambat. Ia memutar tubuhnya di udara. Namun—angin di sekitarnya terkoyak.
Sial.
Batinnya.
Makhluk itu berhenti menyerang. Matanya merah menyala. Seolah—menantang.
Reyd menarik napas. Angin mulai berkumpul di tangannya. Namun kali ini—ia tidak langsung menyerang.
“Kalau aku tidak bisa melihatnya…”
Bisiknya pelan.
Angin di sekitarnya mulai berubah.
“Aku akan merasakannya.”
Angin menyelimuti area itu. Setiap gerakan kecil—akan terasa. Setiap perubahan—akan terdeteksi.
Makhluk itu bergerak lagi.
Namun—kali ini—Reyd tersenyum tipis.
Ia tahu.
“Di kiri.”
SWOOSH!
Pedang angin terayun.
Reyd sudah mulai membaca. Ia melayang di udara. Angin berputar lebih cepat. Tatapannya berubah.
“Keluarkan kekuatanmu, makhluk jelek.”
Ucapnya.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?