NovelToon NovelToon
Luka Di Penghujung Harapan. (Sukacita Kota Nablus)

Luka Di Penghujung Harapan. (Sukacita Kota Nablus)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Ummi Adzkia

yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24.

"Ummi, coba simak hafalan baru aku..." Pinta Yaseer kepada umminya di depan tenda umminya dengan memberikan Al-Qur'an milik Yaseer.

Mereka sedang duduk bersama setelah makan malam bersama dan dilanjutkan sholat isya berjamaah.

"Kaka udah sampai juz berapa ?" Tanya ummi nya.

"Sekarang masuk juz 28 ummi. kemarin terakhir sama ust Yazid juz 29." Terang Yaseer.

" Yang sudah hafal harus sering di muraja'ah ya. supaya tidak lupa.. ' nasehat ummi di hadapan Yaseer sambil membuka lembaran Al-Qur'an mencari juz 28.

" Iya mi. Habis shubuh suka di muraja'ah sama pembimbing di tenda aku. Jadi insyaallah aman mi.." Jelas nya pada ummi.

Ummi mengangguk kan kepala pelan. " Yuk mulai . Ta'awudz dulu..!" Titah ummi nya.

Surah Al-Mujadalah di baca Yaseer dengan lancar. Terkadang Laila penasaran bagaimana cara anak nya dalam menghafal dan membagi waktunya antara bekerja, latihan, dan muraja'ah.

Sampai ayat terakhir di bacanya dengan lancar. Ummi sampai geleng-geleng kepala takjub. Tak lepas bibirnya komat Kamit mengucap syukur dan tasbih.

" shodaqollahul 'adziim..."

" Bacaan Kaka bagus, hafalan nya juga lancar. Kaka rajin di bimbing?" Tanya ummi

"Iya mi, dibimbing sama tuan Hamid, terkadang tuan Ahmad, terkadang kak Yosef... " Jujur Yaseer. Karena setahu Laila hanya Yosef yang biasa membimbingnya.

" Yang ikut mengaji banyak sekarang?" Tanya Ummi lagi.

"Banyak. Arahan dari tuan Ahmad jadi makin banyak yang mau ngaji."

Laila hanya menganggukkan kepala penuh syukur. Bibirnya mengucap hamdalah. Karena di tempat seperti inipun anak nya masih semangat mengaji dan ada yang sukarela membimbingnya. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?.

" Ummi, kalo aku udah pinter ngaji dan selesai hafalannya, aku mau buka tempat pengajian di masjid- masjid mi." Cetus Yaseer tiba-tiba.

" Silahkan kak.. Ummi dukung sekali..." Setuju ummi nya sambil tersenyum bangga.

" Nanti akak juga mau bantu dek... " Sambar Hania yang baru keluar dari tenda nya.

" Bantu apa nih, datang-datang nyamber...." kelakar Yaseer.

" Ya bantu bimbing ngaji lah. Katanya kamu mau buka pengajian di masjid-masjid kan?" Heran nya jadi bingung.

" Owh kirain ga denger niatan aku hehe..." Ledek nya.

" Memang masjid nya ga jauh kak?" Tanya Abia yang sedari tadi hanya memperhatikan saja.

" Ya jangan yang jauh-jauh dulu." Jawab Yaseer menanggapi pertanyaan Abia.

" Kaka harus banyak berlatih kak, biar bisa telepati.." Kata Abia dengan serius.

" Berlatih apa? Kok telepati?" Tanya Hania makin bingung arah pembicaraan Abia.

" Itu biar Kaka bisa pergi ke masjid yang jauh dengan telepati aja." Terang Abia polos.

Mereka bertiga mencerna omongan Abia dan saling pandang lalu tertawa pelan. " Ya ngga bisa gitu juga lah dek... Kayak tukang sulap aja."

" Kan biar cepet sampe kak, engga bahaya di perjalanan." Balas Abia

" Iya. Bisa aja kamu..." Yaseer setuju-setuju aja omongan Abia yang polos.

" Abia juz 'amma sudah sampai surat apa?" Tanya Yaseer mengetes.

" Udah surah Al ghosyiah. Akak suka bimbing aku ngafal.." Lapor Abia santai.

" Alhamdulillah. Ditambah lagi semangat nya ya. Mumpung di sini kita kan banyak diam." Nasehat Yaseer.

" Kaka kebanyakan gaul sama orang dewasa. Jadi suka nasehatin sekarang.." Celetuk Abia.

" Masaaa...." Ledek Yaseer tak percaya dirinya seperti itu.

" Tuh, padahal dulu suka pecicilan, ngeledekin aja. Tapi sekarang—

" Sekarang kenapa?" Yaseer penasaran.

" Ga pernah marah kalo aku ledek, malah nasehatin. Aku nakal, di nasehatin. Udah kayak baba..." Jawab Abia santai sambil mainan pasir di tangan nya.

" Iya lah. Dimarahi ya kamu nangis..." Ledek Yaseer keluar sisi tengilnya.

" Aku jadi kangen baba sama Abang..." celetuk Hania sendu.

" Abang gimana kabar nya ya sekarang?" Tanya Hania sambil bersandar ke bahu umminya.

" Iya ya. Nanti aku tanyain ke tuan Ahmad bisa kali ya... " Ujar Yaseer dengan pandangan menerawang.

****

Sebelum tidur, sengaja Yaseer menunggu kedatangan tuan Ahmad ke tenda nya. Ia ingin menanyakan perihal nasib tahanan yang di tawan oleh penjajah.

Suara langkah terdengar dan obrolan orang dewasa. Seketika Yaseer terjaga duduk tegak menanti dengan sabar.

Melihat tuan Ahmad sudah santai, Yaseer perlahan mendekati nya. "Tuan...—

Tuan Ahmad menoleh menatap Yaseer. "Boleh saya bertanya sesuatu tuan?"

" Ada apa nak, sini duduk bersama.." Titah tuan Ahmad kepada Yaseer.

" Begini tuan,—

" Mungkin tuan tahu mengenai nasib tahanan warga sipil di penjara penjajah.." Ujar Yaseer hati-hati.

Tuan Ahmad terdiam sejenak, bukan tidak tahu, tapi apakah anak ini akan kuat mendengar nya. Ia menimbang-nimbang kata-kata yang pas untuk anak seusianya.

Yaseer menunggu dengan sabar akan jawaban tuan Ahmad, helaan nafas orang di depannya menandakan bahwa beratnya informasi yang ia tahu.

" Maksud mu, kau ingin tahu tentang Abang mu?" Tanya tuan Ahmad memastikan.

" I...iya tuan... Barangkali tuan tahu..." Kata Yaseer terbata gugup.

" Setelah mendengar ini... Ku harap kau tidak terbawa nafsu.." Pesan tuan Ahmad semakin memperjelas keyakinan nya.

Yaseer mengangguk pelan. " Tahanan yang berada di sana tidak dalam keadaan baik." singkat nya.

" Mak..maksud tu..tuan...?" Yaseer semakin gugup.

" Besok kita tanyakan langsung pada tawanan kita. Supaya lebih jelas." Potong Tuan Ahmad tak tega.

" Tapi apakah dia akan memberikan info yang valid..?" Ragu Yaseer.

" Dia akan memberikan info yang kita mau." Tegas tuan Ahmad.

Yaseer mengangguk saja. "Sekarang istirahatlah..!" Titah Tuan Ahmad.

" Bukan kah kau selalu bangun untuk tahajjud?" lanjutnya.

" Iya tuan. Maaf mengganggu waktu tuan. " sungkan Yaseer berpamitan.

" Yaseer...." Panggil nya pelan.

" Apapun yang kau dengar, jangan terbawa nafsu ." Pesan terakhir tuan Ahmad sebelum ia bersiap untuk istirahat.

Yaseer tercenung di tempat. Ia membalikkan badan dan berjalan pelan ke arah tempat tidurnya.

Yaseer membaringkan tubuh lelah nya diatas lapisan selimut tebal dan membungkus tubuh nya dengan sisa selimut itu. " Baiklah ayo kita tidur dulu, besok kita lihat apa yang sebenarnya terjadi.." Lirih nya menyemangati diri.

****

Setelah berlatih bersama, Tuan Ahmad mengajak tawanan nya untuk bergabung dengan kelompok nya di lapangan belakang tenda.

" Apa yang akan kau lakukan pada ku...!" Tanya tawanan itu waspada.

" Ikut saja. Kami tidak akan melakukan apa yang kalian lakukan pada tawanan sepertimu." Ketus tuan Ahmad sambil menarik baju tawanan itu.

Setelah berhadapan dengan sekelompok orang yang bergeletakan kelelahan setelah berlatih, Tuan Ahmad memajukan tubuh tawanan itu lebih depan dari dirinya.

Para anggota latihan memicing heran melihat tawanan itu di hadapan mereka.

Tuan Ahmad akhirnya meng kode agar semua berkumpul di dekatnya. " Kita akan mendengarkan apa yang kita ingin dengar dari orang ini." Ujar tuan Ahmad di hadapan semua anggotanya.

" Duduk lah.... Supaya amarah tidak menguasai kalian.." Titah nya lagi. Semua pun mengikuti arahan ketua nya.

" Yaseer dengarkan baik-baik.!" Titahnya lagi menunjuk Yaseer dengan tatapannya.

" Jelaskan pada kami apa yang kau rasakan selama di sini.!" Pertanyaan pertama pada tawanan itu.

Tawanan itu terdiam menunduk. "Cepat katakan....!!!" Desak anggota seperti Yaseer.

" Kalian memperlakukan ku dengan baik. Jika kalian makan, aku makan. Kalian memberi ku tempat berlindung dari hujan dan panas." Jelas nya dengan suara pelan.

" Bagaimana pendapat mu tentang kami?" Pertanyaan kedua dari tuan Ahmad.

Tawanan itu mengangkat kepalanya memperhatikan orang-orang disekitarnya. "Kalian orang-orang yang bersemangat, aku hampir tak mendengar keluh kesah kalian akan apa yang kalian jalani.." Ucapnya pelan kemudian menunduk lagi.

" Hei kemana jiwa songong mu!! Kenapa kau menunduk terus..!!!" Komentar salah satu anggota gemas.

" Apa kau yakin orang seperti kami bisa menghancurkan kalian?" Pertanyaan ketiga.

" Bisa.. Sangat bisa.. seperti yang kau tahu, kami hanya berani jika memegang senjata." Ucap nya merasa malu.

" Lalu bagaimana kalian memperlakukan tawanan sepertimu?" Pertanyaan ke empat.

Tawanan itu sontak melirik ke arah tuan Ahmad. Dia merasa ini pertanyaan jebakan untuknya, bagai buah simalakama. Ia pun semakin ragu untuk menjawab nya, ia takut nyawa nya terancam.

" Ayo jawab saja.." Perintah tuan Ahmad kalem.

" Tap...tapi...—

" Tenang saja, kami tidak seperti kalian..." Ucap tuan Ahmad menohok hati tawanan itu.

" Berjanjilah kalian tidak akan menyiksaku atau membunuh ku!" Pinta nya memohon.

" Sudah ku bilang, kami tidak seperti kalian..." Ucap tuan Ahmad lagi.

Tawanan itu mengedarkan pandangan nya. Semua mata menatapnya lekat namun tampak tenang, hanya beberapa yang menunjukkan raut khawatir, seperti Yaseer salah satunya.

Ia pun memberanikan menjawab walau dengan suara pelan memelas. " Kami berfikir untuk membunuh tawanan kami perlahan" Cicit nya ketakutan.

" Apa saja yang kalian lakukan?" Tanya tuan Ahmad lagi.

" Ka..kami...menyiksa orang-orang yang tid...tidak mau menjawab pertanyaan kami dengan benar." cicitnya karena rasa takutnya.

" Lalu....?" lanjut tuan Ahmad santai. Ia sudah mengetahui semua nya.

" Kami tidak memberi makan pada tawanan kami kecuali sekali saja itupun di awali dengan pukulan.."

" Tawanan anak-anak?" Lanjut tuan Ahmad.

" Kami menampung nya dalam satu sel. tanpa makanan hanya air minum itu pun terbatas."

" Sudah berapa banyak yang mati?"

" Sudah beberapa yang akhirnya mati, namun banyak yang masih sekarat." Jawab tawanan itu dengan lirikan mata yang tak diam.

Yaseer mendengar semua jawab itu dengan baik. Tapi ia sangat penasaran bagaimana nasib abangnya di sana.

" Apakah semua tawanan kalian perlakukan sama?" celetuk Yaseer tak tahan.

Tawanan itu mengangguk sekali sambil ketakutan. Ia merasa nyawanya sudah di ujung tanduk.

" Bagaimana kami bisa percaya ucapan mu itu?" Tanya Yaseer lagi merasa tak mungkin abangnya diperlakukan seperti itu, Abang nya tidak bersalah.

" I..itu sudah wacana kami di setiap penjara...." cicit nya lagi.

" Tapi banyak warga sipil yang tak bersalah kalian tangkapi?" Rajuk Yaseer tak percaya.

" Aku tidak tau.,." jawab nya cepat.

" Bagaimana kau bisa tak tahu heh!!" Yaseer terbawa emosi.

" Kau sudah siap mati..!!!!"

Hah....

1
Ummi Adzkia
aku jadi ikutan nyesek... semangat ya Yaseer ...
Ummi Adzkia
tadinya mau bikin konflik berdarah. tapi ga tega hati ini.. hiks...
Ummi Adzkia
selalu begitu ya. bikin kesepakatan tapi di langgar sendiri.. dari dulu begitu sama kayak bestie nya. mau heran tp udah ada di Al-Qur'an.
Ummi Adzkia
gimana tuh? Abia perutnya nangis, Yaseer rock n roll, Hania keroncongan apa dangdutan....?
Ummi Adzkia
siap 💪💪Allahu Akbar !!!!
Ummi Adzkia
Yaseer ini pemerhati juga. semoga ilmu nya bisa kepake buat masyarakat 👍
Ummi Adzkia
apaan coba. gaje banget lho si zion inih.. /Slight/
Ummi Adzkia
innalillahi... semoga Abia dan Haniya baik-baik saja ya. aamiin.
Ummi Adzkia
mereka hanya di suruh ngungsi ya. bukan suruh pindah. berarti hanya sementara. tapi ga tau juga nnti nya. 🙏
happy reading 💪
Ummi Adzkia
coba ada yang bisa bayangin situasi nya kek gimana? komen yah🙏😄
Ummi Adzkia
nah loh apaan tuh??
Ummi Adzkia
di saya mah hari Jumat. kami mulainya hari Rabu 18 feb.
happy Ied Mubarak
Protocetus
lebaran nanti hari sabtu
Protocetus
salken 💪
Ummi Adzkia: happy reading. semoga suka ya
total 1 replies
Ummi Adzkia
Alhamdulillah. terkadang kepasrahan kita pada Allah bisa mendatangkan. rezeki. happy reading di karya ku ya.

komen baik nya ditunggu ya.
Ummi Adzkia
ketemu malaikat mau apa heh?.. mau minta THR apa mau ketemu baba? Abia ngeri juga minta nya.😄
Ummi Adzkia
itu Haniya iseng juga ya. pasti panik juga itu ummi ...
Ummi Adzkia
kira-kira Abang gimana nasib nya ya?. komen yuk
Ummi Adzkia
beli kurmanya cod ya Abia. ada2 aja ni si Abia.
Ummi Adzkia
gini nih yang bikin makin panik. lagi makan tiba2 dum.. rudal meluncur bebas ke atas rumah2 dan gedung2 tinggi. ga kebayang yg tinggal di sana kek gmn. .. /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!