Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama yang Terus Berlanjut
Lantai marmer Markas Besar Kepolisian Daerah malam itu terasa dingin dan kaku, memantulkan cahaya lampu fluoresens yang berkedip pucat. Di koridor yang sunyi, suara roda kursi medis yang didorong pelan menciptakan gema yang menyayat hati. Gavin Wirya Aryaga berjalan di samping kursi itu, tangannya sesekali menyentuh bahu wanita tua yang duduk di atasnya dengan tubuh yang masih dibalut perban putih di beberapa bagian.
Bu Imroh tampak sangat kecil dan rapuh di bawah sorotan lampu kantor polisi. Mukena putih yang ia kenakan nampak bersih, kontras dengan wajahnya yang masih menyisakan bekas luka lebam kebiruan akibat hantaman batu di dasar jurang Cadas Pangeran. Namun, di balik fisik yang hancur itu, sepasang matanya memancarkan cahaya yang tidak pernah padam: cahaya kebenaran.
"Ibu sudah siap?" bisik Gavin lembut saat mereka berhenti di depan pintu ruang penyidikan utama.
Bu Imroh mendongak, menatap wajah Gavin yang nampak lelah namun penuh determinasi. "Nak Gavin, jika nyawa ini masih Allah titipkan setelah jatuh ke jurang itu, maka lidah ini tidak akan berhenti bicara sampai keadilan untuk Salsa tegak."
Gavin mengangguk pelan, membuka pintu kayu berat itu. Di dalam, tiga orang penyidik senior dan seorang jaksa penuntut umum sudah menunggu dengan alat perekam dan tumpukan berkas yang menggunung.
****
Suasana di dalam ruang penyidikan mendadak menjadi sangat emosional saat Bu Imroh mulai berbicara. Suaranya yang serak dan bergetar menceritakan detik-detik terakhir putrinya, Salsabila. Ia menceritakan bagaimana Salsa menangis ketakutan karena ancaman Aris, bagaimana Aris memalsukan status pernikahannya demi mendekati Devina, dan puncaknya—bagaimana tangan dingin pria itu mendorongnya ke kegelapan jurang.
"Dia tertawa..." isak Bu Imroh, air matanya jatuh membasahi berita acara pemeriksaan (BAP). "Saat dia mendorong saya, dia tertawa seolah nyawa manusia tidak lebih berharga dari debu di sepatunya. Dia bilang, Salsa sudah menanti saya di bawah sana."
Para penyidik terdiam. Ruangan itu hanya diisi oleh suara isak tangis Bu Imroh dan derik pena di atas kertas. Rekaman kesaksian itu menjadi paku terakhir di peti mati pelarian Aris Wicaksana. Polisi kini memiliki bukti primer: saksi hidup dari percobaan pembunuhan berencana.
"Terima kasih, Ibu Imroh," ucap Komisaris Pratama dengan nada hormat. "Kesaksian Anda sudah cukup bagi kami untuk mengeluarkan perintah tembak di tempat jika tersangka melawan. Aris Wicaksana kini resmi menjadi buronan nomor satu nasional."
****
Sementara itu, di sebuah rumah persembunyian yang dijaga ketat oleh tim keamanan Gavin, Devina Maharani tidak bisa memejamkan mata. Di tangannya, ponselnya terus bergetar hebat. Puluhan pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk, berisi foto-foto rumah orang tuanya yang diambil dari kejauhan, foto nisan bertuliskan namanya, hingga rekaman suara tawa Aris yang mengerikan.
"Kamu pikir wanita tua itu bisa menyelamatkanmu, Devina? Aku ada di setiap bayangan yang kamu lihat. Aku ada di udara yang kamu hirup. Kamu milikku, atau tidak milik siapa pun."
Devina melempar ponselnya ke atas sofa. Ia berdiri di dekat jendela yang tertutup rapat, menatap pantulan dirinya yang nampak pucat namun penuh keberanian. Ia teringat wajah Bu Ines yang ketakutan dan Pak Pamuji yang terluka. Amarah mulai menggeser rasa takut di dadanya.
"Cukup, Aris," gumam Devina pada kegelapan. "Aku tidak akan lari lagi."
Ia berjalan menuju dapur, meraih sebuah pisau koki kesayangannya yang terbuat dari baja Damaskus. Ia mengasah pisau itu dengan gerakan ritmis dan tenang. Bagi Devina, ini bukan lagi soal memasak; ini soal bertahan hidup. Jika Aris berani menampakkan wajahnya sekali lagi, Devina bersumpah tidak akan menjadi domba yang pasrah untuk disembelih.
****
Kembali di kediaman sementara yang disediakan Gavin, Bu Imroh kembali ke atas sajadahnya setelah memberikan kesaksian. Meski tubuhnya terasa remuk redam, ia menolak untuk beristirahat. Baginya, doa adalah satu-satunya senjata yang paling tajam untuk melawan iblis seperti Aris.
"Ya Allah... Engkau Yang Maha Mendengar," rintih Bu Imroh dalam sujudnya. "Hamba telah menjalankan kewajiban hamba sebagai saksi. Sekarang, hamba serahkan sisanya pada keadilan-Mu. Lindungilah Nak Devina dari tangan-tangan zalim. Jangan biarkan iblis itu merusak lebih banyak lagi kebahagiaan orang lain."
Air matanya membasahi kain sajadah. Di tengah kesunyian malam, Bu Imroh merasakan sebuah kedamaian yang aneh. Seolah-olah beban berat yang ia panggul sejak kematian Salsa mulai terangkat perlahan. Ia tahu, keadilan mungkin lambat, namun ia pasti akan datang.
****
Di sebuah gudang tua di pelabuhan yang kumuh, Aris Wicaksana duduk di atas tumpukan palet kayu. Ia melihat berita di televisi kecil yang bintik-bintik, menampilkan wajah Bu Imroh yang sedang dibawa keluar dari kantor polisi oleh Gavin.
"Kamu seharusnya mati, Tua Bangka!" raung Aris, menendang televisi itu hingga hancur.
Aris menyadari bahwa ruang geraknya semakin sempit. Sumber dananya mulai dibekukan oleh polisi, dan anak buahnya satu per satu tertangkap. Ia kini benar-benar sendirian, terpojok seperti serigala liar yang terluka. Namun, keterpojokan itu justru membuatnya semakin berbahaya.
Ia tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan. Reputasinya hancur, hartanya lenyap, dan masa depannya gelap. Hanya satu yang tersisa di kepalanya: dendam kesumat pada Gavin dan obsesi sakit pada Devina.
"Kalau aku harus hancur, kita semua akan hancur bersama," desis Aris sambil mengisi peluru ke dalam senjatanya.
Malam itu, Jakarta terasa mencekam. Di satu sisi, kebenaran mulai terungkap melalui lisan seorang ibu yang teraniaya. Di sisi lain, sang predator sedang mempersiapkan serangan terakhirnya—serangan nekad yang tidak mempedulikan nyawanya sendiri, asalkan ia bisa membawa musuh-musuhnya ke liang lahat bersamanya.
****
Malam di pinggiran Jakarta terasa mencekam, seolah alam pun menahan napas menanti puncak dari badai yang telah lama menderu. Safe house milik keluarga Aryaga, sebuah bangunan minimalis dengan sistem keamanan biometrik tercanggih, berdiri tegak di tengah kebun pinus yang sunyi. Namun, kecanggihan teknologi seringkali kalah oleh kelicikan manusia yang sudah kehilangan kewarasannya.
Di pos penjagaan depan, seorang pria berseragam taktis hitam dengan logo keamanan Aryaga Security berjalan dengan langkah tegap. Topi petnya ditarik rendah, menutupi sebagian wajahnya yang kasar. Ia membawa nampan berisi kopi panas untuk rekan-rekan penjaganya—sebuah gestur sederhana yang melunahkan kewaspadaan.
"Shift malam memang membosankan, ya?" suara pria itu berat, serak seperti gesekan logam.
Penjaga asli yang sedang memantau monitor CCTV tersenyum tipis. "Terima kasih, kawan. Aku butuh kafein ini."
Begitu sang penjaga menyesap kopinya, ia tidak menyadari bahwa maut sedang menatapnya dari balik bayangan topi. Hanya dalam hitungan detik, obat bius dosis tinggi yang dicampurkan ke dalam minuman itu bekerja. Sang penjaga terkulai. Pria itu—Aris Wicaksana—menyambar kartu akses di meja dan menyeringai. Wajahnya yang kotor oleh dendam kini nampak sangat mengerikan di bawah lampu neon pos jaga.