NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Pelajaran Kemandirian

Perjalanan yang seharusnya penuh dengan wibawa dan haru biru perpisahan, dalam sekejap berubah menjadi komedi yang tidak terduga di bawah terik matahari siang yang menyengat.

​Jalan setapak menuju luar wilayah Distrik Zamrud tampak sunyi, hanya dihiasi suara serangga hutan.

Di tengah jalan, dua sosok pemuda tampak melakukan hal yang sangat tidak efisien.

Jian Yi bergelayut manja di punggung Lu Feng, kakinya menjuntai santai seolah Lu Feng adalah kuda sewaan.

​"Turun woi! Berat tahu!" Lu Feng mengguncang pundaknya, berusaha melepaskan kaitan tangan Jian Yi yang melingkar di lehernya.

​Namun, Jian Yi justru mempererat cengkeramannya. "Aku ini baru sembuh, Sobat. Meridianku masih kaku. Bantu sahabatmu yang lemah ini, hahaha!"

​PLAK! PLAK! PLAK!

​Lu Feng memukul-mukul lengan Jian Yi dengan cepat, mencoba membebaskan diri dari cekikan maut yang dibalut kasih sayang palsu itu. "Ugh! Eekh! Ukhh! Aku ... tidak ... bisa ... napas!"

​Jian Yi segera mengendurkan tangannya begitu melihat wajah Lu Feng mulai membiru. "Ups, maaf. Refleks tidak sengaja, mungkin?"

​"Haah ... huuh ... Kau mau membunuhku sebelum kita sampai di kota tujuan? Dasar gila," Lu Feng mengatur napasnya, menatap Jian Yi dengan pandangan ingin menelan orang hidup-hidup.

​Jian Yi hanya tersenyum jahil tanpa dosa. "Ya maaf. Eh tunggu ... perutku lapar. Apa kau membawa bekal di tas? Ibu bilang dia memasukkan sesuatu yang 'berharga'."

​"Tidak tahu. Ibuku juga memberiku satu tas kecil. Katanya ini 'harta karun' untuk perjalanan," Lu Feng menurunkan tas ranselnya yang terasa cukup berat.

​Mereka berdua membuka tas masing-masing dengan antusiasme tinggi, berharap ada emas atau setidaknya paha ayam goreng. Namun, detik berikutnya, mata mereka melotot.

​"APA INI?! HANYA BATU?!"

​Di dalam tas mereka, tidak ada satu keping koin emas pun. Hanya bongkahan batu sungai yang berat yang sengaja ditaruh di sana untuk memberi beban latihan.

Orang tua mereka benar-benar menerapkan prinsip "hidup mandiri" dengan cara yang paling kejam.

​"Sepertinya mereka ingin kita hidup dari hasil memeras keringat sendiri," gumam Lu Feng sambil membuang satu batu ke semak-semak.

​Jian Yi mengelus gagang pedangnya, matanya menatap ke depan. "Mungkin. Dan biasanya kalau di sebuah cerita, ketika karakter utama baru mulai berjalan tanpa uang, pasti ada orang baik hati yang ingin 'merampas' harta kita dan memberi kita modal awal."

​"Itu kan cerita fiksi. Tidak mungkin di dunia nyata terjadi kebetulan seperi itu tepat saat kita membutuhkannya," timpal Lu Feng skeptis.

​Baru saja kata-kata itu keluar dari mulut Lu Feng, terdengar suara derap kaki kuda dan langkah kaki yang berat dari balik tikungan bukit.

​"Berhenti di sana, tikus-tikus kecil! Dari pakaian sutra kalian, sepertinya kalian dompet berjalan yang sangat gemuk. Serahkan semua harta kalian!"

​Jian Yi dan Lu Feng perlahan berbalik. Ekspresi mereka datar, hampir menyedihkan.

Di depan mereka berdiri seorang pria bertubuh tambun dengan perut buncit yang duduk di atas kuda cokelat, didampingi sepuluh anak buah yang memegang parang karatan.

​Jian Yi dan Lu Feng saling pandang. Sebuah senyuman licik yang sangat sinkron muncul di wajah mereka berdua.

​"Hihi! Kau berpikiran hal yang sama denganku, Feng?"

​"Ya. Targetnya bukan hanya uang, tapi sampai ke celana dalam mereka."

​Tanpa basa-basi atau peringatan "satu, dua, tiga", Lu Feng melesat lebih dulu. Tubuhnya yang sudah berada di Ranah Grand Master bergerak seperti peluru.

​BUM!

​Tinju mentah Lu Feng menghantam dada bawahan pertama hingga orang itu terlempar ke udara, menghantam pepohonan di belakangnya.

Di sisi lain, Jian Yi bergerak dengan teknik Langkah Bayangan. Ia tidak menghunus pedangnya, cukup menggunakan sarung pedang kayu cendananya.

​Sret! Tuk!

​Jian Yi memukul titik saraf leher dua orang sekaligus dengan gerakan yang sangat efisien. Mereka jatuh tersungkur sebelum sempat berteriak.

Si Bos Gendut di atas kuda mulai panik, ia mencoba mengayunkan gada besarnya, namun Jian Yi sudah berdiri di atas kepala kudanya.

​Jian Yi memberikan satu sentilan di dahi si bos gendut yang dibarengi dengan aliran Qi yang kecil namun panas.

Pria itu terpental jatuh dari kuda dengan cara yang sangat memalukan, mendarat dengan perut buncitnya lebih dulu ke tanah.

​Duar! Krak! Buk!

​Lu Feng tidak memberi ampun. Ia mengangkat dua orang sekaligus dan membenturkan kepala mereka satu sama lain. Suaranya seperti kelapa yang pecah.

Jeritan-jeritan pendek terdengar bersahutan, namun dengan cepat dibungkam oleh hantaman-hantaman telak.

​Setelah semua bawahan pingsan dengan posisi tubuh yang aneh-aneh, Lu Feng dan Jian Yi mendekati si bos gendut yang masih mencoba merangkak kabur.

​"Ampun! Ampun, Tuan Muda! Saya salah lihat! Saya kira kalian hanya anak kecil biasa!" teriak si bos gendut dengan air mata dan ingus yang bercampur.

​Jian Yi berjongkok di depannya, tersenyum sangat manis namun auranya sangat mengintimidasi. "Oh, tidak apa-apa. Kami memaafkanmu. Tapi sebagai gantinya ... kami minta biaya sewa jalan."

​Sepuluh menit kemudian, pemandangan di jalan itu sangat tragis.

Si bos gendut dan sepuluh bawahannya diikat di pohon dalam kondisi telanjang bulat tanpa sisa sehelai benang pun.

Pakaian mereka, sepatu mereka, perhiasan emas murahan, bahkan ikat pinggang kulit mereka semua disita.

​Jian Yi kini menaiki kuda si bos dengan gaya angkuh, sementara Lu Feng memikul dua karung besar berisi harta hasil jarahan—yang ternyata jumlahnya cukup banyak untuk hidup mewah selama sebulan.

​"Hahaha! Lihat ini, Lu Feng! Kita dapat tiga ratus keping perak dan dua botol arak berkualitas!" seru Jian Yi sambil memeriksa kantong jarahannya.

​"HAHAHA! Pakaian mereka lumayan juga kalau dijual ke tukang loak!" Lu Feng tertawa gila sambil melambai ke arah para perampok yang menggigil kedinginan dengan wajah penuh trauma.

​"Ingat ya! Kalau mau merampok, lihat-lihat dulu siapa korbannya! Sampai jumpa di neraka, Paman Gendut!" teriak Lu Feng.

​Kedua pemuda itu melanjutkan perjalanan sambil tertawa lepas, meninggalkan para perampok yang kini hanya bisa menangis sesenggukan karena harga diri mereka telah diinjak-injak sampai ke dasar bumi.

Keberuntungan memang selalu berpihak pada mereka yang punya kekuatan, dan hari ini, Jian Yi dan Lu Feng baru saja mendapatkan modal awal untuk petualangan mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

​𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁

1
Nanik S
Lanjut terus
Agen One
UP nya santai dulu ya🙏
Agen One
😅
Agen One
🍗
Agen One
🔥🙏
Agen One
🙏
Agen One
👍🙏
Agen One
🚹🙏
Agen One
🤭🙏
Agen One
🙏
Agen One
/Smile/
Agen One
🙏
Agen One
😅
Agen One
🔥🍗
Agen One
👍🍗
Agen One
🚹🍗
Agen One
🍗
Agen One
🤭/Smile/
Agen One
😅🙏
Agen One
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!